
Pukul 10.00 malam, pak Bondan ayah Atiqah bersiap akan berangkat kerja sift malam. Seperti biasa, Robi sudah tidur sedangkan Atiqah bersama bu Asri mengantarkan pak Bondan sampai ke teras rumah.
"Bekalnya jangan telat dimakan pak, nanti maghnya kambuh lagi" bu Asri berulang kali mengatakan hal yang sama, pak Bondan sudah hafal betul dengan kebiasaan istrinya itu.
"Iya iya bu...sudah lima kali ibu bilang begitu. Yowes, bapak berangkat dulu. Mba bantuin ibu, bangun gasik. Kasihan ibumu" mengusap lengan bu Asri lalu memakai helm. Matanya menatap ke arah Atiqah.
"Iya pak, nanti Atiqah setel alarmnya. Bapak juga hati hati dijalan" mencium punggung tangan.
Motor bebek yang dikendarai pak Bondan sudah menghilang dari pandangan. Tersisa bu Asri dan Atiqah yang masih berdiri di teras rumah..
"Tidur mba, udah malem. Nanti telat bangun" ucap bu Asri sambil menutup pintu lalu memutar kunci.
"Iya bu" Atiqah langsung pergi masuk ke kamarnya. Tak lama layar ponselnya berkedip tanda panggilan masuk. Nama Lala tertera disana.
"Atiq...tadi kata winda, kerja kelompoknya besok aja habis pulang sekolah. Gimana?" tanya Lala dari seberang sana.
"Oke, besok pulang sekolah kita langsung ke rumah Winda" jawab Atiqah.
"Bahan bahannya udah disiapin?" tanya Lala kembali.
"Udah...udah kok. Besok aku bawa sekalian ke sekolah" Atiqah merebahkan tubuhnya ke ranjang single miliknya.
"Oke kalo gitu. Besok jangan telat! Bu Asih...Atiq. Kemaren kamu udah gak masuk pas jam pelajarannya. Jangan sampe besok keulang lagi" Lala tidak mau hal yang lalu terulang lagi pada Atiqah. Bisa-bisa sahabatnya itu mendapatkan nilai merah di kolom rapor pelajaran Matematika.
"Iya bawel. Nih udah aku setting alarmnya. Udah ya?! udah ngantuk nih" Atiqah menguap, Lala dapat mendengarnya dengan jelas.
"Oke...bye Atiqah"
"Bye..."
Ponsel Atiqah tergeletak begitu saja di samping guling. Matanya sudah sangat lelah, mengantuk.
Tengah malam ponselnya kembali bergetar, satu pesan dari Fajar.
Besok mas udah balik lagi ke Bandung. Yang semangat sekolahnya. Hati hati sama yang namanya Ardi. Isi pesan dari Fajar.
__ADS_1
Rencana Fajar satu minggu dirumah ia batalkan. Satu pesan dari Sherly, membuatnya terpaksa kembali ke Bandung besok.
*****
Pagi menjemput, Atiqah dan Robi sudah bersiap untuk ke sekolah kembali. Bu Asri dari pagi sekali sudah ke warungnya diantar lagi oleh kang Sepri menaiki bajajnya.
Sarapan yang terkesan buru-buru itu mengakibatkan peristiwa kecil. Saat Atiqah berjalan keluar rumah, tas ranselnya mengenai pigura foto pak Bondan dan Bu Asri diatas meja televisi.
Prangg...
Pigura itu terjatuh ke lantai dan pecah. Atiqah menutup kedua telinganya karena terkejut.
"Mba..." Robi ikut berteriak seraya memeluk Atiqah. "Foto ibu sama bapak mba" menunjuk dengan matanya.
"Astaga...mba jadi takut dek. Takut ada apa-apa sama ibu dan bapak" Atiqah menunduk menatap adiknya Robi yang memeluknya.
Bocah SD itu mendongak "Jangan nakut-nakutin mba. Tadi itu, mba yang teledor. Ayok beresin sama-sama" Atiqah mengangguk dan mereka berdua berjongkok memunguti pecahan kaca.
"Mba yang buang pecahan kacanya, nanti tanganmu luka" Atiqah segera bangkit, berjalan ke arah dapur. Membuang pecahan kaca ke tempat sampah.
"Untung aja gak telat, huh..." gumam Atiqah berlari masuk ke dalam sekolah setelah turun dari angkot.
"Atiqah..." Lala ikut berlari mengejar Atiqah. Dia baru saja sampai di sekolah.
