ATIQAH

ATIQAH
Bab 42 : Yogyakarta (6)


__ADS_3

"Cepetan Yang, aku udah gak sabar" mengusap pipi Atiqah lalu mengecup bibir singkat.


Atiqah dengan terpaksa memakai baju yang diberikan Ardi. Memakai yang berwarna merah terang dengan renda tipis dibagian dada dan underware bermodel g*string. Warna itu yang disodorkan Ardi padanya.


Menatap pantulan dirinya di kaca. Sungguh miris. Atiqah terpaksa melakukannya karna ancaman kekasihnya sendiri. Baru saja akan naik kelas 2 SMA, sungguh ironi jika video itu tersebar. Nama, harga diri juga orangtua akan tercoreng. Bisa apa lagi pikirnya? ini jalan satu-satunya. Menuruti apa kemauan Ardi. Toh memang rasa sayang dan cinta itu ada, hanya saja Atiqah tidak ingin mengulang kesalahan melakukan yang seharusnya belum waktunya.


Atiqah berusaha meredam rasa kecewanya. Sudah kepalang basah. Semua juga salahnya karena mau dicumbu Ardi waktu itu. Dan akhirnya melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya di hotel minggu lalu.


Krekk...Atiqah memutar kenop pintu perlahan. Melangkah keluar kamar mandi sambil satu tangannya menyilang menutupi dada dan satu tangannya menutup bagian bawah. Atiqah benar-benar malu.


Ardi yang hanya memakai under*ware, sudah siap menunggu diatas sofa.


"Sini Yang" menyuruh Atiqah mendekat duduk dipangkuan. "Kamu seksi banget. Aku gak sabar" meremas bo*kong, Atiqah sampai menjerit memekik.


"Turuti apa kataku. Gak usah ngelawan. Nikmatin aja kaya waktu pertama kali. Lepasin, panggil namaku" mengendus leher Atiqah. Bulu kuduknya meremang. Atiqah menahan sambil menggigit bibir bawahnya.


"Cuma aku yang boleh gigit bibir kamu" Ardi meletakkan dua tangan Atiqah ke lehernya, menekan tengkuk agar lebih mendekat.


Menyambar bibir dan melu*matnya. Tangan Atiqah mengusap punggung lalu meremas rambut belakang Ardi. Ciuman semakin memanas. Atiqah hanya bisa pasrah, ikut menikmati apa yang kekasihnya lakukan.


"Emm..." Ardi membuat tanda kemerehannya lagi.


"Kamu cantik banget malem ini Yang" melepas kaitan dibelakang, menarik dan melemparkan ke lantai. Ardi menyergap dada Atiqah dengan terburu-buru. Suara lidah dan bibir yang sedang mengu*lum puncak dada begitu membuat Atiqah semakin basah.


"Udah gak sabar?" Atiqah mengangguk perlahan. Wajahnya benar-benar menginginkan lebih dari cumbuan.


Ardi menggendong Atiqah ke atas ranjang. Mengikat kedua tangan ke kanan dan kiri. "Kok diikat gini? Ardi..." Atiqah bingung kenapa dirinya diikat seperti itu.


"Rileks sayang...nikmati apa yang mau aku kasih ke kamu" tangannya membelai dari garis dada, perut lalu menyergap inti tubuh Atiqah. Lidahnya melesak dan menari-nari dibawah sana. Atiqah menjerit, melenguh. Rasanya ingin menendang wajah Ardi. Sungguh menggelitik.


"Ar-di cu-kup...le-pasin aku" Atiqah memohon agar Ardi melepaskan jeratan tali di kedua tangannya.


"Belum sayang, sabar ya. Sebentar lagi" Ardi kembali menenggelamkan kepalanya. Atiqah melentingkan tubuhnya ke atas lalu mengejang.

__ADS_1


Rasanya masih diawang-awang tapi Ardi menariknya lagi ke bumi. Masih dengan keadaan terikat, Ardi mendekatkan miliknya tepat di wajah Atiqah. "Cium!!" mata Atiqah membelalak. Belum pernah ia melakukan hal semacam itu. Jijik? sudah pasti. Tapi Ardi menarik kepalanya, menyatukan rambutnya, memaksanya untuk bergerak.


"Arghh...terus sayang" mengusap bibir bawah Atiqah dengan jempolnya. Air mata menggenang di sudut mata.


"Enak banget ya, sampe mau nangis gitu. Aku cium sini" Ardi mencium bibir lagi sambil tangan kirinya sibuk mengusap, lalu menarik kaki Atiqah melilitkan pada pinggangnya.


"Ardi...Ardi" Atiqah merasakan tubuh Ardi yang mulai mengayun perlahan dan semakin cepat. Atiqah meremas lengan Ardi. Rasanya kembali melayang begitu memabukkan. Ardi menyerbunya belingsatan. Tanpa mereka sadar benihnya berhamburan. Ardi meledakkan di dalam tubuh Atiqah.


