
Hari terakhir Ardi berada di Jogja, Atiqah kembali menangis. Mengurung diri di dalam kamar. Ardi mengetuk pintu berkali kali tapi tidak juga dibuka.
"Eyang, dua bulan ini biarkan Atiqah ikut Ardi ke Jakarta. Dia pasti rindu Bapak dan Ibunya. Setelah itu Ardi antar lagi ke Jogja. Eyang nggak keberatan kan?" Ardi meminta ijin pada Subroto. Ia mengetuk pintu kamar kakeknya setelah tidak juga dibukakan pintu oleh Atiqah.
"Yo sakarepmu, nanging ... dijogo. Ojo nganti ono opo-opo (Ya terserah kamu, tapi ... dijaga. Jangan sampai ada apa-apa)" Subroto mengerti perasaan cucu menantunya. Dikala hamil seperti ini pasti ingin dekat dengan orangtua.
"Makasih Eyang. Atiqah pasti seneng banget" Ardi spontan memeluk Subroto.
"Yo ... yo" Subroto mengangguk-anggukan kepala.
Setelah ijinnya di setujui, Ardi segera kembali masuk ke paviliun. Ardi mengetuk pintu lagi.
"Yang ... buka pintunya dong. Aku ada kabar penting. Kamu pasti seneng. Buka pintunya ya?" Ardi membujuk Atiqah.
Tidak ada sahutan tapi terdengar langkah kaki mendekati pintu kamar. Suara kunci diputar.
"Kabar apa?" wajah Atiqah sembab, pipinya masih sedikit basah.
"Ya ampun Yang. Sampe segininya kamu sedih banget mau aku tinggal ke Jakarta lagi" Ardi masuk langsung memeluk Atiqah.
"Aku sedih banget. Kamu nggak bisa pindah sekolah disini aja? aku nggak bisa jauh dari kamu" Atiqah merengek, kembali menangis. Ucapannya diikuti sesenggukan.
"Sini ... duduk dulu" Ardi merangkul membawa Atiqah duduk di pangkuannya. Menyingkirkan helaian rambut yang menutupi dahi.
"Mau apa? nggak usah bujukin aku kalau akhirnya kamu tetep pulang ke Jakarta" Ardi menahan tawanya melihat Atiqah yang manja, kekanak-kanakan. Bibirnya mengerucut.
"Beneran nih? padahal aku mau ngajakin kamu ke Jakarta juga. Ketemu sama bapak ibu. Nggak mau? yaudah" Ardi melepaskan pelukannya di pinggang.
"Hah?? Aku ikut ke Jakarta? ketemu bapak sama ibu? --Ardi mengganggukan kepala-- Serius? jangan bohong ah. Aku nggak mau kalau cuma dijanjiin gini biar aku nggak sedih lagi kamu tinggal" Atiqah melipatkan kedua tangannya ke depan dada.
"Aku serius Yang. Aku nggak bohong. Aku udah bilang ke Eyang. Eyang ijinin tapi dua bulan aja, setelahnya aku antar kamu ke Jogja lagi" Ardi menarik tangan Atiqah lalu membawanya dalam dekapan. "Aku juga nggak mau jauh-jauh dari kamu juga anak kita. Makanya aku mau bawa kamu ke Jakarta. Kamu pasti juga kangen sama bapak juga ibu" Atiqah kembali menangis mendengar orangtuanya disebut lagi. Memang benar, rasa rindunya teramat dalam.
"Jadi, besok kita terbang ke Jakarta?" Ardi menjawab dengan anggukan. "Makasih sayang. Aku seneng banget. Juga terharu" masih memeluk suaminya.
"Aku juga seneng kalo kamu seneng. Oh iya, untuk packing biar aku aja. Kamu duduk manis di ranjang. Habis packing kita pergi beli oleh-oleh buat bapak, ibu juga Robi" Ardi memundurkan tubuhnya, memberi jarak. Menangkup wajah Atiqah. Disekanya air mata dengan dua ibu jarinya.
"Jangan nangis lagi ya? aku sayang kamu" Atiqah mengangguk tersenyum tapi matanya kembali berkaca-kaca. "Udah dong, jangan nangis lagi. Kasian anak kita pasti juga ikutan nangis" Atiqah beringsut, buru-buru ia seka air matanya.
