
Ardi ketakutan melihat Atiqah pingsan. Ia memeluknya lalu membopong, membawa Atiqah ke lobby Restoran. Guntur dan Subroto sama-sama bergerak cepat.
Subroto diam berdiri di sebelah Ardi. Situasi tidak memungkinkan untuk memarahi cucunya itu. Sampai Guntur datang, menghentikkan mobil tepat didepan mereka.
Guntur membukakan pintu mobil. "Minggir! minggir!" ucap Ardi masih kesal dengan Guntur.
Guntur mengalah, menahan amarahnya. Saat ini yang terpenting adalah Atiqah. Wanita itu harus baik-baik saja.
"Sabar ..." ujar Subroto menepuk-nepuk punggung Guntur saat akan memutari mobil.
"Inggih Eyang," Guntur mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
Letak Rumah Sakit hanya beberapa ratus meter saja dari Restoran tadi. Dokter Arman sudah bersiap di pintu lobby. Sebelumnya Subroto menghubungi Kepala Rumah Sakit yang juga temannya.
"Brankar ... brankar," seru dokter Arman setelah pintu mobil terbuka, Ardi kembali membopong Atiqah.
"Letakkan disini. Dorong!" seru dokter Arman lagi. Mereka masuk ke ruangan khusus ibu hamil.
Dokter Arman mendengar rintihan Atiqah. "Iya mba, sampaikan saja. Saya dengarkan," Arman mendekatkan telinganya ke bibir Atiqah.
Ardi, Guntur dan Subroto menunggu di luar.
"Bagaimana bayi saya dok?" ucapan lirih dan lemah itu terdengar miris. Atiqah hanya memikirkan bayi di dalam perutnya. Meski wajah dan tubuhnya babak belur, bukan hal yang penting untuknya.
"Saya cek dulu dengan alat USG. Mba Atiqah tenang," dokter Arman mengusap lengan kiri Atiqah yang tidak terpasang selang infus.
Asisten mengoleskan gel dingin ke perut Atiqah, kemudian dokter Arman menggerakkan alatnya.
"Mba Atiqah jangan khawatir. Bayinya baik-baik saja --masih menggerak-gerakkan alat lalu menunjuk ke arah layar-- Lihat ini mba, bayinya sangat aktif. Apa terjadi benturan atau terkena gerakan yang keras?" tanya dokter Arman, ia sedang mencoba mencari tau sebabnya.
Atiqah menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak mungkin ia menceritakan bagaimana perlakuan Ardi kemarin dan tadi sore. Memasukinya dengan kasar.
"Ceritakan saja, saya mendengarkan," bujuk dokter Arman lagi. Sungguh mustahil tidak terjadi apa-apa. Datang dalam keadaan perut kram, pingsan, sudut bibir berdarah dan mata kirinya lebam. Sudah dipastikan itu adalah luka pukulan.
"Saya takut dok," Atiqah tiba-tiba kembali gemetaran.
__ADS_1
"Mba, tolong bersihkan dulu --memberikan perintah pada asisten -- Kita ngobrol setelah mba Atiqah sudah rapih," dokter Arman keluar dari tirai yang ditutup.
"Sudah dok," ucap asistennya, membuka tirai. Atiqah setengah berbaring.
"Mba, ambilkan teh hangat ya. Kasih daun mint," titah dokter Arman pada asistennya lagi.
"Baik dok,"
Dokter Arman menarik kursi, duduk di sisi kiri ranjang.
"Sudah lebih baik?" tanyanya.
Atiqah menggelengkan kepala. Tangannya masih gemetaran.
"Oke, kita tunggu sebentar," ucap dokter Arman. Menunggu asisten membawa teh hangat.
Atiqah diam, meremas kedua tangannya. Ia mencoba meredakan rasa takutnya sendiri.
"Dok," asisten dokter membawa secangkir teh hangat beraroma mint.
"Terimakasih," ujar dokter Arman lalu memberikan teh pada Atiqah. "Ini, diminum dulu. Rileks, tenang," dokter Arman membantu Atiqah saat meminum teh itu. Tangannya masih gemetaran.
"Mba, permisi. Saya bantu kompres matanya," ucap asisten bernama Maria yang tadi menyiapkan teh hangat.
"Nggak papa, saya bisa sendiri," Atiqah memegang compress bag lalu menempelkannya pada mata sebelah kiri sambil setengah berbaring.
"Setelah di kompres saya olesi salep. Sekarang sudah lebih tenang? --Atiqah mengangguk-- sudah bisa kita ngobrol?" pertanyaan dokter Arman di jawab dengan anggukan lagi.
