
Sudah empat hari Atiqah di rumah sakit. Dan di hari itu juga Atiqah diperbolehkan pulang. Tapi Ardi? dia sudah kembali ke Jakarta.
"Hari senin aku ujian kelulusan. Soal pulang, ada Mbok Jum sama Mang Pardi. Nggak usah manja! aku balik ke Jakarta sekarang," ucap Ardi tanpa rasa bersalah dan iba pada istrinya yang masih dirawat di rumah sakit.
Atiqah tak mampu berkata-kata, ia terus memandang Ardi sampai keluar dari kamarnya. Tidak ada kecupan untuknya, tidak pula kecupan untuk putranya.
Di dalam ruangan Atiqah sendiri, Mbok Jum sedang pulang ke rumah.
"Kamu jahat banget sama aku, sama Ziel," gumam Atiqah. Air matanya kembali menetes.
"Mbak ... " Guntur masuk. Maksud kedatangannya, ingin bertemu mbok Jum. Tapi wanita tua itu tidak ada disana. Waktu yang tidak tepat untuknya, melihat Atiqah yang lagi-lagi sedang menangis.
"Mas Guntur ... " Atiqah tak mampu lagi menahan semua. Ia butuh bahu untuk bersandar.
Guntur mendekati Atiqah. "Ardi udah nggak peduli lagi sama aku, sama Ziel," Atiqah menangis tersedu menutup wajahnya. Guntur iba, memeluk Atiqah. Membiarkan ibu muda itu menangis sepuasnya.
*****
"Biar aku saja yang gendong Aziel mbok," Atiqah merentangkan tangannya bersiap menerima bayinya. Mbok Jum meletakkan Aziel dalam dekapan Atiqah.
"Saya antar sampai lobby mbak," ucap Guntur bersiap mendorong kursi roda yang diduduki Atiqah.
Mbok Jum dan Mang Pardi menenteng tas dan perlengkapan lainnya.
"Eyang kapan boleh pulang?" tanya Atiqah pada Guntur.
"Doakan saja secepatnya mbak," jawab Guntur masih terus mendorong kursi roda itu sampai masuk ke dalam lift.
"Sampaikan ke Eyang, aku belum bisa jenguk. Aku janji nanti kalau Eyang sudah boleh pulang, aku datang ke kamar sama Aziel. Pasti Eyang seneng banget," ucap Atiqah sambil membenarkan letak topi di kepala Aziel.
"Iya mbak, nanti saya sampaikan," jawab Guntur. Ia mendorong lagi sampai ke lobby rumah sakit.
Mang Pardi menyiapkan mobil terlebih dulu lalu memasukkan barang-barang.
"Hati-hati mbak," Guntur memapah Atiqah masuk ke dalam mobil. Aziel sudah masuk terlebih dulu dalam gendongan mbok Jum.
__ADS_1
"Terimakasih mas," ucap Atiqah lalu pintu tertutup.
Mobil MPV hitam itu melaju meninggalkan rumah sakit.
"Sing sabar ... rumah tangga yo ngono, ono pasang surute. Dongano terus. Eling karo anak (Yang sabar ... berumah tangga ya seperti itu, ada pasang surutnya. Berdoa terus. Ingat sama anak)," mbok Jum memberikan nasihat pada Atiqah.
Atiqah yang sedang melamun melihat jalanan menoleh lalu mengangguk sambil tersenyum kecil. Putranya tertidur dipangkuan mbok Jum.
"Aku sayang banget sama Aziel, mbok. Aku juga sayang sama suamiku. Semoga dia bisa berubah dan sadar kalau ada Aziel di keluarga kecil kami," mengusap kepala Aziel.
"Yo ... simbok dongake den Ardi iso brubah. Dadi bojo karo ibu cen angel, kudu kuat mental lan ati (Iya ... simbok doakan den Ardi bisa berubah. Jadi istri dan seorang ibu memang susah, harus kuat mental dan hati)," ujar mbok Jum lagi.
"Terimakasih mbok. Mbok udah baik banget sama aku. Sehat terus mbok. Mbok harus sama aku terus ya? cuma mbok tempat keluh kesahku," Atiqah menyandarkan kepalanya ke bahu kiri mbok Jum.
"Yo mugi-mugi simbok di paringi sehat terus. Amin (Iya semoga simbok diberikan kesehatan terus. Amin)," ucap mbok Jum, membelai kepala Atiqah. Atiqah sudah seperti cucunya sendiri.
