ATIQAH

ATIQAH
FLASHBACK (1)


__ADS_3

Pernikahan bukanlah akhir dari sebuah hubungan kekasih, namun pernikahan adalah awal dari kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya. Menyatukan dua pola pikir yang berbeda agar berjalan seirama dan menciptakan hubungan yang lebih harmonis.


Pernikahan dapat membuatmu semakin bahagia jika adanya kerja sama dan mengesampingkan ego. Namun pernikahan bisa membuatmu tidak bahagia jika tidak adanya kerja sama dan mendahulukan ego masing-masing.


Pernikahan bukan hanya hidup bersama dalam waktu singkat, maka selalu kuatkan cinta dan terus menambah rasa sayang antara suami dan istri.


Di awal pernikahan, Fajar dan Sherly masih begitu menggebu. Fajar masih mentolerir setiap keinginan dan perilaku istrinya. Fajar menuruti keinginan Sherly untuk tinggal sementara di rumah mertuanya di Bandung. Karena Fajar dan Sherly sama-sama masih kuliah. Sherly pun meminta Fajar untuk menunda memiliki momongan.


Setiap berhubungan badan, Sherly meminta Fajar untuk menggunakan pengaman. Fajar awalnya setuju, karena memang mereka masih kuliah dan menumpang hidup dengan orang tua istrinya. Namun lambat laun, Fajar ingin memiliki anak dari Sherly setelah satu minggu lulus Sarjana Pendidikan.


"Beb, kon*dom. Ambil dulu!" ucap Sherly menahan dada Fajar yang akan mencumbunya.


"Iya, nanti. Pemanasan dulu," timpal Fajar. Ia kembali mencumbu istrinya.


Fajar menegakkan badannya, menarik laci lalu menggigit ujung kemasan pengaman berwarna biru.


"Pasangin beb," bisik Fajar, meminta istrinya memasangkan pengaman setelah pemanasan yang cukup lama.


Sherly memasangkan lalu mendorong Fajar, menindihnya.


"Women on top," ucapnya dengan suara seksi.


Sherly menciumi lalu menggigit rahang Fajar. Jemarinya ia sisipkan ke sela-sela rambut, meremasnya sambil terus menekan kepala Fajar yang sedang mengu*lum puncak dadanya.


Sherly bergumam menahan gempuran Fajar. Suaminya sudah bergerak sambil menahan pinggangnya.


Penyatuan mereka terganggu oleh ketukan pintu kamar. "Beb, Mama ketuk pintu," ucap Sherly, memegang kedua bahu Fajar.


"Bentar, nanggung. Aku bentar lagi keluar," ujar Fajar, masih terus bergerak. Namun ketukan itu tidak juga berhenti. Fajar langsung bergerak cepat dan dalam, sampai bagian bawah tubuhnya bergetar.


Resiko tinggal di rumah mertua memang seperti itu. Kurangnya privasi dan kenyamanan.


Mama Sherly menanyakan perihal Fajar yang akan melamar menjadi guru magang di sekolah swasta di Bandung, dimana Kepala Sekolahnya adalah sahabat Papa Sherly.


"Mama gangguin Sherly sama Aa. Kalau cuma tanya soal itu, kan bisa nanti pas makan malam," protes Sherly pada Mamanya yang langsung menyentil dahinya.


"Anak nakal! enya geus, teruskeun deui," ucapnya, sambil mengibaskan tangan lalu pergi. Mama Sherly menyuruhnya untuk meneruskan dulu kegiatan suami istri.


Sherly masuk kembali ke dalam kamarnya. Fajar yang masih telan*jang, menutupi badannya dengan selimut sebatang pinggang. Dada bidangnya terekspos.

__ADS_1


"Beb, aku mau lagi," pintanya pada Sherly.


"Udah ah, aku capek!" Sherly menolak lalu masuk ke dalam kamar mandi. Fajar menyusul tapi sungguh malang, Sherly mengunci pintu dari dalam.


"Beb, kenapa di kunci? aku juga mau mandi," seru Fajar sambil mengetuk-ngetuk pintu.


"Aku nggak mau, aku mau ke salon. Mau spa. Badanku remuk," teriak Sherly dari dalam. Fajar menyandarkan punggungnya ke daun pintu tanpa memakai apapun.


*****


Kabar Atiqah hamil di luar nikah, mengejutkan Fajar saat itu. Siti ibunya memberitahu saat Fajar pulang ke Jakarta, lagi-lagi tanpa Sherly.


"Ibuk tau dari mana? bulek Asri yang bilang?" tanyanya. Rasa ingin tahunya ingin segera terjawab.


