
"Mereka gak tau kan kalo aku anak ayah?" tanya Echa pada pak Hartono.
"Enggak"
"Awas ya kalo mereka tau! aku bakal marah sama ayah. Inget yah, semua temen-temenku taunya aku anak orang kaya. Bukan anak sopir" ketus Echa. "Yaudah, aku masuk dulu" Echa langsung membuka pintu mobil dan bersitatap dengan Atiqah yang baru saja melewatinya bersama Ardi.
Pak Hartono mengusap dadanya mendengar ucapan putri sulungnya. Putrinya malu memiliki seorang ayah berprofesi sopir pribadi.
"Ardi..." Echa berlari mendekati Ardi. Baru saja melepaskan helm, meletakkannya diatas jok.
"Aku duluan ke kelas" tangan Atiqah ditahan Ardi. "Tunggu! bareng aja". Atiqah menuruti, berdiri disebelah Ardi. Tatapan Echa kesal melihat Atiqah masih tetap disebelah Ardi.
"Apa?" tanya Ardi malas. Echa justru fokus dengan genggaman tangan Ardi pada Atiqah. Atiqah baru sadar dan berusaha melepaskan tapi Ardi lagi-lagi menahannya.
"Emm...ini soal acara pentas seni minggu depan. Tapi harus diomongin berdua aja. Ehemm..." Echa melirik ke arah Atiqah.
"Kalo soal itu diomonginnya bareng yang lainnya. Nanti istirahat kedua, kita kumpul diruang Osis" jawab Ardi tegas. Masalah seperti itu sudah jelas harus dibicarakan dengan semua panitia, ini minta berdua. Ardi cukup pintar untuk melihat situasi. Echa hanya ingin menyingkirkan Atiqah secara halus.
"Ooo...oke" Echa kikuk.
"Udah kan? ayok Atiqah!" menarik Atiqah kembali masuk ke sekolah lewat pintu samping parkiran.
Echa menghentakkan kakinya kesal. "Brengsek!!".
"Bisa lepasin tangannya? semua ngeliatin daritadi" ucap Atiqah sambil melihat ke sekeliling.
"Ah...maaf Atiqah" melepaskan genggaman. Mereka berdua menaiki anak tangga menuju kelas masing-masing. "Nanti aku anterin ke rumah sakit. Tunggu aja di kelas" Atiqah mengangguk mendengar perkataan Ardi. Ia tak mampu untuk menolaknya.
Lala yang khawatir dari kemarin, pesan-pesan yang ia kirimkan tidak mendapat balasan dari Atiqah. Bug...Lala melempar tasnya ke arah Atiqah saat akan menarik kursi dan duduk.
"Apaan sih La? kesambet kamu?" memungut tas Lala yang jatuh di kakinya.
"Aku kirim pesan gak ada yang dibales satupun. Eh ternyata malah asik pacaran sama ketos. Sialan kamu! aku khawatir tau gak?!" cecar Lala.
__ADS_1
"Maaf...maaf. Aku lupa mau buka pesan kamu. Tapi soal pacaran, aku gak pacaran ya La. Inget itu!" membuka tas, mengeluarkan beberapa buku.
"Halah...ngeles kamu Atiq. Semua udah pada ngeliat kalian berdua gandengan. Itu namanya apa kalo bukan jadian?!" saking gemasnya, Lala memukul lengan Atiqah.
"Aw...sakit La! bukan gitu. Tadi beneran gak sengaja. Ardi yang duluan pegang tangan aku. Tadi ada Echa. Trus lupa buat ngelepas. Udah ah...gak mau bahas. Aku nanti pulang sekolah masih harus ke rumah sakit. Gantian jagain bapak" membuka buku pelajaran Bahasa Inggris, ada beberapa soal yang belum ia kerjakan.
"Oh gitu...kirain beneran udah jadian. Tapi ada kemajuan. Dulu kamu jutek banget sama kak Ardi, eh sekarang udah akrab banget. Kamu udah mulai suka sama kak Ardi?" Lala merangkul lengan Atiqah, ingin tahu apa saja yang sudah sahabat dan ketos lalui.
"Aku udah bilang gak usah dibahas lagi" masih fokus mengerjakan.
"Ih...pelit banget. Katanya sahabat. Eh...nanti aku ikut ke rumah sakit ya. Mau nengokin bapak kamu" Lala memiringkan kepalanya, menunggu jawaban Atiqah.
"Maaf La, bukannya aku gak mau. Tapi tadi aku udah janji, ke rumah sakit sama Ardi" Lala otomatis melepaskan rangkulannya di lengan Atiqah. Mengerucutkan bibirnya.
