ATIQAH

ATIQAH
Bab 88 : Kehancuran Sigit


__ADS_3

Minggu pagi Anne membuntuti Sigit kemana suaminya itu pergi. Sampai mobil sedan putih milik Sigit memasuki area perumahan di pinggiran ibu kota.


"Papa ... " seru Aga dari dalam rumah. Sigit menyambutnya dengan pelukan hangat. Anne tentu saja kesal melihat pemandangan itu. Hal yang hampir tidak pernah suaminya lakukan pada Ardi dulu saat usianya sama seperti Aga.


"Anak Papa sayang. Kangen Papa tidak?" tanyanya pada Aga. Ratih menghampiri dengan baju daster sederhana bermotif bunga-bunga selutut.


"Aga kangennn banget," mencium pipi Sigit lalu mengeratkan pelukan.


"Aku juga kangen, Mas," ucap Ratih dengan nada lembut. Sigit bangkit menggendong Aga lalu merangkul Ratih, mencium pelipis. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah.


Anne meremas setir mobil. Cemburu sudah pasti, kesal, marah apalagi. Rasanya Anne ingin segera menyudahi semua. Membongkar semua kegilaan yang suaminya lakukan.


Selama seharian itu, Anne terus mengikuti suaminya berganti-ganti tujuan. Semua simpanannya disambangi. Anne merasa jijik. Ternyata selama ini suaminya sungguh menjijikan.


"Beruntung aku sudah lama nggak mau disentuhnya. Kalau iya, bisa kena penyakit aku," gerutu Anne sambil bergidik jijik.


Anne memakai kaca mata hitam dan scarf untuk menutupi wajah juga kepalanya. Berjalan perlahan mengikuti Sigit masuk ke dalam. Simpanannya sudah menunggu di dalam.


Sebuah restoran Jepang dengan ruang private menjadi pilihan Gladys. Agar pertemuan mereka tidak terlihat banyak orang.


"Mas, aku kangen," ucap Gladys dengan suara manja lalu mencium bibir Sigit setelah pintu ruangan tertutup.


"Aku juga sayang," meremas satu dada yang memang Gladys sengaja memamerkannya dari cara berpakaian saat itu. Atasan berlengan pendek dengan model sabrina yang hanya sampai diatas pusar, sangat menggoda seorang Sigit.


"Ah mas ..." Gladys mende*sah. Sigit sudah mengeluarkan satu dada lalu mengu*lumnya.


Anne membelalakan matanya saat mendengar suara itu. Anne memesan ruangan di samping kanan ruangan Sigit. Dinding yang terbuat dari kayu khas Negri Sakura itu tidak mampu meredam suara.


"Brengsek! Bit*ch! sakit jiwa. Bisa-bisanya ditempat seperti ini mereka berdua melakukan hal seperti itu," gerutu Anne. Anne memilih keluar dari ruangan itu dan pergi. Rasanya sungguh menjijikan.


"Papa kalian gila! sinting! baji*ngan!" Anne mengumpat di hadapan Ardi, Melda dan juga menantunya Ryan.

__ADS_1


"Mama ... jangan ngomong gitu, nggak baik. Udah semalem ini Mama baru pulang. Melda kan udah bilang, nggak usah ngikutin Papa. Biar orang suruhan Mama aja yang ngikutin Papa. Mama nggak perlu capek-capek gini. Dateng-dateng udah langsung marah-marah. Inget vertigo Mama, jantung Mama," Melda mengoceh panjang sambil memijati kepala Anne.


"Mama pengen liat sendiri gimana Papa kamu itu di luaran sana. Mama bener-bener jijik juga mual," ujar Anne sambil memejamkan mata merasakan pijitan putrinya.


"Karna sekarang udah lihat sendiri, jadi Mama nggak nyesel kan buat Papa jatuh miskin?" celetuk Ardi. Tangan dan matanya fokus menatap layar ponsel. Video dimana Atiqah sedang bercanda dengan Aziel. Sejujurnya Ardi rindu.


Anne membuka matanya, "Enggak! Mama nggak nyesel. Biar tau rasa itu bandot tua!" makinya lagi.


