
"Yang ... sabar dong. Jangan disini. Ini masih pagi, masih terang," Atiqah menahan dada Ardi yang sudah mencondongkan tubuhnya, tangannya masuk ke dalam kaos longgar dan meremas dada.
Keadaan basement apartemen penuh dengan mobil-mobil yang terparkir karena hari ini hari minggu.
"Aku cuma mau pegang-pegang aja," masih meremas sambil menciumi leher Atiqah.
"Tapi udah bikin aku merinding. Kita naik sekarang aja," ucap Atiqah terengah.
"Oke, kita naik sekarang juga. Pokoknya kamu habis sama aku," mengecup bibir sekilas.
Ardi menggandeng Atiqah terburu-buru masuk ke dalam lift. Kebetulan hari itu di dalam lift cukup ramai. Mereka berdua berdiri di pojok sebelah kiri.
"Permisi ..." Ardi berjongkok, merapihkan tali sepatunya lalu tangannya membelai lembut kaki Atiqah perlahan sambil terus berdiri menegakkan badannya. Tangannya sampai di dalam rok Atiqah, meremas bokong. Kekasihnya itu menggigit bibirnya menahan belaian Ardi. Adrenalin keduanya terpacu. Dalam keadaan lift yang ramai, Ardi menggerayanginya.
Satu per satu orang keluar, tersisa mereka berdua. Ardi langsung menyerbu bibir Atiqah. Melilitkan lidah, menjelajahi deretan gigi kekasihnya. Atiqah menepuk bahu Ardi tanda mereka akan sampai di lantai dimana apartemen Ardi berada.
Atiqah merapihkan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan. Lalu sama-sama tertawa. Ardi menarik Atiqah, berlari ke arah pintu.
Ardi mendorong Atiqah ke tembok setelah menutup pintu. Ciuman liar mereka membuat atmosfir ruangan semakin memanas. Buru-buru Ardi dan Atiqah melepaskan pakaiannya masing-masing, berserakan di lantai hingga polos tanpa sehelai benang yang menutupi.
"Emm...." Atiqah bergumam. Ardi sedang menikmati puncak dadanya. "Yang .... jangan kelamaan. Aku gak tahan," ucap Atiqah dengan suara serak tertahan.
Ardi menggendongnya masuk ke dalam kamar. Melemparkan tubuh Atiqah lalu membuka paksa kedua kaki dan menyerbu inti tubuh kekasihnya.
"Ahh ..." Atiqah meremas rambut Ardi sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Ardi sedang memanjakannya. Hasrat yang berapi-api di masa remaja tak dapat mereka bendung.
Ardi menyatukan tubuhnya lalu bergerak cepat sesuai dengan kemauan Atiqah. "Terus Yang ... lebih cepet lagi," ucap Atiqah, menegakkan badannya menoleh ke kanan mencium Ardi. Tangan Ardi mengusap naik dari pinggang ke dada. Atiqah mengeraang saat Ardi memainkan puncak dadanya.
"Kamu seksi banget Yang -- menampar bokong-- Aku mau keluar," ucap Ardi sambil menciumi garis leher dan punggung.
"Yang ... pengaman," Atiqah meraih pengaman di dekatnya lalu menyobek dan memberikannya pada Ardi.
Selesai Ardi memakai pengaman, ia kembali menarik Atiqah. Menciuminya belingsatan sambil terus memompa.
******
Hari sabtu pagi Atiqah sudah memakai kebaya berwarna peach dan rok batik selutut. Sedangkan adiknya Robi mengenakan kemeja batik yang senada dengan rok Atiqah, begitu juga dengan Ardi. Mereka membelinya kemarin sore di butik khusus.
Pak Bondan dan Bu Asri sudah terlebih dulu ke tempat acara satu kendaraan dengan Bu Siti dan suaminya.
"Kamu cantik banget," bisik Ardi, memeluk Atiqah dari belakang. Kekasihnya itu sedang berdiri didepan cermin, meneliti penampilannya.
"Ada Robi, jangan peluk-peluk," Atiqah melepaskan tangan Ardi.
"Robi udah duduk manis di mobil," kembali memeluk lalu mengecup pipi singkat.
