ATIQAH

ATIQAH
Bab 96 : Anak Ibu


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Atiqah bersama asistennya Rizka, sudah akan mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta. Selama tiga bulan Atiqah dan Rizka pergi ke Zimbabwe, Afrika Selatan. Menjadi relawan kemanusiaan disana. Kini mereka telah sampai di Indonesia.


Kulit yang semakin eksotis menambah kesan seksi pada Atiqah dan juga Rizka.


"Aduh, hitam keling gini kulitku kak," ujar Rizka mencibir kulitnya sendiri. Meneliti kedua lengan lalu berkaca melihat kulit wajah yang ikut menggelap.


"Memangnya cuma kamu doang? aku juga. Lihat nih!" Atiqah tidak mau kalah.


"Iya kak, kita sama-sama menghitam gini," ucap Rizka dan mereka kembali tertawa.


"Barang-barang udah semua kan?" tanya Atiqah.


"Udah kak," jawab Rizka. Keduanya keluar dari toilet bandara menuju ke pintu keluar.


Atiqah menunjuk sebuah taxi berwarna biru. "Pak, Jakal Km.10." ucapnya pada sopir taxi. Atiqah dan Rizka memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi.


"Kak, aku langsung pulang ke kos-kos an aja ya. Mau langsung istirahat. Besok pagi aku ke rumah," ujar Rizka. Badannya lelah, perjalanan panjang dari Afrika ke Indonesia.


"Oke ... Pak, nanti ke Jakal Km.5 jalan Cipaganti. Kos Marwah dulu ya," ucap Atiqah pada sopir taxi.


"Siap mbak," jawabnya.


Jarak dari Bandara menuju pusat kota memakan waktu kurang lebih satu jam. Jalanan pagi itu sangat padat. Semua orang pergi beraktifitas pergi bekerja, ke sekolah dan kegiatan lainnya.


Atiqah tertidur sebentar lalu tiba-tiba dadanya terasa sesak. "Rizka, dadaku berasa sesek gini," menegakkan badan lalu mengatur nafasnya berulang kali.


"Kita ke rumah sakit aja kalau gitu, kak," saran Rizka.


"Enggak, nggak usah. Pulang aja, aku mau pulang," Atiqah menolak. Perasaannya tidak tenang.


"Yaudah kak. Tapi nggak papa kalau nganter aku dulu?" tanya Rizka.


"Nggak papa. Tenang aja. Bentaran juga udah enakan," Atiqah mengatur nafasnya lagi. Menghirup dari hidung lalu mengeluarkannya dari mulut. Seperti itu terus, berulang. Sampai rasa sesak di dadanya hilang.


"Makasih ya kak, aku masuk dulu," ucap Rizka pada Atiqah lalu pada sopir taxi, "Makasih Pak,"


Sopir itu mengangguk. "Inggih mbake (iya mbak)."


Perjalanan untuk sampai ke rumah masih butuh beberapa menit lagi. Atiqah menyandarkan kepalanya, memandangi kendaraan yang berlalu lalang.


"Ibu rindu Ziel," gumamnya saat matanya menangkap seorang ibu yang sedang berboncengan dengan anaknya, mengantar ke sekolah.


"Kamu pasti sudah sebesar anak itu. Kapan kita bertemu?" gumamnya lagi.


"Mbake, rumah nomor berapa?" tanya sopir taxi, membuyarkan lamunannya.


"Ah ... yang pagar hitam tinggi itu pak. Depan lagi," tunjuk Atiqah.


"Siap mbak," jawab sang sopir.


"Iya, sini Pak. Sini aja --merogoh tas-- ini uangnya. Terimakasih ya Pak," ucapnya pada Pak sopir.


"Saya bantu angkat barangnya mbak," Pak sopir turun.


"Terimakasih banyak, Pak," ucap Atiqah setelah barang-barangnya diturunkan.


"Iya mbake, sama-sama," jawabnya.


Mang Oyo yang sedang berjaga di pos depan langsung keluar saat melihat Atiqah berdiri didepan barang-barangnya.


"Mbak, sudah pulang to. Saya pikir masih lama lagi di Afrikanya," sapa Mang Oyo, membantu mengangkat barang.


"Enggak Mang, aku udah kangen masakan Mbok Jum," Atiqah tersenyum sambil mengangkat barang lainnya.


"Memang bikin kangen kok mbak. Masakan Mbok Jum lebih enak dari masakan istri saya," celetuk Mang Oyo.


