
"Ah mas ..." suara desaahan Narnia menggema di kamar apartemen mewah miliknya. Sigit sedang mengulum puncak dadanya. Lingerie seksi itu berceceran di depan pintu kamar.
Sigit menindihnya dengan menumpukan kedua tangan juga lututnya disamping tubuh Narnia. "Kamu seksi banget sayang. Ukurannya juga makin pas di tanganku," sambil meremas dada sebelah kiri lalu jarinya mengitari puncak dan Narnia menggigit bibirnya menahan rasa geli.
"Mas, jangan lama-lama. Aku udah nggak tahan" memegang lengan Sigit, tubuhnya bergerak sedikit liar tidak tahan.
Perut buncitnya itu menghalangi pandangannya saat Sigit menuruni lembah menuju celah kenikmatan. "Mas ..." Narnia hendak menendang wajah Sigit karena rasa gelinya di area pangkal paha. Sapuan lidahnya sangat terasa.
"Mas, langsung aja. Aku beneran udah nggak tahan," permintaan Narnia tak digubrisnya. Sigit terus meraup dan menikmati bak makanan lezat. Sampai denyutan itu terasa. Kaki Narnia menegang.
"Cepet banget sayang. Nggak sabaran banget sama Mas," Sigit mengangkat wajahnya melihat rona wajah Narnia yang memerah juga kelelahan. Merangkak naik lalu berbisik, "Giliran Mas, kamu diatas ya?" Narnia mengangguk. Memang posisi itu yang ia inginkan sekarang.
Penyatuan tubuh mereka cukup cepat dilakukan, melihat kondisi Narnia yang sudah hamil tua dan mudah lelah.
Sigit membawa Narnia masuk ke dalam kamar mandi, membantu membersihkan sisa percintaan sambil sesekali mengecupi perut kekasihnya.
"Kamu lapar?" tanya Sigit. Keduanya berjalan keluar kamar.
"Iya Mas, tapi aku nggak ada apa-apa. Stok makanan di kulkas udah habis. Kita makan diluar aja ya Mas?" Narnia merangkul lengan Sigit sambil mengendus wangi parfum dari kemeja yang di pakainya.
"Kita makan di resto bawah. Bawa tas kamu sekalian, nanti kita langsung ke dokter," Sigit mengecup puncak kepala Narnia yang masih bersandar di lengannya.
"Iya Mas," ucapnya lalu masuk ke dalam kamar, meraih tas branded warna merah seharga satu mobil city car.
Sigit dan Narnia turun ke resto bawah. Masuk ke dalam kemudian duduk di sudut dekat dengan jendela besar.
"Mau makan apa sayang?" mengusap kepala berlanjut mencium pelipis. Narnia membuka buku menu. Memilih menu mana yang mau dipesannya.
Ponsel Sigit berdering. Muncul nama Ratih di layar ponselnya.
"Aku angkat telfon dulu. Ini Anne," ucap Sigit mengecup pelipis Narnia lalu berjalan menjauh. Menyebut nama Anne memang cara Sigit mengelabui simpanan-simpanannya selama ini.
"Halo," sapa Sigit.
"Mas lagi dimana?" suara Ratih terdengar kesal.
"Kalau jam segini jelas aku di kantor sayang. Ada apa?" ucap Sigit berbohong. Ia tersenyum sambil mengedipkan mata pada Narnia dari jarak 5 meter.
"Di kantor? aku nggak yakin mas lagi di kantor," saat Ratih mengatakan itu, Aga putranya merengek. Suara rengekan terdengar tidak jauh dari Sigit berdiri saat ini.
__ADS_1
Sigit mengerutkan keningnya. "Kamu dimana?".
"Buat apa mas tau aku sekarang dimana? mas tega sama aku! Ternyata bukan cuma aku aja. Pasti perempuan itu hamil anak mas kan?" Ratih meneteskan air matanya sambil menggendong Aga. Putranya itu menangis kencang. Sigit membalikkan badannya, rahangnya mengeras.
Ratih berdiri menatapnya dengan ponsel masih menempel di telinga di balik pintu kaca, pintu masuk Restoran.
Sigit melangkahkan kakinya ragu-ragu satu kali lalu menoleh ke belakang melihat Narnia. "Mas nggak usah temui aku sama Aga lagi. Urus aja perempuan itu," Ratih menyeka dengan punggung tangannya setelah meletakkan Aga ke stroller lagi. Panggilan itu ia putuskan.
Beruntung Narnia sedang sibuk dengan ponselnya. Sigit diam-diam pergi menyusul Ratih tanpa sepengetahuan Narnia.
"Ratih .... Ratih sayang. Tunggu dulu," Sigit menahan bahu Ratih.
"Udah aku bilang, Mas nggak perlu temui aku sama Aga lagi!" Ratih melepas paksa tangan Sigit dipundaknya lalu mendorong stroller. Aga yang semula sedang minum susu dan mulai mengantuk, mendengar suara papanya, ia melongok.
"Papa ..." Aga menangis lalu turun memeluk kaki Sigit.
"Anak papa," Sigit menarik Aga, menggendongnya. Ratih melengos, membuang muka.
