ATIQAH

ATIQAH
Bab 35 : Ulah Echa


__ADS_3

Ujian kenaikan kelas telah berlangsung selama satu minggu. Dan selama itu Atiqah dan Ardi tidak bertemu. Atiqah berusaha menghindar dengan berbagai alasan. Ardi berulang kali mendatanginya ke kelas saat jam istirahat tapi Atiqah fokus mempersiapkan ujian mata pelajaran di jam berikutnya.


"Soal liburan ke Jogja gimana? kok gak ada kabar lagi sih. Beneran jadi berangkat gak?" tanya Lala menarik kursi, duduk di sebelah Atiqah.


"Aku belum tanya ke Ardi" jawab Atiqah singkat, kembali membuka lembar buku catatan bahasa inggris. Ujian mata pelajaran di hari terakhir, hari sabtu.


"Hari ini udah sabtu Atiq. Senin kita udah libur. Harusnya kita berangkat besok. Kalo liburan cuma beberapa hari doang, sama aja itu bukan liburan. Bentar banget. Buruan gih tanya ke kak Ardi. Biar pulang sekolah ini, aku mau langsung packing" Lala begitu bersemangat.


Sejak senin kemarin Atiqah mengatakan akan mengajaknya liburan ke Jogja ke rumah Eyang Ardi, Lala terus menerus bertanya dan mengoceh merencanakan pergi ke beberapa destinasi yang sedang hits di kota pelajar itu. Mulai dari kuliner sampai tempat wisata. Atiqah menjadi pendengar yang baik.


"Iya, nanti aku coba tanya ke Ardi. Udah deh bawel banget. Belajar sana, bahasa inggris lho nanti. Inget nilai semester kemaren jeblok" mendorong sahabatnya kembali ke mejanya.


"Oke...aku tunggu kabar baiknya. Jangan lama-lama. Aku butuh persiapan" Lala berbalik menuju mejanya. Atiqah menghela nafasnya lega.


Sejujurnya Atiqah masih ragu untuk ikut berlibur ke Jogja. Mengingat kejadian minggu lalu. Meski Atiqah dan Ardi sudah berbaikan tapi rasa takutnya masih ada. Atiqah menyadari sikap yang sebenarnya seorang Ardi itu seperti apa. Meledak-ledak, posesif, memaksakan kehendak dan juga kasar.


Atiqah memilih mengirimkan pesan pada Ardi daripada harus bertemu tatap muka. Sedangkan Ardi yang sedang duduk di kantin bersama dengan Topan dan Leo melebarkan senyumannya saat melihat notifikasi pesan.


"Pacaran teroosss" ledek Topan. Ardi tertawa sambil menepuk bahu Topan berkali kali.


Tangannya cepat mengusap layar dan membuka pesan dari kekasihnya.


📩 Atiqahku


Soal ke Jogja gimana? Lala tanya terus.


📩 Ardi


Kita berangkat besok sore. Aku udah siapin tiketnya. Siang aku jemput kamu terus jemput Lala.


📩 Atiqahku


Oke


📩 Ardi


Cuma Oke doang? kita udah hampir seminggu gak ketemu, gak ngobrol Yang. Entar malem mau gak ke Mall? Saturday night.


📩 Atiqahku


Liat entar deh. Belum ijin sama bapak.

__ADS_1


📩 Ardi


itu soal gampang. Aku yang langsung minta ijin ke bapak. Ke Jogja aja di ijinin, gimana cuma ke Mall doang. Udah pasti di ijinin.


📩 Atiqahku


Hemm...


📩 Ardi


Aku jemput jam 5. Dandan yang cantik ya Yang. Aku kangen. Pake baju yang aku beliin waktu itu, yang warna merah.


Atiqah tak membalas pesan terakhir dari Ardi. Ia langsung menyimpan ponsel ke dalam laci meja. Bel berbunyi, tanda ujian bahasa inggris akan segera di mulai.


"Cewek murahan! cih..." Echa meludah ke samping setelah melewati Atiqah dan Lala.


"Apa sih?" Lala bertanya pada Atiqah maksud Echa.


"Gak tau. Biarin aja" mengedikkan bahu bersikap acuh pada Echa dkk.


"Gak tau tempat, mesum di sekolah. Muka anak baik-baik, taunya gampangan. Didikan emaknya. Buka warung nasi sekalian menjajakan diri. Hahaha...." sindiran Echa mampu menyulut kekesalan Atiqah. Siapa lagi kalau bukan Atiqah yang Echa maksud, hanya ibunya yang berjualan warung nasi di pasar.


"Gak usah dengerin. Kita pulang aja. Tuh kak Ardi udah nungguin didepan" menunjuk ke arah gerbang. Atiqah malas bertemu Ardi tapi dia ingin menghindari Echa.


