ATIQAH

ATIQAH
Bab 93 : Aku Tidak Mau Bangun!


__ADS_3

Waktunya sarapan, Guntur bergegas ke kamar Subroto setelah semalaman terjaga menunggu Atiqah di kamarnya. Sampai sepagi ini Atiqah belum juga sadar.


"Eyang, kulo badhe ningali kebon rumiyin (Eyang, saya mau melihat kebun dulu)," ujar Guntur pada Subroto di kamar. Ani sedang menyuapinya.


Subroto merasa ada sesuatu yang tidak beres. Situasi rumah terasa lengang. Kemarin masih bertemu dengan menantu dan cucunya. Namun saat kepulangannya, rumah terlihat sepi. Suara rengekan Aziel dan celotehan Atiqah pun tak terdengar. Dan pagi ini Subroto dipaksa untuk sarapan di dalam kamar.


"Mba Ani, saya titip Eyang. Kalau ada apa-apa telfon saya aja. Saya ke rumah sakit dulu," pesannya lirih pada Ani di depan pintu kamar lalu berpamitan. Ani melihat Atiqah di bawa masuk ke dalam ambulance. Ani iba, usianya lebih muda darinya tapi sungguh berat kehidupannya.


Guntur mengatakan soal ia akan ke kebun hanya beralasan. Guntur akan membawa Atiqah ke rumah sakit karena dalam waktu 24 jam masih belum sadarkan diri.


"Halo dok, kami dalam perjalanan," ucap Guntur pada dokter dari sambungan telefon.


"Baik, kami akan bersiap." jawab dokter dari ruangannya.


Suara sirine ambulance terdengar nyaring. Sepanjang perjalanan, semua kendaraan memberikan celah untuk dilewati.


Guntur memegang tangan Atiqah.


Tuhan, berikanlah kekuatan untuknya. Lapangkan lah hatinya. Tegarkanlah jiwanya. Dan juga berikan ia kebahagiaan, bertemu kembali dengan putranya. Doa Guntur dalam hati. Tangan Atiqah ia tempelkan pada keningnya.


Selama Atiqah tidak sadarkan diri, dalam mimpinya ia kembali pada situasi Aziel dibawa pergi oleh Anne, Ardi, Melda dan Ryan.


Atiqah menahan Ardi dengan memegang satu kakinya kuat-kuat. 'Jangan bawa putraku! Jangan! Bunuh aku aja! dari pada aku hidup tanpa Ziel bersamaku. Bunuh aku aja! Bunuh aku ...'


Ardi meneriakinya, 'Aku lakuin semua ini supaya kamu nggak berani pergi tinggalin aku dan bawa anakku. Kalau kamu masih mau ketemu Ziel, jangan berulah! Dan sampai kapan pun aku nggak akan pernah menceraikanmu!'


Atiqah menangis, sambil memeluk baju Aziel. Hatinya begitu hancur.


Ambulance masuk ke lobby rumah sakit. Brankar dimana Atiqah terbaring di atasnya diturunkan lalu didorong masuk cepat-cepat. Guntur menunggu di luar ruangan.


Satu jam berlalu, dokter keluar dan meminta Guntur masuk ke ruangannya.


"Silahkan duduk mas Guntur," ucap dokter.


"Terimakasih dok," Guntur menarik kursi, duduk di hadapan dokter Arumi.


"Jadi begini mas Guntur ... Setelah saya memeriksa semua. Saya dapat mengambil kesimpulan bahwa ibu Atiqah mengalami Prolonged Grief Disorder. Lebih tepatnya gangguan kesedihan yang mendalam. Dan di alam bawah sadar bu Atiqah sendiri, ia tidak mau bangun. Jadi ... saya sarankan untuk tetap di rawat disini. Kami akan pantau terus perkembangannya," terang dokter Arumi pada Guntur.


"Apa pun yang terbaik untuk kesembuhan mbak Atiqah, saya setuju dok," timpal Guntur.

__ADS_1


Bagi Guntur, semua akan ia lakukan demi pulihnya Atiqah. Ia akan mendukung sepenuhnya. Guntur hanya ingin Atiqah sadar dan kembali bangkit.


"Baik mas Guntur. Lima belas menit lagi, bu Atiqah akan kami pindahkan ke kamar inap." ujar dokter.


"Baik dok," jawab Guntur.


Keduanya keluar menuju dimana Atiqah berada.


