ATIQAH

ATIQAH
Bab 12 : Semakin Dekat


__ADS_3

"Makasih udah nganterin. Udah malem, pulang gih. Besok jangan telat jemputnya" ucap Atiqah setelah turun dari motor Ardi.


"Aku boleh numpang ke toilet? kebelet nih" Ardi membuka helm full facenya.


"Boleh" Atiqah mengangguk, masuk ke dalam teras rumah.


tok..tok..tok


"Dek, ini mba. Kamu udah tidur?" Atiqah mengetuk pintu rumahnya. Terdengar langkah kaki. "Sebentar..." Robi menyauti dari dalam. Ia tertidur didepan televisi.


"Maaf dek...kamu udah makan?" tanyanya pada Robi saat pintu sudah dibuka.


"Udah, tadi aku beli nasi goreng pakdhe Man. Bapak gimana mba?" jawab Robi, tatapannya ke arah Ardi yang berdiri menyandar pilar teras.


"Bapak udah dipindah ke kamar inap. Tumben pakdhe Man keliling. Biasanya mangkal di pos depan. Eh...ini temen mba. Mau numpang ke kamar mandi. Kamu tidur lagi sanah" mendorong Robi masuk ke dalam rumah, ke kamarnya. Ardi mengekor.


"Toiletnya yang mana?" tanya Ardi tepat dibelakang Atiqah yang baru saja menutup pintu kamar adiknya.


"I-itu" Atiqah gugup karena wajahnya begitu dekat dengan wajah Ardi.


"Oke..." Ardi menuju kamar mandi di pojok sebelah dapur. Rumah sederhana dengan tiga kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan ruang televisi, ruang makan, dapur dan satu kamar mandi.


Atiqah duduk di ruang makan, ruangan yang dekat dengan kamar mandi. Menunggu Ardi.


"Udah?" tanya Atiqah saat Ardi baru saja membuka pintu kamar mandi.


"Udah..." jawabnya mendekati Atiqah. Perut Ardi berbunyi. Sejujurnya ia memang lapar. Tadi belum sempat mengisi perut, minumpun tidak.


"Kamu laper?" Ardi meringis, mengangguk. "Aku buatkan mie rebus, mau?" tawarnya.


"Mau...mau...kalau ada telur sama sayurannya juga boleh" meringis menatap Atiqah.


"Oke, tunggu disini. Duduk aja. Oh iya...pake cabe?" tanya Atiqah lagi.


"Boleh, dua aja. Jangan banyak-banyak, entar perutku bermasalah" Ardi masih menatap Atiqah, sampai berbalik dan fokus memasak mie rebus untuknya.


Butuh waktu 10 menit, dua porsi mie rebus sudah Atiqah letakkan di meja makan.


"Ayok dimakan?! maaf ya agak lama" memberikan sendok dan garpu, Ardi menerimanya.

__ADS_1


"Enggak kok, aku sabar menunggu" tersenyum manis.


Atiqah dan Ardi menikmati makan malam mereka bersama, meski bukanlah makan malam romantis dan mewah ala restoran atau cafe, bagi mereka sudah sangat cukup. Lagi pula keduanya bukan pasangan.


Wajah Ardi berkeringat, titik-titik peluh di dahinya. Bibirnya merah kepedasan.


"Ya ampun...maaf-maaf, aku lupa ambil minum. Sebentar ya" Atiqah membuka kulkas, meraih satu botol susu dingin. "Ini minum dulu" meletakkan di depan mangkuk Ardi.


"Kok susu?" Ardi tidak biasa, dia ingin air putih dingin.


"Susu bisa meredakan rasa pedas. Coba dulu" Ardi menerima saran Atiqah. Menyedot dengan pipet sampai tandas tak tersisa.


"Yah habis, ada lagi? eh...bener. Rasa pedesnya hilang" Ardi takjub dengan yang baru ia rasakan. Rasa pedas membakar mulutnya hilang setelah meminum susu.


"Astaga...kamu baru tau? katanya siswa cerdas dan teladan, ketua osis lagi. Ckckck" ledek Atiqah.


"Manusia gak ada yang sempurna Atiqah" elaknya.


"Cih...alesan" mengangkat mangkuknya dan juga mangkuk milik Ardi.


Ardi masih menatap punggung Atiqah yang sedang mencuci piring. Rasanya...jantungnya kini berpacu sedikit cepat. Ingin memeluk Atiqah dari belakang tapi ia sadar, mereka bukanlah siapa-siapa. Masih sebatas teman.


"Iya gak papa, udah malem juga" Atiqah menyeka tangannya yang basah dengan lap. Mengantarkan Ardi sampai teras.


"Aku pulang dulu" melambaikan tangannya.


"Iya, hati-hati dijalan" membalas lambaian tangan Ardi. Atiqah ingin mengatakan jika sudah sampai, segera hubungi. Tapi lidahnya kelu. Siapa aku, pikir Atiqah.


