
Sepanjang arah pulang, Ardi diam. Apa yang bisa ia lakukan? tangan dan kakinya di ikat, mulutnya di lakban. Berontakpun sia-sia. Telinganya sudah panas daritadi. Papanya terus marah-marah berkata kasar, memaki keluarga Atiqah dan Atiqah sendiri.
"Orang miskin tapi mimpinya ketinggian. Gak nyadar diri. Cih..."
"Banyak perempuan lain yang lebih sederajat dengan kita, tapi kamu justru memilih perempuan itu? stupid!!"
"Sampe Papa Mama tau kamu masih berhubungan dengan anak buruh itu. Papa gak segan-segan pindahin kamu ke Canada. Tinggal dengan kakakmu disana!"
"Ingat kata kata papa Ardi! jangan sekali kali kamu berulah. Remember that!!"
"Papa bisa lakuin apapun pada mereka kalau kamu gak nurut apa kata Papa!"
"Brengsek!!"
Beberapa umpatan Sigit pada putranya.
Ardi menunduk, memikirkan soal Atiqah yang pasti merasa terhina. Bagaimana dengan hubungannya dengan Atiqah selanjutnya? dia benar-benar akan dijaga ketat oleh para ajudan orangtuanya.
Mobil sampai di kediaman Danurdara. Sigit turun terlebih dulu tanpa menunggu dibukakan pintu. Ia ingin istirahat, meredakan emosinya.
"Ma..Papa pusing. Ambilkan obat!" Sigit yang tiba-tiba datang, berteriak pada istrinya yang sedang duduk santai menonton acara fashion week luar negri. Anne beranjak dari duduknya, memapah suaminya untuk duduk di sofa.
"Sabar Pa, sebentar" saat Anne akan ke dapur mengambil obat untuk suaminya, putranya Ardi masuk digandeng dua bodyguard. Mulutnya masih tertutup lakban. Anne menggelengkan kepalanya dan berdecak melihat putranya dengan kondisi seperti itu. Ia sudah menduga saat suaminya tadi berpamitan pergi menjemput Ardi, karena hari sudah malam tapi putranya belum pulang sejak pagi pamit ke sekolah acara pensi tahunan.
"Anak bandel!" Anne terus menggerutu sampai putranya itu menghilang dari hadapannya.
Ardi diantar sampai di kamarnya. Satu bodyguard bernama Bayu melepaskan ikatan ditangan Ardi, lalu keluar kamar dan mengunci pintu itu dari luar. Bayu dan rekannya berjaga didepan pintu.
__ADS_1
Ardi membuka lakban dimulutnya, mengusap pergelangan tangan lalu merebahkan badannya ke atas kasur. Mengepalkan dua tangannya dan terus menatap langit-langit kamar. Memikirkan Atiqah. Ardi ingin tahu bagaimana keadaan kekasihnya itu. Tapi ponselnya disita oleh Papanya, Ardi sangat kesal.
"ARGHHHH....!!!" berteriak sambil meremas rambutnya frustasi. "Atiqah....kita gak bisa kalo harus gini terus. Papa pasti udah nyiapin semua buat misahin kita. Aku akan bawa kamu pergi!" ucapnya pada diri sendiri dengan penuh tekad.
Sedangkan Atiqah masih menangis dikamarnya. Disaat cinta itu sudah tumbuh dan sedang mekar-mekarnya tapi dipaksa untuk layu. Mau tidak mau Atiqah akan melepaskan Ardi. Memang hal yang sudah ia sadari sejak tahu kebenaran seorang Ardi, cucu konglomerat di ibu kota.
"Aku udah bilang tadi sama kamu Ardi. Kita gak bisa, kita gak mungkin terus sama-sama. Kita beda" gumamnya pada bayangan Ardi yang terlintas di pikirannya.
Ardi dan Atiqah masih tidak bisa memejamkan mata. Keduanya larut dalam kegundahan masing-masing.
"Pa, jadi bener Ardi dirumah gadis itu?" tanya Anne pada Sigit, mereka sudah berada di dalam kamar.
"Iya! Papa gak habis pikir sama Ardi, Ma. Bisa-bisanya dia pacaran sama perempuan miskin itu!" Sigit kembali berapi-api. Putranya sangat sulit diatur sejak dulu.
