
Pagi harinya, Atiqah sudah berdandan dan memakai kebaya berwarna putih. Riasan tipis yang ia poles sendiri. Pernikahan keduanya akan berlangsung tertutup. Hanya keluarga inti, penghulu dan juga saksi.
Ruang tamu yang ditata sederhana sudah siap digunakan untuk mengucap janji pagi ini.
"Anak ibu cantik banget" ucap Asri sambil mengusap lengan Atiqah. Mereka berdua menunggu di kamar. Saat Ardi datang nanti, Atiqah baru boleh keluar.
"Terimakasih bu" Atiqah tersenyum. Rasa gugup terlihat jelas diraut wajahnya.
"Kenapa mba? deg-deg an?" tanya Asri pada putrinya. Atiqah mengangguk. "Tenang, sebentar lagi pasti nak Ardi sampai".
"Iya bu" Atiqah mencoba menenangkan dirinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit tapi Ardi belum juga datang. Padahal penghulu dan saksi sudah duduk 10 menit yang lalu.
Bondan terlihat cemas, begitu juga dengan Atiqah dan Asri di dalam kamar.
"Mungkin macet mba. Tenang ... tenang ya" Asri menenangkan putrinya, berpikir positif.
Pukul 10.30 Ardi masih belum datang. Bondan mengetuk kamar Atiqah.
"Mba, coba telfon Ardi sudah sampai mana" titah Bondan setelah pintu kamar dibuka.
"Iya pak" Atiqah meraih ponselnya, mengusap layar mencari nama Ardi.
Dua kali Atiqah menghubungi Ardi tapi tidak ada jawaban, tidak juga diangkat. Wajah Bondan berubah kesal melihat putrinya bolak balik menyentuh layar.
Tangan Atiqah gemetaran, apa yang ia cemaskan sepertinya menjadi kenyataan.
"Gimana mba?" tanya Asri. Atiqah menggelengkan kepalanya.
Brakk...Bondan membanting pintu kamar putrinya. Ia sangat marah. Ardi tidak bisa dihubungi.
"Mba telfon lagi ... pasti ada yang salah. Nggak mungkin Ardi nggak datang bu" Atiqah menangis sambil terus menghubungi Ardi. Asri duduk lemas di kasur putrinya.
"Gimana pak Bondan? sudah hampir jam sebelas tapi mempelai pria belum juga datang. Saya jam sebelas harus ke gedung. Ada yang menikah juga siang ini" ucap pak Penghulu. Bondan bingung harus bagaimana.
"Bu ... nomornya nggak aktif" Atiqah terduduk lemas. Ponselnya lolos dari genggaman tangan. Atiqah menangis lalu berteriak. "Nggak mungkin, nggak mungkin". Asri langsung memeluk putrinya.
"Maaf pak Bondan, saya harus pergi sekarang" pak Penghulu bangkit menenteng tasnya. Bondan tidak bisa menahan karena ada orang lain yang sudah menunggu untuk dinikahkan juga.
__ADS_1
*****
Ardi bersiap menggunakan pakaian terbaiknya. Satu setelan jas berwarna hitam dan sepatu. Bel apartemen berbunyi. Ardi langsung membuka pintu, ia yakin itu Papanya. Tidak mungkin Papanya bisa mengelak.
"Mama? apa-apaan ini?" Ardi mundur berusaha menghindar dari dua pria bertubuh tegap yang datang bersama Anne.
"Bawa dia!" perintah Anne pada dua orang suruhannya. Ardi meronta tapi tenaganya kalah telak.
"Mama ... Jangan main-main sama Ardi! Ardi harus nikahi Atiqah. Dia sedang hamil anak Ardi, Ma. Cucu Mama" Ardi berteriak sepanjang lorong sambil menendang udara.
"Bukan! bukan cucu Mama! Mama nggak sudi! Cepat bawa!" titahnya lagi pada suruhannya.
Ardi dimasukkan ke dalam mobil van berwarna hitam. Mulutnya di lakban, tangan dan kaki di ikat. Persis seperti sebuah penculikan.
"Ma, nggak bisa begini. Ardi harus nikahi perempuan itu. Jangan gegabah Ma. Kalau Papi sampai tau, kita bisa kena akibatnya Ma" Sigit menahan Anne yang akan ikut masuk ke dalam van itu. Sigit datang sedikit terlambat. Mereka bertemu di basement apartemen.
"Enggak! Mama nggak bisa lihat Ardi jadikan itu perempuan menantu kita. Mama nggak bisa!" Anne langsung masuk ke dalam van meninggalkan Sigit yang terjatuh setelah didorong keras oleh istrinya.
"Ma ... Mama. Berhenti! Jangan bawa Ardi!" Sigit terus menggedor kaca mobil dan mobil melesat cepat keluar dari parkiran. Sigit berlari ke arah mobilnya, berusaha mengikuti.