Seakan semesta berpihak pada Atiqah. Ardi mengirimkan pesan dengan diakhiri emoticon 😘. Atiqah memeluk ponselnya sambil berguling ke kanan dan ke kiri. Aku udah gila. Gara-gara emoticon itu, aku menggila. Astaga.


📩 aku udah sampai. besok aku jemput. good nite, sleep tight. mimpiin aku ya. ATIQAHKU 😘


*****


Semalaman Atiqah gelisah menanti pagi, menanti saat Ardi datang menjemputnya. Atiqah hanya tidur selama 4 jam saja. Rasa pening di kepalanya sedikit mengganggu aktifitas pagi hari.


"Dek, makan roti aja ya. Mba pusing nih" Atiqah membuka tempat roti di dapur. Membawa beberapa lembar lalu ia letakkan ke atas piring adiknya Robi.


"Susu aku mba" Robi meminta susu putih kesukaannya.

__ADS_1


"Iya ini, sebentar" Atiqah mengaduk gelas berisi susu putih untuk adiknya. "Nih..." memberikan satu gelas susu. "Entar kamu berangkat duluan aja. Mba bareng temen. Bentar lagi dia jemput" melahap roti selai strawberry.


"Yang semalem? pacar mba ya?" selidik Robi. Karna baru kali ini ada teman laki-laki kakaknya yang datang menjemput.


"Ssttt...masih kecil ngomong pacar-pacaran. Dia itu temen mba. Dia yang udah bantuin kita, bayar semua biaya rumah sakit bapak" Atiqah tidak ingin adiknya berpikir macam-macam.


"Anak orang kaya pasti. Motornya aja keren banget. Nanti kalo aku udah gede, aku mau juga motor kaya punya temen mba" matanya berbinar membicarakan motor gede milik Ardi.


"Iya anak orang kaya. Makanya belajar yang rajin biar pintar trus kerja dapet duit banyak, beli deh itu motor impian kamu. Jangan sekali-kali minta sama ibu bapak! berusaha sendiri dek" Adiknya Robi mengangguk setuju. Robi memang tipe anak kecil yang pengertian, ia tidak pernah menuntut pada kedua orangtuanya.


Suara ketukan pintu terdengar. "Itu kayaknya temen mba udah dateng. Udah selesai kan sarapannya? bawa tasnya sekalian"


"Iya iya...sabar kali mba" gerutu Robi.


Benar saja, Ardi berdiri didepan pintu dengan seragamnya yang baru juga jaket berwarna maroon dan hitam. Senyumannya terbit seperti mentari pagi, memukau Atiqah.


"Aku berangkat duluan mba. Jangan bolos pacaran ya?! nanti aku bilangin ke ibu" ucap Robi langsung pergi keluar teras. Matanya sesekali melirik ke motor gede Ardi.


"Pacar?" keningnya mengernyit.


"Gak usah dengerin kata adekku. Anak kecil kalo ngomong suka ngawur. Udah ayok berangkat sekarang" Atiqah menarik lengan Ardi.


Geberan motor gede itu terdengar cukup keras di sekitar lingkungan rumah Atiqah. Ardi melajukan motornya ke arah sekolah. Tanpa perlu banyak kata, Atiqah sudah memeluknya. Cardigan kuning menambah manis tampilan Atiqah pagi hari ini.


Ternyata musibah dapat membawa kedekatan mereka berdua. Hati keras dan sikap jutek Atiqah luluh seketika. Baginya, jika seorang laki-laki baik dengan orangtuanya, sudah pasti baik juga perilakunya.


Tanpa Ardi tau, ia saat ini sudah mampu menggetarkan hati Atiqah. Mengisi sedikit hati adik kelasnya yang ia kejar mati-matian itu.


"Ardi? Atiqah?" Echa terkejut saat melihat pria yang disukainya sejak SMP itu berboncengan dengan Atiqah. Dari dalam mobil, Echa mengepalkan tangannya. Geram, jengkel bercampur jadi satu.


"Kamu kenal mereka? oh iya...mereka satu sekolah sama kamu. Kemarin ayah gak sengaja nabrak bapaknya Atiqah habis anter kamu ke sekolah. Untung nak Ardi bantuin ayah. Semua biaya rumah sakit juga yang bayar nak Ardi. Untung pak bos gak marah sama ayah, padahal bemper depan penyok" jelas pak Hartono panjang lebar. Echa membulatkan matanya mendengar cerita yang baru saja ayahnya katakan.


Bersambung....


*****


Hai hai...Atiqah dateng lagi. Jangan bosen-bosen ya. Kecup manjah sinih 😘😘😘


Giftnya jangan lupa kakak 😁😁😁 like, komen + bintang 5nya jangan sampe ketinggalan.

__ADS_1


I love you epribadehhh 😝🥰😘


__ADS_2