"Eh hati-hati lho Mang, entar istri Mamang tau bisa kacau. Entar nggak dikasih jatah lho!" ledek Atiqah, mereka berdua tertawa bersama sampai akhirnya saat masuk ke dalam. Atiqah terkejut dengan kedatangan seseorang.


"Mamang pamit ke depan lagi mbak," Mang Oyo ketakutan. Ia buru-buru pergi.


Seseorang yang sudah bertahun-tahun pergi meninggalkannya dan tidak sekalipun memberi kabar.


Atiqah diam mematung. Bukan lagi rasa cinta dan rasa rindu saat melihat suaminya datang. Namun rasa sakit yang begitu mendalam.


Jadi ini sebab dadaku tiba-tiba saja sesak?. Batin Atiqah.


"Hai, sayang ... " sapa Ardi, mendekati Atiqah lalu akan merangkulnya. Atiqah mundur satu langkah.

__ADS_1


"Kamu nggak mau kasih pelukan selamat datang buat aku?" Ardi dengan santainya bertanya seperti tidak terjadi apa-apa selama delapan tahun ini. Bahkan saat awal berpacaran lalu terjadinya pemaksaan sampai ia mengandung Aziel. Ardi bukan manusia, pikir Atiqah. Ardi iblis kejam, sangat kejam.


Atiqah menggertakan giginya, rahangnya mengeras, tatapannya juga tajam.


"Come on beb, peluk aku. I'm really miss you, so much sayang ..." Ardi kembali mendekat, menarik tangan Atiqah lalu memeluknya.


"Belagu! sok-sok an ngomong inggris. Jijik!" gerutu Atiqah tepat di telinga Ardi. Ardi tersenyum mengejek.


"Jangan bilang jijik, kalau kamu rindu hentakanku," balas Ardi dengan bisikan.


"Najis! Jangan mimpi kamu!" timpal Atiqah. Ardi masih memeluknya erat.


"Kamu yakin? aku sentuh sedikit aja, kamu udah basah sayang," bisiknya lagi lalu mengecup leher Atiqah. Saat itu Atiqah memang mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Atiqah bereaksi menghindar.


"Nggak perlu menghindar gitu. Aku punya kejutan buat kamu sayang. Tapi malam ini, kamu harus layani aku. Suamimu." Ardi meremas pinggang Atiqah. Atiqah berjengit.


"Halo Tante ..." sapa seorang anak laki-laki berusia 8 tahun. Anak itu tiba-tiba muncul dari arah kolam renang bersama mbok Jum. Atiqah membelalakan matanya. Ia tahu siapa anak itu. Matanya memerah, air matanya sudah mulai menggenang tapi Atiqah menahannya.


"See ... aku bawa dia buat kamu. Jadi aku tunggu malam ini. Jangan berulah!" bisik Ardi dengan penekanan dan semakin meremas pinggang Atiqah. Atiqah mengangguk tiga kali.


"Hai, Ziel. Kemari!" titah Ardi, melambaikan tangannya agar Ziel mendekat. Atiqah menoleh menatap Ardi, Ardi mengangguk lalu kembali menatap Ziel yang mulai berjalan menghampirinya.


"Hai, Tante. Aku Aziel anak Mommy Melda. Aku di bawa Uncle berlibur ke Indonesia, ke Jogya," ucapnya pada Atiqah. Aziel belum terlalu lancar menggunakan bahasa indonesia, terdengar masih kaku dan terbata.


"Ehem --mencoba menahan rasa haru-- Hai, Ziel. Salam kenal. Bukan Jogya tapi Jogja sayang," ucapnya lembut. Atiqah membungkukan badannya, membelai kepala Ziel dengan tangan yang bergetar. Ziel menyadari itu. Anak laki-laki yang pandai menyembunyikan perasaannya.


Rasanya Ziel juga sangat bahagia bertemu bertatap muka dengan ibunya. Ibu yang sudah satu tahun belakangan ini sangat ia rindukan. Aziel bersandiwara.


"Ups s**orry, Tante. Aku salah menyebutkan namanya," celetuk Ziel. Atiqah tertawa.


Anakku sangat tampan dan juga lucu. Batin Atiqah.


"It's oke sayang," balas Atiqah.


"Aku ajak Ziel liburan satu bulan disini. Aku lapar sayang, beri aku makanan," Ardi menarik Atiqah lalu merangkulnya. Membawa ke ruang makan. Aziel mengikuti dari belakang.


