ATIQAH

ATIQAH
FLASHBACK (2)


__ADS_3

Pernikahan Fajar dan Sherly sudah berjalan dua tahun. Fajar yang baru saja diangkat menjadi guru tetap, seusai menyelesaikan Kuliah Pendidikan Guru Bahasa Indonesia dan telah memiliki sertifikat pendidik. Sedangkan Sherly bekerja di sebuah bank kenamaan.


Fajar bersama Sherly akan menghadiri pesta pernikahan sepupunya di Hotel mewah di Bandung.


"Beb, tolong kancingin ini!" pinta Fajar, mengulurkan tangannya. Kemeja batik berlengan panjang warna coklat itu sangat pas di tubuhnya.


Sherly mendekat, mengancingkan bagian pergelangan tangan suaminya. "Udah. Kita berangkat sekarang! bentar lagi mau mulai acaranya. Jangan sampai Papa Mama marah kalau kita telat!" ucapnya. Menggandeng Fajar, lalu menenteng tasnya.


"Pelan-pelan, beb. Nggak perlu buru-buru. Kamu pakai heels," ujar Fajar, mengikuti langkah kaki Sherly menuruni anak tangga.


"Udah biasa! waktu kita nggak banyak, beb. Ini gara-gara kamu, pakai minta jatah dulu," gerutu Sherly. Fajar tertawa.


"Makanya jangan godain aku pakai baju seksi. Aku nggak tahan ngelihatnya," mencubit hidung Sherly. Keduanya sudah ada di dalam mobil.


"Kan udah sering lihat. Masih aja mupeng," balas Sherly mencubit pipi Fajar.


"Kamu diem aja, bikin aku mupeng, beb." imbuh Fajar.


"Dasar, mesum!" cibir Sherly.


Beruntung mereka sampai tepat waktu. Sherly dan Fajar bergabung bersama keluarga besarnya.


"Halo, Sher," sapa sepupu-sepupunya yang lain.


"Hai ..." balas Sherly, menggandeng Fajar.


"Halo, Aa," mereka menyapa Fajar bebarengan. Fajar melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Gimana kabarnya, Sher?" tanya bibi, adik dari Mama Sherly.


"Baik, tan," jawabnya.

__ADS_1


"Gimana, udah isi belum?" tanya bibinya lagi. Pertanyaan yang paling Sherly benci. Selalu pertanyaan yang sama.


"Tan, aku ke Mama Papa dulu ya? dah ..." Sherly tidak mau menanggapi pertanyaan bibinya. Ia memilih menghindar.


"Sama Tante sendiri jangan begitu, beb. Nggak baik," Fajar memberikan nasehatnya.


"Kenapa kamu belain dia? kamu udah tau kalau aku nggak suka ditanya soal itu," Sherly kesal, berjalan menghampiri Papa Mamanya di sisi kiri pelaminan.


"Jangan keras-keras gitu! banyak orang. Aku nggak belain siapa-siapa," merangkul pinggang Sherly sambil terus berjalan, sampai di hadapan mertuanya.


Acara dimulai sampai akhirnya Fajar dan Sherly duduk di roundtable khusus keluarga. Mertua Fajar ada disana.


"Sher, Rio dateng lho. Dia sendirian. Rio sekarang udah jadi pengacara hebat. Say hello, heula," ujar Indah, Tante Sherly. Rio adalah mantan pacar Sherly sewaktu SMA.


Fajar memandang istrinya, Sherly mengedikkan bahu.


"Enggak, Tan. Aku udah punya suami. Nggak baik," tolaknya. Walau bagaimana pun juga Sherly menghargai keberadaan suaminya.


"Rio Pengacara hebat lho. Banyak duitnya. Nggak kayak ... ehem," ucap Indah, berdehem sambil melirik Fajar.


Fajar sudah sering mendengar ucapan langsung ataupun sindiran dari keluarga besar Sherly, tak terkecuali mertuanya sendiri. Fajar menanggapinya dengan bersabar dan senyuman.


Papa Mama Sherly diam saja melihat menantunya di permalukan. Karena bagi mereka, memang kenyataannya seperti itu. Menantunya hanyalah guru biasa, bukan pengusaha apalagi pengacara hebat seperti Rio.


"Halo, Om ... Tante," sapa Rio pada orangtua Sherly. Indah menyenggol lengan kanan Sherly.


"Hai, Rio. Gimana kabar kamu?" tanya Bagja, Papa Sherly. "Duduk ... duduk!" menarik kursi di sebelahnya, tepat di sebelah kiri Fajar. Fajar menyapa dengan senyuman dan anggukan kepala.


