ATIQAH

ATIQAH
Bab 64 : Kembali ke Jakarta?


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Subroto menerima kenyataan bahwa ia akan memiliki seorang cicit.


Sedangkan Ardi esok hari harus kembali ke ibu kota. Atas perintah Subroto, Ardi harus menyelesaikan sekolahnya. Dan Atiqah tetap di Jogja.


"Selesaikan sekolahmu. Biarkan Atiqah disini. Ada Eyang yang jaga" ucap Subroto pada Ardi di teras belakang menghadap kolam renang.


Atiqah sedang di kamar, beristirahat. Kepalanya pusing. Isi perutnya ia keluarkan lagi setelah sarapan tadi pagi.


"Tapi Atiqah butuh Ardi, Eyang. Atiqah pasti sedih" ucap Ardi, gusar.


"Atiqah luwih nelongso meneh nek awakmu ra lanjut sekolah. Arep dadi opo koe?" Subroto berkata dengan hardiknya. Sudah pasti Atiqah akan lebih sedih kalau Ardi tidak lulus sekolah. Mau jadi apa? harga diri seorang laki-laki adalah bekerja, memenuhi kebutuhan keluarganya.


"Ardi sudah terjamin mewarisi perusahaan keluarga. Jadi Ardi tunda dulu sekolahnya sampai Atiqah melahirkan" dengan santainya Ardi mengucapkan hal itu pada kakeknya. Ia tidak gentar dengan perkataan Subroto sebelumnya.


"Bocah gendeng! Penak men uripmu! Kabeh kuwi ono perjuangane, ono usahane. Pendidikan kuwi penting, ben awakmu iso jalanke perusahaan. Ora mung ujug-ujug langsung penak. Wes ojo nglawan, ojo kokehan cangkem. Manut karo Eyang!"


(Anak gila! Enak sekali hidupmu! Semua itu ada perjuangannya, ada usahanya. Pendidikan itu penting, agar kamu bisa menjalankan perusahaan. Tidak tiba-tiba langsung enak. Sudah jangan melawan, jangan kebanyakan omong. Patuh sama Eyang!)


Ucapan tegas Subroto mampu membungkam Ardi yang masih ingin mendebat. Wajahnya seketika berubah muram.


Ardi hanya ingin menunda sekolahnya, ia ingin menemani Atiqah yang sedang hamil. Selain itu Ardi tidak ingin Atiqah dan Guntur terlalu dekat.


Ucapan Subroto tidak bisa diganggu gugat. Tiket penerbangan sore ke Jakarta sudah di tangan Guntur. Baru saja asisten kakeknya itu menyerahkannya.


Ardi memandangi tiket di tangannya. Duduk di teras paviliun, hujan turun tidak begitu deras. Lalu ia bangkit masuk ke dalam, melihat Atiqah sedang duduk memangku piring yang diatasnya terdapat buah mangga muda lengkap dengan sambal rujak, sambil menonton film romantis hollywood.


"Yang ... besok aku balik Jakarta. Kamu nggak papa disini nggak ada aku?" tanya Ardi sambil memeluk Atiqah diruang santai paviliun. Atiqah masih memangku piring.


"Mau gimana lagi? kamu harus lulus SMA. Aku baik-baik aja" ucapannya tidak sama dengan raut wajahnya. Atiqah menangis.


"Katanya baik-baik aja tapi kenapa nangis?" Ardi meraih piring dipangkuan lalu ia letakkan ke atas meja, menyeka air mata Atiqah yang turun di pipi.


"Enggak, aku nggak nangis. Aku baik-baik aja" Atiqah menampik tangan Ardi.


"Kalau kamu sedih gini, aku sedih juga --menangkup wajah Atiqah lalu mengecupnya-- "Jangan sedih ya? liburan nanti aku kesini" tanpa aba-aba Ardi mengangkat Atiqah, membopongnya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Turunin ... aku takut. Aku berat. Please Ardi turunin" Atiqah takut terjatuh, memeluk leher Ardi erat.


"Kamu makin kurus, nggak berat sama sekali" Ardi menendang pintu kamar sampai tertutup rapat.


"Mau ngapain masuk ke kamar? aku masih mau makan mangga" Atiqah menatap Ardi yang saat ini sudah menindihnya.


Wajahnya semakin mendekat lalu berbisik. "Aku mau makan kamu" menjilat cuping telinga. Atiqah meremang. Hujan masih turun dan sore itu terasa semakin dingin.


Ardi memberi kecupan-kecupan kecil, menyesap leher lalu membuka kancing baju Atiqah satu per satu. Atiqah membuka bibirnya saat Ardi terus mendesak ingin melilitkan lidahnya ke dalam.


Rasanya benar-benar memabukkan, meskipun sudah berkali kali ia rasakan. Satu minggu menjadi istri Ardi, ia sudah digempur suaminya setiap hari, pagi dan malam.


