ATIQAH

ATIQAH
Bab 57 : Menikah!


__ADS_3

"Berani-beraninya kamu hamili anak saya! Brengsek!" pak Bondan terus saja melayangkan bogem mentahnya pada Ardi.


Sesuai dengan rencananya menghamili Atiqah, Ardi tidak terkejut sama sekali. Satu langkah lebih dekat untuk mengikat Atiqah dalam hidupnya.


"Pak ... pak ... udah pak. Udah cukup!" bu Asri menahan suaminya.


"Udah cukup apa? kalau perlu aku habisi sekarang juga!" melayangkan satu bogem mentah lagi.


"Stoppp!! jangan ... jangan pukul Ardi pak" teriak Atiqah. Wajahnya pucat, tangannya berpegangan pada tembok. Bondan dan Asri menoleh ke belakang. Ardi terkapar di lantai.


"Bapak dan ibu kecewa sama kamu" pak Bondan berdiri, matanya berkaca-kaca. Sedangkan bu Asri sudah menangis.


Atiqah menunduk, rasa penyesalan tidak penting saat ini. Apa yang dilakukannya bersama Ardi nyata dan memang mau sama mau, meski awalnya ia diancam.


"Maaf" ucap Atiqah.


"Ayo kita pulang bu?! Biarkan anak ini mau bagaimana. Bapak sudah sangat kecewa" pak Bondan menarik istrinya pergi, Robi mengejar kedua orangtuanya. Anak kecil itu tidak mengerti apa yang terjadi.


Atiqah meluruh, duduk di lantai. Kepalanya pusing dan semakin pusing melihat Ardi babak belur.


"Yang ... aku bakal tanggung jawab. Umur kita udah cukup untuk menikah" Ardi memeluk Atiqah yang menangis. Usianya tepat 17 tahun dan Ardi 18 tahun.


"Kita pulang" ajak Ardi.


"Pulang kemana? bapak sama ibu ..." ucapan Atiqah menggantung.


"Sementara ke apartemen dulu. Kamu perlu istirahat" Ardi mengecup pelipis. Atiqah memejamkan mata merasakan kehangatan yang tersalurkan, mencoba menenangkan hatinya.


"Muka kamu ..." meraba wajah Ardi.


"Gak masalah. Udah jadi resikonya aku" tersenyum dengan wajah lebam akibat beberapa pukulan keras dari calon mertuanya.


Ardi memapah Atiqah menuju mobilnya. Ke apartemen dirasa tempat yang tepat. Menjaga jarak dan memberikan waktu pada orangtuanya yang sedang marah.


Atiqah menggigiti kukunya, gelisah. Kembali terlintas wajah kecewa ayah dan ibunya tadi.


"Jangan takut, ada aku. Aku siap bertanggung jawab" mengecup punggung tangan Atiqah.


Atiqah menangis sambil mengangguk menatap Ardi.


Hari itu Atiqah menginap di apartemen Ardi. Tubuhnya lemas, berkali-kali mengeluarkan isi perutnya.


"Kamu demam Yang" Ardi menempelkan punggung tangannya ke kening Atiqah. Badannya panas tapi tubuhnya menggigil kedinginan.

__ADS_1


"Dingin ..." ucapnya dengan bibir bergetar.


"Aku kompres ya?" Ardi keluar kamar mengambil air hangat lalu membuka lemari, meraih handuk kecil.


Handuk kecil hangat telah menempel di kening Atiqah. Ardi merapihkan selimut menutupi seluruh tubuhnya dan Atiqah.


"Tidur ya, aku peluk" Ardi memeluk Atiqah, mengusap punggung sampai terlelap.


Pagi menjelang. Cahaya matahari terbit masuk ke celah-celah gorden kamar. Atiqah menggeliat, mengendus aroma tubuh yang sedang dipeluknya. Mengerjapkan matanya, menyelaraskan pandangan.


Ardi membuka matanya, merasakan sentuhan di rambutnya. "Udah bangun? udah baikan?" tanya Ardi lalu mengecek suhu tubuh kekasihnya.


"Udah, tapi ... sekarang aku laper" Atiqah merengek.


"Mau makan apa?" tanya Ardi sambil mengusap perut Atiqah.


"Bubur ayam sama sate telur" Atiqah meringis.


"Oke ... aku pesenin" Ardi meraba nakas, mencari ponselnya. Memesan dua porsi bubur ayam.


"Yang ... cium" Atiqah meminta Ardi menciumnya. Dua kecupan mendarat dibibir.


"Aku juga mau cium ini" menunjuk perut Atiqah yang masih rata. Ia sibak selimut yang menutupi lalu mengecupi berkali-kali sampai Atiqah kegelian.


