ATIQAH

ATIQAH
Bab 40 : Yogyakarta (4)


__ADS_3

Mobil memasuki lahan perkebunan dan berhenti tepat di depan pintu masuk dengan tanaman menjalar membentuk sebuah gate pertanda selamat datang.


Perkebunan milik pribadi itu cukup luas ditanami beberapa buah-buahan, sayuran dan juga bunga matahari. Sangat tertata rapih sesuai dengan tempatnya masing-masing.


Satu lingkup untuk deretan buah-buahan seperti buah naga, anggur hijau, jeruk, strawberry dan salak.


Sedangkan sayuran organik ditanam di sisi yang tidak jauh dari kelompok buah-buahan. Semua pekerja sudah pagi-pagi sekali berada di perkebunan. Mereka sibuk merawat apa yang sudah menjadi tugasnya masing-masing.


"Eyang, boleh gak Lala coba buahnya satu-satu?" Lala menunjukkan deretan giginya, meringis.


"Boleh...boleh. Mau dibawa juga boleh. Mang --memanggil karyawannya yang berdiri tidak jauh darinya-- rene (kesini)"


"Inggih ndoro" Mang Pardi menundukkan kepala.


"Jupuken wadah kanggo bocah-bocah. Podo pengen buah (ambilkan tempat untuk anak-anak. mereka ingin buah)" titah Subroto. Mang Pardi langsung bergegas kembali masuk ke dapur untuk mengambil beberapa tempat dari anyaman berukuran sedang.


"Wah, aku iri sama kamu Atiq. Kamu bakalan dapet ini semua kalo kamu nanti nikah sama Ardi" bisik Lala didepan deretan pohon anggur hijau yang menjalar.


"Ssttt...gak usah kejauhan ngayalnya. Belum tentu. Masa depan masih panjang" Atiqah membalas dengan bisikan yang sama. Ardi berdehem. Dia masih diam karena marah dengan Atiqah. Rasa sakitnya tadi harus menahan hasrat yang tidak sempat ia tuntaskan.


Atiqah menoleh ke belakang lalu tersenyum kecil. Ia mencoba berbaikan, tidak enak dilihat oleh kakek Ardi kalau mereka masih sama-sama mengacuhkan.


"Sini...petikin anggur buat aku" mengulurkan tangan, Ardi melihat tangan Atiqah seperti itu membuat hatinya luluh. Menerima uluran tangan kekasihnya.


"Nah gitu, jangan berantem terus" ledek Lala. Guntur hanya diam mengamati Lala, Atiqah dan Ardi. Tetapi pandangannya itu terus mengikuti kemana Atiqah bergerak.


"Mas Guntur juga sini dong" ajak Lala.


"Iya mbak...sebentar" Guntur menunggu Mang Pardi membawa wadah.


"Niki ndoro (ini Tuan)" Mang Pardi memberikan 5 wadah pada Guntur setelah melihat arah tangan Subroto menunjuk Guntur.


"Eyang ke dalam, kalian keliling. Terserah mau ambil apa aja. Tur kancani bocah-bocah (Guntur temani anak-anak)" ucap Subroto. Guntur mengangguk lalu pergi menyusul Atiqah, Lala dan Ardi masuk ke deretan buah anggur.


Lala bersemangat memetik bermacam-macam buah. Mengumpulkan dalam wadah dipelukan. "Mas Guntur...Aaaa" Lala mengupas jeruk lalu menyuapi Guntur. Ardi tak mau kalah dengan Lala dan Guntur.


"Yang, buka mulutmu" Ardi menyuapi jeruk juga pada Atiqah.


"Pacar kamu kalah mesra, dia iri Atiq. Hahaha" Lala menunjuk wajah Ardi yang melotot ke arahnya.


"Lala..." Atiqah menggelengkan kepala.


"Ayok mas Guntur, kita pindah aja dari sini. Salak...buah salak yang belum kita ambil" memberikan wadah yang hampir penuh pada Guntur lalu menarik lengan ke arah kebun salak.


