ATIQAH

ATIQAH
Bab 77 : Pesan dari Lala


__ADS_3

"Udah kan? ayok, ceritain soal Papa," Atiqah membenarkan letak bra nya yang tadi Ardi naikkan. Suaminya itu benar-benar menyusu seperti anak sapi.


"Nggak sabaran banget sih. Aku mau yang lain dulu," Ardi merangkul bahu Atiqah. Memberi kecupan di pipi sebelah kanan tiga kali.


"Ih ... nggak mau! tadi janjinya cuma nyusu aja. Sekarang minta lebih," Atiqah mendorong tubuh Ardi tapi Ardi semakin mengeratkan pelukannya.


"Ayolah, aku lagi pengen nih," Ardi mengusap kejantanannya sendiri.


"Kamu ingkar janji, aku nggak mau. Jelasin dulu, baru aku mau," Atiqah menutupi dadanya dengan bantal sofa setelah berhasil menggeser tubuhnya.


"Oke, aku jelasin tapi aku tagih janji kamu setelahnya," Ardi mengubah posisi duduknya. Atiqah dan Ardi saling berhadapan.


"Cepetan!" Atiqah kesal, Ardi mengulur-ngulur waktu.


"Gini ... kamu udah tau Papa Mama nggak setuju sama hubungan kita --Atiqah mengangguk-- Jadi, aku nyuruh orang buat nyelidikin Papa sekaligus ngikutin Papa --Atiqah mengangguk lagi-- Dan hasilnya. Jujur bikin aku syok," terang Ardi perlahan. Ia menjelaskan satu per satu.


"Apa? Apa? hasilnya apa?" Atiqah mengguncang lengan Ardi. Sungguh tidak sabar mendengar kelanjutan cerita suaminya.


"Sabar Yang --menepuk tangan Atiqah di lengannya-- Papa punya simpanan --Atiqah membuka mulutnya lebar, terkejut-- bukan satu tapi empat --kini menutup mulutnya dengan dua tangan-- tiga perempuan seusia kak Melda, satu lagi anak kuliahan," Ardi menghembuskan nafasnya.


Atiqah tak bisa berkata-kata. Masih menutup mulutnya.


"Dua simpanannya menghasilkan masing-masing satu anak. Dan yang tadi kita lihat, dia mantan sekertaris Papa. Aku tau ini memang gila, sinting. Tapi aku nggak bisa gitu aja bilang semua ke Eyang juga Mama. Mereka bisa pingsan," Ardi menarik tangan Atiqah. Memeluk istrinya.


"Aku pakai informasi itu buat ancam Papa. Aku lakuin buat kita," Ardi mengecup puncak kepala Atiqah.


"Kenapa diem aja? kamu nggak mau komentar?" tanya Ardi. Atiqah bingung harus mengatakan apa. Itu bukan urusannya. Dia hanya menantu yang sebenarnya tidak dianggap.


"Aku justru takut," mendongak menatap Ardi.


"Takut kenapa?" tanya Ardi sambil membelai rambut Atiqah.


"Aku takut kamu lakuin hal yang sama kaya Papa," menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya ke dada Ardi. Memeluknya erat. Hamil di usia muda sudah cukup berat untuknya. Tapi jika menjadi janda, Atiqah tak sanggup.


"Jangan mikir yang enggak-enggak. Inget kata dokter. Kamu nggak boleh banyak pikiran," Ardi mengecupi kepala Atiqah.


"Handphone kamu nyala," ucap Atiqah. Menunjuk ponsel Ardi diatas meja. Ponselnya dalam mode senyap getar. Ardi mengambilnya lalu mengerutkan kening melihat nama Papanya di layar.

__ADS_1


"Papa --menunjukkan layar pada Atiqah-- panjang umur," ucap Ardi lalu menggulir tombol hijau ke atas.


"Halo," sapanya.


"Papa nggak perlu basa basi. Jangan sampe kalian ngomong macam-macam sama Papih! terutama istrimu itu. Jaga mulutnya!" Sigit menelfon dengan suara yang terengah-engah karena emosi.


"Asal Papa selalu di pihakku. *That's its*," Ardi menutup panggilan itu. Ia mendengar suara bocah anak kecil yang memanggil ayahnya dengan sebutan Papa. Sigit sedang berada bersama Ratih.


"Bang*sat! bisa-bisanya jam segini malah sibuk ngurusin lon*te," Ardi membanting ponselnya ke sofa.


"Kenapa? kok marah?" Atiqah menyetuh bahu Ardi.


