ATIQAH

ATIQAH
Bab 15 : Menautkan Rasa (2)


__ADS_3

Baru kali ini Atiqah merasakan bagaimana rasanya berciuman. Awalnya mereka hanya saling menempelkan bibir, tetapi ada dorongan lebih dalam diri yang kian menekan. Jemari Ardi terus menekan tengkuk Atiqah. Kedua bibir masih beradu, mencecap rasa manisnya ciuman lembut.


Dua tangan Atiqah, Ardi kalungkan ke lehernya. Suara desahan keluar dari bibir Atiqah di sela-sela ciuman. Satu tangannya mengusap punggung tanpa melepas tautan bibir, menerobos masuk ke dalam baju babydoll bunga-bunga.


"Aku mau" ucap Ardi. Tangannya sudah meremas dada Atiqah. Ardi membuka 3 kancing baju babydoll itu. Me*****t puncak dada merah muda bak buah ceri. Atiqah mendongakkan kepalanya, meremas belakang kepala Ardi yang masih me***ulum dan sesekali menggigit kecil hingga Atiqah menjerit lirih.


Kedua mata mereka saling beradu, Ardi menekan tuas jok mengubah duduknya sedikit mundur menyamankan posisi. Atiqah dan Ardi melupakan dimana mereka berada. Terus melanjutkan cumbuan-cumbuan yang memabukkan.


Tanpa aba-aba Ardi mengarahkan tangan pacarnya itu berada di atas kelelakiannya. Mata Atiqah membulat, ia seperti kembali tersadar. Betapa malunya melihat kondisinya saat ini begitu kacau. Satu dadanya terlihat tak terbungkus apapun dan banyak tanda merah yang Ardi buat.


Atiqah melepas pagutannya, menutup dadanya.


"Kenapa?" suara parau Ardi. Miliknya yang sudah menegang kembali menciut.


"Arghh..." Atiqah bingung dan akan berpindah kembali ke jok semula. Ardi menahan pinggang Atiqah.


"Maaf...aku yang salah. Jangan marah...ya?!" memeluk Atiqah.


"Salah, kita salah. Kita gak boleh gini. Kita masih SMA dan blm menikah" Atiqah memejamkan matanya saat mengatakan itu. Pikirannya kembali pada ayah dan ibunya yang masih berada di rumah sakit.


"Iya, aku tau. Kalau gitu, kita jangan ulangi lagi. Sampai kita bener-bener nikah" Atiqah mengangguk setuju dengan ucapan Ardi. Baru saja mereka menjadi sepasang kekasih tapi ucapan barusan begitu yakin hubungan itu akan berakhir ke pelaminan.


Atiqah kembali duduk di kursinya, samping Ardi. Membenarkan pakaian lalu memakai lagi jaket denimnya. Sedangkan Ardi membenarkan posisi joknya. Suasana kembali hening. Timbul kecanggungan diantara mereka. Atiqah menggigit bibir bawahnya, menatap lampu diluar jendela.


"Emm...kamu udah makan?" tanya Ardi mencairkan suasana. Atiqah menoleh, lalu menggelengkan kepala. "Pas banget, aku juga laper. Mau makan apa?" tanya Ardi lagi.


"Apa aja boleh, tapi jangan lama-lama. Kasian Robi sendirian dirumah"


"Oke, nanti bungkus juga buat Robi" Ardi melajukan mobilnya meninggalkan pantai.

__ADS_1


Dua porsi nasi goreng siap di atas meja warung tenda dimana Atiqah dan Ardi yang sudah duduk menunggu di kursi plastik berwarna biru.


"Selamat makan" ucap Ardi tersenyum.


"Selamat makan" balas Atiqah tersenyum.


Nasi goreng sudah selesai mereka nikmati, satu porsi yang dibungkus juga sudah ditangan Ardi. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil. Ardi memutuskan untuk mengantarkan Atiqah pulang karena hari yang sudah semakin larut.


"Makasih buat nasi gorengnya" ucap Atiqah, mengangkat bungkusan itu setelah melepas seatbeltnya.


"Sama-sama. Besok aku jemput kaya biasanya, sore aku anter ke rumah sakit lagi. Good Nite yang, mimpiin aku ya?" Ardi mengecup punggung tangan Atiqah.


"Iya...Selamat malam juga. Mimpi indah. Hati-hati dijalan, jangan ngebut dan pulang ke rumah!" ancamnya.