"Pantesan berani peluk-peluk. Yaudah .... ayo berangkat sekarang," memutar tubuhnya, menggandeng Ardi setelah menyambar clucth bag berwarna hitam.
Ardi membukakan pintu untuk Atiqah. Robi duduk di baris tengah. "Dandan lama banget," sindir Robi.
"Diem kamu dek!" Atiqah memicingkan matanya lalu duduk menghadap depan sambil memakai seatbelt.
__ADS_1
"Udah berantemnya, kita berangkat sekarang." Ardi mengubah persneling mobil ke D.
Ardi melihat Robi yang duduk diam menatap jalanan dari spion tengah. Lalu melirik Atiqah yang duduk disampingnya.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi. Atiqah terlihat memegangi perutnya.
"Gak tau, rasanya sakit waktu mobilnya goyang," jawab Atiqah. Mobil melewati jalan yang terdapat polisi tidur kecil berjajar tiga.
"Sakit gimana? oke ... aku pelan-pelan," Ardi menoleh sebentar, mengusap lengan Atiqah. "Yang ... tolong ambilin kotak di dalam laci," Ardi menunjuk laci dashboard.
Atiqah membukanya. "Ini?" mengangkat kotak persegi panjang, ponsel baru merk terkenal.
Ardi mengangguk. "Iya ... itu buat Robi," Robi yang duduk tepat dibelakang Atiqah langsung menoleh menatap Ardi.
"Hah?? ngapain ngasih bocil ini handphone?" Atiqah menunjuk Robi adiknya dengan dagu.
"Hadiah ulang tahun. Maaf ya baru kasih hari ini ... Mas lupa," ucapnya pada Robi.
"Nggak papa Mas. Aku seneng kok. Seneng banget malah," Robi menerima kotak yang disodorkan Atiqah sambil cengengesan.
"Huuu ... dasar." Atiqah mengejek adiknya. Robi membalas mengejek, menjulurkan lidah.
Tiga pulut menit kemudian, mobil yang dikendarai Ardi memasuki lahan parkir hotel dimana tempat acara ngunduh mantu Fajar dan Sherly.
Ketiganya masuk ke dalam hotel menuju ballroom. Ardi menggandeng Atiqah yang berjalan di kirinya, sedangkan Robi ia rangkul di sebelah kanannya.
"Aku aja yang isi buku tamunya," Atiqah mengangkat pulpen lalu menukiskan namanya dan Ardi disana.
"Pacar mba Atiqah ganteng banget," ucap gadis remaja bernama Ayu bertugas di bagian guest book. Ayu melirik Ardi yang berdiri di belakang Atiqah bersama Robi.
Ardi memasukkan amplop ke dalam kotak lalu ikut masuk ke dalam ballroom. Pak Bondan dan Bu Asri berdiri menyambut tamu yang akan bersalaman dengan mempelai beserta kedua orangtua.
"Aku laper, langsung makan aja ya? salamannya nanti aja. Liat aja tuh antrian kaya apa --menatap deretan antrian-- dek, kamu jangan pecicilan. Sama mba terus. Awas kalo kemana-mana," ucap Atiqah pada Ardi lalu mendikte adiknya agar tetap bersama.
"Iya ... iya. Cerewet." gerutu Robi lalu mengekori kemana Ardi dan Atiqah pergi.
Selang beberapa menit Atiqah sudah selesai memakan hidangan makanan khas sunda, nasi tutug oncom lalu berjalan mengantri bakso. Katanya sedikit mual, ingin merasakan kuah bakso yang gurih.
"Yang ... kamu baru aja selesai makan bakso. Sekarang mau soto juga?" Ardi sudah kenyang menghabiskan nasi tutug oncom komplit tadi. Robipun memilih duduk mengutak atik ponsel barunya.
"Tapi aku masih laper. Aku pengen soto ayam. Kamu disini aja sama Robi. Oke?" Atiqah langsung pergi meninggalkan Ardi dan Robi yang duduk di pojok.
Tak butuh waktu lama, Atiqah sudah datang membawa satu mangkuk soto ayam dan sate ayam. Ardi menggelengkan kepalanya.
"Pegangin dulu. Jangan dimakan!" menyerahkan piring berisi sate ayam beserta beberapa irisan lontong.