"Kamu lihat apa? --menyerobot ponsel putranya-- Buat apa kamu lihat-lihat ini lagi? kamu berubah pikiran? semua nggak bisa di ubah lagi. Ingat itu Ardi!" Anne menghapus semua video Atiqah dan Aziel yang selalu Atiqah kirimkan. Meski semua pesan Atiqah tidak pernah ia balas.


*****


Dan hari ini pun tiba. Sigit bertengkar dengan Anne di apartemen milik Narnia di kawasan elit Ibu kota. Anne sudah memegang semua aset atas nama dirinya.


"Are you crazy? DAMN! Bit*ch!" Sigit memaki, mengeluarkan sumpah serapahnya pada istrinya Anne. Setelah tahu kalau dirinya sudah tidak memiliki apa pun. Sigit jatuh miskin.


Narnia dan bayi laki-lakinya berada di dalam kamar atas perintah Sigit. Mendengar semua isi pertengkaran.


Plak


Sigit menampar Anne cukup keras sampai jatuh tersungkur. "Bagus kamu tampar aku. Ini bisa jadi bukti di pengadilan nanti. Kamu udah nggak punya apa-apa," Anne memegangi pipi kirinya sambil tertawa. Menertawai kehancuran Sigit.


"Kamu berani laporin aku?" Sigit menarik baju Anne. "Mati aja kamu!" Sigit mencekik leher Anne sekuat tenaga. Merapatkan pada dinding di ruangan itu. Anne berusaha melepaskan tangan Sigit di lehernya. Menendang nendang kaki Sigit.


Bug


Suara benturan keras mengenai belakang kepala Sigit. Narnia memukulnya dengan stick golf.


"Uhuk uhuk uhuk ... " Anne terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Rasanya tadi seperti akan mati.


Narnia melemparkan stick golf itu. "Aku nggak salah, aku nggak salah. Saya sudah bantu ibu. Jadi tolong, selamatkan saya. Saya nggak mau dipenjara. Tolong saya bu, tolong ... Ampuni saya, maafkan saya ..." Narnia bersujud di kaki Anne. Sigit terluka parah, kepalanya bocor mengeluarkan banyak darah.

__ADS_1


"Aku bisa bantu kamu, asal kamu pergi jauh dan jangan meminta harta sepersen pun!" Anne menarik rambut Narnia sampai kepala simpanan suaminya itu mendongak ke atas mengarah ke wajahnya.


"I iya bu. Saya janji. Saya akan pergi. Saya nggak akan meminta apa pun. Saya janji ... " ucap Narnia, mengatupkan dua tangannya memohon.


Anne melepaskan Narnia. "Cepat pergi dari sini! bawa anakmu itu sekarang juga!" Anne berteriak lalu mengambil ponselnya.


"Cepat naik! sedikit melenceng dari rencana kita," Anne menghubungi pengacaranya di lantai bawah.


Anne duduk menunggu sambil melihat suaminya terkapar, menelungkup dengan darah di lantai sekitar kepala dan wajahnya.


Narnia keluar kamar menyeret satu koper dan satu tas diatasnya, sambil menggendong bayinya yang masih berusia 4 bulan. Bayi yang belum mengerti apa-apa.


Narnia menghentikkan langkahnya, melihat Sigit masih disana. Lalu melihat wajah putranya dalam gendongan.


"Ngapain kamu masih disini? Cepat pergi!!" Anne mengusir Narnia.


Narnia menangis sambil menyeret kopernya. Ia tidak tahu kemana tujuannya. Narnia tidak memiliki uang tunai di dompetnya. Kartu kredit, ATM semua sudah di blokir.


"Aku harus kemana? aku nggak punya uang sama sekali," gumam Narnia berjalan di sepanjang trotoar.


****


"Suap pihak keamanan! Jangan sampai ada yang tau kejadian ini! dan bersihkan tempat ini juga," perintah Anne pada pengacaranya.


"Baik bu,"


Beberapa bodyguard membawa Sigit ke basement. Mobil Van hitam yang pernah Anne pakai untuk membawa Ardi kabur dari pernikahannya waktu itu, sudah berada disana.


"Cepat bawa ke rumah sakit terdekat!" titah Anne lagi. Meski Anne marah, ia memangku kepala Sigit. Pakaiannya kotor terkena darah.


Setibanya di rumah sakit, Sigit dilarikan ke ruang gawat darurat. Sigit mengalami gegar otak ringan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2