
"Echa and the gang mau bikin ulah lagi bro" ucap Dodi teman sebangku Ardi.
"Ngapain mereka?" tanya Ardi sambil merogoh tasnya mengambil buku pelajaran.
"Gangguin Atiqah" bisik Dodi, guru mereka baru saja masuk ke kelas. Ardi mngernyitkan keningnya.
"Gangguin gimana?" menulis dikertas lalu ia geser ke arah Dodi. Temannya itu membalas.
"Ngajak duel. Tapi mereka tunda, habis istirahat nanti katanya" jawab Dodi, Ardi terkejut membaca balasan Dodi. Ia tidak habis pikir dengan Echa yang selalu membuat ulah di sekolah bersama gengnya.
Jam pelajaran terasa lambat bagi Ardi dan juga Echa. Ardi sendiri ingin segera melindungi Atiqah dari bullyan, sedangkan Echa sudah ingin membuat Atiqah memohon ampun dan menjauhi Ardi.
Di lain kelas, Atiqah masih mengikuti pelajaran Fisika dengan tekun. Terkadang ia berani menjawab pertanyaan pak Rudi, menyelesaikannya di papan tulis.
"Atiq...bentar lagi istirahat. Kamu yakin bisa ngadepin mereka?" bisik Lala saat mereka sedang mencatat beberapa rumus Fisika yang terbilang cukup rumit.
"Kita liat aja nanti. Yang pasti aku mau makan dulu, laper. Aku udah bawa bekel, aku gak ke kantin La" jawab Atiqah dengan berbisik juga.
"Jadi aku ke kantin sendirian? gak mau ah. Aku takut kamu kenapa kenapa kalo aku ke kantin. Mereka pasti samperin ke kelas" Lala mencemaskan sahabatnya.
"Udah tenang aja. Gak usah mikirin aku. Pikirin perut kamu yang juga laper, harus diisi makanan. Nanti pingsan" Atiqah tertawa lirih, menutup mulutnya.
"Sialan!" memukul lengan Atiqah.
Bel istirahat pertama berbunyi. Lala sudah dulu pergi ke kantin, dia tidak ingin meninggalkan Atiqah terlalu lama di kelas. Sudah pasti Echa dan gengnya akan datang.
Atiqah membuka bekalnya dan baru saja menyendokkan nasi dan sayur ke mulutnya, Ardi sudah berada diambang pintu dan langsung berlari ke meja Atiqah.
"Kamu gak papa kan?" Ardi menangkup pipi Atiqah. Teman sekelasnya yang beberapa ada di dalam kelas melihat tingkah yang Ardi lakukan pada Atiqah.
"Apaan sih?" meletakkan sendok, menepis kedua tangan Ardi.
"Tadi aku denger, Echa gangguin kamu. Jadi aku langsung kesini. Aku takut mereka bakal bikin kamu celaka" kini tangannya memegang tangan kiri Atiqah.
"Lepasin gak?" gumam Atiqah, Ardi tersenyum dan melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Aku cemas" wajah Ardi memang benar gelisah dan panik.
"Apa yang harus dicemasin? aku gak papa, aku bisa hadepin mereka. Sekali kali mereka harus dilawan biar kapok. Biar gak bully yang lain juga. Ngerti?!" Ardi mengangguk, lalu menarik tangan kanan Atiqah yang sedang memegang sendok berisi makanannya.
"Aku laper" langsung mengarahkan tangan Atiqah memasukkan ke dalam mulutnya. Mengunyah.
"Ihh...kok?" Atiqah tertegun melihat Ardi makan dengan sendoknya.
"Kenapa? kaya ciuman tapi gak langsung?" Atiqah menjawabnya dengan anggukan. Teman teman yang lainnya terus menonton mereka berdua, sambil cekikikan. Lain dengan Echa dan gengnya. Mereka kalah cepat dengan Ardi. Mereka pergi dan berniat akan melabrak Atiqah sepulang sekolah.
"Oohh...jadi gini. Aku buru buru balik ke kelas lagi biar sahabatku gak sendirian tapi ternyata...Dunia serasa milik berdua, aku ngontrak. Uhuk uhuk" Lala datang membawa satu kotak nasi goreng yang ia beli di kantin dengan memesan terburu buru. Lala duduk di kursinya, membuka kotak dan memakannya.
"Maaf ya La" Ardi melemparkan senyumnya. Sedangkan Atiqah cuek dan membiarkan Ardi menghabiskan bekalnya.
"Coklat yang aku kasih tadi, udah dimakan?" Atiqah menggelengkan kepala.
"Coklat apa?" tanya Lala, sudah pasti dia mendengarnya dengan jelas. Atiqah mengeluarkan kotak coklat yang Ardi berikan tadi pagi di parkiran.
