ATIQAH

ATIQAH
Bab 95 : Time Flies So Fast


__ADS_3

Delapan tahun berlalu. Selama itu juga Atiqah terus menekan rasa rindunya pada putra semata wayangnya, Aziel. Selama delapan tahun lebih juga, Atiqah belum pernah bertemu dan bertatap muka.


Hanya foto saat bayi bersamanya dulu yang ia miliki. Foto itu ia pajang di dinding kamar, di dalam dompet dan menjadi wallpaper layar ponselnya.


Dari tahun ke tahun, Atiqah merayakan ulang tahun Aziel di Yayasan Panti Asuhan tanpa kehadiran putranya. Atiqah berharap Aziel putranya selalu sehat, bahagia dan tumbuh menjadi anak laki-laki yang pintar dan baik.


"Doa ibu selalu menyertaimu," untaian doa yang selalu Atiqah panjatkan untuk Aziel.


Atiqah bangkit dalam keterpurukannya. Ia menyelesaikan pendidikan SMA melalui kejar paket C dalam kurun waktu singkat.


Dan saat ini, saat usianya menginjak 26 tahun, Atiqah sedang menempuh pendidikan sebagai Dokter Spesialis Anak atau ahli pediatri. Dokter yang memiliki fokus pada kesehatan fisik, mental dan emosional anak usia 0-18 tahun.


Atiqah akhirnya memilih spesialis ini karena ia ingin terus mengingat putranya. Ia ingin merawat, menghibur dan juga bertemu dengan banyak anak-anak.


"Tante, ada banyak hadiah. Kalian bisa pilih mana saja yang kalian suka," ucapnya pada sekumpulan anak tidak beruntung yang hidup di pinggiran sungai. Saat Atiqah menjadi relawan 2 tahun silam.


Semua anak-anak begitu senang, tertawa dan saling berebut hadiah.


"Terimakasih Tante, semoga Tante selalu bahagia," ucap mereka kompak. Atiqah terus mengangguk, rasanya air matanya itu akan turun.


"Terimakasih untuk doanya. Semoga Tuhan mengabulkan doa kalian untuk Tante," ujar Atiqah lalu ia terkejut. Salah satu anak laki-laki maju lalu menyodorkan tisu untuk menyeka air mata Atiqah.


"Ah ... terimakasih anak ganteng --berjongkok, mensejajarkan tinggi badan anak itu lalu menerima tisu-- Siapa nama kamu?" tanya Atiqah sambil membelai puncak kepala.


"Namaku Ariel," jawab anak laki-laki itu.


Nama yang mirip dengan putraku, Aziel. Batin Atiqah.


"Nama yang bagus. Kelak jadi pria dewasa yang penyayang. Sayangi keluarga dan orang-orang sekitar," mengusap kepala lalu mendekapnya.


Dalam masa pendidikan spesialisnya, Atiqah bekerja sama dengan beberapa Dokter Senior untuk ikut bergabung pada Klinik Kembang Anak yang akan ia buka sendiri di gedung pemberian Subroto di kota Yogyakarta.


Atiqah bersama asistennya yang bernama Rizka datang ke acara soft opening Klinik Kembang Anak miliknya.


"Semua sudah siap kan?" tanya Atiqah pada Rizka.


"Sudah kak," jawabnya lalu membantu merapihkan pakaian dan dandanan Atiqah.

__ADS_1


"Kamu juga harus rapih," melakukan hal yang sama pada asistennya. "Asisten ku nggak boleh nggak rapih. Entar aku ajak shopping lagi. Sepuasmu," bisik Atiqah pada Rizka.


"Ah ... senangnya punya bu bos yang baik hati dan tidak sombong ini. Senang nian aku. Makasih lho bu bos," ucapnya sambil terkikik.


Cita-cita dan impiannya sedikit demi sedikit terwujud.


Kebun warisan Subroto untuknya kini sudah semakin maju pesat dan diperluas. Atiqah banyak membantu warga sekitar dengan memberikan mereka lapangan pekerjaan, yaitu bekerja di perkebunan yang sudah sah menjadi miliknya saat mengandung Aziel.


Para pekerja dipersilahkan membawa pulang bermacam-macam sayuran untuk kebutuhan mereka di rumah.


"Matur nuwun sanget bu Atiqah (Terimakasih banyak bu Atiqah)," ucap para pekerja. Atiqah sedang memberikan gaji dan bonus sekaligus.


"Sama-sama mbok. Yang betah disini ya mbok," balas Atiqah, lalu memberikan amplop putih berisi uang satu per satu. Mereka semua mengantri dengan rapih seperti biasanya. Kurang lebih ada 35 pekerja.


Atiqah sendiri memilih memberikan gaji dalam bentuk tunai, hanya karna ingin memudahkan pekerjanya menggunakan uang itu. Tidak perlu repot mengambil uang ke Bank ataupun ke mesin ATM.


"Eyang Subroto pasti sangat bangga sama bu Atiqah," imbuh pekerja lainnya. Seorang pria paruh baya yang masih sangat kuat dan semangat bekerja.


"Amin ... doakan Eyang selalu yo paklek," sambung Atiqah.


