ATIQAH

ATIQAH
Bab 24 : Berbeda


__ADS_3

Hasil rontgen pergelangan kaki Atiqah sudah keluar. Beruntung cideranya tidak terlalu serius. Cukup dibalut dengan perban elastis. Atiqah tidak perlu rawat inap. Sedangkan Putra keadaannya sudah membaik. Baru saja siuman dan Ardi langsung menggertaknya.


"Atiqah masih berbaik hati, gak laporin kamu ke polisi juga pihak sekolah. Aku harap kamu belajar dari kesalahanmu. Dan soal rekaman di galeri ponselmu, udah aku lenyapin. Jangan sampai hal ini keulang lagi. Sadar diri Putra...Atiqah milikku, sampai kapanpun dia milikku!!" Ardi menepuk pipi Putra beberapa kali lalu pergi meninggalkan ruang rawat inap itu, menghampiri Atiqah yang menunggu di lorong rumah sakit bersama dua bodyguardnya.


Mata Putra merah dan terasa panas. Tentu saja dia marah dengan ucapan Ardi dan dengan lancang membuka ponselnya lalu menghapus rekaman miliknya. Putra tidak berniat untuk menyebarluaskan video itu, dia ingin menyimpan sebagai koleksi pribadi. Membayangkan bagaimana dirinya mencumbu Atiqah seperti Ardi dalam rekaman itu.


Putra sudah lama menyukai Atiqah. Dulu mereka satu SMP. Atiqah yang memang terlihat menonjol diantara murid lainnya karna postur badan yang lumayan tinggi dibanding siswi lainnya.


Semua berawal saat kejadian di malam api unggun acara pramuka yang diadakan di sekolah. Atiqah menabrak Putra karena dorongan dari temannya yang kesurupan. Putra menangkap tubuh Atiqah lalu mereka berdua jatuh tersungkur bersamaan.


"Sorry...sorry" ucap Atiqah pada Putra. Atiqah bangkit mengulurkan tangannya membantu Putra.


"Gak papa. Kamu gak luka kan?" tanya Putra sambil menepuk-nepuk, membersihkan seragam pramukanya yang terkena debu.


"Enggak kok. Masih mulus" Atiqah melemparkan senyumannya di keremangan cahaya api unggun. Cantik, gumam Putra lirih.


"Syukur kalo gitu. Eh...awas!" Putra menarik Atiqah karena semakin banyak yang kesurupan. "Mending kita nyingkir aja. Makin banyak yang kesurupan" ajak Putra ke pinggir lapangan.


Atiqah dan Putra duduk di kursi panjang. Mereka semakin dekat dan nyaman mengobrol banyak hal. Urusan kesurupan masal sudah ada ahlinya, begitu pemikiran Atiqah dan Putra.


Berawal dari kejadian itu, Atiqah dan Putra menjalin pertemanan. Bagi Atiqah, Putra adalah teman laki-laki yang asyik tapi tidak bagi Putra. Baginya Atiqah istimewa. Putra memendamnya cukup lama, selama 3 tahun. Kekecewaannya semakin menjadi saat tahu Atiqah dan Ardi sang Ketos menjalin hubungan. Dan puncaknya memergoki Ardi sedang mencumbu Atiqah.


"Maaf Atiqah. Maafin aku" ucap Putra menyesali perbuatannya pada Atiqah. Kesalahannya sungguh sangat fatal. Atiqah sudah pasti tidak mau melihat wajahnya lagi. Hanya kesendirian yang kini tersisa di dalam kamar inapnya.


"Ayok...aku anter pulang" Ardi menghampiri Atiqah yang masih duduk dikursi roda. Dua bodyguard bangkit dan bersiap untuk mengikuti instruksi Ardi. Atiqah tersenyum, begitu juga dengan Ardi.


Mobil SUV hitam itu melaju membelah jalanan ibu kota menjelang senja. Orangtua Atiqah menanti kepulangan putrinya yang tidak juga memberi kabar.


"Bapak sama ibu pasti nyariin aku. Handphone aku mati, rusak" memperlihatkan layar ponsel keluaran lama yang sudah retak dan tidak bisa menyala. Ponselnya rusak karena benturan keras yang dilakukan Putra tadi.


"Nanti aku gantiin yang baru. Handphone kamu juga udah jadul. Emang perlu diganti" ucap Ardi, mengambil ponsel Atiqah dan menyimpannya dalam saku baju. Ardi akan memindahkan beberapa kontak dan data-data di ponsel Atiqah.

__ADS_1


"Gak usah. Nanti aku beli sendiri aja. Aku ada uang tabungan kok. Gak perlu gantiin. Ini kan hp aku" mengambil lagi ponselnya dari saku. Ardi menahan tangannya.


"Ssstt..." meletakkan telunjuknya didepan bibir. "Pikirin aja alasan apa yang mau kamu sampein ke orangtuamu soal pulang telat, juga..." Ardi meneliti wajah dan kaki Atiqah yang terluka. "keadaanmu sekarang". Memasukkan lagi ponsel rusak itu ke dalam sakunya.


"Ah...aku sampe lupa. Kira-kira alasan apa?" Atiqah juga belum terpikir harus beralasan apa nanti saat ayah dan ibunya bertanya.


