ATIQAH

ATIQAH
Bab 16 : Candu


__ADS_3

Pagi menjemput. Atiqah dan Ardi sama-sama terbangun dari tidur singkat mereka. Hanya 3 jam mereka tidur karena gelisah. Kantung mata muncul di wajah Atiqah, kelimpungan bagaimana menutupi kantung matanya itu. Ia akan malu saat nanti Ardi menjemputnya.


"Mba kenapa sih? mondar-mandir gak jelas daritadi" seloroh Robi, jengah melihat kakaknya sedari tadi lalu lalang di depannya.


"Udah sarapan aja kamu. Jangan peduliin Mba!" Atiqah membuka kulkas, mengambil beberapa cube es. Lalu ia bungkus dengan handuk kecil, mengompres matanya. Robi mengedikkan bahunya, kembali memakan mie goreng instan yang dibuatnya sendiri dengan tambahan telur dadar diatasnya. Bocah kelas 3 SD yang sangat mandiri.


"Mba dijemput pacar lagi?" ucap Robi sembari bangkit dari duduknya, membawa piring kosong ke wastafel dan mencucinya. Sudah menjadi kebiasaan dirumahnya, setelah makan wajib mencuci agar tidak menumpuk.


"Huss...pacar pacar. Anak kecil gak usah ikut urusan anak gede. Kamu udah mau berangkat?" Atiqah duduk di kursi meja makan, menghadap Robi yang sudah memakai tas dipunggungnya.


"Iya...aku ada PR yang belum kukerjain, jadi aku buru-buru. Dah Mba..." Robi melambaikan tangannya langsung pergi meninggalkan Atiqah yang baru saja akan memakan sarapannya.


"Dasar anak males!" gumam Atiqah.


"Mba....pacarnya dateng nih" suara teriakan Robi dari arah teras. Robi berpapasan dengan Ardi yang baru saja datang masuk ke dalam teras. Atiqah berlari keluar. Benar saja, Ardi turun dari motor gedenya, melepas helm.


"Belum siap?" Ardi melihat Atiqah yang masih memakai roll rambut dan satu tangannya memegang handuk berisi es tadi.


"Eh...maaf. Aku lagi sarapan. Kamu kepagian jemputnya" Atiqah menyimpan handuk itu dibalik badannya. Ia lupa soal kantung mata yang masih terlihat sedikit membengkak.


"Yaudah, aku tunggu" Ardi mendekatinya.


"Kamu udah sarapan?" tanya Atiqah.


"Belum. Tadi aku buru-buru kesini" menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mau sarapan? aku bikin omlete sama mie goreng" Atiqah masuk ke dalam rumah diikuti Ardi.


"Boleh boleh" Ardi manggut-manggut.


GREPP


Ardi memeluk Atiqah dari belakang. "Ardi..." Atiqah tersentak kaget.


"Aku kangen. Aku gak bisa tidur semalaman" mengendus bahu Atiqah.


"Emm...ke-napa?" tanya Atiqah gugup.

__ADS_1


"Soal yang dimobil semalem" Ardi semakin mengeratkan pelukan. Suara bisikan Ardi membangkitkan sesuatu yang aneh dari diri Atiqah, ia meremang. Ardi mengecup pipi kanannya.


"Udah ya...ayok sarapan dulu" Atiqah melepaskan pelukan Ardi lalu duduk di kursi yang tadi ia duduki. Ardi ikut duduk disebelahnya.


"Aku makan dari piring kamu aja. Aaaa...." Ardi membuka mulutnya meminta Atiqah menyuapinya.


"Manja!!" cibir Atiqah tapi tangannya tetap menyuapi Ardi.


Lima menit Atiqah menyuapi Ardi dan dirinya sendiri, lalu ia pergi ke kamar untuk mengambil tas dan jaket. Saat berbalik, Atiqah menabrak Ardi yang sudah berdiri dibelakangnya. "Ardi...ngapain masuk ke kamarku?" Ardi mencondongkan badannya, menarik pinggang Atiqah lalu mencium bibir yang semalaman ia pikirkan.


Ciuman yang awalnya membuat Atiqah kaget dan setelahnya ia ikut menikmati ******* Ardi. "Ahh..." Atiqah melenguh. Lagi-lagi dadanya diremas Ardi yang tertutup seragam. "Ardiiii...." tatapan mata sayunya pada Ardi. Atiqah tak menampik, ia menikmatinya.


"Aku gak tahan pengen ngrasain ini lagi Atiqah" mencengkeram sedikit kuat, Atiqah memekik. Ardi membuka dua kancing seragam Atiqah. Dan saat akan meraup dada yang tak lagi terbungkus, suara ketukan pintu rumah terdengar.


tok tok tok


Atiqah dan Ardi saling menatap. Atiqah kembali merapihkan bajunya. "Ada orang..Gimana ini? keluar keluar..." Atiqah mendorong Ardi. "Duduk di ruang makan. Biar aku yang keluar" Ardi mengangguk. Atiqah kembali berjalan ke pintu rumah yang memang terbuka lebar.


