ATIQAH

ATIQAH
Bab 61 : Kembali ke Yogyakarta


__ADS_3

Ardi memilih menaiki kereta api menuju Jogja siang hari setelah sah mengucap janji. Pukul 11.45 jadwal keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Yogyakarta.


Tanpa diantar ayah dan ibunya, hanya dengan Sigit yang saat ini sudah menjadi ayah mertua bagi Atiqah.


"Hati-hati" ucap Sigit singkat lalu kembali melajukan mobilnya. Sigit hanya mengantarkan sampai didepan stasiun.


Perjalanan yang cukup melelahkan untuk Atiqah yang sedang berbadan dua. Rasa mual dan harus duduk selama 8 jam cukup menyiksa.


Atiqah menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Ardi, memeluk lengan, menautkan jemari. "Aku masih nggak nyangka kita sekarang ke Jogja dengan status suami istri. Padahal baru kemarin kita kesana. Apa Eyang nggak marah? aku takut" mendongak menatap Ardi.


Ardi mengangguk, tersenyum. Baginya, ia sudah memprediksikan status mereka saat ini. Tujuan Ardi tercapai, menjadikan Atiqah miliknya.


"Kita pikirkan nanti aja. Sekarang istirahat, kamu pasti capek" mengusap punggung tangan Atiqah digenggaman.


"Aku nggak bisa tidur. Nggak nyaman. Sekarang udah dimana? masih lama?" Atiqah menegakkan tubuhnya melihat pemandangan sawah.


"Aku juga nggak tau udah sampai mana. Baru sekali ini aku naik kereta" jawaban Ardi ditanggapi dengan pukulan dilengannya.


"Astaga"


*****


Ardi menggenggam tangan Atiqah erat. Mereka baru saja turun dari taksi. Ardi sudah menyiapkan diri menghadapi Subroto. Kakek yang selalu mendukungnya tapi untuk urusan menghamili pacar, Subroto jelas marah besar.


Kota dan rumah yang baru sebulan lalu mereka sambangi, malam ini mereka berdiri tepat didepan gerbang tinggi rumah Eyang Subroto.


"Den Ardi" sapa penjaga rumah.


"Eyang sudah tidur?" tanyanya melangkah masuk setelah gerbang dibuka sebagian.


"Sepertinya belum den" jawabnya, menutup gerbang kembali.


Keduanya berjalan lagi sampai di pintu utama. Berjalan masuk melewati kolam ikan di sisi kanan dan kiri.


Terlihat Subroto dan Guntur duduk di meja makan. Mereka sedang membahas pekerjaan sambil minum kopi.


Mata Guntur menatap Atiqah lalu menatap Ardi.


"Eyang" Ardi menyapa. Subroto memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Ardi? Atiqah?" Subroto bangkit dari duduknya.


Keduanya mencium tangan Subroto. Kakek tua itu menatap heran dan menemukan sesuatu yang janggal. Ardi menggenggam tangan Atiqah. Atiqah terus menunduk.


"Kenapa nggak bilang dulu sama Eyang kalau mau kemari? --menatap Ardi-- ada sesuatu?" Subroto mulai menyelidik.


"Maafin Ardi Eyang --bersimpuh di kaki-- Ardi salah" ucapnya masih sujud di kaki Subroto. Subroto mengangkat bahu cucunya.


"Ono opo to lรจ? (ada apa)" tanya Subroto. Atiqah masih enggak mengangkat kepalanya.


"Atiqah hamil Eyang. Atiqah hamil anak Ardi" pengakuan Ardi membuat Subroto meradang.


"APA?? bangun kamu!" Subroto berteriak. Mbok Jum yang sedang membersihkan dapur sampai menjatuhkan gelas yang baru saja ia cuci.


"Eyang ... sabar Eyang" Guntur menahan Subroto yang akan melayangkan tongkatnya, siap memukuli Ardi. Atiqah reflek memeluk Ardi, melindungi suaminya.


"Jangan Eyang, jangan pukul Ardi" ucap Atiqah. Subroto membuang tongkatnya.


"Kalian berdua masih muda. Dimana pikiran kalian? HAH??" Subroto kembali berteriak lalu terduduk pada kursi yang Guntur geser.


"Maaf Eyang ... maaf" Atiqah menunduk dan terus menangis.


"Jum ... air" Subroto meminta air minum pada mbok Jum. "Wes minggiro kono (sudah pergi sana) --mengibaskan tangan-- Tur, anterono ning paviliun (Guntur, antarkan ke paviliun)" titah Subroto pada Guntur.


"In**ggih Eyang" Guntur membungkukan badan lalu mengantarkan Ardi dan Atiqah ke paviliun.