"Kok ditinggalin sih?" gumam Atiqah. Batinnya berteriak tidak mau ditinggal hanya berdua dengan Ardi.


"Yaudahlah, biarin aja mereka. Kita metik yang lainnya lagi" Ardi menarik Atiqah ke kebun lain.


Lala berdiri memperhatikan Guntur yang sedang memanen salak. "Hati-hati mas Guntur" ucap Lala.


"Enak banget ya punya kebon segede gini. Mau apa aja tinggal petik. Fresh lagi...Ah sejuknya" Lala memutar mutar tubuhnya menikmati udara sejuk.


Guntur tersenyum sambil terus membersihkan salak yang terkena tanah.


"Udah salaknya mbak" Guntur mengangkat satu wadah lagi yang penuh dengan salak.


"Cepet banget. Keren ih mas Guntur" mengangkat dua jempolnya ke udara.


"Sudah biasa mbak" jawab Guntur santai, mengangkat wadah yang penuh dengan salak. Sedangkan Lala membawa satu wadah lainnya.


"Kita balik aja deh mas. Udah penuh, mana berat banget" Lala berjalan perlahan.


"Iya mbak. Nanti dibagi aja sama mbak Atiqah" Guntur berjalan cepat meninggalkan Lala.

__ADS_1


"Kok ditinggal sih mas?" teriak Lala.


"Saya taruh ini dulu didepan. Saya langsung balik lagi mbak" jawab Guntur sambil berteriak dan terus mempercepat langkahnya. Lala memilih meletakkan wadah dan menunggu Guntur datang.


"Udah cukup buahnya, kita balik ke depan aja. Siapa tau Lala sama mas Guntur udah nungguin" Atiqah selalu tergesa-gesa jika hanya berduaan dengan Ardi.


"Kamu kenapa sih kalo berduaan gini maunya cepet-cepet?" Ardi mengikuti langkah Atiqah yang sudah mendahuluinya.


"Udah mau siang, matahari udah mau naik" ucapnya tanpa berbalik terus berjalan melewati deretan pohon buah naga.


Ardi mengatupkan mulutnya, diam seribu bahasa. Merutuki Atiqah. Awas aja nanti malam. Aku bikin kamu gak berkutik.


"Ya ampun La, banyak banget buah yang kamu petik" Atiqah menganga melihat dua wadah penuh milik Lala.


"Ini buat stok dirumah, lumayan kan ngemil sehat. hehehe" Lala meringis.


*****


Sore hari setelah beristirahat, Guntur kembali melajukan mobil turun ke arah tengah kota. Lala memberi ide pada Atiqah dan Ardi jalan-jalan ke Malioboro.


"Pasti seru banget jalan-jalan di Malioboro. Aku mau beli pernak pernik, baju, tas. Ahh...mau semuanya" Lala terus mengoceh disebelah Atiqah.


Perjalanan sedikit terhambat oleh padatnya lalu lintas di jam pulang kantor. Ya, kalau di Jogja jam pulang kantor pukul 5 sore. Berbeda dengan di ibu kota yang lebih larut lagi.


"Banyak maunya..." celetuk Atiqah.


"Tenang aja, beli apa aja yang kamu mau La. Kamu juga Yang. Aku yang bayarin" ucap Ardi duduk disamping Guntur.


"Serius kak Ardi? --Ardi mengangguk-- Yeay...shopping, shopping kita" berdorak sorai menepuk nepuk bahu Atiqah.


"Seneng banget sampe segitunya. Sakit La...jangan mukul terus" Atiqah mengusap bahunya.


"Pasti dong! gak sia-sia aku ikut ke Jogja. Bisa shopping gratis juga bisa kenal mas Guntur. Hihihihi" menutup mulutnya, cekikian. Guntur manggut-manggut tersenyum kecil melihat dari spion tengah, tapi yang dilihatnya bukan Lala melainkan Atiqah.


