ATIQAH

ATIQAH
Bab 49 : Apartemen (2)


__ADS_3

"Yang, bangun --menepuk-nepuk pipi, Atiqah tertidur dalam bathup-- mandi dulu trus kita makan" masih menepuk-nepuk pipi Atiqah.


"Hah??" Atiqah terkejut, membuka matanya lebar.


"Mandi dulu Yang" menarik Atiqah bangkit berpindah, membilas tubuh yang penuh dengan peluh percintaan berjam-jam lamanya.


"Aku gak kuat jalan" berpegangan pada Ardi.


"Aku bantu. Kamu diem aja, aku yang mandiin" memapah Atiqah ke bawah shower yang sudah ia tekan.


Ardi membersihkan tubuh Atiqah dengan teliti dan telaten. Sesekali ia mengecup di bagian-bagian tertentu. Atiqah lemas tak bertenaga untuk tetap berdiri mengguyur tubuhnya. Ia ingin cepat-cepat istirahat.


"Duduk disini. Aku pesenin makanan" Ardi meraih ponselnya diatas meja, menggulir layar lalu memilih beberapa menu yang akan ia pesan.


"Udah ya. Aku mandi dulu, gak lama kok" menarik dagu Atiqah, melummatnya sebentar. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Tiba-tiba bunyi pintu apartemen berbunyi bbiippp...dan terbuka. Atiqah terlalu lelah, ia ketiduran di sofa hanya mengenakan bathrobe tanpa memakai dalamaan.


"Murahan! pela*cur! --suara cacian keluar dari mulut seseorang, lalu berteriak-- Ardiiiii....Ardiiiii" Anne mencari keberadaan Ardi di kamarnya. Atiqah kembali terkejut, membulatkan mata, menutup mulutnya.


Anne kembali syok melihat kamar putranya berantakan. Pakaian dalam, lingerie berserakan di lantai. Ia keluar lagi dan mendapati Atiqah terduduk menundukkan kepalanya.


Ardi mendengar suara mamanya langsung membuka pintu kamar mandi. Ia sama-sama memakai bathrobe. "Mama..."


Plakk...Anne menampar pipi Ardi, memukuli putranya dengan tas mahalnya.


"Stop Ma, ampun! berhenti! jangan pukulin Ardi" Ardi melindungi wajahnya dengan dua tangan. Anne sangat marah.


"Goblok kamu! Mama gak habis pikir. Apa yang ada di pikiranmu Ardi!" masih memukuli.


"Aku cinta Atiqah Ma" jawabnya masih menutupi wajah. Anne berhenti melayangkan tas mahalnya, menatap Atiqah lalu menyambar rambut, menjambaknya kuat-kuat.


"Perempuan gak tau diri! pela*cur! murahan! berani-beraninya kamu goda anak saya!" semakin meremas. Atiqah menahan tangan Anne. Tidak ada ucapan yang ia lontarkan. Semua yang dikatakan Anne memang benar.


"Mama...lepas! jangan gini Ma. Kasian Atiqah. Bisa aja sekarang dia lagi hamil anak Ardi" Ardi menahan Mamanya. Anne menoleh pada putranya, tatapan tajam kesal bercampur syok dengan ucapan Ardi.

__ADS_1


"Stupid!" tangan kanannya yang terbebas memukuli Ardi dengan tasnya lagi, sampai dahi Ardi terluka. Tangan kiri Anne masih menjambak Atiqah.


Anne belum cukup puas memukuli putranya. Ia beralih menarik wajah Atiqah dan menamparnya dua kali. "Pela*cur kamu! Lon*te!" plak...plak...


Atiqah terjerembab ke atas sofa oleh tamparan Anne yang cukup kuat dan membekas. Sudut bibirnya terluka.


Kemarahan Anne membabi buta. Barang-barang ia lempar. Melda kakak Ardi datang setelah tadi ia ke minimarket dan Anne terlebih dulu naik. Anne curiga saat ia bertanya pada pengacara keluarga yang hari ini sibuk mengurusi pembebasan seseorang yang tidak mereka kenal.


Anne melacak pergerakan mobil putranya itu sampai di Apartemen. Pikirnya mungkin Ardi ingin beristirahat sebentar tapi sudah berjam-jam dan waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam tapi putranya masih di apartemen.


Anne memutuskan mengajak Melda putrinya, meninggalkan suami-suami mereka dirumah. Betapa terkejutnya Anne mendapati putranya bersama kekasih yang tidak ia akui, hanya menggunakan bathrobe dengan rambut setengah basah dan pakaian dalam berserakan di lantai.


"Mama...Ardi. Kamu --menunjuk Atiqah-- Ada apa ini? Ma?" tanya Melda lalu menahan Mamanya yang akan melemparkan vas bunga ke arah Atiqah. Ardi berlari melindungi kekasihnya.