Atiqah berjalan sambil terus memandang Ardi dan jalan setapak bergantian. Mereka sama-sama diam. Bingung mengartikan sikap Subroto. Apa kakeknya itu sudah tidak marah atau bagaimana? Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Silahkan Mas, Mba" ucap Guntur setelah membuka pintu yang terkunci. Atiqah malu menatap Guntur.


"Yang ..." Ardi membawa Atiqah masuk lalu menutup pintu. "Kamu laper?" tanya Ardi setelah meletakkan tas dan koper di dekat lemari.


"Iya, tapi ... aku sungkan sama Eyang" Atiqah duduk di tepi ranjang, Ardi mendekat merangkul lalu mengecup kepala sebelah kiri.


"Mau makan apa? biar aku yang ke dapur" ucap Ardi, mengusap perut Atiqah. Atiqah merasa semakin sayang dan cinta pada Ardi. Suaminya berubah.


"Apa aja, yang penting makan. Nggak enak juga kalo minta macem-macem. Udah malem, entar ngerepotin mbok Jum. Kasian simbok sudah tua" ucapnya lalu memeluk Ardi.


"Oke ... coba aku cek di dapur ada makanan apa. Kamu tunggu sini. Istirahat dulu" mengusap pipi.

__ADS_1


Ardi ke dapur dan berpapasan dengan Guntur. Subroto sudah masuk ke kamarnya setelah diantar Guntur.


Ardi hanya membalas senyuman Guntur dengan anggukan. Ia terus berjalan ke arah dapur. Ternyata mbok Jum sudah kembali ke kamarnya juga. Ardi bebas mengecek isi dapur.


Sepeninggal Ardi ke dapur, Atiqah memilih untuk mandi. Badannya terasa lengket.


"Yang ..." Ardi masuk membawa satu mangkuk sup ayam, satu piring nasi dan teh hangat. Atiqah masih di dalam kamar mandi. Suara gemricik air dari shower terdengar. Ardi memutuskan untuk bergabung, badannya juga terasa lengket.


"Kok masuk?" Atiqah menutup dada dan bagian bawah dengan tangannya.


"Ya mau mandi lah. Emang mau ngapain? --melepaskan pakaian-- Kenapa ditutupin gitu? udah sering lihat kan?" Atiqah bergeser saat Ardi mendekat dan berdiri di bawah guyuran shower yang menyala.


Atiqah masih diam mematung menatap tubuh polos Ardi, menelan ludahnya. Tapi mendadak perutnya berbunyi. Rasa lapar membuyarkan pikiran joroknya. Ardi tersenyum dibalik air yang mengalir dari atas kepalanya.


Atiqah menyambar handuk di gantungan, mengeringkan badan lalu melilitkannya. Keluar dari kamar mandi.


"Huft ...." menghela nafasnya.


Matanya berbinar melihat makanan di atas meja. Atiqah buru-buru membuka koper, mengambil baju tidur beserta dalaman dan langsung memakainya.


Atiqah dengan lahap memakan sup ayam dan nasi diatas piring hingga tersisa setengah porsi.


Ardi selesai mandi. Atiqah tertegun melihat dada Ardi yang setengah basah dan hanya memakai handuk yang dililitkan ke pinggangnya.


"Ngeliatin apa lagi sih? sampe segitunya. Habisin makannya Yang ... nanti malem kamu yang aku makan" bisik Ardi lalu mengecup cuping telinga. Atiqah meremang, bergidik, merinding.


"Ih apa sih. Pakai baju sana" mendorong Ardi. Ardi tertawa keras. Atiqah melanjutkan makannya sampai benar-benar habis.


"Enak supnya?" tanya Ardi, memeluk Atiqah yang bersandar di sofa sambil mengusap perut rata istrinya.


"Enak banget. Tapi mungkin karena udah kelaperan jadi rasanya enak banget --meringis-- kamu nggak makan?" tanya Atiqah. Ia belum melihat Ardi makan sejak dikereta.


"Laper sih, tapi mau cium kamu dulu" menarik dagu Atiqah, mengecupnya tiga kali lalu berakhir melumatt sedikit lama.


"Mau temenin ke dapur nggak? temenin aku makan. Biar nggak bolak balik" Atiqah mengangguk setuju. Ardi meraih tangan Atiqah, keluar paviliun.


Guntur memperhatikan sepasang suami istri baru itu dari teras kamarnya. Pandangannya tak pernah ia alihkan dari Atiqah. Ada rasa terkejut dan cemburu saat tahu mereka sudah menikah dan Atiqah sedang hamil.


"Aku masih ingat ciuman waktu itu" gumamnya sambil terus menatap Atiqah sampai hilang masuk ke dalam ruang makan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2