ATIQAH

ATIQAH
Bab 91 : Quality Time (2)


__ADS_3

Ardi kembali merasakan kehangatan bersama Atiqah malam itu, setelah pulang dari shopping. Aziel sudah terlelap dalam box bayi.


"Yang, aku masih bisa lagi," ucap Ardi pada Atiqah. Mereka baru saja merasakan pelepasan yang pertama.


"Hah?? lagi?" Ardi mengangguk lalu menarik dua kaki Atiqah ke pinggir ranjang.


"Yang, nggak tau kenapa aku naf*su banget lihat kamu. Pengen nambah terus," Ardi melilitkan lidahnya ke inti tubuh Atiqah.


Atiqah menjerit lalu menutup mulutnya sendiri. Menggigit bawah bibirnya, menahan rasa geli dan nikmat yang bercampur menjadi satu.


"Yang, udah ..." Atiqah mengiba, ia tak sanggup menahan lebih lama lagi.


Ardi langsung menghujamnya dalam lalu menghen*taknya cepat. Atiqah meremas seprai sampai kusut. Rasanya seperti melayang ke atas awan.


Ardi menindihnya, kedua kaki Atiqah ia lilitkan ke pinggang lalu menekan kepala Atiqah. Kemudian merengkuhnya sambil terus bergerak.


"Emm ... ah, ah," desa*han Atiqah terdengar di telinga kiri Ardi. Ardi membungkamnya dengan luma*tan yang meng*gairahkan.


"Aku udah mau keluar, Yang," ucap Ardi tak jelas.


Atiqah mengangguk, "Aku juga," ucapnya sama tidak jelas.


Ardi melepaskan semua sampai terasa sudah habis, lalu menjatuhkan badannya ke samping. Mengatur nafas kemudian memeluk Atiqah, mencium keningnya lekat.


"I love you ..." ucap Ardi.


"I love you too ..." Atiqah membalas ucapan Ardi.


Hingga pagi menjelang keduanya masih tertidur dalam keadaan telan*jang. Sampai terdengar tangisan yang cukup nyaring dari arah box bayi. Atiqah terbangun lalu memunguti pakaiannya, memakainya dengan cepat lalu menghampiri Aziel.


"Ya ampun, maafin ibu nak. Ibu ketiduran, nggak sempet gantiin popok kamu," mengangkat Aziel, memindahkannya ke atas tempat berganti popok.


Atiqah dengan telaten mengganti popok lalu membawa Aziel ke ranjang. Membaringkan bayinya disamping Ardi yang masih tertidur.

__ADS_1


"Anak ibu nyusu dulu ya," ucap Atiqah sembari menyodorkan pu*tingnya ke bibir Aziel. Putranya itu langsung melahap dan menyusu. Atiqah menepuk-nepuk bokong Aziel.


"Kamu udah bangun?" tanya Ardi, memiringkan badannya menghadap Atiqah yang sedang menyusui Aziel.


"Baru aja. Tadi Ziel bangun, nangis. Aku lupa gantiin popoknya, saking aku capek banget," ucap Atiqah sambil memejamkan matanya. Kantuknya melanda. Badannya terasa remuk, butuh pijitan.


"Masa sih capek banget? padahal pagi ini aku mau ajakin gituan lagi. Kamu harus mau," ucap Ardi, menyibakkan selimut lalu berpindah posisi di belakang Atiqah.


"Jangan lagi! aku capek. Masih ada waktu. Kamu lama kan disini?" tanya Atiqah. Ardi sedang mengendus aroma tubuhnya, satu tangannya sudah meremas bokong Atiqah.


"Aku nggak banyak waktu. Aku mau kuliah ke Amerika," ucap Ardi. Atiqah terkejut lalu lama terdiam.


"Kamu udah lulus?" tanya Atiqah.


"Udah 2 minggu yang lalu," jawabnya singkat. Ardi menaikkan daster sebatas pinggang lalu menurunkan underware dengan kakinya.


"Kenapa kamu nggak kasih tau aku? aku kan ... ah," pertanyaan Atiqah tidak dijawab Ardi. Ardi sudah memasukinya lagi setelah kaki kanannya di angkat ke atas.


"Nggak papa, sambil nyusuin kan bisa," ucap Ardi lalu fokus menikmati pagi itu dengan pelepasan yang terasa sempurna.


Ardi menggendong Aziel sambil menggandeng Atiqah menuju ke ruang makan. Anne, Melda dan Ryan sudah bersiap di sana. Namun pagi itu, Guntur mengantar Subroto bersama Ani untuk check up ke rumah sakit.


"Maaf semua, kami sedikit terlambat," Atiqah merasa sungkan pada Mama mertuanya.


