ATIQAH

ATIQAH
Bab 81 : Mitoni/Tingkeban


__ADS_3

Kehamilan Atiqah sudah memasuki bulan ke 7. Persiapan acara 7 bulanan sudah diselesaikan seluruhnya oleh tim Event Organizer. Acara yang diadakan di halaman rumah kediaman Subroto.


Tidak banyak tamu undangan, Subroto sengaja melakukannya karna menjaga perasaan Atiqah. Subroto tahu bagaimana sikap keluarga besarnya terhadap Atiqah. Cucu menantu yang mendapatkan banyak hadiah darinya. Mereka cemburu dan iri hati.


Atiqah memakai baju kebaya berwarna hijau lengkap dengan jariknya. Ardi pun telah memakai satu set beskap berwarna senada dengan Atiqah.


Asri, Bondan dan juga Robi turut hadir disana. Ketiganya sampai tadi malam bersama Ardi. Sedangkan Sigit dan Anne tiba-tiba saja datang pagi ini. Meskipun mereka berdua tidak banyak bicara dan menjaga jarak dengan sang besan.


"Istriku cantik banget," Ardi memeluk Atiqah dari belakang menghadap cermin rias. Atiqah baru saja selesai di dandani oleh perias terkenal du Yogyakarta.


"Masa? --tersenyum sambil mengikuti telapak tangan Ardi yang membelai perutnya-- Suamiku juga ganteng banget," Atiqah mengusap pipi Ardi.


"Kalau itu memang udah dari dulu Yang," Ardi menyombongkan diri lalu mereka tertawa bersama.


Suara ketukan pintu terdengar. Ardi melepaskan pelukannya, berjalan ke arah pintu.


"Ada apa bu?" tanya Ardi pada mertuanya. Asri yang mengetuk pintu kamar.


"Sudah ditunggu. Sudah siap kan?" tanya Asri.


"Sudah bu," Ardi mengangguk, membuka lebar pintu kamar. Atiqah terlihat berjalan mendekati.


"Mba sudah siap kok bu," ucap Atiqah lalu menggandeng ibunya. Ardi berjalan di samping kanan, merangkul pinggang Atiqah. Ardi sangat protektif.


Acara demi acara berjalan berurutan sesuai dengan rundown acara yang tim EO buat.


Untuk pertama kali di awali dengan acara Sungkeman.


Ardi menuntun Atiqah untuk melakukan acara sungkeman pada kakeknya Subroto lalu beralih pada kedua orang tuanya dan terakhir pada mertuanya.


Sungkeman bertujuan memohon doa untuk kelancaran persalinan nanti.


Lalu berlanjut ke acara Siraman.


Siraman atau mandi merupakan simbol upacara sebagai pernyataan tanda pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Pembersihan secara simbolis ini bertujuan membebaskan calon ibu dari dosa-dosa sehingga jika kelak si calon ibu melahirkan anak, ia tidak mempunyai beban moral sehingga proses kelahirannya menjadi lancar.


Ardi mengguyur perlahan tubuh istrinya dari atas kepala sampai ke kakinya. Atiqah duduk dengan balutan kemben dan terdapat rangkaian melati yang menutupi dadanya.


Subroto, Bondan, Asri, Sigit dan Anne sudah terlebih dulu melakukannya.

__ADS_1


Setelah siraman, Ardi melakukan upacara pecah telur. 1 butir telur ayam kampung yang sebelumnya ditempelkan ke dahi dan perut Atiqah dan kemudian dibanting ke lantai. Telur tersebut harus pecah, sebagai perlambang proses persalinan nanti dapat berjalan dengan lancar tanpa aral melintang.


Ardi mengikuti semua arahan dari pemimpin ritual, Ibu Supadmi.


Ritual selanjutnya adalah Brojolan yaitu memasukkan kelapa gading muda (kelapa cengkir) yang telah dilukis Kamajaya dan Dewi Ratih. Atiqah dipakaikan sarung (longgar saja). Bagian pinggir sarung, agar tetap longgar, dipegang oleh kedua calon kakek Sigit dan Bondan, masing-masing di sebelah kiri dan kanan. Kemudian Ardi memasukkan satu kelapa cengkir tersebut dari atas, dan siap diterima oleh Asri.


Hal ini dilakukan 3 kali berturut-turut. Setelah itu, diikuti dengan proses yang sama dengan kelapa cengkir kedua, dan diterima oleh Anne.


Kemudian memutus lawe / lilitan benang / janur.


Ritual ini meliputi adegan memutus lilitan janur/lawe yang dilingkarkan di perut Atiqah. Janur/lawe dapat diganti dengan daun kelapa atau janur. Lilitan ini harus diputus oleh Ardi dengan maksud agar kelahiran bayi lancar.


Selanjutnya bu Padmi ikut membantu Asri mengganti busana Atiqah. Upacara ganti busana dilakukan oleh ibu dengan tujuh jenis kain batik dengan motif yang berbeda, berupa ganti kain dan kebaya. Kain dalam tujuh motif melambangkan kebaikan yang diharapkan bagi ibu yang mengandung tujuh bulan dan bagi si anak kelak kalau sudah lahir.