"Mbok Jum maaf, aku baru dateng tapi udah ngrepotin," ucap Atiqah. Mbok Jum mengerti, ia tahu apa maksudnya.


"Ora popo, wes saiki temu kangen sek. Aku tak nyiapke sarapan (Sudah nggak apa-apa, sekarang temu kangen dulu. Aku mau menyiapkan sarapan)," ujar mbok Jum lalu pergi ke dapur.


Atiqah duduk di sebelah Ardi dan Aziel tepat di hadapannya. Suasana canggung antara Atiqah dan Aziel kentara.


"Sepertinya Uncle rindu sekali dengan Tante. Dari awal bertemu, Uncle selalu menempel," papar Aziel. Ia mengamati.


"Of course boy, Uncle sangat merindukannya. So much," kembali mencium Atiqah. Atiqah mencubit paha Ardi.


"Kamu udah nggak sabar buat aku masuki?" bisik Ardi. Atiqah kembali mencubit paha Ardi.


"Diam kamu!" ucap Atiqah sambil mengatupkan bibirnya, seperti menggerutu.


"Sorry boy ... sepertinya setelah kamu sarapan, kamu bisa berenang. Ada yang harus Uncle dan Tante lakukan," cetus Ardi. Atiqah memelototi Ardi lalu tersenyum pada Ziel.


"Ok Uncle, I know what you mean," balas Ziel.


Mereka bertiga sarapan dengan tenang sampai akhirnya Ardi mengekori Atiqah masuk ke dalam kamar. Aziel berganti pakaian renang di kamar sebelah.


"Kamu jangan macam-macam ya! Aku nggak mau disentuh kamu lagi!" Atiqah menunjuk wajah Ardi.


Ardi menangkap telunjuk Atiqah lalu memasukkan ke dalam mulutnya. "Najis!!" Atiqah menarik jarinya.


"Kamu terlalu jual mahal. Kamu rindu aku. Kamu rindu aku hujam dalam-dalam," Ardi mencengkeram pipi Atiqah dengan tangan kirinya.


Cuih...


Atiqah meludahi Ardi. "Fu*ck you bit*ch!" Ardi mengumpat, mendorong Atiqah ke tembok. Mencengkeram tangannya kuat.


"Mau apa kamu? kamu datang seenaknya, setelah menghancurkan hidupku. Aku nggak sudi disentuh kamu. Bang*sat!" Atiqah mendorong balik Ardi lalu menghindar. Ardi menarik rambutnya, membenturkan wajahnya ke dinding.


"Kamu nggak ada hak buat nolak aku!" Ardi melepaskan kancing celana jeansnya buru-buru dengan tangan kanannya. Tangan kirinya masih mengunci tangan Atiqah ke balik punggung.


"Lepas! lepas! aku nggak mau, aku nggak mau!" Atiqah terus meronta. Sedangkan celana Ardi sudah terlepas, melorot ke bawah.


"Diam kamu!" Ardi berusaha melepas celana Atiqah.


"Jangan! Jangan! aku nggak mau," Atiqah meronta lalu membenturkan belakang kepalanya ke kepala bagian depan Ardi.


Bug...

__ADS_1


Ardi terjatuh. Atiqah buru-buru merapihkan celananya yang sudah setengah turun ke paha.


"DAMN!! Bit*ch! Kesini kamu!" menarik kaki Atiqah.


"Aku nggak mau! Aku bilang nggak mau!" ronta Atiqah. Ardi berhasil melempar tubuh Atiqah ke ranjang lalu menindihnya.


"Harus mau!" Ardi langsung mencumbu Atiqah. Atiqah kembali mendorong, Ardi terjatuh terjengkang.


"Aku minta cerai! aku nggak mau lagi jadi istri kamu!" teriakan Atiqah terdengar sampai keluar kamar. Aziel mendekat ke arah pintu. Ia sudah mendengar kegaduhan sedari tadi tapi ia tidak berani untuk mendekat.


"Kamu minta cerai? nggak akan aku ceraikan kamu!" Ardi mencekik leher Atiqah.


"Bu nuh aku! bu nuh aku sekarang!" Atiqah sudah putus asa. Rasanya lebih baik mati saja.


"Aku nggak akan lakuin itu!" Ardi melepaskan cekaman di leher Atiqah. Atiqah merosot, memegangi lehernya sambil terbatuk.