"Eh...Mba Ani. Kenapa mba?" sapa Atiqah pada tetangganya yang datang.


"Ini aku bawa sayur sama lauk buat makan Robi nanti siang" menyodorkan tumpukan rantang. Mba Ani memang biasa memberi makanan untuk Robi, pesan dari ibu Asri ibunya.


"Huft...." menghela nafasnya lega.


"Siapa?" tanya Ardi saat Atiqah masuk membawa rantang.


"Mba Ani, tetangga rumah. Biasa kasih makanan buat Robi. Ibu yang suruh" jawab Atiqah sembari meletakkan rantang ke atas meja makan.


"Sini dulu" menarik Atiqah, duduk dipangkuan.


"Apa?? kita harus berangkat ke sekolah. Nanti telat" Atiqah mengurai kegugupannya. Tetapi Ardi terus mendekatkan bibirnya ke dada kanan tepat di depan wajahnya. "Kamu mau apa?"


"Mau ini" menunjuk dada Atiqah dengan matanya. "Tadi kan gak jadi" tatapan memohon itu membuat ATiqah kembali terlena. Entah kenapa, Atiqah berubah menjadi budak cinta pada Ardi.


Tanpa berlama-lama Ardi sudah meraup dadanya. Mengulumnya sampai berdecak. "Ardi...cukup. Ki-ta u-dah te-lat" ucapnya kembali terbata menikmati rasa yang kembali datang. Ardi terus melanjutkan aksinya, sampai dua dada itu selesai ia nikmati.


*****

__ADS_1


Atiqah menunggu Ardi yang sedang rapat Osis di lantai bawah. Persiapan pentas seni hari sabtu minggu ini. Perayaan ulang tahun sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 wib.


"Lama nunggunya?" Ardi menghampiri Atiqah yang duduk di depan ruang OSIS. Tersisa Ardi dan beberapa anggota di sekolah.


"Lumayan. Udah selesai?" tanya Atiqah.


"Udah. Kita langsung ke rumah sakit?"


"Iya tapi aku ke toilet dulu. Udah nahan daritadi" Atiqah bangkit.


"Yaudah sekalian aja. Aku temenin" Ardi menggandeng Atiqah. Dari kejauhan Echa melihat lalu mengikuti kemana dua pasang kekasih baru itu pergi.


Ardi menunggu didepan toilet. Mengutak atik ponselnya sembari menunggu.


"Gak lama kan? ayok ke rumah sakit" ajak Atiqah setelah keluar dari toilet. Ardi mengulurkan tangan kanannya, Atiqah menyambutnya dengan senyuman.


Echa mengepalkan tangannya, pemandangan yang mengesalkan. Echa yakin Atiqah dan Ardi sudah jadian. Untuk apa lagi Atiqah menunggu Ardi rapat Osis kalau mereka tidak memiliki hubungan.


"Sialan! Brengsek!!" umpat Echa.


"Siapa yang brengsek?" tanya Topan dibelakang Echa, ikut melongok ke arah tatapan Echa.


"Ooh...Ardi sama Atiqah? kamu cemburu Cha? sabar ya. Mereka baru jadian semalem. Dari pada cemburu gitu, mending sama aku aja Cha" Topan mengambil kesempatan dalam kemungkinan.


"Ogah!! cih.." Echa pergi meninggalkan Topan. Topan tertawa renyah mendengar penolakan Echa untuk kesekian kalinya. Topan wakil ketua Osis yang cuku dekat dengan Ardi.


Motor gede warna hitam terparkir rapih di halaman rumah sakit. Ardi kembali menggandeng Atiqah. Seperti biasa, Ardi membawakan buah tangan untuk orangtua kekasihnya. Satu kotak berisi bermacam-macam roti dari kedai terkenal di Jakarta Selatan.


"Pak, Bu..." Atiqah membuka pintu kamar. Ardi ikut menyapa dan tatapannya bertubrukan dengan tatapan yang sama dengannya. Papanya berikut asisten datang menjenguk pak Bondan.


"Papa..." ucap Ardi lirih. Terkejut melihat mata Papanya yang mengisyaratkan sesuatu. Papanya tidak suka melihat Ardi dekat dengan Atiqah, anak dari karyawannya sendiri. Levelnya tidak sebanding dengannya, Sigit Danurdara.


Bersambung....


*****


Atiqah datang lagi dengan hasrat yang kembali membuncah tak terbendung 😝 masa-masa remaja guys. Jangan ditiru ya?! ini hanya sebuah cerita halu dari author yang lagi agak saru pikirannya.

__ADS_1


Kasih rate bintang 5nya ya sayang2nya akuh...kasih like, komen sama giftnya juga. Apalah arti diriku tanpa like dan komen dari kalian semua.


Lope Lope 🥰🥰🥰


__ADS_2