Bondan meninggal karena kecelakaan kerja saat sedang mengoperasikan alat di pabrik. Atiqah kembali ke Jakarta, menumpahkan segala kesedihannya di samping jenazah Ayahnya. Bondan sama sekali belum pernah bertemu dengan Aziel. Dan saat itulah, Asri diberi tahu putrinya mengenai Aziel yang dibawa kabur oleh Ardi.


"Mulai bulan depan, soal pembagian gaji akan saya serahkan ke mas Guntur dan istrinya," imbuh Atiqah. Memberitahukan kepada seluruh pekerja.


"Lho, nak Atiqah mau kemana lagi?" tanya mbok Irah, pekerja paling lama disana.


"Saya mau jadi relawan lagi mbok, setelah kelulusan pendidikan spesialis minggu depan. Doakan saya selalu sehat ya mbok," terang Atiqah.


"Owalah, budal neh to. Sing sehat, sing waras bregas yo nduk (Oalah, berangkat lagi. Yang sehat, yang kuat ya nak)," ucap mbok Irah.


"Matur suwun mbok (Terimakasih mbok)," jawabnya.


Guntur bersama istrinya Ani yang sedang mengandung lima bulan datang mendekat setelah Atiqah selesai membagikan seluruh gaji para pekerjanya.


"Apa mbak Atiqah yakin mau jadi relawan lagi?," tanya Guntur. Duduk di kursi kayu panjang di teras perkebunan.


"Ya yakin dong mas. Udah sering juga kan aku jadi relawan," papar Atiqah lalu memeluk Ani, ikut mengusap perut yang membuncit.

__ADS_1


"Iya mbak, tapi lihat kondisi mbak Atiqah. Terakhir kali jadi relawan di Lombok, mbak Atiqah pingsan kelelahan," sanggah Guntur.


Waktu itu ia langsung terbang ke Lombok untuk menjemput Atiqah. Padahal dua hari lagi, ia akan menikahi Ani perawat Subroto dulu.


"Aku udah persiapan mas, tenang aja. Aku janji nggak kenapa-kenapa. Aku juga janji pulang ke Indonesia sebelum anak kamu lahir mas," janji Atiqah.


"Kalau ada apa-apa harus hubungi kami!" ucap Ani tegas. Ani sudah menganggap Atiqah sebagai keluarganya.


"Iya mbak. Jangan khuwatir! justru mbak Ani yang harus jaga kesehatan, jangan banyak mikir yang aneh-aneh! Mas Guntur orangnya setia kok," Atiqah meringis menatap Guntur. Guntur menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Wes rampung le ngobrol ... mbok Jum wes ngenteni ning omah (sudah selesai ngobrolnya ... mbok Jum sudah menunggu di rumah), katanya masakin kesukaan mbak Atiqah," ujar Guntut, menghentikan obrolan kedua wanita yang semakin melantur.


"Lagi enak-enaknya ngobrol, eh di suruh pulang. Yowes, kita lanjutin gibahnya dirumah mbak," sahut Atiqah. Dua wanita yang Guntur sayangi itu sedang tertawa meledeknya.


*****


Vancouver, Canada 2028


"Ziel rindu ibu," gumamnya. Ziel memeluk foto ibunya, Atiqah. Yang di ambilnya dari laci meja Ardi. Ziel melepas bingkai, mengganti foto saat ia bayi dengan foto Atiqah.


Satu tahun yang lalu, Aziel mendengar percakapan antara Melda dan juga Ardi. Mereka berdua sedang berbicara di ruang kerja Ryan.


"Mau sampai kapan kamu gini? udah tujuh tahun kamu gantungin dia. Kakak salah udah mau ikut sekongkol rencana keji ini. Kak Mel nggak sanggup lagi. Kak Mel sayang Ziel. Dia harus tau siapa ibu kandungnya. Kamu sebagai ayahnya sendiri nggak kasihan? kamu ini Ayah macam apa? ibunya disana pasti menderita," Melda geram.


"Jangan keras-keras! Ziel bisa dengar --menutup bibirnya dengan telunjuk-- ini hidupku, ini rumah tanggaku. Kakak nggak perlu ikut campur. Kalau sudah waktunya, aku bawa Ziel pulang ke Indonesia," ucap Ardi lirih, nyaris berbisik.


Melda mengedikkan bahunya lalu meninggalkan Ardi, Gea putrinya menangis. Ziel mendengar langkah kaki, langsung pergi ke taman belakang.


Melda merasakan bagaimana jika ia di pisahkan dengan anak perempuannya. Sungguh menyakitkan.


Dua tahun setelah Aziel diasuhnya, Melda hamil lalu melahirkan putri pertamanya. Selama bertahun-tahun Melda menyalahkan dirinya atas kemalangan yang di alami Atiqah, adik iparnya.


Sifat egois Ardi semakin menjadi-jadi. Ardi beranggapan melakukan semua ini untuk memberikan pelajaran pada Atiqah karena telah menghianatinya. Tapi apa yang didapat Ardi? selama bertahun-tahun itu, Ardi selalu menyendiri dan sibuk mengejar pendidikannya. Hatinya hampa.


Beban sebagai pewaris perusahaan membuat Ardi tak bisa bersantai. Anne terus menekannya. Bahwa menjadi penerus usaha keluarga Danurdara haruslah sempurna tanpa cela. Anne menegaskan pada Ardi, jika ia adalah pria single belum menikah apalagi memiliki anak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2