"Kamu tahu itu nggak akan terjadi. Sampai kamu lakuin itu, kamu nggak akan pernah ketemu Aziel. Dan selamanya dia nggak akan pernah tau kalau kamu ibunya!" ucap Ardi, menepuk nepuk pipi kiri Atiqah dua kali.


Ardi membenarkan celananya lalu pergi meninggalkan Atiqah yang menangis. Aziel berlari keluar paviliun. Ia menyeka air matanya lalu menceburkan diri ke dalam kolam renang.


Ziel menyelam dan berdiam diri di dalam. Menyembunyikan tangisannya.


*****


Ziel mengetuk pintu kamar Atiqah malam itu. Atiqah membukanya "Ada apa Ziel?" tanya Atiqah. Plester menghiasi keningnya.


"Apa boleh aku tidur bersama Tante?" tanyanya.


Atiqah menoleh ke dalam, Ardi sedang duduk di sofa.


"Oke, aku saja yang bilang sama Uncle," ucap Ziel. Dia mengerti jika Atiqah tidak enak hati pada Ardi.


Atiqah mengangguk lalu memundurkan badannya memberi ruang Aziel masuk ke dalam.


"Uncle, malam ini aku mau tidur dengan Tante. Uncle tidur di kamarku. Kita switch, oke?" ujar Aziel. Tanpa mendengar jawaban Ardi, Aziel sudah naik ke ranjang masuk ke dalam selimut.


Ardi berdecih lalu mengangkat laptopnya, pergi keluar kamar. Berpindah ke kamar sebelah. Atiqah diam mematung. Ia terheran dengan cara Aziel.


"Tante, ayo tutup pintunya?! kita tidur. Aku rindu Mommy, aku membutuhkan pelukan," ujar Aziel.


"Ah ... oke oke," Atiqah menutup pintu lalu menghampiri Aziel. Masuk ke dalam selimut.


"Peluk aku Tante," pintanya. Atiqah menggeser tubuhnya lebih dekat. Memeluk Aziel erat. Matanya berkaca-kaca. Mencium aroma tubuh putranya yang baru kali ini ia endus.


"Ibu, Ziel rindu," ucapan Ziel yang tiba-tiba itu menghentikkan usapan di punggungnya.


Atiqah diam, ia sepertinya salah dengar.


"Ibu, aku rindu ibu," ucapnya lagi. Atiqah menjauhkan wajah Ziel. Ia ingin memeriksa, ia pikir Ziel sudah tertidur dan sedang mengigau.


Aziel menangis menatap Atiqah. "Ibu, Aziel rindu," seketika air matanya bercucuran. Sejak kapan Aziel tau bahwa ia ibunya?.


"Ziel ..." Atiqah menangkup wajah putranya. "Iya, ini ibu. Ibu juga rindu Ziel. Sangat rindu," Atiqah memeluk Aziel erat-erat. Mereka menangis bersama.


"Ibu, Ziel mau ibu bahagia. Ziel mau ibu mencari kebahagiaan ibu sendiri," Atiqah menggelengkan kepalanya, masih memeluk putranya.


"Kebahagiaan ibu cuma Ziel. Melihat Ziel bahagia, tumbuh menjadi anak laki-laki yang hebat. Itu sudah cukup untuk ibu. Tidak ada yang bisa menggantikannya," terang Atiqah.


"Tidak ibu. Aziel ingin melihat ibu bahagia. Bukan dengan Uncle. Pergi lah bu. Aziel mengijinkan," Atiqah terus menangis, menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Kamu hidup ibu. Ibu sudah terbiasa sendiri. Asal masih bisa bertemu dan melihat putra ibu, ibu sudah bahagia," ucap Atiqah tersedu.


"Pergi lah bu. Ziel yang terluka. Uncle jahat. Dia tidak cinta ibu," ucapan Aziel benar-benar tulus dari dalam hatinya.


"Bagaimana bisa? anak ibu yang baru berusia delapan tahun, sudah sedewasa ini." tanya Atiqah, memandangi wajah Aziel.


"Ah putraku ..." menciumi wajah Aziel.


Bersambung...


****


Bab ini hampir 2000 kata yang bisa di pisah 2 bab, tapi Othor mau kalian puas 😁


Mendekati ending guys. Terus habiskan poin-poin kalian dan vote besok pagi ya.


Pengumuman Give Away satu hari setelah Bab Ending.

__ADS_1


Terimakasih...jangan pada mewek ya 😊


__ADS_2