"Tadi pagi udah, harusnya nanti malam tapi kenapa sore pengen lagi?" suara lirih Atiqah sambil menatap Ardi yang sedang mengulumm puncak dadanya. Mengusap-usap rambut Ardi.


"Nggak papa, pengen aja. Nanti malem , aku mau lagi" ucap Ardi. Kembali bermain dua gundukan Atiqah yang pas di genggaman.


"Emmm ...." Atiqah memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya.


Ardi merosot turun ke perut, mengecupnya sambil menarik celana hingga terlepas.


Ardi meliuk-liukkan lidahnya dibawah sana. Matanya menatap mata sayu Atiqah. Istrinya itu sedang meremas dua dadanya. Rasanya seperti terbang melayang.


Miliknya berkedut, Ardi tersenyum puas melihat Atiqah mengejang.


Ardi menurunkan kaki Atiqah lalu memanjat naik sampai tepat di depan wajah. "Cium" meminta istrinya untuk memasukkan ke dalam mulut.


"Ahh ..." rasa hangat melingkupi. Tangan kanannya menumpu pada kepala ranjang, sedangkan tangan kirinya memandu kepala Atiqah untuk bergerak.


Ardi ikut menggerakkan tubuh bagian bawahnya maju mundur sampai mengenai pangkal tenggorokan Atiqah.


"Cukup Yang. Sekarang ya?" ucapnya lembut, menyeka bibir Atiqah dengan ibu jarinya. Atiqah mengangguk.


Ardi melorot lalu memposisikan miliknya yang siap menghujam. Atiqah menggigit bibirnya lagi. Rasa lelahnya tadi seakan hilang. Atiqah merinding melihat Ardi yang sedang mengusap ujung inti tubuhnya lalu mengangkat satu kaki, meletakkan di dadanya.


Ardi melesakkan dan langsung bergerak. Gerakannya cepat dan belingsatan sambil meremas satu dada lalu menarik puncaknya.

__ADS_1


"Ahh ..." Atiqah menganga. Rasanya benar-benar luar biasa. Ardi selalu tangguh seperti biasanya. Laki-laki muda umur 18 tahun, suaminya itu memiliki tenaga yang ia pikir diluar ekspektasinya.


Ardi memeluk erat satu kaki Atiqah yang berada di dadanya. Lalu menaikkan satu kaki lagi. Ardi terus bergerak.


"Balik Yang" Ardi menyuruh Atiqah berbalik memunggunginya.


Plakk...tamparan keras pada bokong Atiqah, meremasnya lalu mencium dan menggigitnya.


Atiqah menjerit. Ardi memeluknya sambil bermain puncak dada dan menyesap leher jenjang, membuat tanda kemerahan disana.


"Kamu selalu bikin aku pengen terus Yang" Ardi meraup bibir Atiqah saat menoleh ke kanan.


"Do it!! jangan nyiksa aku gini" Atiqah merengek. Rasanya dibawah sana sudah sangat basah.


Ardi menyerobot tisu diatas nakas, menyeka milik Atiqah. "Nunduk Yang, aku mau sekarang" perintahnya lagi pada Atiqah. Istrinya itu langsung menurut, membungkukkan badannya, melebarkan kakinya.


"Ahh ... Yang. Emm ... terus Yang. Lebih cepet lagi" Atiqah meracau. Ardi memukul bokong yang ikut bergerak sesuai irama.


"Kamu seksi banget" menarik Atiqah menempelkan punggungnya ke dada Ardi sambil terus bergerak maju mundur.


Hujan masih turun, semakin deras. Suara hujan meredam jeritan dan desahaan kedua pasangan yang sedang bergelut di atas ranjang.


Suara ketukan pintu paviliun pun tidak terdengar. Guntur masuk ke dalam berniat menanyakan makanan apa lagi yang ingin Atiqah makan. Tapi suara merdu dari bibir Atiqah dan Ardi terdengar sayup-sayup di telinga Guntur.


Guntur menempelkan telinganya ke pintu kamar. Rasanya baru kali ini ia mendengar orang sedang bercinta. Jantungnya ikut berpacu, celananya mendadak sesak.


Guntur menggelengkan kepala lalu mengusap wajahnya kasar. Ia memilih keluar pergi ke kamarnya sendiri.


"Ahh ... Ardi, cepet lagi. Aku mau lebih"


"Yang ... kamu enak banget"


Suara-suara itu memenuhi gendang telinga dan pikiran Guntur. Ia membasuh wajahnya. Menatap cermin yang menempel di dinding kamar mandi.


Guntur justru membayangkan Atiqah. Wajah sayu Atiqah dan desahann yang ia dengar tadi, mampu membangkitkan sesuatu. Guntur memilih mengguyur kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran kotor itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2