
Atiqah berlapang dada. Lebih baik memang seperti ini. Biarkan Aziel tumbuh dan mencari jati dirinya sendiri dari pada harus merasakan kebingungan bersama ibu atau ayahnya. Dan seburuk apa pun, Ardi tetap Ayahnya.
Atiqah pulang ke Jogja setelah satu minggu resmi bercerai. Aziel juga sudah kembali ke Canada. Dan Ardi kembali bekerja.
Hari-hari Ardi begitu membosankan. Ia habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Kebiasaan barunya, ke club malam dan mabuk-mabuk an. Apartemen penuh kenangan dirinya dan Atiqah dulu, memenuhi pikirannya saat ia mabuk.
Ardi mabuk memeluk guling, menciumi guling itu seperti ia sedang mencumbu Atiqah. Sering kali ia menuntaskan hasratnya dengan berfantasi bersama Atiqah.
"Aku benar-benar gila! aku sangat mencintaimu! Aku menyesal! kembalilah sayang. Atiqaaahhh ..." teriak Ardi saat ia mabuk di club malam sendirian.
Rutinitas Ardi berulang seperti itu, sampai akhirnya seseorang di masa lalu yang menaruh dendam padanya datang bersama dua orang berbadan tegap.
"Dia udah teler. Bawa!" titah orang itu pada suruhannya. Ardi dimasukkan ke dalam mobil mini bus berwarna silver.
"Akhirnya kita ketemu lagi --menepuk pipi Ardi-- kamu nggak jauh beda sama aku. Bahkan lebih brengsek!" umpat laki laki itu, menarik kerah baju Ardi lalu menghempaskannya lagi ke lantai mobil.
"Mau dibawa kemana bos?" tanya suruhannya yang duduk di samping kemudi.
"Kita buang ke pinggir tol." jawabnya.
Ardi dibuang di pinggir tol setelah mendapatkan luka tusukan lima kali di perutnya. Kabar hilangnya Ardi pun mencuat ke media. Sampai akhirnya Ardi ditemukan di tol Cikampek.
Beruntung Ardi masih bisa diselamatkan, meskipun keadaannya kritis. Ardi kehilangan banyak darah dan organ perutnya rusak.
Atiqah buru-buru ke Jakarta setelah mendengar berita penusukan Ardi. Ardi menyebut namanya.
Atiqah bertemu dengan mantan mertuanya di rumah sakit. Anne meminta maaf atas semua kesalahannya. Begitu juga dengan Sigit.
"Sudah saya maafkan," hanya ucapan itu yang terlontar dari bibir Atiqah. Lalu dokter keluar meminta Atiqah masuk.
Atiqah memakai pakaian khusus berwarna hijau. Ia mendekati Ardi. Atiqah menangis melihat kondisi mantan suaminya.
"Ardi, ini aku," ucap Atiqah lirih di telinga Ardi.
Ardi membuka matanya perlahan, suster membantu membuka masker oksigen.
"A ti qah, sa yang," ucap Ardi terbata.
Atiqah mengangguk, "Iya, ini aku. Aku disini," jawab Atiqah, menggenggam tangan Ardi.
"A ku min ta ma af," ucapnya lagi.
Atiqah menangis, menganggukkan lagi kepalanya. "Iya iya, aku udah maafin kamu. Kamu harus kuat, kamu harus sembuh. Ada Ziel, putra kita. Aziel Danurdara," tutur Atiqah. Memberikan semangat.
"A ku men cin ta imu," ucap Ardi, air matanya menetes. Atiqah membekap mulutnya menahan tangisan. Lalu menyeka air mata Ardi.
"Iya, aku tau," jawab Atiqah.
"Ja ga diri mu, ju ga anak ki ta," suara Ardi semakin lirih.
"Aku nggak mau! Kita harus selalu ada buat Ziel. Kamu harus sembuh," tolak Atiqah.
"Bu at a pa a ku hi dup, ka lau nggak sa ma ka mu," jawab Ardi. Ia sudah putus asa. Rasa bersalah dan menyesalnya baru terasa setelah Atiqah benar-benar terlepas.
"Ada Aziel. Setidaknya berjuanglah demi Aziel. Aziel sayang kamu," sahut Atiqah. Ardi menggelengkan kepalanya.
Suster meminta Atiqah keluar ruangan. Waktunya hanya diberikan sedikit saja.
Suara mesin pendeteksi jantung tiba-tiba saja berbunyi setelah Atiqah melepaskan genggaman tangannya. Ardi kembali kritis dan saat itu juga, Ardi pergi. Meninggalkan semua kenangan manis dan pahit. Atiqah meluruh, terduduk lemas di lantai.
