ATIQAH

ATIQAH
Bab 62 : Awal Mula Sigit dan Narnia


__ADS_3

Setelah mengantar Ardi dan Atiqah, Sigit memilih pergi ke kantornya. Menghindari Anne. Jika ia pulang ke rumah, sudah pasti istrinya itu akan mengamuk, mengintrogasi.


"Bowo, masuk ke ruangan saya sekarang!" ucap Sigit pada asistennya lalu menekan handle pintu ruangannya. Sigit baru saja sampai.


Sigit melepaskan jasnya, menggantungkan pada stand hanger di pojok ruangan. Bowo masuk setelah mengetuk lalu menutup pintu kembali.


"Ada apa pak?" tanya Bowo, berdiri didepan meja kerja Tuannya. Bowo tahu perihal Sigit mengantar putranya menikah pagi tadi.


"Kamu pergi temui Narnia. Antarkan dia ke rumah sakit. Saya nggak bisa terang-terangan muncul disana dengan dia. Kamu tau apa maksud saya Bowo" Sigit melonggarkan dasinya lalu membuka kancing teratas. Narnia sekertarisnya yang tengah hamil, memintanya ke dokter kandungan bersama. Tapi itu sesuatu yang tidak mungkin, mustahil.


"Baik pak" Bowo mengangguk, membalikkan badan. Segera ia menjemput Narnia ke apartemen mewah di bilangan SCBD. Salah satu kawasan elite ibu kota. Sigit memberikannya sebagai imbalan Narnia menyetujui menjadi simpanannya.


Gadis muda seusia Melda putri sulungnya datang ke perusahaan 2 tahun yang lalu, melamar menjadi sekertaris untuk direktur keuangan. Pertemuan pertama kali yang tidak disengaja di dalam lift, menjadikan Narnia sebagai sekertaris barunya.


Semula Bowo merangkap asisten sekaligus sekertaris. Hanya karena rasa penasarannya pada Narnia yang sederhana dan polos, Sigit bersikeras menjadikan Narnia sekertarisnya.


"Kasihan Bowo, Ma. Kerjaannya selama ini udah banyak. Biar sekertaris itu urus sebagian" Sigit beralasan, berusaha meyakinkan istrinya yang keberatan jika dirinya memiliki sekertaris.


Anne akhirnya setuju. Pikirnya Narnia gadis baik-baik dan lugu, setelah ia berkenalan dan menilai dari cara bicara juga sikapnya. Tapi Anne salah besar, ia tertipu. Narnia berpura-pura menjadi gadis yang polos, nyatanya Sigit tergoda.


Pertama kali Narnia melancarkan aksinya dengan berpura-pura menumpahkan teh hangat ke bajunya saat akan meminumnya. Mereka sedang berdiskusi hanya berdua. Asistennya Bowo mengambil cuti.


"Ah ... panas ... panas" Narnia mengibas-ngibaskan kemeja putihnya. Sigit ikut membantu mengelap bagian yang terkena tumpahan teh.


"Masih panas? kamu nggak hati-hati" Sigit terus mengelap. Narnia membuka kancing kedua masih mengibaskan kemejanya. Kulit putihnya terlihat kemerahan, belahan dadanya nampak jelas. Sigit susah payah menelan ludahnya.


"Maaf pak, saya kepanasan" dengan tidak tahu malunya, Narnia melepaskan kemejanya dan hanya memakai tanktop berwarna senada.


"Itu juga basah. Buka saja. Saya bantu" Sigit menunjuk tanktop dengan telunjuknya. Narnia menggigit bibir bawahnya saat Sigit menaikkan tanktop miliknya sampai melewati kepala.


Sigit tak mampu menahan hasratnya setelah melihat sekertarisnya setengah telanjang. Menciumnya dengan rakus sambil meremas dada yang masih terbungkus.

__ADS_1


"Ahh ... pak. Pintunya belum dikunci" Narnia terbata. Rasanya nikmat saat puncak dadanya disentuh.


Sigit melepaskan tautan bibirnya, ia bangkit lalu berjalan ke arah pintu dan menguncinya.


"Kamu nggak sepolos yang saya kira Nia" bisik Sigit, menciumi leher sambil menarik celana dalaam Narnia yang ternyata sudah basah.


"Jangan tertipu dengan penampilan luar Pak. Satu yang pasti, saya bisa puasin Bapak asal ada imbalannya" Nia membalas dengan bisikan, tangannya menarik retsleting celana Sigit lalu memegang erat benda tak bertulang itu.


Sigit menganga saat tangan Narnia melingkari miliknya dan bergerak naik turun. "Kamu sudah mahir. Pengalaman? --Narnia menggigit bibir bawahnya, menggoda Sigit-- cium!" Sigit menarik Narnia agar berjongkok di hadapannya. Memasukkan ke dalam mulutnya. Lagi-lagi Sigit merasakan buaian permainan Narnia yang sangat liar di bawah sana.