Guntur duduk menatap layar ponselnya. Ia kembali membuka file rahasia yang di simpannya. Di dalamnya terdapat beberapa foto juga video yang sebagian ia ambil diam-diam dan ada juga yang memang Atiqah pinta.


Atiqah yang sedang mengandung, saat itu terlihat sangat ceria meski pun Guntur tahu hati Atiqah terluka oleh sikap Ardi yang mengacuhkannya. Melakukan senam ibu hamil, memasak bersama mbok Jum, berenang dan banyak lagi.


Ada satu momen dimana Atiqah memintanya merekam video bersama Aziel untuk dikirimkan pada Ardi. Guntur tidak menghapusnya.


Lalu Guntur membuka kembali pesan semalam yang dikirmkan Ardi padanya. Cukup membuat Guntur sadar diri dan tidak mau ikut campur terlalu jauh antara Ardi dan Atiqah.


📩 Ardi


Kalau kamu mau Atiqah ketemu Aziel, jangan ikut campur urusan kami! aku udah cukup muak ngelihat kamu cium istriku. Jadi jangan buat ulah! Kamu masih dekati istriku, Aziel nggak akan pernah ketemu ibunya!


Kemudian satu notifikasi pesan dari Ani masuk ke ponsel Guntur.


📩 Ani


Guntur mengusap wajahnya setelah membaca pesan dari Ani.


📩 Guntur


Jangan dulu. Mbak Atiqah belum siuman. Saya sedang menunggu dokter memindahkan mbak Atiqah ke kamar inap. Beri pengertian ke Eyang.


Ani membalasnya cepat.


📩 Ani


Bapak tetap mau ke rumah sakit. Bapak terus mengoceh nggak jelas. Beliau marah. Saya antar saja ya mas?


Guntur menghela nafasnya.


📩 Guntur

__ADS_1


Yasudah, kalau memang Eyang memaksa. Minta tolong mang Pardi di kebun untuk antarkan Eyang sekarang.


📩 Ani


Baik mas.


Guntur memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Pintu terbuka, Atiqah akan dipindahkan.


Suara roda brankar yang didorong memenuhi lorong itu. Atiqah putus asa. Alam bawah sadarnya yang menginginkan dirinya tetap seperti ini. Ia tidak mau bangun, membuka mata.


Subroto akhirnya datang, matanya langsung memerah melihat kondisi Atiqah. Subroto menangis dalam diam. Rasanya ingin berteriak, memaki cucu dan menantunya. Tapi tidak bisa, betapa frustasinya Subroto.


"Eyang sabar. Jangan emosi," ucap Guntur mengusap punggung Subroto. Subroto menangis. Ia merasa bersalah, tidak becus menjaga Atiqah dan cicitnya. Guntur menyeka air mata itu.


*****


Saat Atiqah sedang berjuang dalam memerangi kesedihannya, Ardi bersama Melda dan Ryan membawa Aziel terbang ke Amerika tanpa Anne. Terbang satu hari setelah sampai di Singapura.


Aziel yang terbiasa menyusu dan mencium aroma tubuh Atiqah, selalu rewel. Melda memberikan susu formula terbaik di tolaknya. Aziel terus saja menangis.


"Aziel ini Ayah, jangan nangis terus dong," menimang-nimang putranya di ruang keluarga. Mereka sudah sampai di Canada.


Rumah gaya American Style Townhouse bercat cream itu milik Melda dan Ryan suaminya. Perumahan cukup mewah di kawasan itu.



"Sini sama kakak aja. Kamu belum pantes jadi Ayah! --mengambil alih Aziel, menggendongnya-- Masih kecil tapi doyan kawin. Kelakuan kamu nggak jauh beda sama Papa." ketus Melda.


"Nggak usah nyama-nyamain aku sama Papa!" Ardi menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang. Melda mencibir.


"Besok baby sitter Ziel datang. Masih muda. Awas aja kalau kamu kawinin dia juga!" ancam Melda.


"Gila! aku cinta mati sama istriku. Mau dia telanjang di depanku, aku juga nggak bakal naf*su," sanggah Ardi. Ia percaya pada dirinya sendiri, tidak akan menghianati Atiqah.


"Bukan cinta tapi bodoh! suruh siapa kamu kawinin itu perempuan sampai hamil?" Melda berlalu, menuju tangga. Ia menggendong Aziel ke kamarnya.


"Aku cinta, makanya aku bikin dia kaya gini," Ardi menjawab dengan teriakan agar Melda mendengarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2