"Kamu nggak mau berjuang untuk putra kita. Kasian Ziel," Atiqah menangis tersedu.
*****
Kepergian Ardi memang menyelesaikan semua masalah yang pernah Atiqah alami. Tapi ia juga pernah mencintai Ardi, laki-laki yang memberikannya putra tampan dan pintar. Banyak kenangan manis diantara kenangan pahit yang ia lalui bersama Ardi.
__ADS_1
Bagaimana pun juga, hidup terus berjalan. Atiqah kembali pada rutinitasnya menjadi relawan. Kali ini Atiqah pergi ke Korea Selatan. Atiqah menjadi tenaga medis bantuan, khusus anak-anak di sebuah rumah sakit di pinggiran Seoul.
Dan disana, Atiqah bertemu dengan seseorang. Seorang guru Bahasa Indonesia. Pria itu mengajar di sebuah Universitas Internasional setempat.
Pertemuan tidak sengaja itu terjadi saat Atiqah pergi berbelanja ke sebuah Asia Mart tepat di depan Universitas. Atiqah sedang ingin cemilan dan beberapa bahan makanan dari Indonesia. Sebuah kebetulan, pemilik Asia Mart orang pribumi yang mengadu nasib ke Negri Ginseng.
"Kamu cari apa?" tanya pemilik mini market.
"Bumbu pecel ada nggak bang? aku lagi pengen bikin pecel sayur. Kangen banget rasanya," ucap Atiqah.
"Kebetulan habis, tapi di dalam aku punya. Kamu mau? gratis buat kamu," ucapnya langsung masuk ke dalam ruangan dimana pemilik itu tinggal didalamnya juga.
Laki-laki itu keluar membawa bumbu pecel dalam wadah plastik. "Ini, bawa aja,".
"Wah, terimakasih banyak bang. Aku jadi seneng," ucap Atiqah sambil meringis. Lalu ia menuju kasir bersama pemilik mini market.
Selesai berbelanja, Atiqah mendorong pintu. "Ehem ... udah jadi dokter, nggak kenal lagi sama aku," celetuk seseorang dari deretan kursi teras mini market. Atiqah menoleh, karena orang itu berbicara dengan bahasa indonesia dan menyebut soal profesi dokter.
"Lho kok ..." Atiqah menunjuk orang itu.
"Lho kok apa? sini duduk dulu. Ngobrol-ngobrol, lama nggak ketemu," ajaknya.
Atiqah bingung, kenapa bisa mereka bertemu di tempat yang jauh dari negri sendiri.
"Sini duduk! malah bengong aja. Gimana kabarmu?" laki-laki itu menarik tangan Atiqah untuk duduk di sebelahnya.
"Baik ... baik," jawab Atiqah, ia masih terlalu syok.
"Kamu nggak tanya kabar aku?" tanyanya, mencubit pipi Atiqah. Atiqah mengusap pipinya sambil terus menatap lawan bicaranya.
"Kamu kaya ngeliat hantu. Begitu banget," imbuhnya lagi. Atiqah meringis.
Pertemuan singkat itu tidak berakhir begitu saja. Mereka sering menghabiskan waktu berdua saat hari libur. Atiqah menceritakan masa lalunya yang ternyata sudah diketahui oleh laki-laki itu. Dan sebaliknya, pria itu bercerita tentang masa lalunya.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya laki-laki itu pada Atiqah. Hanya butuh 6 bulan, dan saat ini ia berusaha meyakinkan Atiqah menjadi pasangan hidupnya.
Sesuatu yang romantis yang biasa orang Korea Selatan lakukan. Melamar kekasih di sebuah tempat yakni Namsan Tower, terkenal dengan gembok cinta.
Atiqah menutup bibirnya. Apakah tepat menerimanya? secepat ini kah Tuhan, Kau hadirkan dia tiba-tiba untuk menyembuhkan lukaku?. Batin Atiqah.
Atiqah mengangguk lalu menjulurkan jarinya untuk disematkan cincin berlian yang ada di kotak beludru berwarna merah. Baru kali ini ia merasakan di lamar sesungguhnya.
"Sekarang kita pasang gembok cinta. Disini, ada nama kamu, aku juga Aziel anak kita," memberikan gembok cinta itu.
"Terimakasih. Terimakasih sudah mau menerima masa laluku, Mas. Juga menerima Aziel menjadi putramu," ucap Atiqah. Kemudian mereka memasang gembok itu bersama-sama, lalu membuang kuncinya.