"Mau aku tengokin gak?" pertanyaan Ardi yang tidak mampu Atiqah tolak. Di kala hamil muda seperti ini, Atiqah selalu ingin disentuh Ardi ayah dari bayinya.


Ardi sudah berada di bawah sana cukup lama. Rasa itu melupakan kegundahan hati Atiqah akan wajah kecewa kedua orangtuanya.


Di dalam pelariannya menjauh untuk sementara waktu, Atiqah menikmati pagi ini bersama Ardi. Bercengkrama menghasilkan titik-titik peluh di dahi dan tubuh.


Genggaman erat itu seakan tidak ingin terlepas begitu saja. Ardi mengayunkan tubuhnya bergerak seirama dengan liukkan badan Atiqah diatasnya.


Suara merdu tercipta bak alunan merdu dan erotiss memenuhi kamar yang menjadi saksi sepasang manusia yang sedang melampiaskan segala rindu juga hasrat.


"*I love you"


"I love you too ... emm. Ahhh*"


Ponsel Atiqah berdering nyaring dari dalam clucth bag miliknya.


"Ada telfon Yang. Stop dulu" Atiqah menahan dada Ardi yang menghimpitnya.


"Bentar lagi Yang ...." Ardi masih terus bergerak, menciumi leher. Atiqah kembali terhanyut dan membiarkan ponselnya terus berdering.

__ADS_1


Belum sempat mereka berpakaian. Bel apartemen berbunyi.


"Pesanan buburnya udah sampe" ucap Ardi, turun dari ranjang memungut boxernya, memakainya lalu menyambar dompet.


Bukan pesanan bubur yang datang, melainkan pak Bondan dan bu Asri yang berdiri didepan pintu tanpa Ardi cek terlebih dulu dari layar.


Bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer tentu saja Ardi sangat malu.


"Pak Bu ... si-silahkan masuk" ucap Ardi terbata, menyilangkan tangan menutupi dada.


"Mana anak saya?" tanya pak Bondan dan langsung masuk ke dalam diikuti bu Asri yang tidak mau melihat Ardi.


Ardi menghela nafasnya sambil menutup pintu. Benar-benar gawat kalau sampai keduanya melihat Atiqah masih telanjang di atas ranjang.


"Bu, kamu yang masuk ke dalam. Bapak tunggu disini" menyuruh istrinya masuk ke dalam kamar.


Ardi buru-buru berlari menahan pintu yang akan dibuka bu Asri. "Jangan bu. Biar saya aja yang masuk".


"Kenapa? memangnya ada apa? Minggir kamu!" bentak bu Asri. Ardi membuka pintu kamar perlahan dan membiarkan ibu kekasihnya masuk.


Bu Asri terhenyak, diam melihat pakaian berserakan di lantai. Ardi langsung memunguti pakaian itu. Pandangannya kini beralih pada Atiqah yang tidur menghadap tembok. Hanya punggung polosnya yang terlihat.


"Astaga mba!!" bu Asri kembali berteriak. Atiqah membuka mata mendengar suara keras ibunya.


"Ibu ..." Atiqah duduk menutupi tubuh telanjangnyaa dengan selimut.


"Pakai bajumu!" desak bu Asri. Ia pergi keluar dari kamar itu, membanting pintu. Kembali menangis sambil menggelengkan kepalanya, memeluk suaminya yang duduk menunggu di sofa.


Pak Bondan mengusap-usap punggung istrinya yang terus menangis. "Ibu malu pak" ucapnya dengan diikuti isakan.


"Sabar bu. Orangtua mana yang gak malu kalau anaknya seperti itu. Bapak juga malu, tapi kita kesini agar masalah ini terselesaikan secepatnya. Sebelum perutnya semakin membesar" kata pak Bondan, menenangkan istrinya.


Nasi sudah menjadi bubur, jalan satu-satunya menikahkan keduanya.


Ardi dan Atiqah keluar dari kamar. Atiqah menunduk, ia tidak sanggup melihat wajah kedua orangtuanya.


"Duduk!" ucap pak Bondan tegas. Ardi menggenggam erat tangan Atiqah. Duduk bersama di sofa, berhadapan dengan pak Bondan dan bu Asri.


"Besok kalian berdua menikah. Kamu ... --menunjuk Ardi-- beritahu orangtuamu soal ini. Saya tidak mau tau. Besok pagi jam 10 datang bersama orangtuamu. Mba pulang ikut bapak sama ibu! Sekarang!" ucapan tegas pak Bondan. Atiqah mengangkat wajahnya menoleh menatap Ardi.


"Baik pak. Besok saya datang bersama orangtua saya" Ardi menjawab dengan mantap lalu mengangguk pada Atiqah. "Kamu pulang. Besok aku dateng ke rumah".


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2