"Nggak papa, sini duduk. Ziel sama Oma," Anne menarik kursi disebelahnya untuk diduduki Atiqah, lalu ia meraih tubuh Aziel, menggendongnya.


"Aduh, cucu Oma udah mandi, udah wangi. Ikut sama Oma aja ya nak. Biar Oma nggak kesepian dirumah," ucapan Anne mengganggu pikiran Atiqah. Semua tidak ada yang menanggapi.


"Mama sudah makan? biar Aziel sama Atiqah dulu," Atiqah langsung merebut Aziel dari gendongan Anne. Anne merengut.


"Aku ke kamar dulu," pamit Atiqah pada Ardi. Ardi langsung bangkit, mencibir pada ibunya soal ucapan tadi. Mbok Jum menggelengkan kepala, ia mendengar semuanya.


"Yang, tunggu ... tunggu aku. Jangan ngambek gitu dong," Ardi mengejar Atiqah lalu menahan lengannya.

__ADS_1


"Apa? aku mau ke kamar. Aku mau pumping," Atiqah beralasan. Ia masuk ke dalam kamar, membaringkan Aziel ke atas bouncer otomatis yang bergerak mengayun.


"Kenapa harus di pompa? kan bisa langsung nyusuin," Ardi duduk di samping Atiqah. Atiqah sedang menyiapkan peralatan lalu membuka bagian dada sebelah kanan.


"Payudara aku keras kalau kelamaan nggak di pumping. Aziel harus dapat ASI dari aku, ibunya. Aku susah payah hamil, melahirkan, menyusui, begadang juga. Terus denger Mama ngomong begitu, hatiku sakit. Sakit banget. Lebih sakit dari kamu yang nggak pernah nemenin aku selama ini. Kamu sibuk, nggak ada kabar. Berkali kali aku kirim pesan, video nggak pernah kamu balas. Aku berjuang sendiri dan seenaknya Mama mau bawa Aziel ke Jakarta. Kalo Aziel ke Jakarta, harus sama aku juga!" ucapan Atiqah yang begitu panjang dan penuh dengan emosi itu ditanggapi Ardi dengan pelukan.


"Maaf, maafin aku. Mama cuma asal ngomong aja," Ardi mengusap punggung Atiqah.


"Aku nggak bisa hidup tanpa Ziel. Dia kekuatanku. Aku masih bisa kaya gini semua berkat Aziel. Aku nggak tau gimana nanti kalau Aziel nggak sama aku, ibunya," Atiqah meletakkan alat pumping lalu menangis di pelukan Ardi. Ardi mengangguk angguk lalu menggaruk pelipisnya.


Aziel akhirnya tertidur di atas bouncer, Atiqah memindahkannya ke box bayi.


"Sampai kapan kamu di Amerika? kamu tega tinggalin aku sama Ziel disini, berdua aja? Amerika itu jauh. Apa nggak bisa kuliah di sini aja?," tanya Atiqah. Ia kembali memeluk Ardi di atas sofa.


"Sampai kuliahku selesai. Ini semua juga demi kamu juga Ziel. Kamu tau kalau aku pewaris perusahaan keluarga. Jadi, aku harus punya bekal. Supaya para direksi nggak ngeremehin aku," Ardi membelai rambut Atiqah.


"Iya aku tau, tapi aku sama Ziel nggak bisa jauh dari kamu. Aku pasti kangen banget," Atiqah memegang rahang Ardi lalu mengusapnya.


"Pasti bisa," jawab Ardi, menangkap tangan Atiqah yang membelai dagunya tadi lalu mengecupnya.


"Malam nanti kita pergi lagi bertiga? aku mau ajak kamu makan malam. Cuma kita bertiga," Ardi kembali memeluknya. Pikir Atiqah, Ardi melakukan semua karna suaminya itu akan segera pergi ke Amerika.


Di saat mereka sedang di kamar, suara ketukan terdengar. "Ardi, ini Mama. Boleh Mama masuk?" suara Anne terdengar setelah mengetuk pintu dua kali.


"Mama ... mau apa?" tanya Atiqah, Ardi mengedikkan bahunya.


Ardi melepaskan pelukannya, berjalan ke arah pintu. "Iya Ma, ada apa?" tanyanya setelah membuka pintu untuk Anne.


"Kita berangkat sekarang," ucapnya berbisik. Ardi menatap mata Anne penuh tanda tanya. Ini diluar rencana mereka.


Anne membisikkan lagi sesuatu pada Ardi. Ardi mengangguk lalu menghampiri Atiqah, memeluknya. "Maaf, kami harus pergi sekarang. I love you ..." Atiqah diam mematung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2