"Semoga selalu bersama, apapun masalahnya. Kita hadapi sama-sama," ucap laki-laki itu.
*****
Indonesia, 15 Juni 2030.
Aziel Danurdara (10th)
Sherly nggak mau punya anak. Bener kata ibuk. Dia nggak bisa hidup sederhana, menerima apa yang aku hasilkan. Aku putusin untuk bercerai dan terima tawaran jadi guru bahasa indonesia di Korea. Curahan hati Fajar saat itu.
Atiqah dan Fajar resmi menikah setelah keduanya sama-sama telah berpisah. Sama-sama menyembuhkan rasa sakit di masa lalu.
__ADS_1
Sejauh apapun kamu mencari, apa yang di takdirkan untuk mu, pasti akan kembali.
Sejauh itu juga perjalanan kisah Atiqah bersama Ardi dan Fajar bersama Sherly.
Saat ini, Tuhan telah menyatukan keduanya dalam janji suci sebuah pernikahan yang baru. Pernikahan yang di dasari rasa cinta, kasih sayang dan juga saling menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing.
Aziel menerima apa pun, asal ibunya bahagia.
"Bapak harus baik sama ibu. Kalau ada apa-apa sama ibu, hadapi aku," ucap Ziel pada Fajar. Fajar terkekeh mendengar ancaman Aziel padanya.
"Oke siap!! Bapak janji," saling menautkan jari kelingking. Lalu tertawa bersama.
"Ibu nggak diajakin?" sela Atiqah. Masih memakai gaun pengantin.
"Tidak boleh! ini antara laki-laki. Ibu beri aku adik perempuan. Baru boleh," usulnya lalu melakukan tos dengan Fajar.
"Ish ... kalian udah jadi sekutu sekarang. Oke, nanti ibu buatkan adik perempuan yang banyak untuk kamu," ujar Atiqah merentangkan jarinya, berjumlah lima. Aziel dan Fajar saling menatap, ikut merentangkan jarinya. Ber wow...
"Jadi malam ini, anak bapak nggak boleh ganggu. Bapak dan Ibu akan berunding semalam suntuk untuk beri kamu adik sejumlah --merentangkan jemarinya lagi-- lima," ucap Fajar. Aziel melonjak kegirangan.
"Yeay ... aku akan mendapatkan adik sebanyak lima. Wow, lima," Aziel begitu bahagia.
Mengumumkan ke semua orang termasuk Nenek Asri, Om Robi, Nenek Jum, Om Guntur, Tante Ani, Tante Rizka, Oma Anne, Opa Sigit, Mommy Daddy dan Gea. Tak lupa pada Nenek dan Kakeknya yang baru, Nenek Siti dan Kakek Aji.
Semua berkumpul di pesta pernikahan Atiqah dan Fajar. Bertema garden party.
*****
"Makasih, Mas. Udah ajak aku jauh-jauh kesini. It's my dream, Mas." Atiqah mengecup bibir Fajar lalu memeluknya.
"Sama-sama, sayang," mencium puncak kepala.
Honeymoon ter epic, Cappadocia, Turkey.
"Setelah ini, kita langsung ke hotel ya. Aku mau lagi. Yang tadi bentar doang," ucap Fajar masih memeluk Atiqah.
"Ihh ... ketagihan," Atiqah mencubit pipi Fajar, tergelak.
*****
Setahun kemudian, lahir lah bayi mungil dan cantik. Bernama Aliza Adhiwilaga.
...\=\= TAMAT \=\=...
...Toxic Relationship...
...Akhiri atau Bertahan?...
Terimakasih banyak guys, dukungannya buat ATIQAH 🙏🙏🙏 Semoga endingnya bisa memuaskan kalian ya 😊
Satu misteri yang nggak othor ungkap, siapa yang menusuk Ardi lalu membuangnya ke pinggir tol. Main tebak-tebakan 😁 Kalian pasti tau siapa yang dendam sama Ardi.
Pengumuman Give Away podium umum 1, 2 dan 3 + 3 pembaca pilihan akan diumumkan satu hari setelah ending ini ya (Grup Chat). Maybe hari Jumat.
Author juga udah siapin satu novel baru. Spin-off Kahiyang, salah satu tokoh dari Judul My Young Husband Season 2.
Ceritanya ringan.
Jodoh untuk Kahiyang, dengan latar belakang hidupnya yang nota bene anak di luar pernikahan. Cukup membuat hidupnya sulit. Sulit untuk berteman, bergaul juga mendapatkan jodoh. Meski ia keturunan dari Rozi Prasojo, Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dan Perilaku dan juga pemilik salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta Utara.
__ADS_1