
Suara ketukan pintu terdengar berkali kali. Atiqah terkejut, ia sedang bermimpi bersama Ardi melakukan hal yang sama seperti semalam. Celananya terasa basah dan badannya remuk.
"Iya bu..." Atiqah menjawab panggilan ibunya masih dari atas kasur.
"Udah siang mba. Cepet keluar, makan dulu" suara bu Asri dari depan kamar. Atiqah duduk lalu meregangkan badannya. Badannya benar-benar terasa remuk.
Begini rasanya? badanku sakit semua. Tapi...Atiqah menggigit bibir bawahnya, kembali membayangkan Ardi memeluknya erat, memberikan pijatan lembut pada dadanya sembari memacu tubuhnya.
"Argh...stupid! crazy!" memaki diri sendiri, mengacak rambutnya.
"Mba...lama banget. Tidur lagi?" kini Robi yang mengetuk pintu kamarnya.
"Iya..iya sebentar. Bawel" Atiqah turun dari kasur perlahan, inti tubuhnya masih terasa pedih. Tak lupa ia oleskan foundation di lehernya, menyamarkan bekas merah. Lalu keluar dari kamarnya.
"Makan dulu mba. Tumben bangunnya siang" bu Asri meletakkan satu porsi nasi ke atas piring. Atiqah baru saja keluar dari kamar mandi, membasuh muka dan gosok gigi.
"Makasih bu --menarik kursi-- capek banget jadi baru bangun. Lagian hari ini hari minggu. Mba pengen males-malesan di kamar" menyendokkan sayur dan lauk ke atas piring.
"Mau hari liburpun, yang namanya anak perawan tetep bangun pagi mba" mengoceh sambil membersihkan dapur bekas memasak tadi.
Perawan? aku udah gak perawan lagi bu. Batin Atiqah. Kata-kata ibunya begitu dalam. Andai ayah dan ibunya tau apa yang terjadi semalam, sudah pasti ia akan didepak dari rumah.
"Malah ngelamun. Makan terus anterin ini ke rumah nak Fajar. Kemaren bu Siti pesen gudeg komplit" ucap bu Asri menunjuk beberapa rantang bergambar ayam jago di atas meja makan.
"Iya bu...oh iya. Nanti sore Ardi mau kesini, mau jemput mba. Mau anter Eyang Subroto ke bandara. Boleh?" Atiqah mencari jawaban dari ekspresi wajah ibunya.
"Sudah mau pulang ke Jogja?" Atiqah mengangguk.
"Mba juga disuruh liburan kesana bu. Apa boleh juga?" Atiqah kembali menelisik raut wajah bu Asri.
"Kalo soal itu, minta ijin ke bapakmu. Wes cepet anter gudegnya. Sudah ditunggu"
"Iya iya..." Atiqah meletakkan piring kotornya ke atas wastafel lalu masuk ke dalam kamar menyambar cardigan berwarna kuning favoritnya.
Dua tentengan rantang di tangan kanan dan kiri, Atiqah berjalan perlahan sambil menyapa beberapa tetangga yang ia lewati.
"Budhe...budhe...ini Atiqah" seru Atiqah didepan pagar rumah Fajar.
Ternyata laki-laki itu yang membuka pintu. "Eh mas Fajar masih disini. Kirain udah ke Bandung lagi" Atiqah begitu senang melihat tampilan Fajar dengan rambut basahnya. Sudah dipastikan Fajar baru saja mandi dan keramas.
"Kenapa? kamu gak kangen mas? habis keluar dari rumah sakit, gak ada kabarnya. Mentang-mentang udah ada pacar. Mas dilupain" Fajar meledek Atiqah. "Ayok masuk dulu?! itu gudeg pesenan ibuk kan?" menunjuk dua rantang yang masih ditangan Atiqah.
__ADS_1
"Iya...emang ada acara apa? kok banyak banget gudegnya?" Atiqah masuk ke dalam rumah mengikuti Fajar sampai di ruang makan.
"Taruh sini aja. Bentar lagi Papa Mama Sherly kesini. Mau bahas acara tunangan minggu depan" seketika telinga Atiqah berdengung.
"Hah?? katanya bulan depan. Kok jadi minggu depan?" celetuk Atiqah lalu menutup mulutnya. Fajar terkekeh.
"Kenapa? cemburu? kamu udah punya pacar Atiqah" mengacak rambut.
"Ishh...yaudah deh. Selamat mas Fajar, semoga acaranya nanti berjalan lancar. Aku pulang dulu" entah kenapa Atiqah merasa kesal mendengar ucapan Fajar. Benar kata cinta pertamanya itu, dia sudah memiliki Ardi. Bahkan sudah lebih dari sekedar pacar.
"Ini belum dibayar. Tunggu dulu! mas panggilkan ibuk"
"Gak usah mas. Masalah itu biar langsung sama ibu aja. Aku pulang" Atiqah langsung berjalan cepat meninggalkan rumah Fajar.
Fajar menatap punggung Atiqah sampai menghilang dibalik pintu rumahnya.
"Ngeselin banget sih. Kenapa juga harus denger langsung kalo tunangan mereka dipercepat. Buru-buru bener, takut diambil orang" Atiqah terus menggerutu, masuk ke dalam kamar. Bu Asri bertanya pada suaminya kenapa Atiqah seperti itu. Pak Bondan mengedikkan bahunya tidak tahu.
