
Fajar memergoki Sherly pergi bersama Rio di tahun pernikahan mereka yang ke enam. Rio menjemput Sherly sepulang kerja. Saat itu Fajar ingin memberikan kejutan pada istrinya. Fajar ingin mengajak Sherly makan malam berdua di tempat favorit mereka.
Rumah tangganya benar-benar di uji. Baru dua hari yang lalu mereka berbaikan setelah perang dingin. Sherly menolak memiliki anak dan istrinya itu mulai terpengaruh orangtua dan keluarganya.
"Gaji kamu nggak cukup buat aku ke salon! Gaji aku lebih besar dari gaji kamu! sampai sekarang kita masih tinggal sama Mama Papa. Kamu nggak malu? Ganti profesi kamu! jadi pengusaha kek atau jadi karyawan di perusahaan besar. Gaji kamu nggak cukup buat nafkahin aku! Terus kamu minta kita program anak? Gila kamu! mau dikasih makan apa anak kita?" sungut Sherly.
Kesabarannya menerima Fajar yang sederhana tidak bisa lagi di tahannya. Sahabatnya, teman sekantornya, teman sekolahnya dulu berbeda nasib dengannya. Suami-suami mereka sukses, berpenghasilan besar, rumah besar, kendaraan mewah. Tapi dirinya yang notabene mempunyai orangtua kaya raya tidak cukup baginya.
"Memang penghasilanku lebih kecil darimu, tapi sangat tidak pantas kamu sebagai istri merendahkanku! Aku sudah mengajakmu untuk keluar dari rumah ini, kita mandiri, tapi kamu yang nggak mau. Dan sampai kapan pun, aku tetap akan menjadi seorang guru! aku jamin anak kita bisa hidup layak. Jangan remehkan aku!" terang Fajar. Sungguh kecewa dengan perkataan istrinya. Harga dirinya sudah di injak-injak.
"Memang kamu pantas aku rendahin! suami nggak bertanggung jawab! kamu nggak ada gunanya. Kamu nggak bisa nyenengin aku!" -menunjuk suaminya lalu menunjuk diri sendiri- "Dan rumah yang kamu bilang itu, bukan rumah kita tapi rumah sewa. Kontrakan petakan. Aku nggak mau! aku jijik! jangan kepedean bisa bikin hidup layak anak kita! sekarang aja masih begini-begini aja. Aku malu!" sungut Sherly.
Fajar mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang ia rasa sudah mencapai puncaknya.
Dan hari ini Fajar melihat istrinya dijemput Rio, mantan pacar.
Fajar mengikuti kemana Sherly dan Rio pergi. Keduanya masuk ke dalam restoran. Fajar menunggu di parkiran lalu mencoba menghubungi istrinya itu.
Sudah dering ke lima, Sherly tidak mengangkat telfonnya. Fajar terus berusaha, sampai akhirnya Fajar melihat Sherly berjalan menjauh dari Rio, kemudian mengangkat telefon darinya.
"Halo beb ... ada apa? aku masih meeting sama tim. Aku pulangnya malem. Kamu nggak papa kan, makan malam sama Mama Papa di rumah?" ujar Sherly langsung tanpa mendengar terlebih dulu suaminya berkata apa.
"Oke, nggak papa," balas Fajar. Matanya masih mengikuti gerak gerik Sherly yang gelisah.
"Yaudah, aku lanjut meeting lagi. Ini aku bela-belain keluar ruangan cuma buat ngangkat telefon kamu, beb," imbuh Sherly. Ia berusaha meyakinkan Fajar agar percaya.
"Maaf, aku nggak tau kalau kamu lagi sibuk. Aku mau mandi dulu. Hati-hati dijalan, nanti." ujar Fajar. Ia sudah tidak mau berlama-lama bersandiwara. Sherly langsung mematikan telefon Fajar lalu menghampiri Rio kembali.
"Siapa? suami kamu?" tanya Rio. Sherly mengangguk.
"Ngapain kamu masih bertahan sama laki-laki miskin itu?" tanya Rio.