"Iya ... iya. Aku nggak nangis lagi" Ardi tertawa melihat Atiqah yang seperti itu. "Ih ... malah diketawain" Memukul lengan Ardi.
"Maaf ... maaf. Oke, aku nggak ketawa lagi. Tapi ... aku mau kamu ..." Ardi menarik tangan Atiqah, menekan punggung lalu meluumat bibir berwarna alami tanpa lipstik itu.
Keduanya terhanyut dengan ciuman yang semakin dalam dan menuntut. Sampai-sampai Atiqah mendorong paksa Ardi lalu menghirup udara sebanyak banyaknya.
Tanpa perlu berlama-lama, Ardi sudah berhasil melucuti pakaian Atiqah dan dirinya sendiri. Bibirnya sudah menguluum puncak dada kemudian menjilat dan sedikit gigitan yang membangkitkan gairah. Atiqah mendesaah hebat. Salah satu titik sensitif sudah berhasil Ardi taklukan. Dan satu titik lagi akan ia makan dengan rakusnya.
__ADS_1
Suara cecapan basah dibawah sana begitu membuat Atiqah dan Ardi meremang, menggelinjang.
"Kamu selalu nikmat" perkataan mesum yang terlontar begitu saja dari mulut Ardi. Cairan itu ada di lidahnya.
"Yang ... udah" Atiqah lemas, padahal Ardi belum melakukan yang sesungguhnya.
Ardi merangkak naik kemudian memiringkan tubuh Atiqah ke samping. Dengan perut yang sudah membesar, Ardi mencari tahu posisi yang mana saja yang membuat ibu hamil trimester kedua merasa nyaman saat berhubungan badan.
"Aku suka gini. Nyaman" ucap Atiqah saat Ardi mengangkat kaki kirinya ke atas.
"Kalau gitu, nikmatin apa yang mau aku kasih" belum sempat Atiqah menanggapi, Ardi sudah melesakkannya dalam-dalam dan langsung bergerak.
Tangannya menahan pinggang istrinya lalu mengusap perut buncit itu sambil menciumi leher dan bahu. Bekas kecupaan berwarna biru nampak tak beraturan. Rasa bahagia akan membawa istrinya ke Jakarta dan juga Atiqah yang senang akan bertemu orangtua dan adiknya, membuat percintaan kali ini sangat panas.
Suara desahaan mereka terdengar menggema di dalam paviliun. Benar-benar suara jeritan yang erotis dan membangkitkan gairah bagi yang mendengarnya.
*****
Ardi memilih maskapai penerbangan ternama kelas bisnis agar nyaman untuk istrinya. Atiqah terus tersenyum. Pagi itu wajahnya sangat cerah ceria dan cantik khas ibu hamil. Seorang ibu yang sangat muda.
Dress dibawah lutut berlengan pendek dengan corak garis-garis vertikal warna hitam putih itu sangat cocok di tubuh Atiqah. Ardi terus kagum memandangi istrinya. Rasanya bercinta kemarin masih belum cukup.
"Nyaman?" tanya Ardi menyampingkan tubuhnya ke arah Atiqah.
"Nyaman kok. Anak kita seneng. Tadi dia sempet gerak-gerak" sambil mengusap perut.
"Masa Yang? kenapa tiap aku pegang dia nggak mau gerak? aku penasaran banget" Ardi kembali mengulurkan tangannya mengusap perut Atiqah dan memang jagoannya tidak memberikan respon. Ardi cemberut.
"Jangan cemberut gitu. Mungkin dia belum terbiasa sama Ayahnya. Kamu juga baru 4 hari bareng aku sama dia lagi. Sabar Ayah" Atiqah mengusap lengan lalu mencubit pipi Ardi gemas.
"Ayah?? aku Ayah?" Ardi menunjuk dirinya sendiri merasa senang dengan sebutan barunya.
"Iya Ayah. Kalau aku, Ibu" ikut menunjuk diri sendiri.
"Ayah dan Ibu? aku setuju. Kayaknya hangat banget keluarga kecil kita" Ardi merangkul Atiqah, menciumi kening lalu pelipis kanan.