"Papa ... Aga kangen," Aga memeluk leher Sigit erat.
"Mas ..." Narnia memegang lengan Sigit. Ratih menoleh ke sumber suara. Begitu juga dengan Sigit, ia berbalik menghadap Narnia.
"Aku nggak jadi makan. Kita harus ke dokter sekarang juga! bulan depan anak kita lahir mas," Narnia menahan amarahnya saat tahu Sigit memiliki wanita lain dan juga anak digendongannya. Ia justru bersikap manja, sambil mengusap perutnya yang sudah besar. Seakan memamerkan pada Ratih, bahwa di dalam perutnya ada anak Sigit. Sigit Danurdara. Sang Konglomerat.
"Iya ... iya sebentar --menurunkan Aga. Berjongkok sejajar dengan putranya-- Aga sekarang pulang sama Mama. Papa harus pergi dulu," mengusap kepala Aga yang kebingungan. Matanya berkaca-kaca dan siap menangis. Ratih melihatnya iba lalu bersimpuh mendekat.
"Kita pulang ya? nanti sore Papa pulang ke rumah --menekankan kata terakhir sambil melirik ke arah Sigit. Pria tua itu mengerti lalu mengangguk-- Aga jangan nangis ya? Papa pasti pulang. Kita tunggu dirumah. Oke?" bocah kecil itu menyeka hidungnya, menganggukkan kepala.
"Aga tunggu Papa," melambaikan tangan, berjalan dalam gandengan Ratih yang juga mendorong stroller.
Sigit membalas lambaian tangan itu.
"Udah Mas. Sekarang kita ke dokter!" Narnia kesal, menarik paksa Sigit yang masih melambaikan tangannya.
"Iya," Sigit merangkul pinggang Narnia menuju basement.
"Pokoknya aku nggak mau Mas tinggalin! awas aja kalau mas lebih mentingin dia daripada aku! Mas harus secepatnya nikahin aku! aku nggak mau tau!" tukas Narnia dengan nada kesal. Ia tidak mau semua uang dan harta Sigit mengalir ke Ratih dan Aga.
Sigit diam, membantu Narni memakai seatbelt lalu mencium bibir Narnia agar berhenti mengoceh. Telinganya panas, otaknya juga sedang berpikir keras bagaimana caranya mengatasi dua wanita ini. Narnia dan Ratih. Belum lagi dengan dua lainnya. Semoga aja mereka nggak akan bertemu. Batin Sigit berharap.
__ADS_1
"Cuma kamu yang ku cintai, cuma kamu yang seksi, cuma kamu yang bisa puasin aku," ucap Sigit merayu sambil meremas satu dada lalu membuka tiga kancing dan mengeluarkannya kemudian menghiisap sampai berdecak. Narnia tak kuasa. Ia meremas rambut tebal hitam Sigit. Meski tua, Sigit masih terlihat gagah dan tidak beruban.
"Ah ... Mas. Jangan disini. Nanti ada yang lihat," Narnia mendesaah, suaranya tercekat.
"Nggak ada sayang. Ini hari biasa. Semua orang sibuk bekerja," Sigit kembali menjilatii satu dada. Narnia kembali mendesahh, menggigit bibirnya.
Matanya bersitatap dengan Ratih yang tepat berada di mobil yang berhadapan dengan mobil Sigit. Narnia menggunakan ini sebagai pembuktian bahwa dia lah pemenangnya.
Ratih meremas setir sambil bergumam "Brengsek! Bi*tch!" matanya terus melihat pemandangan panas itu.
Sigit yang sudah menggebu, menaikkan rok Narnia lalu menarik turun underware. Membukanya lebar kemudian menunduk untuk melumaat pangkal paha.
Ratih terbakar cemburu, ia sengaja menyorot dengan lampu tembak yang begitu terang lalu menekan klakson begitu keras berkali kali sambil melewati mobil Sigit.
Sigit dan Narnia terkejut. Reflek menutup roknya dan Sigit menegakkan tubuhnya, melihat siapa yang berani melakukan hal itu.
Sigit melihat sekilas mobil yang sangat dipahaminya. Mobil pemberiannya untuk Ratih.
"Bersihin dulu. Kita ke dokter sekarang!" menyodorkan tisu pada Narnia lalu merapihkan penampilannya dari spion tengah.
"Tapi Mas ... kita belum selesai," Narnia yang sudah sangat basah dan ingin melanjutkan sesi berikutnya merasa terabaikan.
"Kita bisa telat ke dokter," Sigit berkata hal lain, ia tidak mau membahas itu sekarang. Meski inti tubuhnya terasa nyeri karena tidak terlampiaskan.
Narnia tersenyum kecut. Ia menyeka pangkal pahanya yang basah dan lengket.
Bersambung...
*****
Gengs untuk give away, othor tambah lagi buat pembaca pilihan yang rajin nge like, komen sama kasih gift. Ini murni othor sendiri yang pilih.
Untuk podium umum 1 2 3 tetep dapet ya 😊
Terus dukung Atiqah ya 🙏🙏🙏
IG : gitagitgit88
__ADS_1
Terimakasih 🙏😘