"Lihat adikmu! lihat mereka! menjijikan! Mama mau mati aja. Mama gak sudi anak laki-laki satu-satunya harus berakhir sama perempuan gembel itu!" menunjuk-nunjuk Atiqah. Melda meletakkan vas bunga ke atas meja.


"Mama...jaga ucapan Mama! aku cinta Atiqah, aku sayang Atiqah. Setelah lulus aku nikahin Atiqah --menarik tangan Atiqah-- Ayok ke kamar, pake bajunya, aku antar pulang" membawa Atiqah masuk ke dalam kamar, menguncinya dari dalam.


"Astaga Ardi!! --Anne berteriak tidak karuan-- Adik kamu Mel. Adik kamu!" menunjuk ke arah pintu kamar yang tertutup. Anne menjatuhkan dirinya ke sofa. Melda berupaya menenangkan Mamanya.


Di kamar, Ardi memakai pakaiannya yang baru. Mengambilnya dari dalam almari. Lalu membantu Atiqah memakai bajunya.


"Pelan-pelan. Duduk sini dulu --menepuk ranjang-- sini..." menarik tangan Atiqah.


"Maafin Mama --mengusap pipi yang ditampar tadi-- aku ambil salep dulu. Bibir kamu luka" Ardi menarik laci, mengambil satu salep di kotak p3k.


"Gak usah dengerin apa kata Mama. Aku ada disampingmu. Walopun nantinya memang kamu hamil, aku siap bertanggung jawab. Kamu gak perlu cemas. Aku sayang banget sama kamu Atiqah" mengecup bibir sekilas. "Aku anter pulang sekarang ya?" Atiqah mengangguk. Wajahnya pias.


"Luka kamu..." menyentuh dahi Ardi yang terluka. Atiqah membuka lagi kotak p3k mencari plester.


"Gak papa, ini luka kecil" ucap Ardi. Atiqah menempelkan plester ke dahinya.


"Ada aku. Kita langsung turun" Ardi menggenggam tangan Atiqah erat. Membuka pintu, langsung berjalan cepat tanpa menoleh ke arah Anne dan Melda.


"Mau kemana kamu Ardi? jawab Mama!" Anne berteriak lagi. Ardi dan Atiqah tetap berjalan keluar.

__ADS_1


"Ardi!! Melda...adik kamu. Astaga...kepala Mama sakit" Anne memegang kepalanya.


"Udah Ma, biarin aja. Mending kita sekarang ke rumah sakit. Mama lemes gini. Melda panggil pak Iman dulu di bawah" Melda membuka layar ponselnya, menghubungi sopir di basement. Anne memejamkan mata, rasanya kepalanya berputar hebat.


Di dalam lift Ardi memeluk Atiqah. "Aku sayang kamu. Apapun yang terjadi, kita tetap bersama. Kalau perlu kawin lari" mencium kening Atiqah.


"Gimana nanti bapak sama ibu liat muka kita begini?" tanya Atiqah, mendongakkan wajahnya menatap Ardi, mengusap dahi kekasihnya yang terluka.


"Nanti aku yang bilang ke bapak sama ibu" mengecup bibir. Pintu lift terbuka, Ardi berpapasan dengan Iman.


"Lho mas Ardi mau kemana? Nyonya ada di atas, mau dibawa ke rumah sakit" ucap Iman.


"Ardi..." Atiqah menatap Ardi.


"Aku anter pacarku dulu pak. Nanti aku ke rumah sakit" Ardi langsung berbalik, masih menggenggam tangan Atiqah menuju mobil yang terparkir di basement.


"Mama kamu..." ucapan Atiqah menggantung.


"Udah biasa, nanti juga baikan. Gak perlu dipikirin, sekarang aku anter pulang" Ardi memasangkan seatbelt pada Atiqah. "Gak usah dipikirin ya? aku sayang kamu" Atiqah mengangguk.


Anne sudah dibawa ke rumah sakit dan dirawat. Sakit vertigonya kambuh. Ardi menghentikkan mobilnya didepan gang rumah Atiqah karena papanya terus menelpon.


"Halo" ucap Ardi.


"Kamu dimana? cepat ke rumah sakit! mama kamu dirawat. Papa gak ngerti sama jalan pikiran kamu Ardi. Papa mau kamu kesini sekarang juga!" suara Sigit terdengar sampai di telinga Atiqah.


"Iya" hanya jawaban itu dari Ardi dan langsung menutupnya. Ardi kesal.


"Aku turun sini aja. Kamu ke rumah sakit. Biar nanti aku yang cari alasan" Atiqah membuka seatbelt. Ardi menarik Atiqah ke pelukan.


"Aku sayang kamu. Aku mau kita hidup sama-sama. Jangan tinggalin aku" suara Ardi begitu lembut.


"Iya. Aku pulang" mengecup pipi Ardi lalu membuka pintu mobil. Ardi menatap Atiqah berjalan ke arah rumahnya dari dalam mobil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2