"Hei, aku pikir kamu udah di kelas. Taunya lebih awal aku" menaiki anak tangga bersama.
"Aku hampir kesiangan" Lala meringis.
"Dasar...padahal semalem, kamu yang bawel ngingetin soal alarm. Ternyata? kesiangan" Lala menjulurkan lidahnya, meledek. Atiqah merangkulnya masuk ke dalam kelas. Tinggi badan Atiqah dan Lala cukup jauh perbedaannya. Lala yang pendek dan imut.
Bu Asih guru matematika berjalan memasuki kelas 1F, kelas Atiqah. Pelajaran berlangsung cukup lancar dan tenang. Pelajaran pertama di pagi hari diawali dengan kuis dadakan. Mau tidak mau seluruh siswa siswi kelas itu mengerjakan 10 soal yang cukup sulit dan membutuhkan beberapa rumus penyelesaian.
"Atiq...nomor dua udah belum?" bisik Lala disebelah Atiqah. Dibalas dengan anggukan kepala. Atiqah sedikit menggeser kertas jawaban miliknya agar Lala dapat melihat dan langsung menyalin.
"Lalaaa....dilarang mencontek! Atiqah..." mereka berdua ditegur bu Asih. Guru killer itu memang dikenal memiliki banyak mata di tubuhnya.
__ADS_1
tok tok tok...
"Permisi bu Asih" guru BK mengetuk pintu kelas lalu masuk menghampiri bu Asih yang sedang berdiri di tengah tengah kelas, mengawasi murid-murid.
"Ada apa?" tanya bu Asih lirih. Guru BK, bu Indri membisikkan kata pada bu Asih. Anggukan kepala mengerti dari bu Asih saat mendengar perkataan bu Indri.
"Atiqah, ikut sebentar dengan bu Indri. Bawa tas kamu, juga kertas jawabannya" seketika Atiqah bingung, Lala dan murid lainnya juga sama dan menoleh memandang Atiqah.
"Ada apa bu?" Atiqah menyerahkan kertas jawabannya pada bu Asih. Tas ransel miliknya sudah ia pakai di punggung.
"Nanti bu Indri yang jelaskan. Sekarang ikut saja" menerima kertas jawaban Atiqah lalu melihatnya sekilas dan bu Asih tersenyum bangga. Isi jawabannya benar semua.
"Baik bu" Atiqah berpamitan lalu pergi keluar kelas, sesekali ia menoleh ke belakang menatap Lala. Mengedikkan bahunya tanda tidak tahu untuk apa ia harus pergi bersama bu Indri.
Atiqah terus berjalan mengikuti bu Indri, menuruni anak tangga.
"Bu, bisa jelaskan ada apa sebenarnya? apa saya membuat kesalahan?" Atiqah terus bertanya sambil berjalan mengikuti kemana bu Indri pergi.
"Masuk dulu ya...ibu jelaskan di dalam mobil" bu Indri membuka pintu mobil milik sekolah, duduk disebelah sopir. Sedangkan Atiqah duduk di baris tengah.
Mereka masih sama-sama terdiam. Atiqah sungkan untuk bertanya lagi pada bu Indri, guru BK sekolahnya itu. Meskipun bukan termasuk dalam daftar guru yang ditakuti dan killer. Tetap saja Atiqah tidak bisa bebas untuk bertanya. Sampai akhirnya setelah 30 menit perjalanan, mobil berbelok masuk ke lobby rumah sakit umum daerah. Rumah sakit yang justru dekat dengan rumahnya.
"Rumah sakit? siapa yang sakit bu?" Atiqah penasaran dan selama perjalanan ia disibukkan dengan banyak dugaan. Dugaan yang ia yakini, mengenai perkelahiannya dengan Echa dkk kemarin.
Apa Echa masuk rumah sakit gara gara kemaren? ah...gak mungkin. Dia gak luka, cuma merah aja hidungnya. Atau dia mau jebak aku? pura-pura luka parah? Mati aku! dia anak orang kaya, apapun bisa dia lakuin. Sial!!
Bersambung....
*****
Maaf ya updatenya molor pake banget 🙏 waktu kebagi sama ngurus anak yang udah mulai daring. Maklum perdana masuk SD, jadi masih harus didampingi.
Terimakasih buat yang udah sabar menunggu 🙏
Jangan lupa selalu kasih bintang 5 di awal, lanjut kasih like & komen, lanjut lagi kasih giftnya 😁
__ADS_1