"Jangan bilang gitu. Dia masih suamiku," jawab Sherly, menarik kursi, duduk di sebelah Rio. Kemudian mengecup pipi mantan kekasihnya itu.
Dari kejauhan Fajar sudah semakin memanas. Tapi ia harus menahannya. Fajar mengambil beberapa foto untuk ia berikan pada mertuanya.
Setelah makan malam, Sherly dan Rio tidak langsung pulang ke rumah. Mereka berdua berbelok ke sebuah hotel. Fajar melepas helm lalu membantingnya ke aspal.
Sherly dan Rio benar-benar sudah melewati batas. Fajar mengikuti diam-diam ke dalam. Ia berpura-pura duduk dengan majalah menutupi wajahnya. Mengamati gerak gerik keduanya yang sedang memesan kamar.
"Brengsek!" umpat Fajar lirih.
__ADS_1
Sherly dan Rio menuju lift. Fajar mengikuti dari lift sebelah kanan, setelah melihat tujuan lantai mereka berdua.
"Lantai 4." gumam Fajar.
Fajar menemukan Sherly dan Rio memasuki kamar ke lima dari sisi kanan. Fajar mengikuti mereka diam-diam, sambil terus memotret dengan ponselnya. Sampai keduanya masuk ke dalam kamar, Fajar mendekati pintu kamar itu.
Rasa kecewa bercampur amarah yang dirasakan Fajar saat ini. Ia mengetuk pintu kamar berkali-kali dan cukup keras. Sherly dan Rio yang sedang berciuman terkejut. Suara Fajar memanggil Sherly begitu jelas didengar.
"Itu suamiku. Gimana ini?" tanya Sherly, ia ketakutan.
"Mau nggak mau kita hadapi. Kamu juga udah muak sama dia. Ini lebih mudah dan lebih cepat dari dugaanku," Rio menggenggam erat tangan Sherly lalu mengangguk.
Suara kunci pintu dibuka. Fajar langsung mendorong pintu itu, menerjang Rio. Sherly berteriak histeris.
"Brengsek! bajingan! bangsat!" umpatan-umpatan itu keluar dari mulut Fajar, sambil terus memukuli Rio.
"Aahhh ... jangan! jangan, beb! nanti kamu bisa dituntut. Dia pengacara hebat," seru Sherly, menarik lengan kanan Fajar yang akan memukul lagi wajah Rio.
Fajar menatap tajam Sherly lalu menghempaskan tangan istrinya itu. Fajar mundur, terengah-engah.
Rio dibantu duduk oleh Sherly. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. Fajar mengeraskan rahangnya, tangannya masih mengepal.
"Nggak semudah itu!" sela Fajar. Meskipun ia tahu istrinya berselingkuh, Fajar akan memaafkan Sherly. Ia menjaga harga dirinya di hadapan orangtua dan juga mertuanya.
"Kamu pikir, orangtua Sherly nggak tau soal hubungan kami? kamu terlalu bodoh! akhir bulan ini Sherly akan mengajukan permohonan perceraian. Jadi kamu bisa apa?" ungkap Rio.
"Sher ..." ucap Fajar, menatap sendu Sherly. Ia tidak menyangka semua ini terjadi. Dulu ia mati-matian membela Sherly di hadapan kedua orangtuanya, namun malam ini semua hancur. Mertuanya pun ikut andil dalam perselingkuhan istrinya.
"Aku udah nggak bisa sama kamu. Aku capek, aku lelah. Aku pengen hidup lebih layak sama Rio. Dia yang bisa bahagiain aku," ujar Sherly, memegang lengan kiri Rio.
"Kamu tega lakuin semua ini ke aku, Sher? setelah aku perjuangin kamu di hadapan bapak sama ibuk," Fajar tak tau lagi harus bagaimana. Pernikahannya benar-benar sudah hancur.
"Sherly sekarang hamil anakku!" ungkap Rio.
"Apa?? Sher ..." Fajar terkejut. Sherly menunduk.
