
Setelah pak Bondan siuman dan dipindahkan ke ruang rawat inap, Ardi berpamitan karna hari sudah menjelang petang.
"Terimakasih nak Ardi, sudah bantu bapak" ucap bu Asri yang duduk di kursi samping ranjang dimana pak Bondan sudah tertidur kembali.
"Sama-sama bu. Saya pamit sekarang" menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati nak Ardi" ucap bu Asri.
"Mba antar Ardi dulu ya bu" bu Asri mengangguk mengizinkan.
Atiqah menatap punggung Ardi, senyumannya merekah. Kakak kelas yang sudah sering kali mengganggunya tapi kali ini perasaannya berbeda. Ada sesuatu yang hangat di dalam hatinya. Ardi yang pemaksa, usil dan suka sekali mengganggunya, saat ini berubah menjadi sosok lain. Sosok baik hati yang sudah menolongnya, lebih tepatnya menolong ayahnya.
"Aku pasti bayar biaya pengobatan bapak. Aku cicil, aku janji" Atiqah tidak ingin merepotkan Ardi terlalu banyak.
Ardi membalikkan badannya. "Aku ikhlas bantu bapak kamu Atiqah. Gak perlu ganti atau sampai di cicil".
"Tapi...." Ardi langsung menutup bibir Atiqah dengan telunjuknya.
"Ssttt...aku ikhlas. Jangan dibahas lagi. Aku pulang ya? kalau ada sesuatu yang kamu butuhin lagi, telfon aku" Atiqah mengangguk pelan, terus menatap mata Ardi seolah terhipnotis. Mata coklat itu baru disadarinya.
Handsome. Batin Atiqah.
"A...aku gak punya nomor kamu" Atiqah meringis. Ardi langsung menengadahkan telapak tangannya, meminta ponsel Atiqah.
"Ah...iya" Atiqah mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ardi langsung mengetikkan nomor ponselnya dan langsung mendial ke nomornya. Ponselnya berdering.
"Oke, udah ya. Aku simpan pake nama apa?" tanya Ardi tersenyum manis, memainkan kedua alisnya.
"Apaan sih? ya Atiqah lah, emang siapa lagi" Atiqah menyimpan nomor Ardi.
"Ya siapa tau pengen dinamain Atiqahku gitu" mengedipkan satu matanya.
"Ya terserah, itu kan handphone kamu" mengedikkan bahu. Mengalihkan tatapannya lalu tersenyum. Atiqah tidak ingin Ardi melihat senyumannya. Tapi salah, Ardi melihat tarikan sudut bibirnya yang melengkung ke atas.
"Oke, fix. ATIQAHKU. Kalo nomor aku, kamu simpan pake nama apa?" tanya Ardi melirik ke layar ponsel milik Atiqah.
Atiqah menyodorkan layar ponselnya tepat didepan wajah Ardi. "Nih...udah kan?" Ardi manggut-manggut. Baginya sudah cukup puas sudah saling bertukar nomor ponsel, meskipun nomornya disimpan hanya dengan satu kata ARDI.
Nanti...pasti kamu akan ganti namaku di ponsel jadi ARDIKU. Batin Ardi mantap.
__ADS_1
"Aku pulang, bye" melambaikan tangannya. Atiqah membalas lambaian itu, melihat punggung Ardi yang terus berjalan keluar pintu lobby.
Terimakasih banyak, sudah bantu aku. Maaf aku terlalu underestimate. Ternyata kamu sangat baik. Atiqah tersenyum, pipinya bersemu merah.
*****
Motor gede hitam milik Ardi masuk ke dalam garasi rumah. Hatinya sedang berbunga bunga. Tangan kanannya membawa paperbag berisi seragam sekolahnya tadi. Berjalan masuk rumah dengan bersenandung dan bersiul-siul.
"Bik, makasih ya bantuannya tadi. Maaf aku ngrepotin lagi. Ini seragamku, kotor. Kalo gak bisa hilang juga nodanya, buang aja" menyerahkan paperbag itu pada bik Narti.
"Iya mas" menerimanya lalu berbalik tanpa mengecek isinya.
"Tunggu! bik Narti, kemari! Bawa paperbagnya" suara Nyonya besar dari arah tangga. Ardi menoleh.
"Mama..." gumam Ardi.
"Bik...kemari!" bik Narti tersentak, berjalan melewati Ardi. Berkata tanpa suara "Maaf mas".
Anne menyerobot cepat paperbag di tangan Narti. Membuka dan mengambilnya, mengangkatnya ke udara. Matanya membelalak. "Apa ini Ardi? kamu tawuran?".
Ardi menggeleng cepat. "Enggak Ma. Sejak kapan aku suka ikut tawuran".
Nama besar keluarga yang cukup terkenal di Indonesia. Eyang buyut Ardi yang berasal dari Jogja adalah pengusaha sukses di Jakarta. Kelak perusahaan-perusahaan milik keluarga akan diwariskan pada Ardi. Cucu laki-laki satu-satunya di keluarga besar Danurdara.
