ATIQAH

ATIQAH
Bab 27 : Pertemuan kembali Ardi & Fajar


__ADS_3

"Mas Fajar pulang aja. Aku gak papa sendirian. Ada suster jaga" Atiqah sungkan berada dalam satu ruangan dengan Fajar. Apalagi laki-laki itu baru saja mengabarkan soal rencana pertunangan dengan kekasihnya Sherly. Atiqah sedikit kecewa.


"Aku tetep disini. Jagain kamu semalem aja. Aku udah janji sama bulek. Udah, kamu istirahat aja. Kalau mau apa-apa bilang aja ke aku" Fajar menaikkan selimut Atiqah sampai sebatas dada.


Mereka saling bertatapan, Fajar mengusap pipi Atiqah. "Istirahat" senyuman yang selalu membuat nya terhipnotis. "Malah bengong, kenapa?" tanya Fajar. Wajahnya masih berada tepat didepan wajah Atiqah. Atiqah menahan nafas, jantungnya berdetak cukup kencang.


"Ehem..." suara deheman terdengar dari pintu kamar inap yang baru saja dibuka. Atiqah dan Fajar menoleh bersamaan. Pipi mereka hampir bersentuhan.


"Ardi??" Atiqah melihat raut wajah Ardi yang kesal dan ia baru menyadari kalau wajahnya begitu dekat dengan Fajar.


"Kayakanya aku dateng di waktu yang gak tepat" masih berdiri di ambang pintu. Fajar langsung duduk di kursi sebelah ranjang dan Atiqah menggelengkan kepalanya.


"Emm...kamu darimana? aku cari-cari dari tadi" Atiqah berbohong ingin mencairkan suasana.


Benar saja, Ardi tersenyum berjalan mendekati Atiqah.


"Aku tadi ke kantor polisi, jadi saksi. Semua udah beres, kamu bisa tenang sekarang. Putra udah pasti masuk penjara" Ardi mengusap rambut lalu pipi Atiqah dan berakhir mengecup kening lama. Fajar mengalihkan tatapannya. Ardi tersenyum miring saat ekor matanya menangkap sosok Fajar yang bersikap seperti itu. Dia berhasil mengatakan secara tidak langsung, kalau Atiqah adalah miliknya.


Atiqah mengerjapkan matanya berkali kali, bergerak ke kanan kiri. Kenapa Ardi melakukannya didepan Fajar, batinnya bergejolak.


"Iya...aku seneng dengernya, aku lega" ucap Atiqah berkata senormal mungkin.


"Aku keluar sebentar. Kalian bisa ngobrol" seketika Fajar langsung bangkit dan berjalan ke luar kamar tanpa menoleh ataupun menunggu jawaban Atiqah.


"Mas...Fa-jar" Atiqah menatap punggung tegap dan lebar Fajar menghilang dibalik pintu.


"Kenapa dia disini?" Ardi langsung bertanya dengan nada ketus. Atiqah masih terpaku menatap ke arah pintu tanpa tahu dirinya sedang ditatap sinis oleh Ardi. Ardi kesal dengan sikap Atiqah dan juga keberadaan Fajar disana. "Yang..." menangkup pipi, menggeser tatapan kekasihnya itu.


"Hah?? Apa?" Atiqah terkejut, lamunannya buyar seketika.


"Jangan liat laki-laki lain selain aku!" rahang Ardi mengeras dan kini menempelkan bibirnya dengan bibir Atiqah. Menciumnya lembut dan dalam. Atiqah seolah terbuai oleh permainan lidah Ardi yang sudah meringsek masuk mengabsen setiap giginya. Dua tangannya sudah merangkul leher Ardi dan meremas belakang kepala kekasihnya itu.


Suara cecapan yang merdu tercipta dari dua bibir yang masih bertaut merasakan manis dan gejolak di dada.


"Inget sayang...jangan liatin laki-laki itu. Kamu milik aku" Atiqah menganggukkan kepalanya perlahan, menahan hasrat yang menggila akibat ciuman memabukkan Ardi. "Kenapa pipi kamu?" Ardi melihat pipi Atiqah bersemu merah.

__ADS_1


"Hah?? ah...enggak. Masa sih merah? luka lebam tadi mungkin" Atiqah salah tingkah memegangi kedua pipinya.


"Bohong! merah begitu pipi kamu. Emm, atau kamu...udah basah?" Ardi meledek Atiqah.


Atiqah membulatkan matanya dengan ucapan vulgar Ardi barusan. "Ish...mulut kamu kalo ngomong gak disaring. Vulgar banget. Biasa nonton film begituan pasti. Atau emang sering ciuman sama mantan-mantan kamu?"


"Hahaha...kamu cemburu? itu cuma masa lalu. Dan cuma sekedar kecup doang. Bukan ciuman kaya kita tadi, juga gini..." Ardi tertawa lalu memelankan suaranya, tangannya sudah menyentuh dada Atiqah dan meraba, memutar memainkan puncaknya yang seketika menegang. Nafas Atiqah berat, mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara aneh.


