ATIQAH

ATIQAH
FLASHBACK (4)


__ADS_3

Setelah pertemuan itu, Fajar sering datang berkunjung ke apartemen Atiqah. Atiqah senang bukan main. Tetangganya dulu ada di dekatnya lagi.


"Mas duduk ya, aku masih masak. Sebentar kok. Mas Fajar nonton drama juga boleh," ucap Atiqah, menyodorkan remote televisi.


"Drama? aku nggak suka drakor," -menerima remote, menjatuhkan tubuhnya ke sofa- "Mas lebih suka yang action hollywood," ujarnya sambil memencet tombol, mencari acara yang sesuai dengan minatnya.


"Iya deh, terserah Mas aja. Aku lanjut masak," Atiqah berlalu, meneruskan kegiatan memasaknya.


Menu sederhana sesuai permintaan Fajar, tumis kangkung, bakwan jagung dan tempe goreng. Di negri orang sudah pasti sulit menemukan bahan makanan dari tanah air. Beruntung Fajar memiliki teman yang belum lama ini membuka toko segala bahan dan sayuran yang di impor langsung dari Indonesia.


"Gimana, Mas? enak nggak?" tanya Atiqah pada Fajar.


"Ini sih enak banget," -mengacungkan jempol kirinya- "lebih enak dari masakan ibuk juga bulek," sambungnya lagi.


Atiqah tertawa, "Kamu bohong, Mas. Nggak mungkin lebih enak dari budhe juga ibu. Jauh banget," ucapnya.


"Nggak percaya? aku suapin," menarik lengan kanan Atiqah agar lebih mendekat. Fajar menyuapkan nasi dengan tumis kangkung. "Bener kan, apa yang aku bilang. Mas nggak bohong,"


"Enak sih, tapi masih enak masakan budhe dan ibu. Masih kalah jauh," ucap Atiqah lalu menggigit bakwan jagung yang Fajar suapkan padanya.


"Bagi Mas, masakanmu lebih enak," tambahnya lagi.


"Nggak usah ngerayu gitu. Nggak pengaruh buat aku," Atiqah menjulurkan lidahnya, mengejek Fajar.


"Malah disangka ngerayu, Mas jujur dari lubuk hati yang terdalam," seketika Atiqah tertawa terpingkal-pingkal. Begitu juga dengan Fajar, ikut tertawa.


Mereka berdua menikmati makan siang sambil sesekali saling melempar candaan juga rayuan. Masakan Atiqah pun kandas tak tersisa.


"Makasih ya udah masakin, Mas. Yang sering-sering aja," ujar Fajar, mengangkat piring-piring membawanya ke wastafel dapur.


"Boleh-boleh. Asal bahan sama bumbu, Mas yang siapin. Aku tinggal olah aja," Atiqah meletakkan dua gelas ke dalam wastafel juga.

__ADS_1


"Siap! gampang kalau itu," -menyerobot spon cuci piring- "Mas aja yang cuci. Kamu potongin semangka. Mas mau yang seger sama manis juga, selain kamu," Fajar kembali merayu. Atiqah mencubit pinggang Fajar.


"Dasar tukang gombal," ucap Atiqah, beralih ke sisi kanan dapur dimana semangka ia simpan dalam kulkas.


"Kan Mas udah bilang kalau ngomong jujur. Kamu memang manis, Atiqah," ujar Fajar sambil terus menyeka piring.


"Sejak kapan Mas berubah jadi perayu begini?" tanya Atiqah, membawa semangka utuh. Ukurannya tidak terlalu besar.


"Memangnya dulu Mas nggak gini? sama aja ah," Fajar melanjutkan membilas piring dan gelas.


"Enggak. Dulu Mas nggak begini. Pasti karna Mas suka godain mahasiswi di kampus. Iya, kan!" Atiqah memiringkan wajahnya, menatap Fajar.


"Ngaco kamu! Mas nggak pernah godain murid ya. Mas gini cuma sama kamu aja," ungkapnya sambil mencipratkan air ke wajah Atiqah.


"Ishh ..." Atiqah menyeka wajahnya dengan tisu. "Mana ada maling ngaku. Dasar genit! huuu ..." Atiqah membalas dengan ejekan.


Fajar buru-buru menyeka tangannya yang basah lalu memeluk Atiqah dari belakang. Pelukan tiba-tiba itu membuat Atiqah membeku, tubuhnya berubah kaku. Pisau ditangan kanannya pun masih ia genggam.