"Sabar Mamaku sayang. Aku jelasin tapi jangan disini, Mama tunggu di kamar. Nanti aku nyusul sehabis mandi. Oke Mom?" merangkul lalu mengecup pipi. Anne selalu luluh dengan putranya itu.
Ardi meraih paperbag di tangan Anne, menyerahkan kembali pada Narti. "Bik..."
"Iya mas...permisi Nyonya" Narti membawanya masuk keruang loundry didekat kamarnya.
"Hemm" jawab Anne. Ardi mendorong Anne menaiki anak tangga, mengantarkan Mamanya sampai pintu kamar.
"Tunggu di dalam ya Ma. Aku mandi dulu" Ardi kembali mengecup pipi Anne lagi.
"Iya iya...jangan lama-lama! kamu harus secepatnya jelaskan pada Mama!" menunjuk wajah putranya dengan jari telunjuk.
"Iya Mamaku sayang" Ardi tersenyum, berlari ke kamarnya.
Baru saja Ardi selesai mandi, layar ponselnya bergetar dan berkedip kedip di atas ranjang. Senyumnya terbit saat melihat siapa yang menelponnya. ATIQAHKU.
__ADS_1
"Halo..." suara Ardi menyapa.
"Hem..ehem..." Atiqah berdehem menyiapkan suaranya. "Ini aku...udah sampe dirumah?" tanya Atiqah jujur. Ia ingin tahu soal Ardi, entah kenapa saat ini Atiqah merasa rindu mendengar suara Ardi dan juga kabarnya.
Ardi tersenyum mendengarnya. "Aku udah sampai 15 menit yang lalu. Ada apa? ada yang kamu butuhin?".
Atiqah menggelengkan kepalanya. "Enggak...gak ada. Cuma pengen tau aja. Kalo udah dirumah, syukur deh" sambil mengusap pipinya sendiri.
Ardi kembali tersenyum sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. "Besok aku jemput, mau gak?". Atiqah yang sedang duduk di kursi lorong rumah sakit menutup wajahnya saat mendengar ajakan Ardi. Sebelumnya Atiqah akan langsung menolaknya dengan ketus tapi sekarang, hatinya berbunga-bunga.
"Gimana? kok diem aja? gak mau ya. Yaud...." belum selesai Ardi bicara, Atiqah langsung menyela. "Mau...aku mau".
Ardi senang bukan main, Atiqah mau berangkat ke sekolah bersama. "Oke, aku jemput besok pagi. Di rumah atau di rumah sakit?" tanya Ardi sambil membuka lemari pakaiannya. Memilih kaos dan celana pendek.
"Dirumah aja. Eh...emang kamu tau rumahku?" tanya Atiqah, ia sekarang sudah di depan rumah sakit menunggu ojol. Kasihan Robi dirumah sendirian, pesan bu Asri tadi.
"Aku tau. Kamu lagi dimana?" Ardi mendengar suara bising kendaraan lalu lalang.
"Aku lagi nunggu ojol. Mau pulang. Adik aku dirumah, gak ada orang" suara Atiqah sedikit berteriak.
"Kenapa gak bilang tadi? tau gitu aku anter pulang. Tunggu aja didepan. Jangan naik ojol. Aku jemput sekarang!" Ardi buru-buru memakai baju dan celana juga jaketnya. Ia lupa dengan janjinya pada Anne. Mamanya itu sudah mengantuk karena menunggu Ardi terlalu lama.
Atiqah dilema, ia sudah memesan ojol tapi Ardi sedang menjemputnya. "Mas, maaf banget. Aku gak jadi naik tapi aku bayar. Ini mas. Maaf ya mas" beruntung mas ojol itu tidak marah. Yang terpenting ia mendapat bayaran.
Menunggu sekitar 15 menit, motor gede hitam itu mendekati Atiqah yang berdiri di pinggir trotoar rumah sakit.
"Kenapa gak nunggu di dalem? disini dingin. Ini pakai" melepaskan jaketnya lalu menyerahkan pada Atiqah.
"Gak papa. Aku gak kedinginan. Kamu aja yang pakai" Ardi turun dari motor, langsung memakaikan jaketnya pada Atiqah. "Udah, ayok naik!" Atiqah naik ke atas motor dengan tangannya bertumpu di pundak Ardi.
"Pegang sini" menarik tangan Atiqah agar berpegangan pada pinggangnya. Atiqah menurut saja. "Kalau masih dingin, kamu bisa peluk aku" suara Ardi sedikit keras, menoleh ke kanan. Motornya sudah ia lajukan.
Ardi tersenyum bahagia karena saat ini tangan Atiqah sudah melingkar di perutnya. Atiqah memeluknya.
Bersambung....
*****
E do do e....anget kali lah. Malam-malam naik motor sport sambil meluk. Jadi inget jaman dulu othor pacaran ama suamik. Bedanya motor mio matic merah yang keren pada jamannya 😝😝😝
__ADS_1
Mau peluk suamik lagi ah 🏃♀️🏃♀️🏃♀️