ATIQAH

ATIQAH
Bab 10 : Perhatian Ardi


__ADS_3

Flashback


"Ma, aku berangkat dulu. Pagi ini aku piket. Bye" berlari ke arah garasi dimana motor gedenya terparkir. Meninggalkan ibunya di ruang makan, setelah ia menyantap satu lembar roti dan jus jeruk. Ardi hanya beralasan piket pagi, padahal ia berencana menjemput Atiqah. Mengajaknya pergi ke sekolah bersama.


Ardi memakai helmnya, melajukan motor melewati gerbang tinggi yang dibuka otomatis. "Thanks pak" melambaikan tangannya ke udara pada satpam rumah. "Sama-sama mas" balas satpam itu yang kemudian memencet tombol otomatis agar gerbang menutup kembali.


"Dasar anak nakal, ninggalin mama sarapan sendirian gini" gerutu mama Ardi, Anne. Suaminya sedang berada di Bangkok, ia merasa kesepian. Sedangkan putri pertamanya pergi berlibur ke Bali, setelah kepulangannya dari Canada.


Brak...Bam...


Suara benturan keras berasal dari mobil sedan hitam Mercedes S Class dengan motor bebek lawas. Sudah pasti motor itu hancur. Kejadian itu dekat dengan tempat tinggal Atiqah. Ardi menepikan motornya, meninggalkan begitu saja dan langsung berlari ke arah korban.


Tubuh korban terpental sampai membentur trotoar. Kepalanya mengeluarkan darah, begitu juga dengan bagian tubuh lainnya.


"Pak...sadar pak" Ardi mencoba menyadarkan korban tapi tidak ada sahutan. "Karyawan pabrik papa?" melihat seragam korban dibalik jaket yang terkoyak.


"Maaf maaf...saya gak sengaja, saya bener-bener gak sengaja" pelaku penabrak memohon ampun saat mobilnya di gedor keras oleh beberapa orang yang memintanya untuk keluar. Pelaku ketakutan diamuk masa.


"Minggir! Minggir!" Ardi mencoba mengurai kerumunan pada mobil pelaku. "Pak...buka pintunya. Kita harus segera bawa bapak itu ke rumah sakit. SEKARANG!!" Ardi berteriak, sejujurnya ia kesal karna pelaku tidak mau membuka pintu mobilnya. "Cepat pak! Anda tidak mau dipenjara bukan? Sebentar lagi polisi bisa datang dan semua semakin runyam. Kita harus selamatkan dulu bapak itu. Cepat buka!" akhirnya pelaku setuju dan Ardi segera mengangkat korban dengan dibantu beberapa orang.


"Pak Bondan? Ini pak Bondan, tetangga saya" ucap pria muda yang ikut membantu membukakan pintu mobil.


"Kalo gitu kabari keluarganya, saya bawa ke rumah sakit terdekat. Sama ini mas, saya titip motor gede warna hitam di depan minimarket. Nanti sore saya tunggu di minimarket" Ardi menyerahkan kunci motornya lalu menutup pintu mobil. "Cepat pak!" menepuk pundak pelaku yang gugup.


"Iya iya"


Lima menit saja, mereka sudah sampai di lobby rumah sakit umum daerah. Ardi dibantu beberapa tenaga kesehatan yang sigap. Mendorong brankar masuk ke ruang ICU.


"Kalian tunggu diluar" ucap salah satu suster yang akan menutup ruang ICU.


"Duduk pak" Ardi mengajak duduk pria pelaku penabrakan, wajahnya cemas dan pucat.


"Semoga kita tidak terlambat" ucap Ardi lagi.

__ADS_1


Selama setengah jam menunggu keluarga korban datang, tiba-tiba saja ada wanita yang mirip wajahnya seperti Atiqah muncul. Berjalan tergesa gesa ke arahnya.


"Lho masnya yang tadi?" Ardi menunjuk pria muda yang dititipi motor tadi turut datang.


"Iya mas, saya jemput bu Asri. Ini istri pak Bondan. Saya kembalikan motornya disini aja. Ada di parkiran depan dibawah pohon mangga" menyerahkan kunci motor gede milik Ardi.


"Oke mas, makasih ya"


"Sama-sama mas"


"Oh iya, Atiqah gak dikasih tau bu?" tanya pemuda itu pada bu Asri. Ardi membulatkan matanya. Atiqah adik kelasnya atau bukan, batinnya.