"Jatuh?" saran Ardi. Tapi sepertinya bukan alasan yang tepat, karna raut wajah Atiqah mengatakan sebaliknya. "Trus apa kalo jatuh bukan alasan yang meyakinkan?" tanya Ardi. Posisinya yang mengantar Atiqah juga menjadi taruhan. Bisa-bisa orangtuanya akan salah paham pada Ardi.


"Mmm...aku juga gak tau" saat mereka berdua berdebat mencari alasan apa yang akan disampaikan nanti, mobil SUV itu sudah berhenti didepan rumah Atiqah.


Pak Bondan dan Bu Asri duduk diteras rumah menunggu kepulangan putrinya.


"Bapak sama Ibu..." Atiqah menyenggol lengan Ardi. Ia gugup melihat kedua orangtuanya yang sekarang sudah berdiri menunggunya turun. Pak Bondan dan Bu Asri sudah tau mobil milik siapa yang berhenti didepan rumah mereka.


Ardi turun lalu berjalan memutar membukakan pintu mobil untuk Atiqah. Raut wajah kedua orangtua Atiqah berubah saat melihat putrinya berjalan dipapah oleh Ardi.


"Mba...kenapa?" bu Asri sudah dulu menghampiri, ikut memapah Atiqah.


"Kenapa buru-buru? saya harus tanya kamu soal putri saya yang pulang dengan kondisi seperti ini. Bilang ke orang kamu, tunggu di teras" ucap pak Bondan tegas dan penuh penekanan.


"Baik pak" Ardi mengangguk lalu memberi kode pada dua pengawalnya agar mendekat. "Tunggu sebentar. Duduk di teras!" titahnya.


"Tapi...Tuan besar"


"Matikan hp kalian! beri aku waktu sebentar. Harus ada yang dijelaskan. Ngerti?" sikap Ardi tidak mau dibantah. Ia langsung masuk ke dalam. Atiqah dan orangtuanya sudah masuk ke dalam rumah. Duduk di sofa ruang tamu.


"Duduk!" ucap pak Bondan pada Ardi.


"Pak..." Atiqah memanggil ayahnya agar tidak berkata keras pada Ardi. Pak Bondan mengangguk mengerti.


"Coba jelaskan kenapa anak saya bisa begini!" pak Bondan tidak mau bertele-tele.

__ADS_1


Ardi menghela nafasnya perlahan dan menatap Atiqah. Sedangkan Atiqah menggelengkan kepalanya, tanda agar Ardi tidak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.


"Ehemm...." deheman pak Bondan, tidak sabar mendengar alasan apa dari Ardi.


"Emm...tadi Atiqah sedang nungguin angkot pak, dia dijambret sampai jatuh terguling di pinggir jalan. Saya hanya membantu, karena kebetulan melihat. Ini hp Atiqah rusak" mengeluarkan hp Atiqah sebagai bukti kuat untuk meyakinkan soal jawaban yang ia sampaikan. Atiqah syok mendengar jawaban Ardi. Alasan yang tidak terpikirkan.


"Cerdas juga alesannya" batin Atiqah.


"Jambret?" bu Asri juga terkejut mendengarnya.


"Iya bu. Tadi Ardi yang bawa Mba ke rumah sakit" Atiqah bersikap manja, memeluk ibunya. Bu Asri membalas pelukan putrinya, mengusap lengan dan punggung.


"Ibu sama bapak takut banget tadi. Ditelfon berkali kali tapi gak bisa terus. Jadi kepikiran Mba gak ada kabarnya. Ternyata hpnya rusak. Pantesan..." bu Asri mengutarakan perasaannya.


"Maaf ya pak, bu. Mba udah bikin panik. Makasih Ardi udah nolongin aku tadi" menatap ayah dan ibunya lalu tersenyum manis pada Ardi. Ardi membalas dengan senyuman juga.


"Ah iya...terimakasih banyak ya nak Ardi. Ibu sama bapak gak tau harus gimana. Nak Ardi sudah banyak bantu kami" ucap bu Asri tulus. Pak Bondan setuju dengan ucapan istrinya. "Terimakasih"


"Sama-sama pak bu. Saya juga memohon maaf atas kejadian tempo hari. Maafkan ketidaksopanan Papa saya" menangkupkan kedua tangannya ke depan dada (🙏).


"Tidak perlu dibahas lagi. Kami sudah melupakan soal kemarin. Tapi bapak mohon, lebih baik kalian berdua cukup berteman saja. Masa depan nak Ardi dan juga tanggung jawab besar sudah menanti. Atiqah juga memiliki masa depannya sendiri. Bapak harap raihlah cita-cita kalian masing-masing. Jalan hidup kalian berbeda" nasihat baik yang terdengar halus dan menusuk tepat ke dalam hati Ardi dan Atiqah. Bahwa mereka berbeda.


Bersambung...


*****


Ikuti alurnya pelan-pelan aja ya. Sambil nunggu lolos kontrak yang entah kapan 😁.


Jangan lupa rate bintang 5, like, komen dan giftnya 😊🤗


Love you epribadehhh 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2