ATIQAH

ATIQAH
Bab 80 : Video 20 detik


__ADS_3

Atiqah, Subroto dan Guntur sudah kembali lagi ke Yogyakarta. Ardi tetap di Jakarta.


Beberapa kejadian kemarin, kedua orangtua Atiqah tidak diberi tahu. Atiqah khawatir orangtuanya akan marah besar pada Ardi.


Bondan dan Asri melihat mereka baik-baik saja saat berpamitan.


"Mba pamit pulang ke Jogja, pak bu," ucap Atiqah. Mencium punggung tangan lalu memeluk. Rasa haru sungguh menyesakkan dada. Hanya beberapa kali mereka bertemu dan berkumpul tapi siang itu ia sudah harus terbang ke Yogyakarta.


"Hati-hati mba. Kalau ada apa-apa hubungi bapak dan ibu. Jaga kesehatan, jaga cucu ibu," ucap Asri berurai air mata.


"Cucu bapak juga bu," seru Bondan, protes karna tidak disebut.


"Iya iya, ini cucu bapak sama ibu," Atiqah terkekeh melihat kedua orangtuanya berdebat hal sepele.


Ardi menginterupsi, "Bentar lagi udah mau berangkat, peluk aku dulu," Ardi merentangkan tangannya. Atiqah tersenyum, menyambut memeluk suaminya.


Subroto bangkit dari duduknya setelah melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Waktunya mereka masuk ke dalam.


Perpisahan sementara itu tetap terasa pilu. Atiqah berpesan pada orangtuanya untuk datang ke Jogja saat acara 7 bulanan nanti.


"Semoga bapak sama ibu bisa kesana," ucap Asri selesai berpelukan dengan putrinya. Mengantarkan sampai di pintu masuk.


Atiqah, Subroto dan Guntur kembali ke Yogyakarta, sedangkan Ardi mengantar mertuanya kembali ke rumah.


"Acara tujuh bulanan nanti, kita pergi sama-sama. Biar Ardi yang urus tiketnya pak, bu," ujar Ardi saat di teras rumah.


"Terimakasih nak Ardi. Nanti beri kabar ke bapak kapan kita berangkat," Bondan menepuk nepuk pundak Ardi.


"Iya pak, nanti Ardi kasih kabar. Sekarang Ardi pamit pulang dulu. Ada tugas sekolah yang harus dikerjakan," Ardi berpamitan. Mencium punggung tangan Asri dan Bondan.


"Hati-hati dijalan nak Ardi," ucap Asri. Ardi mengangguk, berjalan masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan kediaman mertuanya.


Ardi tidak benar-benar pulang ke apartemen. Ia pergi menemui Lala. Pesan yang dikirimkan Lala waktu itu, masih membuatnya gelisah.

__ADS_1


Lala sudah duduk menunggu di sudut meja di cafe, cukup dekat dengan apartemen. Lala berkali-kali melihat layar ponselnya lalu menatap pintu cafe yang terbuka dan tertutup. Menanti kedatangan Ardi dengan raut wajah yang sulit di artikan. Rasa khawatir bercampur dengan rasa kesal. Khawatir akan melukai Atiqah tapi Lala juga merasa dikhianati. Apalagi, Atiqah tinggal satu atap dengan Guntur. Ardi bisa saja kembali di bohongi.


"Jelasin sekarang juga!" Ardi datang langsung menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Lala. Lala tersentak, ia menelungkupkan ponselnya ke atas meja.


"Em ... itu ... tapi aku," Lala gugup. Ia bingung.


"Kamu bohong? kamu ngada-ngada? jawab La!" Ardi menunjuk-nunjuk wajah Lala lalu menggebrak meja. Lala kembali tersentak.


"Enggak ... aku nggak bohong. Mending kakak lihat sendiri rekaman CCTV itu. Maaf, aku nggak mau terlibat lebih jauh lagi," tiba-tiba Lala mengurungkan niatnya memperlihatkan rekaman video beberapa detik yang ia dapatkan dari petugas resort.


Ardi melongo melihat Lala yang langsung pergi. Ia tidak bisa mencegah Lala karena cafe begitu ramai pengunjung.


*****


Beberapa bulan yang lalu, Resort di Gunungkidul Yogyakarta.


Pagi harinya Lala bangun lebih awal. Rasa kesalnya semalam belum hilang. Ia memilih menyegarkan pikirannya dengan berjalan berkeliling resort.