"Habis dari Malioboro kita makan di Raminten" Ardi mengatakan pada Guntur. "Siap mas"


"Raminten itu yang unik, nyentrik, tempat hitsnya di Jogja kan" Lala sudah dulu mencari tau segala hal tentang Jogja sebelum terbang hari minggu kemarin.


"Iya mbak, makanannya juga enak dan murah. Harganya jauh beda sama di Jakarta" terang Guntur.


"Eh daripada kalian berdua susah ngobrolnya, mending tuker aja. Udah dibilang tadi didepan aja malah ngeyel" gerutu Ardi.


"Gak usah, Lala sini aja sama aku" Atiqah menahan lengan Lala. Ardi menyandar dan memejamkan mata. Susah sekali berduaan dengan Atiqah pikirnya.


Setelah perdebatan soal tempat duduk, suasana di dalam mobil hening. Hanya lagu-lagu yang terdengar dari radio siaran lokal.


"Udah sampe" bisik Lala pada sahabatnya. Ingin rasanya menikmati jalan sore di Malioboro tapi mendadak keadaan menjadi kikuk.


"Ah gak asik banget kalo pada diem-dieman gini" Lala menyindir Ardi dan Atiqah.


"Ehemm..." Ardi berdehem lalu membuka pintu mobil, turun.


"Aku sama Atiqah, mas Guntur sama kak Ardi dibelakang jadi bodyguard kita ya?" langsung menarik Atiqah berjalan menyusuri pinggiran Malioboro yang menyambut mereka dengan berbagai macam jualan yang dijajakan.


"Kita beli gelang couple, harus! --memilih dua pasang gelang-- ini buat aku sama mas Guntur, yang ini buat kamu sama kak Ardi" Lala memberikan gelang itu dan langsung memakainya. Guntur oke-oke saja. "Pakai dong!" menyenggol lengan Atiqah. Ardi memberikan satu lembar uang berwarna merah.


"Yang...sini tangannya" ucapan Atiqah membuat Ardi terkejut. Baru kali ini Atiqah memanggil dengan sebutan itu. "Sini...malah bengong"


"Hah?? ah iya iya" Ardi mengulurkan tangannya, Atiqah memasukkan gelang lalu menarik talinya agar pas di pergelangan tangan.


"Bagus kan pilihan aku?" Lala memamerkan gelang di tangannya.


"Iya bagus, yuk cari yang lain lagi?!" Atiqah membiarkan Lala dan Guntur berjalan didepan. Ia meraih tangan Ardi, bergenggaman tangan berjalan sambil melihat barang-barang mana yang akan dibelinya.

__ADS_1


Dua jam berjalan kaki memilih lalu membeli banyak barang membuat mereka lupa. Mereka sudah sampai di ujung jalan Malioboro.


"Ya ampun, pegel kakiku. Ternyata kita udah jalan sejauh ini. Kayaknya aku gak bisa jalan lagi balik kesana mas Guntur. Kakiku rasanya mau putus" Lala menarik bangku plastik milik padagang baju batik tanpa permisi.


"La, itu kursi orang. Jangan ngasal ambil" Atiqah menepuk bahu Lala.


"Gak papa, pasti boleh. Aku capek. Mas Guntur...aku capek" merengek pada Guntur, yang direngeki hanya tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya.


"Alesan aja kamu. Kamu pengen digendong mas Guntur kan?! tadi belanja macem-macem gak berasa pegel. Giliran udah sampe sini, ngeluh" cerca Ardi.


"Udah...udah. Kita balik ke parkiran naik itu aja --menunjuk ke arah delman-- kayaknya asik deh. Aku belum pernah naik Yang" Atiqah menggoyangkan lengan Ardi. Ardi senang bukan main, Atiqah kembali dekat padanya.


"Boleh...ide bagus. Mas Guntur yang ngomong" Guntur sigap, langsung mendatangi kusir delman dan berbicara untuk menawar biaya yang harus dibayarnya sampai ke parkiran.


Karena jalan Malioboro satu arah, delman itu harus memutar jalan melewati jalan kecil lalu berbelok ke jalan Mataram.


