
Minggu pagi hujan turun tidak begitu deras, namun udara terasa sangat dingin. Atiqah masih dikamar sedang menyusui Aziel, masih mengantuk dan matanya terpejam.
Terdengar suara beberapa orang berjalan memasuki paviliun. Atiqah tidak perduli karena semalam ia begadang untuk menggendong Aziel yang rewel.
Sudah tiga malam Aziel selalu menangis dan tertidur jika dalam gendongan sembari di ayun-ayun.
Aziel sedang kolokan. Kata mbok Jum, kemarin. Atiqah berkeluh kesah padanya.
Atiqah merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Memeluknya begitu erat.
"I miss you ... " ucap seseorang yang suaranya sangat ia kenal. Lalu kecupan-kecupan hangat menjalari leher serta tengkuknya. Atiqah pikir ia sedang bermimpi.
Atiqah membuka matanya, melihat tangan seseorang melingkar diatas perutnya. Kemudian ia menengok ke samping.
"Kamu ... " ucapnya pada orang itu yang ternyata adalah Ardi, suaminya sendiri.
"Iya ini aku," Ardi menarik dagu Atiqah lalu ********** penuh dengan hasrat, penuh gairah, seakan membalas waktu yang lalu.
"Emm ... Aziel masih menyusu," gumam Atiqah di sela-sela ciumannya bersama Ardi.
"Lepas dulu. Sekarang giliranku yang menyusu," Ardi melepaskan puncak dada Atiqah dari mulut Aziel.
"Aw ..." Atiqah merasakan perih saat puncak dadanya ditarik begitu saja oleh Ardi. Beruntung Aziel tidak terganggu.
Ardi membopong Atiqah ke arah sofa lalu memangkunya. "Aku kangen banget," menekan tengkuk, ******* bibir istrinya lagi.
Ardi mencari tepian baju tidur satin milik Atiqah, mengangkatnya melewati kepala lalu membuka kaitan dibalik punggung. Ardi meraupnya seakan-akan kehausan.
Suara cecapan menyusu seperti yang dilakukan putranya terdengar menggelitik telinga. Atiqah meremang. Setelah hampir satu bulan lebih ia di acuhkan suaminya, kini kerinduan itu ingin dibalasnya berkali kali lipat.
"Emm ... ah," Atiqah menekan lagi kepala Ardi ke dadanya. Tangannya meraba kaos Ardi, melepaskannya lalu ia buang ke sembarang arah.
"Kamu pengen banget ya?," tanya Ardi sambil tangannya menurunkan celana panjang satin milik Atiqah, lalu meremas bokongnya.
Atiqah mengangguk, ia sangat menginginkan Ardi saat ini juga.
"Turun, jongkok," titah Ardi lalu melepaskan celana panjang dan underware nya. "Kamu makin seksi," bisiknya. Kemudian Ardi duduk kembali. "Cium," titahnya lagi pada Atiqah untuk menunduk, mencium inti tubuhnya.
Ardi meremas pinggiran sofa, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar. Merasakan kehangatan dalam inti tubuhnya. Atiqah sudah banyak kemajuan pikirnya. Sudah pandai melayaninya.
__ADS_1
Ardi meremas kepala Atiqah dengan dua tangannya, menuntun dan menggerakkan dengan ritme yang cepat. Lalu ia menarik Atiqah kembali ke pangkuan. Mencium bibir seksi yang membengkak.
"Aku mau sekarang," ucap Atiqah. Ardi mengangkat kedua bokong, menyatukan tubuh secara perlahan. "Emm ..." gumam Atiqah.
"Gerak, sayang," titah Ardi dengan suara lirih dan berhasrat. Atiqah mengangguk lalu mulai bergerak.
Naf*su itu kian memuncak, Ardi ikut bergerak dibawah sana sambil mencengkeram pinggang Atiqah. Suara desa*han keduanya kali ini tidak terlalu nyaring, mereka takut Aziel terbangun.
"Aku mau ... emm," Atiqah mendongakkan wajahnya sambil terus bergerak tak karuan. Pelepasannya pertama kali begitu indah.
"Turun, Yang," ucap Ardi. Atiqah turun sambil terengah-engah mengatur nafasnya. "Terus?" tanya Atiqah, dia bingung harus apa lagi.
"Sini, balik," ucap Ardi lagi. Menyuruh Atiqah membungkuk. "Pegangan sayang," suara lembutnya tepat di telinga kanan Atiqah.
Ardi menekan ujungnya, kembali menyatukan dalam-dalam dan langsung bergerak cepat.
"Oohhh ..." Atiqah terkejut sekaligus menikmati setiap huja*man yang Ardi lakukan.
Ardi memeluknya dari belakang sambil bermain dua dadanya. Atiqah semakin beling*satan. Menolehkan kepalanya ke kanan, "Cium," ucapnya pada Ardi. Mereka berciuman sambil terus merasakan hentakan demi hentakan yang entah kapan akan usai. Mereka berdua saling melepas rindu.
"Anak ibu udah bangun?" Atiqah selesai mandi bersama Ardi, keduanya sama-sama masih memakai handuk yang melilit ditubuh. Atiqah mendekati Aziel yang sedang menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Sedangkan Ardi membuka kopernya, memakai baju.