"Ibuk tau dari tetangga-tetangga. Dua hari sehabis acara ngunduh mantu, Atiqah dinikahkan. Katanya cuma di rumah, nggak ada acara selamatan. Atiqah langsung dibawa ke Jogja. Ibuk nggak nyangka, Mas. Atiqah bisa begitu. Pergaulannya, ya ampun. Ibuk bener-bener syok pas tau," ungkap Siti pada putranya, Fajar.


"Jangan langsung menghakimi, buk! Kita nggak tau sebenarnya gimana. Ibuk nggak usah ikut gibah sama ibu-ibu yang lain. Kasihan paklek sama bulek. Mereka pasti malu," sanggah Fajar.


"Iya ... iya. Terus ini Mas pulang sendiri, mana Sherly?" tanya Siti. Ia semakin tidak suka dengan ke absenan menantunya setiap Fajar pulang hanya seorang diri.


"Sherly lagi sibuk, buk. Fajar juga libur sabtu minggu aja. Kasian dia kecapekan," kilah Fajar. Nyatanya Sherly memang tidak pernah mau jika di ajak pulang ke rumah mertuanya. Orangtua Sherly pun ikut campur, mereka bilang jangan memaksa putrinya. Fajar bisa apa. Tinggal menumpang, persoalan magang pun ia dapat dari hasil bantuan Papa mertuanya.


"Sabar buk, Fajar sama Sherly kan masih sama-sama kuliah. Nanti kerepotan, kuliah jadi berantakan," ucap Fajar, memberi pengertian pada ibunya.


"Suruh siapa cepet-cepet nikah? ibuk kan udah bilang, nikahnya nanti setelah Mas lulus. Tapi, apa? ngebet kawin," timpal Siti.


"Biar nggak dosa buk, kalau berduaan. Fajar kan laki-laki normal," sanggahnya.


"Wes ... wes, ibuk mau masak makan malam buat bapak. Sebentar lagi bapakmu pulang." ujar Siti lalu pergi ke dapur. Sedangkan Fajar masuk ke kamarnya.


Selesai mandi, Sherly menghubunginya. Istrinya itu sedang menginap bersama teman-teman se gengnya di Lembang. Mau tidak mau, Fajar mengijinkan. Toh percuma melarang, Sherly tidak bisa di larang.


Fajar menarik kursi meja belajar, mendaratkan bokongnya disana, lalu membuka akun media sosial miliknya.


Fajar melihat akun Atiqah yang muncul di berandanya. Foto Atiqah yang sedang melakukan sesi acara Mitoni. Berbalut kain berwarna hijau dengan rangkaian bunga melati menutup dadanya. Atiqah terlihat sangat cantik dan keibuan.


Keesokan pagi, saat Fajar berolahraga. Ia berpapasan dengan Asri yang akan pergi menaiki ojek.


"Bulek ... bulek mau kemana? ke warung?" tanya Fajar.

__ADS_1


"Eh nak Fajar. Lagi pulang ya?" tanyanya. Fajar mengangguk. "Bulek mau ke rumah sakit lagi nak Fajar. Robi semalem demam, langsung di opname. Ini ambil baju gantinya," terang Asri.


"Demam? semoga Robi lekas sembuh bulek," ucap Fajar.


"Amin. Oh iya, Atiqah sudah melahirkan. Anak laki-laki," ungkap Asri.


"Wah, selamat bulek. Udah punya cucu sekarang," ucap Fajar.


"Terimakasih, nak Fajar. Yowes, bulek berangkat dulu," Asri langsung memakai helm yang diberikan tukang ojek. Fajar mengangguk.


Sesampainya di rumah, Fajar duduk di teras sambil membuka ponselnya. Mengirimkan pesan pada Atiqah.


📩 Fajar


Selamat Atiqah. Mas doakan semoga putramu jadi kebanggaanmu. Sehat selalu.


Atiqah membacanya, tanda centang berganti berwarna biru. Tapi belum dibalasnya. Fajar mengirimkan pesan baru lagi.


Satu pesan dari Fajar kembali masuk.


📩 Fajar


Jujur Mas kecewa sama kamu. Kamu masih muda. Ingat pesan Mas ke kamu dulu? Jaga diri.


Tanda mengetik... terlihat. Fajar menunggu balasan.


📩 Atiqah


Terimakasih Mas untuk ucapan dan doanya. Aku doakan juga untuk kebahagiaan Mas Fajar dan istri. Cepat menyusul ya 😊.


Fajar hanya membacanya, lalu menutup pesan itu. Masuk ke dalam rumah.


Bersambung...


*****


Othor bikin cerita sedikit tentang kehidupan Fajar sampai ketemu Atiqah di Korea dan akhirnya melamar Atiqah.


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2