"Udah beres mas, ayok naik?!" Guntur memanggil Ardi. Lala dan Atiqah ikut mendekati delman, naik satu persatu.


"Wah...asik banget ternyata naik delman. Ademmm" oceh Lala.


"Iya...aku juga baru pertama kali naik ini. Kalo mas Guntur pasti udah sering ya?" Atiqah bertanya pada Guntur yang duduk berhadapan dengan Ardi. Ardi melirik Atiqah, lagi-lagi cemburu.


"Gak sering mbak tapi pernah beberapa kali" jawab Guntur menatap Atiqah lekat. Ardi langsung menggenggam tangan Atiqah didepan Guntur, bermaksud membuat asisten kakeknya itu iri. Guntur tersenyum kecil sambil mengangguk-anggukan kepala.


Keempatnya kembali berada di dalam mobil ke arah tempat makan Raminten di daerah Kota Baru. Hari sudah malam, perut sudah pasti ingin diisi.


Lala terus saja terpana melihat dekorasi Raminten dan juga pelayan disana. Karena pelayan disana memakai kemben dan jarik tanpa alas kaki. Dan menu makanannya juga terbilang unik. Tradisional banget.


"Lala kalap, makan segitu banyak Yang" Atiqah berbisik pada Ardi. Suara alunan gending jawa memenuhi area tempat makan.


"Biarin aja. Bentar lagi juga tepar di mobil, kekenyangan" Ardi dan Atiqah tergelak. Guntur yang tidak tahu obrolan apa yang dibicarakan hanya diam dan sesekali tersenyum. Sedangkan Lala menyandarkan punggung pada pagar kayu dibelakangnya.


"Tuh kan...udah tanda-tanda mau tepar dia" Atiqah kembali berkata pada Ardi.


"Iya Yang...biar nanti mas Guntur aja yang gendong. Biar seneng dia" lagi lagi Atiqah dan Ardi tertawa.


"Apaan sih? ketawa mulu daritadi. Ngetawain aku ya? Astaga...kenyang banget. Aduh mas Gunturrr...--Atiqah mencubit pinggang Ardi agar melihat tingkah Lala-- aku gak kuat jalan. Gendoonggg"


Buahahaha....Atiqah dan Ardi tertawa keras lalu menyingkir, berjalan cepat ke arah kasir membayar semua pesanan. Meninggalkan Guntur dan Lala di dalam.


Sambil menunggu Lala dan Guntur, Ardi mencium Atiqah di dalam mobil. Suara cecapan keduanya terdengar di telinga masing-masing.


"Udah ya, cukup" melepas ciumannya lalu memeluk Ardi, mengusap lengan kekasihnya agar lebih tenang.


"Tunggu aku nanti malam dikamar" Atiqah diam tidak berkomentar, semakin memeluk erat Ardi.


Lala benar-benar digendong Guntur sampai kamar. Atiqah mengurus sisanya. Sedangkan Ardi sudah masuk ke dalam kamar. Membersihkan diri bersiap untuk menepati ucapannya pagi tadi. melampiaskan hasratnya yang tertunda.


"Yang..." tok tok tok. Ardi mengetuk pintu kamar Atiqah. Sepi, sunyi tidak ada sahutan. Ardi menekan pegangan pintu dan kamar Atiqah kosong. Kekasihnya tidak ada di dalam kamar.


"Sial!!" Ardi mengepalkan tangannya. Merogoh bungkus persegi berwarna biru, melemparkannya ke lantai. Dengan hati kesal, Ardi kembali ke kamarnya.


Ya, Atiqah ada di kamar Lala. Mengunci pintu dari dalam. Cara aman agar tidak bertemu Ardi malam ini.


Bersambung...


*****


Bab terpanjang pertama kali yang aku bikin. 1800an kata. Ini hampir bisa jadi 2 bab, tapi aku jadiin satu biar puas bacanya.


Met malam minggu guys...


Rate bintang 5, like, komen sama giftnya jangan lupa ya.

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2