"Pelan-pelan aja makannya --mengusap punggung -- Aku ambilin minum ya. Mau minum apa?" tanya Ardi.
"Jus Jambu kayaknya seger manis deh," ucapnya sambil menyeruput kuah soto pedas.
"Yaudah ... Bi, pegangin dulu ya," mengangsurkan piring berisi sate tadi pada Robi. Robi yang sedang asik-asiknya menyelami game di ponselnya merasa kesal pada kakaknya.
__ADS_1
"Makan terus, entar gendut," Robi mencibir.
"Diem kamu dek!" Atiqah meletakkan mangkuk kosong lalu mengambil piring sate di tangan Robi.
Robi menghela nafasnya, kembali sibuk dengan ponselnya.
Satu lingkungan dekat rumah Atiqah turut datang ke acara Fajar. Melihat kedatangan dan kedekatan Atiqah dengan Ardi, cukup mengusik mereka. Sudah pasti membicarakan perihal Ardi dijemput paksa oleh Sigit waktu itu. Atiqah cuek, tetap menikmati acara sampai waktunya tiba ia bersama Ardi dan Robi naik ke pelaminan.
"Selamat Mas Fajar. Bahagia selalu," ucap Atiqah bersalaman dengan Fajar.
"Makasih buat doanya, makasih juga udah dateng," Fajar bersikap seolah menjaga jarak pada Atiqah. Ia sekarang sudah menjadi seorang suami. Sherly kesal saat Fajar sering membicarakan soal Atiqah.
Atiqah mengangguk. "Selamat." ucap Ardi singkat. Fajar tersenyum kecil.
"Aku pusing," bisik Atiqah saat akan menuruni anak tangga pelaminan. Atiqah berpegangan tangan pada Ardi. Robi memilih berdiri berdiri dengan ayah dan ibunya.
"Pelan-pelan aja," Ardi memapah Atiqah.
Brukkk....Atiqah pingsan. Fajar reflek akan mendekat tapi Sherly menahannya. Ardi membopong Atiqah keluar ballroom diikuti pak Bondan, bu Asri dan Robi. Acara kembali berjalan tetapi sorot mata Fajar tak dapat menipu Sherly. Fajar khawatir dengan Atiqah. Ada sesuatu pikir Fajar.
Kejadian pingsannya Atiqah tadi semakin membawa angin segar untuk para tetangga yang hadir disana. Mereka membicarakan penyebab Atiqah pingsan.
Ardi membawa Atiqah ke rumah sakit terdekat. Mereka semua duduk diam menunggu dokter selesai memeriksa Atiqah.
"Mba kebanyakan makan kayaknya bu. Tadi semua menu disana, mba makan semuanya. Rakus," ucap Robi pada bu Asri.
"Huss ... udah diem!" titah bu Asri.
Sejujurnya bu Asri cemas. Ia takut apa yang selama ini dipikirkannya benar-benar terjadi. Perubahan sikap, pola makan dan morning sickness putrinya.
Pak Bondan dan Ardi yang duduk berdampingan ikut terdiam.
"Wali dari saudari Atiqah ..." suster keluar dari ruang UGD.
"Saya sus," jawab pak Bondan bangkit dari duduknya.
"Dokter ingin bicara. Silahkan masuk." mempersilahkan pak Bondan untuk masuk. Bu Asri mengangguk tanda setuju pada suaminya.
Pak Bondan masuk dan hanya berselang waktu lima menit ia keluar.
"Bajingan!!" pak Bondan menarik Ardi yang sedang duduk lalu mendaratkan pukulannya. Bug...
Bu Asri dan Robi terkejut tapi bu Asri memilih merangkul putranya yang masih kecil itu agar tidak melihat Ardi dipukuli oleh suaminya. Bu Asri mengerti apa yang sedang terjadi. Jantungnya berdetak kencang, mencoba menguatkan diri.
"Putri bapak sedang hamil. Usia kandungannya sudah berjalan 5 minggu," ucap dokter pada pak Bondan.
Bersambung....
*****
Duarrrrr....ya gimana gak hamil, orang dijadiin terus 🙈
__ADS_1
Yowes bintang 5nya jangan lupa. Like komen sama giftnya juga ya 😁😁😁 malak
Terimakasih 🙏🙏🙏