Sore harinya Ardi sudah menunggu Atiqah di teras. Duduk berdua bersama pak Bondan. Memang Ardi anak yang percaya diri dan berani untuk meminta ijin langsung akan membawa Atiqah mengantarkan kakeknya ke bandara.
"Jangan malam-malam pulangnya. Besok sudah ujian kenaikan kelas" ucap pak Bondan pada putrinya yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Iya pak...Mba pamit dulu" mencium punggung tangan ayahnya.
Atiqah melambaikan tangannya pada ayahnya lalu mobil SUV hitam itu melaju ke arah bandara. Subroto sudah terlebih dulu diantar sopir bersama asistennya.
"Aku kangen. Masih sakit?" mengecup tangan Atiqah. Tangan kanannya tetap di atas setir.
"Hemm..." Atiqah terlalu malu untuk membahas soal itu.
"Kok gitu? masih sakit ya? di dalem tas ada obat pereda nyeri. Tadi aku mampir ke apotik" memberikan tas lalu meraih satu botol air mineral di cup holder. "Kamu minum sekarang" Ardi kembali fokus menyetir.
Atiqah membuka tas Ardi mencari obat yang dimaksud.
"Udah ketemu?" tanya Ardi.
"Ini apa?" Atiqah mengangkat satu kotak berbentuk persegi bertuliskan merk produk beserta gambar bermacam-macam buah.
Belum sempat Ardi menjawab, Atiqah sudah terlebih dulu membaca kotak itu lalu menutup mulutnya. "Kamu sinting Ardi!"
"Buat jaga-jaga aja Yang" Ardi tersenyum terpaksa, canggung.
__ADS_1
"Aku udah bilang, aku gak mau lagi. Cukup semalem aja. Aku takut kebablasan. Kita sama-sama tau apa akibatnya. Aku gak mau nantinya kita menyesal" Atiqah terus mengingatkan Ardi.
"Makanya aku pakai itu biar gak kebablasan Yang. Buat jaga-jaga aja kok. Beneran deh, aku gak bohong. Aku sayang banget sama kamu. Kalaupun sampe hamil, aku siap tanggung jawab" seketika Atiqah membelalakan matanya pada Ardi.
"Ih...jangan sampe ya! --mengetuk-ngetuk dashboard lalu mengetuk kepalanya sendiri (amit-amit)-- bisa diusir aku dari rumah"
"Kalo diusir, tinggal sama aku. Aku ada apartemen gak jauh dari sekolah" ucap Ardi santai.
"Bener-bener kamu...Udah! stop bahas itu! aku gak mau denger lagi. Pokoknya aku tetep gak mau lagi" meletakkan kedua tangan didepan dada. Ardi memicingkan matanya sambil tersenyum.
"Kamu yakin? kamu gak ada pengen ngrasain lagi? padahal muka kamu keenakan banget trus minta aku cepet-cepet" Atiqah melengos, menatap langit sore yang gelap karena mendung. "Jawab dong Yang" menarik tangan Atiqah, meletakkan ke atas miliknya, mengusapkan naik dan turun.
Atiqah tersentak, menarik paksa tangannya. "Kamu nih jadi mesum banget tau gak. Aku jadi takut kalo berduaan gini" Atiqah beringsut, bergeser menjauh dari Ardi.
"Aku gini karna aku udah cinta banget sama kamu. Kamu udah jadi milikku. Inget itu Atiqah!" Ardi membentaknya. Atiqah semakin takut, ia memilih diam.
Pembicaraan itu selesai, mereka sama-sama diam sampai mobil Ardi sudah memasuki lahan parkir bandara.
"Turun!" Ardi masih kesal, berkata ketus pada Atiqah. "Jangan sampe Eyang tau kalo kita lagi berantem! senyum!" Ardi meremas pinggang Atiqah. Rasanya sudah pasti sakit, Atiqah mengangguk mengerti.
"Itu Eyang --menunjuk ke arah depan-- inget! SENYUM!!"
"I-iya..." Atiqah tersenyum senatural mungkin. Ardi begitu cepat berubah. Kekasihnya itu kadang lembut, perhatian tapi berubah menjadi posesif dan pemaksa.
"Eyang..." Ardi menyalami Subroto, begitu juga dengan Atiqah.
"Pesawat Eyang sudah mau berangkat. Jangan lupa liburan nanti ke Jogja yo. Eyang ajak ke perkebunan. Jaga Atiqah, jangan disakiti. Katanya sayang banget, cinta banget" Subroto meledek cucunya. Atiqah tersenyum tulus.
Memang Ardi seperti itu, terlalu sayang dan cinta pada Atiqah. Tapi kadarnya berlebihan. Sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk.
"Iya Eyang...Hati-hati. Nanti Ardi sama Atiqah pasti ke Jogja" Ardi memeluk Subroto.
Ardi merangkul Atiqah mengantarkan kakeknya itu sampai di pintu keberangkatan domestik.
"Kayaknya mau hujan, kita harus buru-buru ke mobil" Ardi menggenggam tangan Atiqah berlarian menuju parkiran mobil.
Bersambung....
*****
Hujan hujan enaknya yang anget anget 😊😊😊 mendoan 😄
__ADS_1
Cap Cuzz rate bintang 5, like, komen sama giftnya sayang 😘
Makasih 🙏🙏🙏