"Atiqah SMA Negri 60?" Ardi penasaran.


"Iya...masnya satu sekolah sama Atiqah?" Ardi mengangguk cepat. "Kebetulan banget. Masnya yang hubungi pihak sekolah aja ya. Saya ada urusan lagi soalnya. Istri saya mau melahirkan" pemuda itu melihat jam di pergelangan tangan kanannya.


"Iya...yaudah saya aja yang telfon sekolah. Makasih banyak mas" ucap Ardi merangkul pemuda itu, lalu menyelipkan lima lembar uang berwarna merah ke saku celana. "Buat beli popok anak mas" pria muda itu bahagia menerima rezeki nomplok dari siswa SMA. Sudah pasti anak orang kaya, batinnya.


"Makasih banyak juga mas" berpamitan lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


*****


"Bu..." Atiqah menghambur memeluk ibunya. "Bapak sudah gak kritis lagi bu. Kita tunggu sampai bapak sadar, baru bisa dipindah ke kamar inap"


"Syukur" bu Asri sama leganya mendengar kabar soal suaminya yang sudah melewati masa kritis.


"Saya ikut senang mendengarnya. Tapi maaf bu, saya harus kembali ke sekolah" bu Indri mengusap punggung tangan bu Asri, berpamitan.


"Terimakasih banyak bu, sudah mengantarkan Atiqah" ucap bu Asri.


"Iya bu, sama-sama"


"Ibu mau bicara, bisa?" tanya bu Indri pada Ardi yang masih terus menatap Atiqah.

__ADS_1


"Bisa bu" mengangguk lalu ikut keluar ruang IGD.


"Terimakasih sudah hubungi pihak sekolah. Untuk hari ini kamu tidak perlu masuk sekolah. Biar ibu yang meminta ijin pada kepala sekolah. Seragam kamu juga kotor. Pulang dan ganti dengan baju yang lain" pesan bu Indri pada murid teladan sekaligus ketua osis di sekolah.


"Baik bu. Terimakasih" tersenyum seraya mengangguk saat bu Indri menepuk bahunya dan pergi kembali ke sekolah.


Ardi menatap seragamnya sendiri. Noda darah yang cukup banyak. Pantas saja semua orang terus menatapnya. Keadaannya benar-benar kacau tapi masih tetap tampan.


"Halo...bik, tolong kirim baju sama celana lewat go send ya. Aku kirim alamatnya lewat chat. Sekalian parfumku juga" Ardi menghubungi asisten rumah tangga yang mengurusi segala keperluannya.


"Iya mas...tapi kalau ibu tanya, saya jawab apa?" Bik Narti sudah hafal dengan sifat nyonya rumah yang selalu bertanya ini itu.


"Bilang aja aku bantuin temen yang lagi kena musibah. Nanti biar aku yang jelasin ke Mama. Cepet ya bik" Ardi menutup teleponnya.


Saat berbalik, Atiqah sudah berdiri didepan pintu IGD menatapnya.


"Ada apa? Butuh bantuanku lagi?" Tanya Ardi sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Gak ada, kamu pulang aja. Baju kamu..." menunjuk ke seragam Ardi.


"Aku udah nyuruh orang kirim baju kesini. Aku temani kamu disini" menarik tangan Atiqah untuk duduk di kursi panjang rumah sakit.


"Gak perlu nemenin aku, ada ibu" Atiqah malu menatap mata Ardi. Ia ingat dengan makiannya tadi.


"Ibu kamu masih lemah. Aku gak keberatan nemenin kamu. Jangan gak enak gitu. Aku gak marah soal tadi. Aku paham, aku ngerti. Liat sini dong...akunya disini tapi kamu nunduk terus" meraih dagu Atiqah, menolehkan ke arahnya. Saling bertatapan.


Bersambung....


*****


Atiqah datang lagi 😁 jangan bosen ya. Ceritanya masih diawal nih, belum ada hareudang2nya. Harap bersabar 😁


Ciri khasnya othor pasti ada part fire 🔥🔥🔥 tapi nanti 😁

__ADS_1


Jangan lupa selalu kasih bintang 5 dulu baru baca trus like, komen & kasih giftnya 😁😁😁😁


Makasih guys 😘😘😘


__ADS_2