"Baik, Om," jawabnya. "Om juga keliatan lebih seger. Tante juga makin cantik," ucapnya lagi. Sherly mencibir, mendengar kata-kata Rio. Fajar diam.


"Tante kok nggak disapa juga, Yo?" celetuk Indah.

__ADS_1


"Eh ... ada Tante Indah. Aku pangling, Tan. Beda, makin cantik aja," ujar Rio. Memang mulutnya licin, pandai merayu. Cocok dengan profesinya.


"Ah bisa aja kamu, Rio," Indah tersipu malu menepuk bahu Sherly. Yang ditepuk, merasa jijik mendengarnya.


"Udah jadi pengacara hebat sekarang?" tanya Bagja.


"Iya Om, berkat kerja keras aku sendiri," jawabnya penuh kesombongan. Tubuhnya ia senderkan ke kursi, dua tangannya ia lipat didepan dada.


"Hebat kamu! Memang harus begitu. Kerja keras, usaha dari diri kamu sendiri. Itu lebih baik dan membanggakan," ucapan Bagja penuh dengan sindiran. Sherly meremas tangan Fajar. Suaminya itu justru menenangkannya dengan mengusap punggung tangan.


"Ya begini lah, Om. Tapi saya, ehem ... belum menikah. Sudah sesukses ini tapi belum ada pendamping. Andai Sherly belum menikah, pasti sudah saya lamar sekarang juga di hadapan Om Bagja," ucap Rio dengan angkuhnya. Ucapannya begitu menyebalkan di telinga Sherly dan Fajar.


"Yah, sayang banget ya Pa. Mama juga mau kalau punya menantu pengacara hebat kayak nak Rio. Bisa Mama pamerin ke temen-temen arisan. Tapi sayang ..." timpal Ami, melirik Fajar dan Sherly.


Fajar begitu sabar menghadapi cercaan dan sindiran-sindiran yang didapatnya. Bukankah Guru adalah pekerjaan mulia? mengajarkan dan memberikan ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan, untuk masa depan. Orang-orang hebat sekali pun di didik, diarahkan dan diajar oleh seorang Guru.


Peran Guru sangatlah penting untuk pembangunan nasional serta melahirkan generasi-generasi yang berkualitas untuk masa depan. Guru menjadi tombak generasi penerus bangsa, membagi ilmunya tanpa pamrih,


serta mengajarkan kedisiplinan.


Apakah pantas profesi seorang Guru diremehkan seperti ini? hanya karena gajinya tidak sebesar pengusaha seperti Bagja dan pengacara hebat seperti Rio? sungguh pemikiran yang picik.


Fajar mengajak Sherly menikmati makanan yang tersedia. Ia tidak mau ambil pusing perkataan keluarga besar istrinya. Asal Sherly masih mau hidup bersamanya, bagi Fajar sudah cukup. Harga diri seorang laki-laki adalah bekerja. Menjadi Guru memanglah pilihannya sendiri. Meneruskan apa yang sudah dijalani oleh kedua orang tuanya. Pak Aji dan Bu Siti.


"Kita udah dua tahun menikah. Kita juga udah sama-sama bekerja. Kapan kita progam punya anak, beb?" tanya Fajar. Mereka berdua sudah sampai dirumah. Fajar menelungkupkan tubuhnya sambil memeluk bantal, menatap Sherly yang sedang memakai rangkaian scincare malam.


"Aku baru empat bulan kerja, beb. Sayang banget kalau aku harus hamil sekarang. Belum lagi nanti cuti melahirkan, terus aku kerepotan ngurusin bayi, pumping kayak temen-temen aku di kantor. Pusing aku lihatnya. Jangan sekarang! kasih aku waktu lagi, sampai aku siap." Sherly menolak.


Raut wajah Fajar seketika berubah. Kecewa, sudah pasti. Usia mereka yang sudah cukup matang, sudah cukup untuk memiliki seorang anak. Apalagi mereka sama-sama anak tunggal. Orangtua Fajar sudah sangat ingin memiliki cucu. Cucu yang bisa mereka timang dan ajak bermain. Namun sepertinya harus ditunda lagi dan lagi.


"Kamu marah? kenapa diem?" tanya Sherly. Mendekati Fajar yang sedang melamun.

__ADS_1


"Hah? enggak ... aku ikuti semua yang kamu mau. Aku juga nggak pengen memaksakan keinginanku. Aku pengen kamu siap dulu," sangkal Fajar.


Bersambung...


__ADS_2