"Maaf sebelumnya, mba Atiqah ini masih muda. Sebab apa mba Atiqah mau menikah dengan mas Ardi? selain alasan karena cinta," dokter Arman bertanya dengan sangat hati-hati.
"Emm ... saya malu dok," Atiqah menunduk menatap perutnya sambil mengusap lembut. Kramnya sudah membaik.
"Baik ... saya tau, saya mengerti. Mba Atiqah nggak perlu di ucapkan secara gamblang --Atiqah mengangguk-- Begini ... apa ada unsur pemaksaan?" dokter Arman tahu soal sebab Atiqah mau menikah dengan Ardi, karna ia mengandung terlebih dulu. Memang saat ini sudah banyak terjadi tapi dengan kondisi Atiqah yang seperti ini, membuat dokter Arman curiga. Ia ingin membantu Atiqah.
Atiqah ragu-ragu menjawabnya, "i iya dok," sesuai dugaan dokter Arman. Ada unsur pemaksaan.
__ADS_1
"Tapi ... saya cinta. Dia ayah dari bayi ini," tersenyum kecil, masih mengusap perutnya.
"Iya, saya tau mba Atiqah cinta sama suami mba. Tapi begini ... apa dia bersikap kasar?" dokter Arman mencoba menggali lagi.
Atiqah mengangguk tanpa mengatakan bagaimana kekasaran suaminya.
"Apa sering dia bersikap seperti itu --Atiqah menggelengkan kepalanya-- Emm ... beberapa hari yang lalu?" Atiqah mengangguk.
"Bentuk kekerasan yang bagaimana? apa kekerasan seksual?" Atiqah mengangguk. Tepat dugaan dokter Arman. Perut kram yang dialami Atiqah disebabkan oleh perlakuan **** Ardi yang tidak lembut.
"Saya takut dok," ucap Atiqah.
"Jangan takut. Nanti saya akan beri pengertian pada suami mba Atiqah," ucapnya berusaha menenangkan.
"Tapi saya takut dia marah lalu berbuat kasar lagi. Saya terima kalau tubuh saya disakiti tapi tidak dengan bayi saya dok. Tolong saya dokter," Atiqah memegang tangan dokter Arman, meminta pertolongan.
"Mba Atiqah mau tidak melakukan visum? ini untuk kebaikan mba Atiqah dan juga anak mba. Bagaimana?" sarannya.
Atiqah bimbang. Jika ia melakukan visum, tandanya ia akan melaporkan tindak kekerasan itu ke pihak berwajib. Visum adalah salah satu alat bukti untuk membuat Ardi mendekam di penjara. Atiqah menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau anaknya mempunyai ayah seorang narapidana. Apalagi dia lah yang menjebloskan suaminya sendiri.
"Jangan khawatir mba. Kita lakukan ini untuk berjaga-jaga. Suatu saat nanti jika mba Atiqah berubah pikiran, temui saya. Saya akan siap membantu. Hasil visum nanti, saya simpan. Bagaimana?" dokter Arman memberikan solusi terbaik. Ia tahu alasan kenapa Atiqah menolak.
"Baik dok, saya mau," akhirnya Atiqah setuju melakukan visum. Benar apa yang dikatakan dokter Arman. Suatu hari nanti bisa saja ia butuh hasil visum itu. Dan visum-visum lainnya jika Ardi terus berulang melakukan tindak kekerasan padanya.
Atiqah merasa lebih tenang. Yang terpenting, bayi dalam perutnya baik-baik saja.
Subroto melirik sinis pada Ardi yang duduk di sampingnya. Mendengar penjelasan dokter Arman soal Atiqah yang banyak pikiran dan memberi saran untuk mengurangi kegiatan **** karena akan berpengaruh pada kondisi janin. Untuk alasan ini, dokter Arman ingin melindungi Atiqah dari pola **** kasar yang Ardi lakukan.
"Baik dok, terimakasih banyak," ucap Subroto lalu berjabat tangan. Ardi pergi menuju ruang rawat inap.
"Maaf ... maafin aku Yang," Ardi menggenggam tangan Atiqah dengan berurai air mata.
"Iya, iya. Aku maafin kamu. Anak kita baik-baik aja," Atiqah tak tega melihat Ardi. Hatinya luluh. Pasti ada sebab, suaminya berlaku kasar padanya.
"Aku sayang kamu, aku cinta kamu," Ardi mencium punggung tangan kiri Atiqah.
__ADS_1
Atiqah mengangguk, "Aku yakin, pasti suatu saat nanti kamu akan berubah," memeluk Ardi dengan kedua wajah mereka yang babak belur.
Bersambung...