*****
Mobil berhenti tepat didepan pagar rumah. Keadaan lingkungan sekitar terlihat sepi karena hari biasa. Semua pergi bekerja dan ke sekolah. Ardi mengulurkan tangannya untuk tumpuan istrinya turun dari mobil.
Atiqah mengedarkan pandangan ke tiap sudut rumah bagian depan yang sudah belasan tahun menjadi tempat tinggalnya.
"Robi pasti lagi sekolah. Ibu juga di warung. Bapak apa lagi, jam segini kerja. Rumah sepi" Atiqah sedikit kecewa.
__ADS_1
"Jangan sedih gitu dong. Nanti sore kita balik lagi kesini. Sekarang ke apartemen dulu. Istirahat. Oke?" Atiqah mengangguk lemah. Ia menurut apa kata Ardi untuk pulang ke apartemen.
Mobil pergi meninggalkan rumah pak Bondan dan bu Asri.
*****
Dan sore harinya, Atiqah sudah bersiap dengan pakaiannya dan juga beberapa tentengan oleh-oleh untuk kedua orangtua dan Robi.
Tadi sesampainya di apartemen Atiqah kembali menangis karena kecewa belum bisa menemui keluarganya. Tapi sore ini moodnya kembali baik.
"Kamu nggak papa tinggal dirumahku yang kecil juga kamarku yang sempit?" tanya Atiqah pada suaminya diperjalanan.
"Nggak masalah. Asal sama kamu juga anak kita" jawaban yang seketika mendinginkan hati Atiqah.
"Makasih Yang. Kamu pengertian banget. Jujur, kamu berubah. Perlakuan kamu ke aku, perhatian kamu, dan soal temperamenmu juga. Aku seneng kamu berubah lebih baik" Atiqah memeluk pinggang Ardi, mendaratkan kepalanya ke bahu suaminya.
"Karna aku sayang dan cinta kamu. Maaf dulu aku udah kasar, juga paksa kamu. Aku ingin perbaiki semua" Ardi mengecup puncak kepala Atiqah yang masih bersandar di bahunya.
"Aku juga sayang dan cinta kamu. Aku maafin semua. Mulai sekarang kita harus baik-baik terus. Jangan marah-marahan lagi atau berantem hebat kayak dulu. Kasihan anak kita"
"Iya Ibu. Ibu dari anak-anakku" lengan kiri yang sedang digelayuti Atiqah memutar, merangkul lalu mengusap lengan istrinya. Tangan kanannya fokus pada setir mobil.
"Gombal" Atiqah mencebikkan bibirnya lalu tertawa bersama.
Rasanya sangat bahagia, sampai tak terasa mobil yang dikendarai Ardi sudah berbelok masuk ke jalan rumah mertuanya.
Sudah dipastikan pak Bondan dan bu Asri ada dirumah. Motor bebek milik bapaknya terparkir rapih di teras. Atiqah sudah tidak sabar ingin bertemu.
"Pelan-pelan Yang. Tunggu aku. Aku ambil oleh-oleh juga koper kita" Ardi menahan Atiqah yang akan melangkahkan kakinya buru-buru ke depan gerbang.
Ardi membuka bagasi dan membawa semuanya.
"Pak ... Bu ... Robi" Atiqah sudah memanggil-manggil anggota keluarganya dengan lantang namun ada sedikit getaran.
Matanya berkaca-kaca melihat Bapak dan Ibunya membuka pintu dan menghampirinya.
"Mba ..." bu Asri dan pak Bondan berseru bersamaan. Memeluk putrinya bersamaan.
Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, akhirnya sore itu mereka berkumpul kembali. Meski hanya beberapa bulan saja.
Bersambung...
*****
Jangan kalian pikir mereka udah adem ayem bahagia ya. Ini belum apa-apa gaes. Badai itu akan segera datang. Badai permulaan 😌 baru awal lho, ada badai lainnya yang lebih dahsyat.
__ADS_1
Yowes...Ojo lali kei bintang 5, like, komen & hadiaeh kanggo Atiqah. Ben lancar metenge nganti lairan mengko. trek tek tek tek tek 😄😄😄
Matursuwun 🙏🙏🙏