Anne menatap Ardi lalu menoyor kepala putranya. "Goblokk kamu! Stupid! otak kamu dimana? bisa-bisanya mau nikahin anak gembel itu. Dia cuma mau harta keluarga Danurdara. Kamu dimanfaatin. Ngerti?!!" Anne sungguh kesal. Ardi menatap Anne sengit, ia tidak bisa membalas perkataan Mamanya. Mulutnya tertutup rapat lakban.
Sigit terus mengikuti sampai di bandara. Anne benar-benar akan membawa pergi putranya ke luar negri.
"Copot semua! Jangan sampai terlalu mencolok! Jaga ketat!" Anne membuka pintu mobil, turun dengan anggunnya memakai kaca mata hitam.
"Halo mom ... iya, aku sudah bawa Ardi. Sebentar lagi kita terbang ke Singapore" Anne menjawab telfon dari ibunya yang tinggal di negri Singa, lalu memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.
Ardi turun digandeng dua pria tadi. Ia mencari cara agar bisa terbebas dan segera datang ke rumah Atiqah. Waktunya sangat terbatas, sudah menunjukkan pukul 10.30.
"Ardi mau ke toilet" ucapnya pada Anne.
"Kamu jangan alesan!" Anne tidak mau tertipu.
"Mau Ardi teriak? Ardi bisa bilang lagi diculik. Semua orang akan menatap Mama. Mau jadi tontonan dan wajah Mama viral di media sosial?" Ardi menggertak Anne.
"Sana sana ... jaga dia! jangan sampai kabur!" Anne mengibaskan tangannya lalu duduk.
Ardi berjalan ke arah toilet. Dari kejauhan ia melihat Sigit dan dua anak buahnya memasuki pintu bandara. Ardi mengangguk memberikan tanda pada Papanya.
__ADS_1
Ardi dan dua orang suruhan Anne masuk ke dalam toilet. Sigit dan dua anak buahnya ikut masuk, dan terjadilah perkelahian disana. Ardi keluar bersama Sigit, berlari cepat keluar bandara.
"Makasih Pa" ucap Ardi setelah masuk memakai seatbelt. Sigit hanya berdeham. Sejujurnya ia juga tidak setuju tapi karna ancaman putranya, Sigit tak memiliki pilihan lain.
Sigit melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh di jalan tol. Di hari senin, tol lengang. Ardi merogoh ponselnya akan menghubungi Atiqah tapi ponselnya mati.
"Pinjam handphone Papa ..." menengadahkan tangannya, meminta ponsel Sigit. Sigit mengeluarkannya dari saku jasnya.
Ardi menghubungi Atiqah tapi tidak juga diangkat, panggilan sibuk. Ardi memilih menunggu sampai mereka tiba disana.
Tepat pukul 11 siang, Ardi dan Sigit sampai di rumah Atiqah. Terlihat Bondan yang sedang berbicara dengan penghulu di teras rumah. Penghulu itu sudah bersiap-siap pergi dengan menenteng tas.
Bondan, penghulu dan saksi melihat ke arah mobil yang baru saja datang.
"Pak, maaf saya terlambat. Bisa kita mulai sekarang saja?" Ardi berlarian mendekati Bondan dan penghulu.
"Maaf saya harus sudah ditempat lain" ucap pak Penghulu.
"Saya akan beri tambahan" ucap Sigit berdiri di sebelah Ardi. Penghulu itu menimbang-nimbang tawaran Sigit. Menatap jam di pergelangan tangan kanannya.
"Baik" ucap penghulu itu, kembali masuk ke dalam rumah. Bondan lega, calon suami putrinya datang.
Atiqah dan ibunya saling berpandangan, mendengar suara orang yang datang. Atiqah bangkit dan langsung membuka pintu. Tangisannya pecah. Rasa cemasnya tadi melebur saat melihat Ardi telah duduk berhadapan dengan ayahnya.
Ardi menoleh, matanya pun berkaca-kaca menatap Atiqah.
"Mas Ardi sudah siap?" ucap bapak penghulu.
"Siap" jawab Ardi tegas. Atiqah tetap berdiri bersama Asri didepan pintu kamar sambil menyaksikan Ardi mengucap janji, berjabat tangan dengan Bondan. Sigit duduk disamping putranya.
Kata "Sah" terucap. Atiqah memeluk ibunya. "Terimakasih bu. Mba banyak salah sama ibu juga bapak" ucapnya terbata.
"Ibu ikut bahagia. Mungkin ini memang pilihan terbaik untuk mba. Jadilah istri dan ibu yang lebih baik. Jadikan semua ini sebagai pembelajaran hidup. Jangan gegabah melakukan sesuatu" ujar Asri. Atiqah mengangguk.
Atiqah dan Ardi sudah resmi menjadi suami dan istri. Ardi membawa Atiqah ke Jogja ke rumah Subroto. Hanya tempat itu yang aman bagi mereka berdua.
Bondan dan Asri melepas putrinya dengan rasa haru. Putrinya yang masih muda harus merasakan kehamilan dini dan jauh dari orangtua.
Bersambung...
__ADS_1