Atiqah berbalik, Lala menahan tangannya sambil berteriak memanggil Ardi. "Kak Ardi..." Ardi menoleh dan segera berlarian menghampiri.


"Apa?? ngerasa?" tantang Echa.


"Gak usah bawa-bawa ibuku. terserah kamu mau ngatain aku apa aja tapi jangan ibuku!" Atiqah masih berkata dengan nada biasa.


"Terserah mulutku dong. Tapi emang itu kenyataannya kan? anaknya murahan pasti nurun dari ibunya yang juga murahan!" Atiqah geram, menyentak tangan Lala yang masih menahannya. Belum Atiqah meraih baju Echa, Ardi sudah dulu memeluk perutnya.


"Gak perlu diladenin, kita pulang" bisik Ardi menahan Atiqah yang sudah tersulut emosi.


"Wah...pasangan mesumnya dateng guys" celoteh Echa lagi.


"Diem Cha! gak usah bikin gara-gara. Mau aku panggilin bapak kamu yang sopir itu?" Echa mengedipkan matanya dan mundur satu langkah. Teman satu gengnya saling melempar pandang.


"Diem kamu Ardi! fitnah, dia fitnah. Papaku bukan sopir. Papaku pengusaha. Bener, aku serius gak bohong" kini justru Echa yang kelimpungan berusaha meyakinkan teman-temannya.


Siswa dan siswi lain yang menonton pertengkaran itu membubarkan diri sambil menyoraki Echa. "Huuuuuu....anak sopir ternyata. Selama ini gayanya selangit, pura-pura jadi anak orang kaya. Huuuuu"

__ADS_1


"Brengsek!! diam kalian semua!" Echa berteriak kesetanan. Sedangkan Ardi tersenyum mengejek sambil berlalu membawa Atiqah pergi dari sana dan mengantarkannya pulang.


"La, sorry...aku pulang sama Ardi" ucap Atiqah pada sahabatnya. Ardi memberikan helm padanya.


"Iya...santai aja. Aku tunggu jemputannya besok. Bye" Lala melambaikan tangannya menyeberang jalan, masuk ke dalam angkot hijau.


"Ayok pulang?!" Atiqah mengangguk, memakai helm lalu berpegangan bahu menaiki motor gede milik Ardi.


"Peluk aku!" Atiqah menuruti ucapan Ardi, memeluk erat.


Motor gede itu melaju santai melewati padatnya jalanan ibu kota. Ardi menikmati momen berdua bersama Atiqah diatas motor. Sesekali mengusap dan menepuk punggung tangan Atiqah yang melingkar diatas perutnya.


"Kamu tau kenapa Echa ngomong kaya tadi? dia bilang kita pasangan mesum. Apa jangan-jangan...dia" Atiqah berfikir hal buruk soal ucapan Echa.


"Kayaknya selain Putra, dia liat kita diruang Osis waktu itu" Atiqah semakin kalut mendengar opini Ardi. Masih diatas motor, Atiqah semakin erat memeluknya.


"Aku takut. Dia juga ngerekam kita, Ardi" Ardi menggelengkan kepala.


"Enggak, kayaknya enggak. Kalo dia punya, harusnya tadi dia ngancem kita. Tapi nyatanya enggak. Kamu tenang aja. Nanti aku coba selidiki. Jangan dipikirin" Ardi menghentikan motornya didepan rumah Atiqah yang lengang.


Pak Bondan bekerja dan Bu Asri ada di warungnya, sedangkan Robi bermain dengan teman-temannya di lapangan badminton.


"Makasih" melepaskan helm memberikannya pada Ardi lagi.


"Gak nyuruh aku masuk dulu? aku kangen Yang. Udah seminggu gak bareng-bareng gini. Pengen cium" Ardi merengek dibalik helmnya. Atiqah tau betul bagaimana raut wajah Ardi saat merengek.


"Enggak ah. Dirumah gak ada orang. Apa kata tetangga nanti. Kamu pulang aja ya?" Atiqah menolak secara halus.


"Oke...oke...Entar sore aku jemput ya. Pakai baju yang warna merah yang aku beliin waktu itu" mengingatkan Atiqah kembali.


"Iya. Yaudah pulang gih. Bentar lagi juga sore. Kamu bolak-balik jadinya" Atiqah membuka gerbang rumah.


"Oke...daahh"


"Daahh..."


Bersambung....


*****


Maaf ya dikit telat up_nya. Tadi pagi vaksin ke 2 sama suami sambil dampingi anak ngerjain PTS.

__ADS_1


Seperti biasa, kasih rate bintang 5 terus like, komen juga giftnya sayang ☺


Terimakasih banyak 🙏


__ADS_2