"Tuh kan...maunya berduaan terus. Udah jadian pasti. Aku yakin banget. Jahat kamu Atiq! gak ada bilang apa-apa ke aku" Lala berpura-pura marah, sebenarnya ia senang melihat Atiqah yang sudah semakin dekat dengan Ardi.
"Beneran..serius aku. Aku gak ada jadian. Mmm...cuma karna kebetulan aja. Kemaren yang bantuin bapak aku ke rumah sakit ya dia. Nanti aja deh ceritanya" tepat saat bel tanda masuk sekolah berbunyi, Atiqah dan Lala berhenti mengobrol.
*****
"Mau makan dulu gak? didepan rumah sakit ada nasi uduk yang enak. Tapi kalo kamu mau" kata Atiqah sedikit keras.
Ardi menoleh ke kanan. "Boleh juga, aku mau" jawab Ardi sama kerasnya.
Ardi menghentikkan motornya didepan warung kecil bertuliskan Nasi Uduk Betawi. "Bener ini kan?" sambil melepaskan helmnya.
"Iya...bener" Atiqah turun lalu membenarkan roknya. Sedangkan Ardi merapihkan rambutnya dari kaca spion. "Udah ganteng" celetuk Atiqah.
"Apa?? aku emang ganteng kan" Ardi penuh percaya diri, tersenyum lebar menatap Atiqah. Dari anggukan kepala Atiqah, pertanda setuju. Memang Ardi tampan.
Atiqah dan Ardi duduk bersebelahan di kursi panjang warung kecil itu. Memesan dua porsi nasi uduk yang terkenal enak, lengkap dan soal harga lebih murah dibanding lainnya.
Selesai makan nasi uduk, Ardi mengajak Atiqah membeli parcel buah untuk diberikan pada bapak Bondan.
__ADS_1
"Yang ini aja. Gak usah besar-besar. Kebanyakan" ucap Atiqah saat Ardi memilih parcel berukuran besar.
"Oke, yang ini aja" Ardi menunjuk parcel ukuran sedang. "Sama ini, ini, ini 2kg semua ya mas" ucap Ardi lagi. Menunjuk buah apel merah, jeruk dan pear.
"Buat siapa lagi?" tanya Atiqah bingung.
"Buat adik kamu" Atiqah kembali merasa hangat dengan sikap Ardi yang perhatian dengan keluarganya.
Parcel dan beberapa kantong buah sudah mereka bawa. Keduanya berjalan memasuki rumah sakit setelah memarkirkan motor gede milik Ardi.
"Berat ya? sinih aku bawain yang satunya" Ardi menarik satu kantong buah di tangan kanan Atiqah. Kembali saling melemparkan senyum.
"Pak, Bu" sapa Atiqah. Membuka pintu kamar inap ayahnya.
"Atiqah..." ucap bu Asri dan pak Bondan bersamaan. Bu Asri sedang menyuapi suaminya. Perban di kepalanya baru saja diganti oleh dokter.
Atiqah mencium punggung tangan ayah dan ibunya, begitu juga dengan Ardi.
"Bapak lagi makan ternyata. Yang banyak makannya pak, biar cepet sembuh. Ini Ardi temen Mba di sekolah" Ardi mendekat dengan parcel buah didekapan dan satu kantong buah di tangan kirinya.
"Siang pak. Saya Ardi, kakak kelas Atiqah. Ini saya bawakan buah. Dimakan ya pak" Ardi terlihat sangat sopan dan ramah.
"Terimakasih nak Ardi" bu Asri dan pak Bondan kembali kompak. "Repot-repot bawain buah. Ibu sama bapak makin gak enak sama nak Ardi. Nak Ardi udah banyak bantu" ucap bu Asri, menerima parcel buah dan satu kantong. Meletakkan ke atas nakas sebelah ranjang. Atiqah ikut meletakannya juga.
"Yang 2 kantong ini buat Robi dari Ardi, bu" Atiqah merangkul ibunya, mengusap lengan.
"Ya ampun...makin ngrepotin lagi"
"Enggak kok bu. Kasihan Robi dirumah sendiri. Tapi Robi mandiri banget ya. Berani dia dirumah sendirian. Kalo saya udah nangis terus pasti" Ardi begitu mudah masuk ke dalam keluarga Atiqah. Berbicara santai dan akrab tapi tetap sopan.
"Karena dibiasakan nak Ardi. Bapak dan Ibu kerja cari uang buat sekolah Atiqah dan adiknya. Jadi ya...mau gak mau harus mandiri" jawab pak Bondan. Ardi manggut-manggut.
Bersambung....
__ADS_1
*****
Atiqah datang lagi guys 🤗🤗🤗