"Kamu seksi sekali Nia" menarik rambut Narnia dan mendorongnya lebih dalam, menggerakkan kepala sekertarisnya itu cepat. Cairan kental itu mengotori bibir dan dada.


"Saya belum apa-apa pak. Saya juga mau" Narnia merebahkan tubuhnya di sofa, membuka kakinya lebar. Sigit belum pernah melakukan itu pada istrinya Anne. Untuk pertama kali, ia mencicipi rasanya gadis muda yang mengangkaang di hadapannya.


Sigit menyergapnya kuat-kuat sampai Narnia menjerit lirih. Tangannya meremas kepala Sigit. "Ahh ... Pak. Terus ... Emm" Narnia tak tahan, sudah lama sekali rasanya dipuja oleh seorang pria. Dan Sigit, pria pertama yang mampu membuatnya klimakss secepat itu. Pria yang cocok ia panggil ayah.


Sigit menyusuri perut lalu dada Narnia. Menikmati puncak dada kemerahan yang sangat menggoda. Ukuran dadanya juga termasuk ukuran yang besar.


"Bapak juga ganteng. Tapi ... saya mau sekarang pak. Itunya bapak bikin geli paha saya" ucap Narnia genit.


"Buka kakimu!" titah Sigit. Ia ingin memasuki sekertarisnya sekarang juga.


Diskusi berdua lebih dari sekedar diskusi. "Bapak kuat banget, perkasa. Saya suka" Narnia memberikan pujiannya. Salah satu trik mengambil hati atasannya.


Sigit semakin memompa tubuhnya dengan gerakan cepat sampai Narnia menutup mulutnya agar tak terdengar ke luar ruangan.


"Ahh ... Pak. Saya ... saya--" miliknya berkedut. Sedangkan Sigit masih bergerak mencari kepuasannya sendiri.


Sejak hari itu, Narnia menerima menjadi wanita simpanan Sigit. Hari-hari mereka dihabiskan dengan bercinta di kantor lalu berlanjut di apartemen yang Narnia inginkan.


"Saya mau apartemen ini, juga mobil ini. Boleh kan Mas?" Narnia bergelayut manja di pangkuan Sigit, menunjuk situs online di layar laptop.

__ADS_1


"Oke, saya kasih apa yang kamu mau. Asalkan layani saya dulu" memagut bibir Narnia.


"Ahh ... Ahh ... Mas. Emm" Narnia telanjangg di pangkuan Sigit. Bergerak liar sambil menyodorkan dadanya untuk dinikmati Sigit.


Kartu akses apartemen, kunci mobil terbaru keluaran Jerman dan black card sudah di tangan Narnia. Hidupnya selama 2 tahun belakangan bergelimpang kemewahan.


Hingga dua bulan yang lalu, Narnia mengaku tengah hamil. Sigit terkejut. Karena selama ini sudah meminta Narnia meminum pil pencegah kehamilan tapi wanita simpanannya itu teledor. Kelelahan bercinta membuat ia melewatkan meminum pil.


"Mas harus nikahin aku. Ini anak kita. Posisinya harus jelas. Aku nggak mau nanti kesusahan urus akte kelahiran. Harus ada nama Mas" tukas Narnia.


"Iya sayang ... mas janji nikahin kamu. Tapi setelah anak ini lahir" Sigit merangkul Narnia, mengecupi kepala. Mereka sedang berada di apartemen.


"Aku maunya kita nikah besok. Aku nggak mau nunggu nanti-nanti" Narnia cemberut.


"Mas nggak bisa. Terlalu cepat. Harus urus surat-surat dulu. Sabar ya?" Sigit mengecup bibir Narnia.


"Udah 2 tahun lho mas. Kurang sabar apa lagi aku?" Narnia kembali merengek.


"Iya ... iya. Tapi, sekali ini kamu sabar lagi. Mau ya?" akhirnya Narnia mengalah. Ia akan sabar menunggu waktu yang tepat untuk menikah dengan konglomerat itu.


*****


"Mas nggak bisa. Bowo yang antar kamu ke rumah sakit. Iya ... iya, nanti Mas ke apartemen. Pakai baju yang seksi, Mas lagi pengen" ucap Sigit di telefon. Narnia merajuk soal ingin ditemani cek kandungan.


Beruntung sambungan telefon sudah terputus. Anne datang ke kantor. Menghindari Anne dirumah tidak ada gunanya. Ia marah besar dan mengamuk.


"Tega-teganya Papa bawa kabur Ardi! Mama cuma mau selamatkan nama keluarga kita. Tapi Papa malah ... ya ampun" Anne berteriak. Rasanya sangat kesal.


"Dimana Ardi sekarang?" tanya Anne.


"Di Jogja, dirumah Papi" jawab Sigit singkat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2