"Amin ..."
*****
"Mbok, maaf. Tolong masukkan ini ke freezer," Atiqah memberikan kantong berisi ASI pada mbok Jum.
"Baik mbak," mbok Jum menerima satu kantong ASI itu.
"Makasih ya mbok," ucapnya lalu Atiqah mendekati Aziel. Ia akan menggendongnya, membawanya menemui Subroto.
"Anak ibu yang ganteng, sekarang kita ke depan ya. Eyang buyut sudah pulang. Eyang buyut pasti seneng banget ketemu Ziel," Atiqah menggendong Aziel. Langka kakinya terasa ringan menyambut kepulangan Subroto, kakek yang disayanginya seperti kakek kandungnya sendiri.
Subroto duduk di kursi roda, Guntur mendorongnya sampai di ruang makan dan Atiqah bersama Aziel baru saja datang dari arah kolam renang.
"Eyang ... " Atiqah langsung menghampiri Subroto. Guntur menarikkan kursi untuk Atiqah duduk.
"Pelan-pelan mbak," ucap Guntur pada Atiqah. Meski sudah hampir dua minggu, bekas luka oprasi masih sangat riskan.
Atiqah duduk di kursi masih menggendong Aziel. Mata Subroto menatap ke arah Atiqah lalu turun ke bayi mungil itu. Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Eyang, ini Aziel. Namanya Aziel Danurdara, cicit Eyang. Ganteng kan Eyang?" Atiqah mendekatkan Aziel. Subroto mengangguk-angguk menangis haru.
"Eyang seneng ya? sampai nangis gini," Atiqah menyeka air mata Subroto dengan tisu yang Guntur berikan.
"Eyang harus semangat buat sembuh. Eyang mau main sama Ziel kan? jadi Eyang harus nurut sama Atiqah," ucapan Atiqah itu dijawab anggukan lagi oleh Subroto.
"Sore ini perawat Eyang datang mbak. Sementara tidur di kamar Mas Ardi," ucap Guntur pada Atiqah.
"Iya mas, nggak papa. Kamarnya juga kosong," ujar Atiqah.
Di lain tempat, Ardi bersama Anne, Melda dan juga Ryan sedang menunggu di sebuah cafe. Pengacara mereka yang mengurus akta kelahiran Aziel dan surat-surat lainnya. Mereka memakai pengacara keluarga agar semua berjalan mulus tanpa hambatan atau dipersulit.
"Kamu yakin lakuin ini semua?" tanya Melda pada Ardi.
"Kamu sebagai kakak nggak perlu tanya-tanya lagi. Biarkan adikmu memutuskannya sendiri. Jangan di tanyakan lagi. Mama nggak mau kalau nanti adikmu ini berubah pikiran," Anne menegur Melda. Ardi diam.
"Iya Ma, Melda nggak tanya-tanya lagi," menggerakkan dua jarinya tanda menutup mulut.
"Awas kamu Ardi! kalau sampai kamu berubah pikiran. Mama nggak akan segan-segan suruh kamu bercerai sama perempuan itu," Anne menunjuk nunjuk putranya.
"Iya Ma," jawab Ardi. Ia kembali bermain ponselnya.
"Kapan kelulusan kamu?" tanya Anne pada Ardi.
"Pengumuman satu bulan lagi," jawabnya singkat.
"Oke bagus. Visa F-1 kamu keluar satu minggu lagi. Selesai semuanya, kamu harus langsung ke U.S," ucap Anne. Ia sudah mengurus visa pelajar untuk Ardi melalui orang kepercayaannya di Kedutaan Besar Amerika.
"Iya Ma," Ardi sudah tidak mau membantah lagi ucapan ibunya.
Lama menunggu, pengacara keluarga datang dengan menenteng berkas-berkas penting yang sudah terbit. Salah satunya Akta Kelahiran Aziel.
"Maaf bu Anne, sudah membuat anda menunggu. Ini berkas-berkas yang sudah jadi dan sudah di sahkan secara hukum. Silahkan diperiksa terlebih dulu --memberikan satu map coklat-- Jika ada yang salah atau tidak sesuai, bisa saya ubah hari ini juga." Pengacara keluarga bernama Sutiyoso itu duduk tegap di depan Anne dan Ardi.
Anne membukanya lalu memeriksanya satu per satu. "Oke, bagus. Semua sudah benar. Kerja bagus," Anne memasukkan kembali berkas-berkas itu ke dalam map coklat.
__ADS_1
Bersambung...