"Dia nggak mau hamil anak kamu. Kamu nggak akan mampu menanggung semua. Realistis aja, dengan penghasilan pas-pas an, apa yang mau Sherly harapkan dari kamu? nggak ada. Jadi lebih baik, putuskan sekarang juga!" ucapan Rio sangat menyakiti hati Fajar.
Selama satu bulan ini, Sherly selalu menolak jika diajak berhubungan badan. Nyatanya memang Sherly dan Rio ingin memiliki anak, meskipun Sherly masih memiliki suami.
Fajar berteriak, meremas rambutnya lalu meninju tembok.
__ADS_1
"Oke, aku lepasin kamu!" ucap Fajar kemudian pergi keluar kamar hotel. Sherly memeluk Rio.
Perceraian mereka begitu cepat. Semua urusan di pengadilan agama sudah selesai. Pernikahan mereka selama enam tahun ini berakhir. Fajar resign dari sekolah swasta di Bandung. Ia kembali ke Ibu kota.
Rasa sakitnya dikhianati ditambah kabar soal Atiqah. Pak Bondan sudah meninggal, sedangkan Atiqah hidup di Jogja sebagai Dokter tanpa seorang suami dan anak. Fajar lebih iba pada nasib Atiqah.
Hingga satu tahun perceraiannya, Fajar mendapatkan tawaran bekerja menjadi guru bahasa di Sekolah Internasional Korea Selatan, Incheon. Fajar mantap dan menerima tawaran itu.
Bu Siti dan Pak Aji menguatkan putranya selama satu tahun setelah perceraian. Dan saat ini, mereka memberikan semangat untuk bangkit pada Fajar, putra semata wayang keluarga Adhiwilaga.
"Bapak sama Ibuk selalu doakan Mas dari sini. Semoga anak ibuk satu-satunya dapet jodoh disana. Jangan trauma, Mas!" ucap Siti, merangkul lalu mengecup kening Fajar. Mereka mengantarkan Fajar sampai di Bandara.
*****
Fajar hanya bisa terus bersyukur bisa melewati semua dengan baik. Kabar Sherly melahirkan anak keduanya sedikit mengiris hatinya. Selama enam tahun berumah tangga dengannya, Sherly selalu menolak memiliki anak. Namun baru satu setengah tahun mantan istrinya itu sudah memiliki dua orang anak.
Dan hari saat bertemu Atiqah di sebuah mini market Asia, menjadi awal mula pertemuan mereka.
Fajar duduk di teras mini market, setelah membeli satu botol minuman dan kimbap. Makan siangnya selalu seperti itu. Duduk sambil menatap mahasiswa mahasiswi dari berbagai negara berjalan berlalu lalang.
Yang menarik satu perhatiannya, seorang yang sangat ia kenal dulu tiba-tiba muncul dari arah kiri mini market. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, Atiqah masuk ke dalam mini market itu, melewati Fajar yang masih terbengong dan matanya terus mengikuti Atiqah sampai di dalam.
Atiqah mendorong pintu, setelah selesai berbelanja.
"Ehem ... udah jadi dokter, nggak kenal lagi sama aku," celetuk Fajar dari deretan kursi teras mini market. Atiqah menoleh, karena Fajar berbicara dengan bahasa indonesia dan menyebut soal profesi Dokter.
"Lho kok ..." Atiqah menunjuk Fajar.
"Lho kok apa? sini duduk dulu. Ngobrol-ngobrol, lama nggak ketemu," ajaknya.
Atiqah bingung, kenapa bisa mereka bertemu di tempat yang jauh dari negri sendiri.
"Sini duduk! malah bengong aja. Gimana kabarmu?" Fajar menarik tangan Atiqah untuk duduk di sebelahnya.
"Baik ... baik," jawab Atiqah, ia masih terlalu syok.
"Kamu nggak tanya kabar aku?" tanyanya, mencubit pipi Atiqah. Atiqah mengusap pipinya sambil terus menatap lawan bicaranya.
"Kamu kaya ngeliat hantu. Begitu banget," imbuhnya lagi. Atiqah meringis.
Bersambung...
__ADS_1