"Ini..." Atiqah membukanya diatas meja. Mata Lala berbinar.
"Ini coklat mahal, ya ampun...kapan lagi makan coklat dari luar negri begini. Iya kan Atiqah?" Atiqah hanya tersenyum memandang Lala lalu Ardi.
"So sweet..." Lala meledek melihat perhatian Ardi untuk Atiqah.
"Diem deh La!" Atiqah mengerucutkan bibirnya.
Bel kembali berbunyi. "Makasih ya bekelnya. Masakan ibu kamu enak. Besok bawa dua porsi ya? aku mau lagi" Ardi meringis dan berlalu keluar, kembali ke kelasnya.
"Cie cie...makin lengket aja sih. Kak Ardi keliatan banget suka sama kamu" Lala kembali meledek.
"Sssttt...jangan berisik La! asal kamu tau, semalem aku tolak dia"
"APAAA???" Lala berteriak.
"Lalaaa..." bu Juwita menegur Lala. Guru Biologi itu baru saja masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
*****
Atiqah dan Lala kembali berjalan menuruni tangga. Mereka pulang paling akhir karena jadwal mereka piket hari ini. Piket untuk membersihkan kelas.
"Arghhh...." rambut Atiqah yang diikat kembali di tarik oleh Sofi. Ikat rambut yang ia pinjam dari Lala. Sedangkan Lala sudah didorong dan kedua tangannya dipegangi dua teman Echa lainnya.
"Kalo berani, satu lawan satu. Jangan bisanya keroyokan gini!" gertak Atiqah. Sofi maju mendekati, siap menarik rambutnya. Tapi sayang, Atiqah langsung mendorong Sofi sampai mundur menabrak tubuh Echa.
Dua teman yang sedang memegangi Lala menyerang dari arah belakang dengan tinjuan. Atiqah menangkap dua kepalan yang ada di kanan dan kiri telinganya. Meremas dan memutar tangan keduanya.
"Aw..aw...sakit sakit" mereka berdua mengaduh kesakitan. Atiqah mengunci tangan mereka dibelakang punggung.
"Atiqah awas..." Lala menjerit saat Sofi akan memukul tengkuk Atiqah. Berkat Lala, Atiqah dapat menghindar dengan berbalik kemudian mendorong Mia dan Rini ke arah Sofi. Mereka jatuh bertumpuk.
"Brengsek!!" Echa kesal dan gilirannya sekarang melawan Atiqah. Echa ancang ancang siap menerjang adik kelasnya itu. Sejurus kemudian, Atiqah mengambil satu kotak susu yang tersisa di kursi panjang lorong sekolah. Memukulnya ke atas kepala Echa, rambutnya basah dan lengket.
Echa semakin marah dan akan meninju Atiqah. Atiqah merangkul perut Echa lalu kaki kirinya ia angkat ke atas dari belakang dan mengenai hidung. Hidung Echa merah tapi tidak sampai mengeluarkan darah atau mimisan.
"Jangan ganggu aku lagi! Bukan aku aja, semua anak di sekolah ini. Cukup kalian jadi tukang bully!" Atiqah memberi peringatan seraya merapihkan baju dan rambutnya. Lalu pergi memungut tasnya yang tergeletak tidak jauh. "Ayo La?!" menarik Lala melewati Echa and the gang yang masih duduk terkapar di lantai.
Atiqah dan Lala segera pergi meninggalkan sekolah. Bisa saja mereka ketahuan berkelahi kalau tidak secepatnya pergi. Beruntung keadaan sekolah sudah sepi. Tertinggal security yang sedang duduk di pos jaga.
"Atiqah, kamu keren banget. Diem diem kamu bisa bela diri. Aku syok liatnya tadi. Ih...keren keren" Lala terus mengacungkan kedua jempolnya pada Atiqah.
"Aku pernah ikutan latihan bela diri tapi udah lama brenti. Akhirnya kepake juga" Atiqah tersenyum.
Mereka masuk ke dalam angkot. Ardi melihat semua yang terjadi di lorong tadi dan semakin membuatnya ingin terus mendekati Atiqah.
Ardi mengikuti Atiqah sampai pulang ke rumah. Ia ingin tahu dimana adik kelasnya itu tinggal.
"Tekadku bulat Atiqah. Aku yakin sama perasaanku. Aku pasti bisa dapetin kamu" ucap Ardi di balik helmnya. Ia dan motornya masih berada di dekat rumah Atiqah.
Bersambung....
*****
__ADS_1
Udah hari senin guys...votenya jangan lupa ya 😊
Selalu kasih bintang 5, like, komen juga giftnya 😁. I lop you pull all 😚😘😘