
Ardi sudah melepaskan celananya, sudah bersiap memasuki inti tubuh Atiqah.
"A-ku takut" rasa penasarannya berubah menjadi rasa takut dan cemas. Usianya masih sangat belia, 16 tahun. Sedangkan Ardi 17 tahun.
Apa ini tepat? pikiran Atiqah berkecamuk. Apa tepat memberikan kesuciannya pada seorang Ardi? kakak kelas sekaligus Ketua Osis dan cucu konglomerat keluarga Danurdara.
"Kenapa takut? aku siap tanggung jawab kalo ada apa-apa sama kamu. Aku cinta banget sama kamu Atiqah" mengecup kening kekasihnya itu lama.
"Janji?" mata keduanya bersitatap. Sejujurnya Atiqah merasakan sesuatu menyentuh kedua pahanya.
"Iya, aku janji Yang. Aku mulai sekarang ya?" seketika Atiqah menegang saat tangan Ardi telah memposisikan bagian ujung miliknya pada inti tubuh Atiqah.
Ponsel Atiqah berbunyi nyaring dari dalam tasnya. Seakan menjadi rem bagi keduanya yang akan melakukan hal diluar batas.
"Hp aku...bunyi" Atiqah menahan dada Ardi.
"Gak usah perduliin. Udah kepalang tanggung Yang. Tinggal masuk aja nih" Ardi sedikit kesal dengan bunyi ponsel Atiqah. Miliknya sudah ingin merasakan kehangatan dan bergerak maju mundur dalam tubuh kekasihnya itu.
"Aku liat dulu siapa yang telfon. Please" Atiqah mendorong lembut dada Ardi. Atiqah meraih selimut, menutupi tubuh polosnya mencari keberadaan tasnya.
Ardi beringsut menelungkupkan tubuhnya ke atas ranjang. Sial!! umpat Ardi dalam hati.
Layar ponselnya berkedip menampilkan siapa yang menghubunginya di waktu hampir pukul 11 malam. Tangannya gemetar, menatap Ardi dan layar ponsel berkali kali. Sampai panggilan itu kembali putus.
"Ardi...bapak aku telfon. Gimana ini?" tanya Atiqah bingung harus menjawab atau tidak panggilan itu.
"Bapak kamu??" Atiqah mengangguk cepat.
"Angkat aja. Atur suara kamu jangan sampai curiga" Atiqah kembali mengangguk lalu menggeser tombol hijau ke arah atas.
"Iya pak?" jawab Atiqah saat pertama kali mengangkat telfon dari ayahnya, Bondan.
"Ini udah malem mba. Belum selesai juga acara makan malemnya?".
"Udah pak, baru aja selesai. Ini mba udah perjalanan pulang sama Ardi. Sedikit macet, malam minggu pak" Atiqah berbohong.
"Yaudah, hati-hati di jalan. Bilang sama Ardi gak usah ngebut".
"Iya pak" Atiqah menutup panggilan telfon ayahnya.
Atiqah memunguti pakaiannya lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Menatap pantulan dirinya dengan beberapa bercak kemerahan di leher dan dada.
__ADS_1
"Arghh....****" Ardi meremas rambutnya lalu menyusul Atiqah ke kamar mandi.
"Ngapain kamu masuk?" Atiqah yang sedang membersihkan tubuhnya menyambar handuk menutupi dada sampai atas pahanya. Ardi yang tidak memakai apapun membuat Atiqah berdebar melemparkan pandangannya ke lain arah.
"Kamu mau tinggalin aku gini aja?!" Ardi mendorong keras Atiqah ke tembok kamar mandi.
"Aw...sakitt" merasakan sakit dibelakang kepala dan dua bahunya dipegang kuat oleh Ardi.
"Tuntasin dulu apa yang mau kita lakuin tadi!" Ardi menarik handuk dari cengkraman tangan Atiqah.
"Ah...aku gak mau! aku gak mau Ardi! Lepas! Lepas! emm..." Atiqah meronta tetapi Ardi menahannya begitu kuat dan membungkam bibirnya.
Ardi gelap mata, mencumbu Atiqah dengan kasar dan buru-buru. Atiqah mendesah saat dadanya kembali disesap keras dan berdecak.
"Ardi! Ah...sakit" Atiqah membulatkan matanya saat milik Ardi telah masuk setengah. "Aku gak mau...Aku gak mau" Atiqah mendorong sekuat tenaga tapi dengan satu dorongan saja, Ardi sudah berhasil menjebol pertahanan kekasihnya itu.
"Aku bilang, aku mau tanggung jawab. Awalnya sakit, nanti lama-lama enggak. Percaya aku!" Ardi mulai bergerak perlahan. Atiqah meringis menahan pedih.
"Sa-kitt" Atiqah masih merasakan sakit di pangkal pahanya.