"Sayang, aku kelepasan. Aku gak bawa pengaman. Gak mungkin juga langsung jadi" membalik tubuh Atiqah. Kekasihnya itu masih dalam jeratan tali.


"Lepasin dulu talinya. Sakit" Ardi tak menggubris, tetap menciumi punggung Atiqah dan bermain puncak dada, meremasnya. Ardi mendorong Atiqah agar membungkuk. Sejurus kemudian Ardi sudah membenamkan miliknya.


"Ahh..." Atiqah merasa penuh dan sangat sesak.


Mendengar pekikan kekasihnya, Ardi kembali memacu sambil menampar bo*kong berkali kali. Tubuh Atiqah menggeliat dan ikut bergerak. Ardi benar-benar merasa jumawa. Atiqah menurut, memberikan segalanya untuknya. Bagi Ardi itu adalah pembuktian betapa besarnya cinta Atiqah untuknya.


"Aku mau sekarang--" Ardi kembali memuntahkannya lagi. Nafasnya terengah-engah. Begitu juga dengan Atiqah.


*****


Ayam peliharaan Subroto kembali berkokok pertanda pagi telah menjemput. Lala masih tidur didepan TV, obat tidur yang Ardi masukkan dalam jus mangga sangat manjur. Penghuni lain tidak tahu soal Ardi ada di kamar Atiqah yang saat ini sedang menindih kekasihnya lagi.


Atiqah yang terganggu oleh ciuman dan sentuhan di puncak dadanya, mau tidak mau ia harus kembali sadar dan menuruti apa yang Ardi mau. Kekasihnya itu sudah menciumi bagian inti tubuhnya lagi.


Atiqah meremas rambut Ardi, menengadah ke atas, menganga merasakan serangan pagi hari dari pacar mesumnya.


"Mau kemana?" Ardi menarik Atiqah bangun, berpindah tempat ke atas sofa. Ardi memangkunya.


"Gerak Yang" Ardi menepuk bokong Atiqah.


"Hah?? gimana caranya? aku gak tau" memegang lengan Ardi.


"Gerak aja" Ardi menuntun Atiqah bergerak. "Iya Yang, gitu. Terus Yang, yang cepet" Ardi gemas melihat Atiqah yang bergerak diatasnya. Kembali membenamkan lidahnya ke puncak dada.

__ADS_1


Suara des*ahan Ardi dan Atiqah memenuhi paviliun yang pagi itu sunyi. Karena Ardi menguncinya dari dalam. Tidak ada yang bisa masuk dengan bebas. Keduanya merasakan pelepasan lagi di pagi hari.


"Kamu gak bisa lepas dari aku. Coba kamu liat kesana, kesana, kesana --menunjuk kamera kecil ke arah lampu tidur, vas bunga di atas nakas dan sudut kamar-- Aku udah rekam semua. Dari semalem sampe pagi ini" Ardi mengecup bahu Atiqah.


"Hah??" Atiqah semakin takut. Ardi benar-benar gila, merekam semuanya dan sudah pasti akan ia gunakan untuk mengancam Atiqah lagi.


Seakan masih belum cukup, Ardi membawa Atiqah masuk ke dalam kamar mandi. Kembali menggempur kekasihnya disana.


Mendorong Atiqah menempel pada kaca penghalang. Melakukannya lagi dan lagi.


Tubuhnya terasa remuk setelah berkali kali Ardi melakukannya. Atiqah pikir ada yang salah dengan Ardi, memiliki dua kepribadian. Kadang baik, lembut tapi dengan cepat berubah seperti iblis.


Atiqah tidak perduli soal sarapan dan sudah ditunggu Subroto, ia memilih tidur setelah selesai mandi dan ditinggalkan Ardi. Pacarnya itu entah sudah puas atau belum. Saat ini Atiqah tidak mau memikirkannya.


"Eyang sama Guntur ada urusan ke luar kota dua hari. Kalau mau pergi keliling Jogja bisa panggil Mang Pardi di kebon" Subroto berpamitan pada Ardi sore harinya.


"Iya eyang...Hati-hati dijalan" Ardi tersenyum senang. Kesempatannya datang tanpa ia harus merencanakan ini itu.


"La, malem ini tidur bareng ya. Aku takut tidur sendirian" Atiqah mencuri dengar saat Subroto berpamitan pada Ardi. Atiqah ingin menghindar satu malam saja. Ia butuh istirahat. Paha dalamnya masih terasa pedih.


"Oke"


Bersambung....


*****


Habis minum jamu kuat kayaknya Ardi 🙈


Rate bintang 5nya ya sayang2ku, like, komen sama giftnya juga jangan sampe kelupaan.


Semoga besok bisa update lagi.


See ya 👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2