"Gak usah ditahan gitu, keluarin aja sayang" Ardi masih memainkan ujung dada Atiqah. Dan kini Atiqah sudah menggigit bibir bawahnya. "Suka?" anggukan kepala perlahan itu membuat Ardi merasakan sesak. "Nanti kita rasain sama-sama. Bukan sekarang" bisik Ardi lalu mencium bibir Atiqah kembali.


Tok tok tok


ketukan pintu menganggu ciuman mereka berdua. Atiqah melepaskan ciuman itu lalu mendorong Ardi menjauh. "Sial! gangguin aja" gerutu Ardi, Atiqah hanya tersenyum.


Pintu digeser, dua pengawal Ardi berdiri tegak. "Tuan, sudah waktunya pulang" ucap salah satunya.


"Iya...iya. Tunggu sebentar lagi. Jaga didepan pintu!" sangat patuh, pintu tertutup kembali. Dan Ardi melanjutkan ciumannya pada Atiqah.


Sepuluh menit berlalu...ketukan pintu terdengar kembali. "Anjrit...oke oke" Ardi kesal, seolah berciuman dengan Atiqah tidak ingin dia sudahi.


"Oke, aku pulang. Jangan macem-macem sama laki-laki itu. Aku gak perlu tanya, aku udah tau dia bakal nginep jagain kamu disini. Aku titip hatiku disini. Jangan kecewain aku" menunjuk dada Atiqah lalu mengecup kening.


"Iya...tenang aja. Mas Fajar udah punya pacar. Dia mau tunangan bulan depan" Ardi mengangguk-anggukan kepalanya.


"Bagus kalo gitu. Yaudah, aku pulang dulu. Istirahat. Besok pulang sekolah aku kesini" Ardi bangkit tapi tangan mereka masih berpegangan.


"Iya, aku tunggu. Kamu juga, pulang trus istirahat. Terimakasih" senyuman manis Atiqah menularkan pada Ardi. Ardi tersenyum, menampilkan lesung pipinya.


"Aku pulang" Ardi melepaskan tautan jarinya. Membuka pintu lalu menutupnya lagi.


Atiqah kembali menghela nafasnya. Ciuman tadi masih saja berputar dikepalanya. Lembut juga memabukkan. Ia usap bibirnya dan sesekali menggigit bibir bawahnya.


"Ehem..." lagi-lagi suara deheman membuyarkan lamunan Atiqah. Fajar masuk setelah mengetuk dan tidak ada sahutan. Melihat Atiqah yang sedang melamun.


"Eh...mas Fajar. Dari mana? kok lama?" Atiqah malu. Pasti Fajar melihatnya sedang melamun dan bertingkah seperti itu.

__ADS_1


"Dari minimarket, beli cemilan" mengangkat keresek berisi macam-macam cemilan. "Pacar kamu udah pulang? aku pikir masih ada tadi, jadi aku ngetuk pintu dulu" meletakkan keresek ke atas meja lalu duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang.


"Pa-car?? ah...iya. Udah, baru aja kok" Atiqah masih menatap Fajar.


"Ooo...jadi akhirnya kamu mau sama dia?" Fajar teringat kilasan kejadian di taman depan Mall saat itu. Ia membantu Atiqah yang sedang dipaksa oleh Ardi. Atiqah mengangguk, mengatakan iya.


"Udah lama?" rasa ingin tau Fajar lebih terdengar seperti menginterogasi adiknya yang ketauan memilki pacar.


"Belum...baru sebulan" menggelengkan kepala, sesekali membenarkan rambut lalu menatap kuku-kukunya.


Fajar menggangguk-angguk. Lalu seorang suster masuk membawa obat diikuti petugas yang membawa makanan.


"Obatnya diminum setelah makan ya. Obatnya diminum semua. Kalo ini...masnya aja yang olesin nanti sebelum tidur" suster menjelaskan soal obat yang dibawanya lalu menatap Fajar, menunjukkan salep. Fajar mengerti.


"Besok pagi dokter berkunjung dan kemungkinan besok sore nona Atiqah sudah bisa pulang" suster itu tersenyum dan pergi.


"Aku suapin ya?" Fajar mendekati Atiqah. Menyiapkan meja lalu menarik kursi untuk ia duduk.


"Aku bisa sendiri mas. Mas Fajar duduk aja di sofa sambil nonton tv" Atiqah mengangkat sendok.


"Beneran? yaudah...nanti kalo udah selesai, bilang. Mas yang beresin, sekalian ngolesin salep" Fajar mengusap kepala Atiqah, kembali duduk di sofa menyetel tv.


Atiqah mengunyah makanannya sambil terus menatap Fajar.


Bersambung...


*****


Aduh, othor mohon maaf bgd baru bisa update 🙏


semoga suka ya 😊


Jangan lupa rate bintang 5 selalu, biar Atiqah makin populer. Sama like, komen dan giftnya sayang2kuh 🤭😘


Terimakasih, matur tengkyu semua 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2