"Bentar lagi...bentar lagi udah enakan. Tahan sayang" Ardi terus bergerak, melilitkan satu kaki Atiqah ke pinggangnya. "Peluk aku" Atiqah pasrah dan menurut, memeluk Ardi erat-erat.
Lima menit berlalu..."Aku ca-pek" Ardi langsung mengangkat Atiqah berpindah ke atas ranjang. Memulainya kembali dan kini ******* pertama itu lolos dari bibir Atiqah.
Ardi terus memompa tubuhnya sampai Atiqah merasakan ingin kembali melepaskan sesuatu. Menarik Ardi, memeluknya erat. Nafasnya terus memburu setelah inti tubuhnya berdenyut, setelahnya Ardi melepaskan penyatuan mereka dan menumpahkan semua ke atas perut Atiqah.
Ardi jatuh ke samping, sedang mengatur nafasnya begitu juga dengan Atiqah. Setengah jiwanya melayang, menatap langit-langit kamar hotel mewah itu. Atiqah dan Ardi baru saja melakukan kesalahan di masa muda mereka.
Sesaat setelahnya mereka berdua masih terdiam dan kembali saling berpandangan, ponsel milik Atiqah berdering.
"Astaga..." Atiqah terduduk dan tersadar sesuatu yang lengket masih ada di atas perutnya. "Kita harus cepat-cepat pulang. Itu pasti bapak" menunjuk ke arah ponselnya yang terletak diatas meja. Ardi meraih tisu, membersihkan noda diatas perut kekasihnya.
"Ayok?!" menarik Atiqah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari keringat.
"Pelan...pelan" Atiqah merasakan nyeri di pangkal pahanya.
Setengah jam Ardi dan Atiqah sudah berada di dalam mobil menuju pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 malam. Atiqah mengirimkan pesan pada ayahnya, beralasan ban mobil Ardi bocor.
"Aku gak bakal ninggalin kamu. Kamu percaya sama aku kan?" Ardi menggenggam erat tangan Atiqah lalu mengecupnya.
"Iya, aku percaya tapi aku takut. Aku gak mau lagi" Atiqah menunduk.
__ADS_1
"Oke...peluk dulu" Ardi menarik Atiqah, memeluk dan memberikan kecupan di kening lalu menangkup pipi dan kembali membenamkan bibirnya.
"Yaudah, aku masuk dulu" Atiqah menaikkan retsleting jaket Ardi sampai lehernya, menutupi bercak merah.
"Nanti aku telfon kalo udah sampe rumah" ucap Ardi, Atiqah mengangguk lalu menutup pintu mobil.
Mobil Ardi menghilang dari balik pagar rumah Atiqah. Ayahnya pasti masih menunggu di dalam, pikir Atiqah dan membuatnya gugup. Pintu rumah ia buka perlahan dan Bondan sedang duduk di kursi menonton acara bola.
"Udah beres ban mobilnya mba?" pertanyaan perama yang terlontar semakin membuat Atiqah gugup.
"Udah pak. Mba masuk kamar dulu. Udah ngantuk. Bapak juga tidur, udah malem" Bondan hanya mengangguk membiarkan Atiqah masuk ke dalam kamar.
Atiqah langsung memutar kunci, memegang dadanya yang berdegup kencang tak beraturan. "Huuhhh...selamet" sambil melepaskan jaket Ardi, meletakkannya di kursi. Kembali menatap cermin miliknya. Meraba leher, dada dan juga pahanya yang masih terasa ngilu.
Rasa itu muncul kembali saat Atiqah membayangkan bagaimana Ardi mengayun diatas tubuhnya. Tidurnya pun semakin gelisah. Ponselnya bergetar, Ardi menelpon.
"Halo" suara Atiqah lirih. Ia tidak mau terdengar sampai ke telinga ayahnya. Pak Bondan masih menonton acara bola.
"Aku baru aja sampe. Kamu udah mau tidur?" Ardi menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, sambil mengusap bibir bawahnya.
"Udah tapi aku gak bisa tidur" Atiqah merubah posisi, berbaring miring memeluk guling.
"Kenapa? masih sakit?" Ardi menggigit bibirnya, terlintas apa yang mereka lakukan tadi di kamar hotel.
"Hemm..." hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Atiqah.
"Istirahat...besok sore aku jemput ya? eyang minta kamu ikut nganter ke bandara" Ardi melepaskan pakaiannya, bertelanjang dada.
"Bandara? yaudah...besok aku coba bilang ke bapak sama ibu" kantuk mulai datang, Atiqah menguap.
"Oke...good nite. Sleep tight sayang. I love you" Ardi mencium layar ponselnya, menunggu balasan ucapan dari kekasihnya.
"Selamat malam juga. Love you too"
Bersambung...
*****
Huhhh...Haahhh....huuhhh...hahhh...udah gitu aja 😊
Rate bintang 5, like, komen & giftnya jangan sampe lupa.
__ADS_1
Makasih all 😘😘😘😘