"Dia minta kita tutup mulut. Tapi sekarang dia lagi di tempat lon*tenya yang lain. Najis!!" Ardi merebahkan badannya.


"Ngomongnya jangan kasar-kasar gitu. Nggak baik didenger anak kita," Atiqah mengusap perutnya. Seperti tau sentuhan ibunya, bayi di dalam bergerak mengikuti kemana sentuhan Atiqah.


"Maaf ... maaf baby," Ardi ikut mengusap.


Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan Sigit lagi tapi Lala.


"Yaudah, aku ke kamar. Aku ngantuk," Atiqah bangun dari duduknya perlahan kemudian masuk ke dalam kamar. Ardi tidak merespon. Ardi masih mencerna isi dari pesan Lala.


📩 Lala


Cek CCTV Resort X Gunungkidul Yogyakarta. Tanggal 15 Juni, jam 01.00 dini hari.


📩 Ardi


Maksud kamu apa La? ngomong yang jelas. Nggak perlu kode-kode gini.


📩 Lala


Nanti kakak tau sendiri isi rekaman CCTV itu. Ini antara Atiqah dan mas Guntur.


Ardi tak membalas lagi pesan Lala. Ia meremas ponselnya. Pikiran-pikiran aneh muncul, rasa curiganya apa lagi. Ardi menatap pintu kamar yang tak tertutup rapat. Dengan langkah cepat Ardi masuk ke dalam sambil melepaskan satu per satu pakaiannya.


Ardi menindih Atiqah yang baru saja memejamkan mata. "Kamu mau apa? aku ngantuk," ucap Atiqah begitu terkejut melihat Ardi sudah berada di atasnya hanya memakai underware.

__ADS_1


"Buka bajunya sekarang juga!" suara lantang itu mengejutkan lagi Atiqah.


"Kenapa harus teriak-teriak? aku udah bilang anak kita bisa denger," Atiqah menyentuh pipi Ardi tapi justru Ardi menepisnya.


"Persetan! Lepas!" Ardi mencekik leher Atiqah. Ia begitu kesal dengan isi pesan Lala. Ia menduga-duga kalau Atiqah dan Guntur melakukan sesuatu yang ia cemaskan.


"Le pas ... a ku ngg ak bi sa na fas," Atiqah memegang tangan Ardi di lehernya, berusaha melepaskannya.


"Buka bajumu!" Ardi kembali berteriak. Atiqah mengangguk sambil membuka kancing baju satu persatu.


Ardi melepaskan cekikannya lalu merobek pakaian Atiqah karena tidak sabar. Srekkk...


Atiqah memejamkan matanya, air matanya turun. Pikirannya kembali ke masa lalu. Saat Ardi memaksanya dan berbuat kasar.


"Kenapa lagi? ada apa ini?" gumam Atiqah dalam hati.


Ardi melumaat bibirnya begitu kasar sampai Atiqah menepuk dada karena kehabisan nafas.


"Kamu kenapa? pelan-pelan aja. Aku pasti layanin kamu," ucapnya sambil meringis, menahan sakit. Ardi menyerbu lehernya, menggigitnya hingga luka.


Seakan kesetanan, Ardi melakukannya dengan kasar dan tergesa-gesa. Belum apa-apa, ia sudah pergi meninggalkan Atiqah yang sama sekali belum merasakan puncak berhubungan badan. Ardi dengan santainya keluar kamar menuju kamar mandi setelah ia puas.


Atiqah menyeka sudut matanya, melamun menatap langit-langit kamar. Hubungan se*ks apa ini? batinnya meronta. Ia memiringkan tubuhnya ke kanan, menarik selimut sampai sebatas dada lalu mengusap perutnya yang terasa tegang akibat penyatuan kasar Ardi.


Atiqah meringkuk menangis. Rasa trauma itu datang lagi. Ardi kembali seperti dulu. Tiba-tiba saja berbuat kasar dan memaksanya.


Tanpa membersihkan pangkal pahanya yang masih tersisa cairan milik suaminya, Atiqah tertidur dalam rasa kecewa dan sedih.


Sedangkan Ardi sedang mengguyur kepalanya dibawah shower yang menyemprotkan air mode terkencang.


"Brengsek! Bajingan! Argh ... " Ardi berteriak meremas kepalanya. Rasanya ingin mencari tahu isi rekaman saat itu. Tapi rasanya ia belum siap menerima kenyataan.


Lala tidak mungkin mengatakan kebohongan. Dengan sangat jelas pesan itu ia berikan pada Ardi.


"Apa karena ini, dia menjauh dari Atiqah?" Ardi bertanya pada dirinya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2