Udara cukup dingin, Lala mengenakan cardigan cukup tebal berwarna hitam.


"Video opo? ndelok ndelok (video apa? lihat lihat)," temannya penasaran, meletakkan peralatan kebersihan.


"Mau mbengi aku dikon mas Tri muter, eh malah aku ndelok sing seger-seger. Tak video (tadi malam aku disuruh mas Tri keliling, eh malah aku lihat yang seger-seger. Ku video)," terangnya. Petugas itu bernama Aus dan temannya Yatno.


"Endi? ndeloken kene, gawe penasaran (Mana? lihat sini, bikin penasaran)," Yatno merapatkan tubuhnya. Aus merogoh ponsel dalam saku celananya.


"Sabar to (sabar dong)," Aus menghidupkan layar lalu menggulirnya mencari video yang ia rekam semalam. "Iki, deloken. Mantap to? (ini, lihat. Mantap kan?)," Aus memainkan alisnya. Yatno ber-wah sambil menepuk bahu Aus berkali-kali.


"Pinteran koe langsung mbok rekam. Aku gelem ... aku gelem. Kirimen meng aku (Pinter banget kamu langsung direkam. Aku mau ... aku mau. Kirimkan ke aku)," Yatno mengeluarkan ponselnya.


"Iki Guntur to? wani men ngambungi pacare juragane. Iso geger iki (ini Guntur kan? berani sekali cium pacar bosnya. Bisa ribut ini)," ucap Yatno lagi. Meneliti wajah Guntur yang memang mereka kenal sebagai asisten Subroto. Pengusaha terkenal yang sudah sering berkunjung ke sana untuk urusan bisnis.


Lala yang sedang melintas pagi itu, mendengarkan pembicaraan Aus dan Yatno.

__ADS_1


"Kalian ngomongin mas Guntur? --menatap Aus dan Yatno bergantian-- Aku denger soal video. Video apa? sini aku lihat!" Lala mengulurkan tangannya. Aus dan Yatno saling berpandangan memegang ponsel masing-masing.


"Cepetan sini!" Lala memaksa. Aus menyodorkan ponselnya lalu Lala memutar video itu. Reflek tangan kirinya menutup mulutnya.


Kemudian Lala terlihat mengutak atik ponsel Aus. "Sinikan handphone kamu!" meminta ponsel Yatno, setelah mengembalikan ponsel Aus.


"Udah aku hapus semua video di handphone kalian," ucap Lala lalu pergi meninggalkan Aus dan Yatno yang merasa menyesal memberikan ponsel mereka pada Lala.


Lala kembali ke kamar. Atiqah baru saja bangun.


"Udah bangun La?" tanya Atiqah, membuka selimut lalu meregangkan badan.


"Udah, belum lama," jawaban Lala terdengar datar.


"Oh...aku ke kamar mandi dulu kalau gitu," Atiqah masuk ke dalam kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya mandi air hangat.


"Udah punya pacar tapi ciuman sama cowok lain," gerutu Lala. Marah dan kecewa. Laki-laki yang ia sukai justru berciuman dengan sahabatnya.


Semalam Lala terbangun karena haus tapi Atiqah tidak ada disebelahnya. Lala membuka tirai mencari keberadaan Atiqah, justru ia melihat sahabatnya berciuman dengan Guntur.


Lala keluar kamar, duduk di kursi santai pool. Guntur menghampiri Lala setelah lari pagi.


"Pagi mbak Lala," sapanya sambil menyeka keringat dengan handuk kecil yang melingkar di leher.


"Pagi," Lala kembali menjawab datar, tersenyum terpaksa. Guntur merasa ada yang beda dari Lala.


"Mbak Lala udah sarapan?" tanya Guntur.


"Belum," jawab Lala, setelahnya ia diam.


"Mau sarapan sama-sama? tapi saya masuk dulu. Mbak Lala tunggu sebentar ya," tanpa menunggu jawaban, Guntur berlalu masuk ke dalam kamar.


"Apa-apaan...semalem ciuman sama Atiqah trus pagi ngajakin aku sarapan," gumam Lala, melipatkan tangan ke depan dada sambil memicingkan mata ke arah pintu kamar Guntur.

__ADS_1


Lala akan menyimpan video itu. Entah nantinya akan dia apakan.


Bersambung...


__ADS_2