"Tapi Mama yakin kalau anak itu yang mencari perhatian Ardi. Mereka satu sekolah Pa. Sudah pasti dia tau siapa Ardi, makanya dia jadi pacar anak kita. Apalagi kalau bukan soal harta juga kedudukan? mereka orang miskin yang ingin naik kelas tanpa harus bekerja keras. Mama udah duga dari kemarin. Gak beres anak itu!" kembali mencaci maki Atiqah, berprasangka buruk.
"Ilmu hitam? dijaman modern seperti sekarang? gak mungkin Ma. Itu gak mungkin" Sigit menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan ucapan istrinya barusan.
"Papa jangan salah. Yang begituan masih banyak di sekitar kita. Kita bener-bener harus jauhin Ardi dari anak itu" Anne menegakkan badan menghadap Sigit diatas ranjang king size miliknya. Mereka berdua tidur terpisah dengan ranjang masing-masing. Memang sudah kebiasaan mereka dari dulu. Tidak mau tidur satu ranjang.
"Papa udah rencanain semua Ma. Tenang aja. Besok Melda sama Rian pulang dari Bali, Papa mau omongin semua" Sigit merubah posisi bersandarnya lalu merebahkan tubuhnya, menarik selimut sampai sebatas dada.
"Apa rencana Papa?" tanya Anne, masih menatap suaminya. Sigit memiringkan tubuhnya menghadap Anne.
"Papa akan kirim Ardi ke Canada. Dia bisa kuliah disana. Kalau perlu, kenaikan kelas bulan depan. Papa gak mau Ardi harus terus-terusan diganggu perempuan itu. Masa depan putra kita sangat berharga Ma" Anne setuju dengan ucapan suaminya. Ardi adalah penerus kerajaan bisnis keluarga Danurdara. Dan hanya pendamping yang sepadan untuk berada di samping Ardi.
"Jangan sampai Ardi tau Pa! Bisa kacau rencana kita" Anne ikut berbaring, menarik selimut.
__ADS_1
"Iya. Kamu juga Ma. Bibir Mama harus dijaga, jangan sampai keceplosan soal rencana Papa"
"Iya iya"
******
Pagi menjemput. Cuaca sangat cerah di hari minggu tapi tidak dengan Ardi dan Atiqah. Ardi masih di kurung dan Atiqah sudah disidang oleh ayahnya sepagi ini.
"Pak, ngomongnya pelan-pelan. Robi masih tidur" ucap bu Asri yang duduk disamping pak Bondan. Atiqah terus menunduk.
"Coba jelasin ke bapak soal semalam!" pak Bondan langsung bertanya tanpa basa-basi. Ia merasa sakit hati saat mendengar putri dan keluarganya dihina tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Maafin Atiqah pak bu. Mba udah bikin malu. Tapi jujur, Mba baru tau kalau Ardi anak pemilik pabrik. Mba beneran gak tau pak, bu" ucap Atiqah jujur, air matanya menetes.
"Terus...apa bener kalian pacaran?" tanya pak Bondan kembali. Atiqah mengangguk ragu-ragu. Pak Bondan dan Bu Asri menghela nafasnya berat.
"Mba, saran ibu...jangan dilanjutin. Gak baik mba. Mereka sudah jelas gak suka sama keluarga kita. Mereka orang kaya yang berpengaruh. Benar apa kata pak Sigit, kita orang miskin. Harus sadar diri" hati Atiqah mencelos mendengar perkataan ibunya. Pemikirannya pun sama. Mereka memang sangat berbeda.
"Nak Ardi hanya kasian sama kita. Dia anak baik yang sudah pasti membantu siapapun yang ia jumpai sedang kesusahan. Bapak harap kamu ngerti. Jangan dilanjutkan! Bukan karena bapak takut dipecat. Masih banyak pekerjaan lain yang bisa bapak kerjakan tapi jangan menyusahkan diri sendiri. Mba ngerti kan?!" pak Bondan dan bu Asri mengerti dengan masa muda anak remaja yang sedang jatuh cinta. Tapi orangtua mana yang tega melihat putrinya dihina seperti semalam. Pak Bondan hanya ingin menjaga hati putrinya. Ia ingin Atiqah menjalani masa remajanya dengan baik.
Bersambung....
******
Konfliknya masih awal-awal ya guys. Maaf nih, aku lagi bad mood jd up_nya rada lama. Semoga terobati ya 😊
Jangan lupa rate bintang 5nya (sebanyak2nya 😁), like, komen dan giftnya sayang2nya aku 😁😊
__ADS_1
Terimakasih byk lho 🙏😆😝