"Aku nggak pernah ngerayu muridku. Cuma ke kamu aja," ungkap Fajar. Atiqah mengangguk perlahan. Rasanya ingin bernafas sangat susah.


Dagu Fajar berada di atas kepala Atiqah. Ia memejamkan mata. Semoga keputusan yang akan diambilnya ini, keputusan yang tepat. Semoga apa yang ia rasakan terhadap Atiqah, mendapat balasan yang sama.


"Aku masih motong semangka," celetuk Atiqah. Bingung harus berkata apa. Fajar masih memeluknya.


"Udah cukup motongnya. Mas mau ngomong sesuatu. Ini penting!" Fajar melepaskan pelukannya lalu menggandeng tangan Atiqah menuju sofa.


"Penting? soal apa?" tanyanya sambil berjalan mengikuti Fajar.


"Duduk sini!" titah Fajar.


Mereka saling berhadapan.

__ADS_1


"Mas langsung aja. Kita udah sama-sama dewasa. Kita sama-sama tau masa lalu masing-masing. Kita sama-sama punya rasa sakit di masa lalu. Tapi, kita nggak boleh diam aja dan memikirkan rasa sakit itu terus menerus. Kita juga udah saling kenal dari kecil. Mas mau sama kamu. Jalani sisa hidup kita sama-sama. Nggak harus sekarang kita nikah. Untuk urusan itu, Mas mau menunggu sampai kamu siap," ungkapan Fajar yang panjang itu, cukup membuat Atiqah tersentuh.


Kedekatan mereka beberapa bulan ini cukup intens. Meskipun sama-sama sibuk, namun Fajar selalu datang ke rumah sakit ataupun ke apartemen milik Atiqah.


Atiqah masih diam, ia bingung akan memberikan jawaban apa pada Fajar.


"Kamu diam, artinya kamu menolak?" tanya Fajar. Atiqah buru-buru menggelengkan kepala.


"Enggak. Bukan itu maksudku, Mas. Aku mau, aku mau. Tapi sesuai kata Mas Fajar tadi, untuk urusan selanjutnya, aku masih harus memikirkan gimana Aziel. Aku takut Aziel nggak setuju," jawab Atiqah. Fajar langsung menggenggam dua tangan Atiqah lalu mengecupnya sebentar.


"Makasih kamu mau terima, Mas. Soal Aziel, itu tanggung jawab Mas juga. Mas akan berusaha lebih dekat dan perhatian lagi. Kita berjuang sama-sama," ujar Fajar. Atiqah setuju.


Aziel dan Fajar memang belum pernah bertemu secara langsung. Hanya sesekali berhubungan lewat sambungan video call. Yang Aziel tahu, Fajar dan ibunya hanya berteman.


Fajar membawa Atiqah dalam dekapan.


"Maaf Mas, keadaanku kaya gini. Aku udah punya anak. Pasti susah buat Mas, juga-" ucapannya terhenti.


"Juga apa? bapak sama ibuk?" tanya Fajar.


Atiqah mengangguk, "Iya, Mas. Aku takut budhe dan pakdhe kecewa. Harusnya Mas Fajar dapetin yang lebih baik lagi. Bukan aku yang kaya gini," ucap Atiqah jujur, ia takut akan penolakan orangtua Fajar.


Lingkungan sekitar rumahnya tahu masa lalunya dengan Ardi. Dari kehamilannya sampai akhirnya berpisah dengan mantan suaminya. Semua tetangga tahu.


"Bagiku kamu istimewa," -mencium kening- "bapak sama Ibuk nggak kaya gitu. Mereka pasti seneng banget. Apalagi ada cucu ganteng. Bapak sama ibuk pengen banget punya cucu. Kamu tau itu, kan." sanggah Fajar. Ia tahu betul orangtuanya tidak sepicik itu.


"Aku cuma-" Fajar langsung menutup bibir Atiqah dengan bibirnya. Fajar menciumnya dengan lembut. Atiqah memejamkan mata lalu membuka bibirnya untuk menerima ciuman yang lebih dalam lagi. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menerima ciuman tulus dari seorang laki-laki.


Fajar memijat dan menekan tengkuk Atiqah. Tangan Atiqah meremas tepian pinggang Fajar sambil terus menikmati kelembutan bibir laki-laki yang baru saja menjadi kekasihnya.


Atiqah meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja Fajar katakan padanya adalah benar. Tidak ada hal yang harus ia takuti dan cemaskan lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2