Kain yang digunakan terdapat 7 macam, dimulai dengan urutan dan makna sebagai berikut :



Sidomukti (melambangkan kebahagiaan)


Sidoluhur (melambangkan kemuliaan)


Semen rama (melambangkan agar cinta kedua orangtua yang sebentar lagi menjadi bapak-ibu tetap bertahan selama-lamanya/tidak terceraikan)


Udan riris (melambangkan harapan agar kehadiran dalam masyarakat anak yang akan lahir selalu menyenangkan)


Cakar ayam (melambangkan agar anak yang akan lahir kelak dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya).


Kain terakhir yang tercocok adalah kain dari bahan lurik bermotif lasem (melambangkan kain yang walaupun sederhana tapi pembuatannya sulit, membutuhkan kesabaran karena dibuatnya dari lembar per lembar benang. Melambangkan kesederhanaan cinta kasih orang tua kepada anaknya).



Setelah berganti busana, acara berikutnya adalah berjualan dawet dan rujakan. Di mana rasa rujak yg dibuat oleh calon ibu, juga menentukan jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan.


Rujak yang merupakan rujak serut tersebut juga dibuat dari 7 macam buah-buahan. Calon ibu yang meracik sendiri bumbu rujaknya. Melambangkan apabila rasanya kurang enak, anaknya adalah lelaki. Dan sebaliknya jika rasanya enak, anaknya adalah perempuan.


Ardi menggandeng Atiqah ke tempat dimana rujak akan dibuat.


"Bisa ngulek bumbunya?" bisik Ardi.

__ADS_1


"Bisa lah. Kamu pikir selama ini aku nggak bantuin ibu di dapur?" tukas Atiqah dengan nada sedikit keras. Ardi meringis memamerkan gigi sambil mengusap kedua bahu Atiqah.


"Iya, iya aku percaya. Aku bantuin masukin bahan-bahannya ya?" Ardi mencomot lima cabai sesuai keinginan Atiqah.


"Coba kamu cicipin," Atiqah memberikan sendok kecil pada Ardi untuk mencoba bumbu rujak yang sudah selesai dibuat.


Ardi menerima sendok lalu mencicipinya sedikit. "Kok aneh ya? berasa kurang apa gitu --mengernyitkan kedua alis-- Artinya laki-laki?" tanya Ardi pada bu Padmi yang berdiri di sebelah kanan Atiqah.


"Inggih, leres mas (Iya, benar mas)," jawab Padmi sambil mengangguk. Ardi dan Atiqah tersenyum. Beberapa kali memang hasil USG menunjukkan jenis kelamin calon anak mereka adalah laki-laki.


Ardi membawa payung untuk memayungi Atiqah saat berjualan, sementara Atiqah membawa wadah untuk menampung uang hasil jualan nanti. Kali ini mereka menggunakan uang kertas sesungguhnya. Biasanya dalam acara ini menggunakan uang koin yang terbuat dari tanah liat yang disebut kreweng.


Ardi menerima uang itu dari pembeli untuk dimasukkan ke dalam wadah dan Atiqah melayani para pembeli.


Dan di puncak acara Ardi melakukan sesi potong tumpeng. Tumpeng isinya berupa tumpeng yang terbuat dari nasi, satu tumpeng besar di tengah-tengah dan 6 tumpeng kecil di sekelilingnya. Sehingga totalnya berjumlah 7 buah tumpeng. 


Tumpeng dilengkapi minimal dengan: ikan, ayam (termasuk ayam goreng yang dipotong dari ayam hidup. Ayam yang dibeli dalam keadaan hidup), perkedel, tahu dan tempe serta sayur urap yang bermakna agar calon bayi selalu dalam keadaan segar. Urap tersebut juga dibuat tanpa cabai.


Potong tumpeng dilakukan oleh Ardi dan diterima oleh Atiqah. Lalu keduanya melakukan upacara suap-suapan.


Selain itu, juga terdapat bubur 7 rupa. Bubur merah dan bubur putih dibuat dalam 2 wadah. Yang satu bubur merah dan diberi sedikit bubur putih di tengahnya, dan sebaliknya. Melambangkan benih pria dan wanita yang bersatu dalam wujud bayi yang akan lahir. Pada upacara mitoni ini, bubur 7 rupa dilengkapi dengan bubur candil, bubur sum-sum, bubur ketan hitam dan lainnya.


Hari itu semua berjalan dengan lancar. Meski lelah, Atiqah begitu bahagia. Ia merasa banyak yang sayang padanya dan juga calon anak dalam rahimnya.


(sumber:google)


Bersambung...


*****


Gengs jangan lupa terus dukung Atiqah ya 😉 Othor siapin babnya gak sampai 100 bab.


Give Away masih terus berjalan sampai "Atiqah" Tamat. Podium umum 1, 2 dan 3 + 3 pembaca pilihan 🥰


IG othor : gitagitgit88


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2