"Iya iya, aku pulang ke rumah kok. Gak kasih kecupan lagi?" memiringkan pipinya.


"Sepi, gak ada yang liat. Makanya buruan" Atiqah memajukan tubuhnya, condong ke arah pipi Ardi.


"Mmmm...." Ardi menarik tengkuk Atiqah dan langsung kembali ******* bibir kekasih barunya itu. Tangannya kembali meremas dada Atiqah dari balik jaket denim yang dikancingnya full tadi.


"Udah...besok aku jemput. Ganti celana kamu, pasti basah" ledek Ardi. Karna miliknya pun berkedut ingin segera dituntaskan, di kamar mandi tentunya.


"Apa yang basah? ih...enggak. Gak ada yang basah" Atiqah malu, menyangkalnya. "Kamu curang, katanya cium pipi trus kenapa jadi cium bibir? plus remes-remes? duh...kalo ada yang liat tadi, mati aku!" menepuk jidatnya.


"Gak ada yang liat. Kaca mobilku gelap. Gak tau kenapa bibir kamu bikin candu. Gak papa kan kalo cium? asal gak sampe begituan" tanya Ardi gamblang.


"Stop! jangan vulgar gitu. Aku gak mau jawab. Yaudah, aku turun. Hati-hati, nanti kabarin kalo udah sampe rumah" Ardi mengangguk lalu Atiqah membuka pintu mobil. "Bye..." melambaikan tangannya.


"Bye ayang..." balas Ardi. Atiqah langsung berlari masuk ke dalam rumah. Hatinya berdebar, dan benar saja ucapan Ardi. Miliknya basah, tidak nyaman.

__ADS_1


"Dek, ini ada nasi goreng. Dimakan dulu trus baru tidur" membangunkan Robi yang sudah tidur didepan televisi dikasur lipat.


"Mba lama banget. Kemana? pasti gak sama Mba Lala. Pasti pacaran" Robi bangun sambil mengucek dua matanya menghampiri nasi goreng di meja makan.


"Ssttt...gak usah banyak komentar dek. Dimakan nasi gorengnya" Atiqah masuk ke dalam kamar, memasukkan satu dalaman ke saku celana dan kembali keluar, masuk ke dalam kamar mandi. ****** ******** benar-benar basah dan lengket. Sialnya Atiqah kembali meremang saat mengingat kejadian tadi di pinggir pantai. Pengalaman pertama berciuman dan juga bercumbu.


Atiqah kembali membuka tiga kancing bajunya, tanda merah itu ia usap lembut seraya menggigit bibir bawahnya. Puncak dadanya yang dihisap Ardi ia raba, kembali mengingat rasa nikmat itu. "Mmm...Ardi" Atiqah menyebut nama Ardi.


"Ternyata senikmat itu" gumam Atiqah berkata pada dirinya sendiri didepan cermin kamar mandi.


Sedangkan Ardi, buru-buru ia masuk ke dalam kamarnya. Mengunci dan masuk ke toilet pribadi. Menuntaskan yang ia tahan sedari tadi. Membayangkan hal yang terjadi di dalam mobil. Jujur, bagi Ardi juga pengalaman pertamanya bercumbu. Kalau berciuman dengan mantan-mantannya sudah sering ia lakukan tapi lebih dari itu, tidak. Dan sensasi bercumbu di dalam mobil bukanlah hal yang buruk. Adrenalin jiwa remajanya mencuat.


"Argh...mana kenyal banget. Manis. Shit!!" Ardi mengumpat dan terus menuntaskan rasa yang sebentar lagi akan meledak.


Di atas tempat tidur, Atiqah dan Ardi sama-sama gelisah. Memejamkan mata untuk menjemput kantuknyapun tak berhasil. Bayangan bercumbu tadi masih terus terlintas di pikiran. Sulit rasanya untuk melupakan.


"Aku bisa gila!!!! Argh...." Atiqah menutup wajahnya dengan bantal.


"Shit!! bangun lagi. Come on dude, ini udah tengah malam. Jangan bangun lagi!" Ardi mengumpat ke arah miliknya yang kembali menegang.


Malam ini, malam yang panjang untuk keduanya. Selamat begadang Atiqah, Ardi 😄😄😄


Bersambung....


******


Lumayan gerah gak? 😁😁😁


Jangan lupa rate bintang 5, like, komen dan giftnya sayang2ku 😚🥰😘

__ADS_1


__ADS_2