"Kamu pake baju dulu. Biar Aziel sama aku," memeluk Atiqah dari belakang, menciumi bahu lalu melepaskan lilitan handuk. Kembali meremas dada.
"Aziel sama Ayah dulu ya," ucap Atiqah lalu ia berlalu ke arah lemari. Memakai daster panjang sampai menutupi betisnya.
Ardi berbaring di samping Aziel, ia bermain bersama putranya kemudian ia gendong. "Anak Ayah udah tambah besar. Ayah kangen banget," menciumi pipi sampai Ziel menepuk wajah Ardi.
"Ziel kegelian Ayah," Atiqah memeluk Ardi dari belakang, mengusap pipi gembul Aziel yang kemerahan.
"Nanti sore kita jalan-jalan ya? Ayah mau ajak ibu dan Ziel shopping," ucapnya lalu mencium pelipis Atiqah.
"Shopping?" Atiqah terkejut.
Pagi ini kedatangan sosok Ardi saja sudah membuatnya terkejut, ditambah keintiman tadi yang mereka lakukan berdua, dan sekarang suaminya itu berencana mengajaknya pergi shopping.
Suatu hal yang sangat Atiqah syukuri. Mungkin Tuhan sudah mengabulkan doa-doanya selama ini. Berdoa agar Ardi berubah dan mencintai dirinya, juga Aziel.
"Iya, shopping. Kita bertiga. Sekarang kita sarapan dulu. Aku laper, energiku udah aku keluarin semua tadi," jawab Ardi lalu merangkul pinggang Atiqah keluar kamar sambil berbisik. Atiqah bersemu merah, ia terkikik.
__ADS_1
Di ruang makan, sudah ada Anne, Melda dan Ryan. Atiqah kembali terkejut. Ia pikir hanya Ardi yang datang tapi Mama mertua dan kedua Iparnya datang.
"Mama ..." mencium punggung tangan. Anne bersikap seperti biasa, hanya tersenyum kecil lalu kembali menikmati sarapannya.
Atiqah beralih bercipika cipiki dengan Melda, kakak Ardi lalu Ryan, suami Melda.
"Mama kepengen lihat cucunya, bu," ucap Ardi pada Atiqah. Atiqah bahagia sekali mendengarnya. Mama mertuanya mau menerima Aziel.
"Sinikan cucu Mama, Mama mau gendong. Kalian sarapan dulu," Anne meminta Ardi memberikan Aziel padanya.
"Aziel cucu Oma," Anne menggendong Aziel menciuminya. Melda ikut mendekat, mengusap pipi Aziel.
"Ganteng banget anak Mommy," ucap Melda. "Nggak papa kan, Aziel panggil kakak ... Mommy?" tanyanya pada Atiqah dan Ardi. Keduanya mengangguk bersamaan. Atiqah terharu melihat pemandangan di hadapannya.
Subroto keluar dari kamar di iringi Guntur dan juga perawatnya.
"Sayang, Mama ... ini mba yang ngerawat Eyang. Namanya Ani dari Boyolali," ucap Atiqah memperkenalkan perawat baru Subroto.
Perawat Eyang menganggukkan kepala lalu berjabat tangan dengan tamu yang datang pagi ini (Ardi, Anne, Melda dan Ryan).
Subroto menatap ke empatnya dengan tatapan yang berbeda. Atiqah merasakannya.
"Mba, biar aku aja yang nyuapin Eyang," ucap Atiqah berdiri di samping Subroto. "Mba Ani sarapan aja dulu," ucapnya lagi.
"Baik bu," ucap Ani.
"Kita makan di taman aja ya Eyang," ujar Atiqah, Subroto mengangguk. "Yang, aku ke taman dulu ya?" pamitnya pada Ardi. Ardi mengijinkan. Aziel sedang digendong Melda.
Atiqah mendorong kursi roda menuju taman. "Eyang, nggak senang Mama, Ardi, kak Melda dan kak Ryan datang? kok ngeliatinnya gitu," tanya Atiqah, duduk bersimpuh di lantai menghadap Subroto. Subroto menjawab dengan anggukan.
"Kenapa Eyang? Atiqah malah seneng banget mereka datang. Mereka udah terima Atiqah juga Ziel," tanya Atiqah, tapi Subroto menjawabnya dengan gelengan kepala dan bergumam tidak jelas.
"Yaudah, sekarang makan dulu. Atiqah suapin," menyuapi Subroto dengan telaten. Atiqah menghentikan pertanyaan-pertanyaan pada Subroto. Ia tidak mau berpikir buruk pada suami, Mama mertua dan Iparnya.
Dan sore itu, Ardi menepati janjinya pergi ke Mall bersama Atiqah dan Aziel saja. Mereka menikmati waktu bertiga.
"Aku belikan ini, nanti malam pakai ya bu. Ayah pengen lihat," Ardi menyodorkan satu lingerie seksi berwarna hitam.
"Cuma pakai aja kan? nggak ngapa-ngapain," ledek Atiqah. Menerima pakaian seksi itu lalu memasukkannya dalam shopping bag.
__ADS_1
"Ya ngapa-ngapain dong bu. Ayah mau lagi kaya yang tadi pagi," ucap Ardi lagi. Atiqah menutup wajah Ardi dengan kain milik Aziel.
Bersambung...