ATIQAH

ATIQAH
Bab 48 : Apartemen (1)


__ADS_3

"Pak, bu...mba mau ketempat Lala, charger hp kebawa. Sekalian mau ke toko buku" ucap Atiqah, ia berbohong. Rasanya keahliannya berbohong sudah terasah. Satu kebohongan akan menutupi kebohongan lain. Atiqah terpaksa karena Ardi sudah menyuruhnya cepat datang.


"Naik apa mba? jangan malam-malam pulangnya" tanya bu Asri dari arah dapur. Pak Bondan duduk diruang makan sedangkan Robi sibuk memainkan satu mainan yang diberikan Atiqah tadi.


"Naik ojol aja bu biar lebih cepet" jawab Atiqah sambil memesan ojol dari aplikasi ponselnya. "Mba berangkat dulu" Atiqah mencium tangan kedua orangtuanya lalu pergi keluar rumah. Tak lama ojol menghampiri rumahnya dengan membunyikan klakson.


"Kak Atiqah?" tanya ojol itu.


"Iya mas, saya" menerima helm berwarna hijau bertuliskan nama ojol.


"Sesuai titik ya kak" ucapnya lagi.


"Iya mas. Emm...cepetan dikit bisa?" tanya Atiqah sambil memegang tasnya didepan dada sebagai penghalang antara dirinya dan mas ojol.


"Siap kak. Pegangan ya?! takut jatuh nanti. Saya ngebut" ucapnya lagi, terus mempercepat laju motornya.


Motor ojol itu memasuki daerah cukup elit setelah melewati sekolah SMAN 60, sekolah Ardi dan Atiqah. Terpampang jelas nama apartemen Casa de Parco. Apartemen yang disampingnya terdapat Mall besar di pusat kota dengan konsep lingkungan hijau yang nyaman. Sudah pasti harganya tidak main-main dan pemiliknya orang berduit.


"Di sini aja atau masuk kak?" tanya mas ojol, menghentikkan motornya.


"Sini aja mas. Ini" Atiqah turun, memberikan helm juga ongkos sebesar 25 ribu.


"Saya gak ada kembalian kak" mas ojol itu merogoh kantongnya.


"Gak usah mas. Buat mas aja" Atiqah sudah terburu-buru karena Ardi menelponnya berkali-kali.


"Iya...iya. Ini udah sampe. Baru mau masuk. Tower 2 ya? oke oke" kata Atiqah mengerti saat menjawab telepon Ardi, jalannya ia percepat ke arah lobby tower 2.


Atiqah mendekati security yang berjaga. "Sore pak, saya mau ke lantai 10 nomor..." security itu sudah memberikan kartu untuk akses masuk ke dalam lift.


"Saya tau mba. Tadi mas Ardi sudah bilang. Silahkan" ucap bapak security.


"Terimakasih pak" Atiqah menerima kartu akses lalu masuk ke dalam lift, menempelkan pada mesin di dinding lift, menekan lantai 10.


Atiqah memandang pantulan dirinya dari dinding lift. Tampilannya memang biasa. Entah apa yang Ardi sukai dari dirinya, batin Atiqah.


Jantungnya berdegup kencang saat melihat nomor lantai yang terus menanjak naik. Ia peluk totebag bertuliskan I LOVE JOGJA didadanya. Totebag berisikan ponsel, dompet dan baju seksi yang diminta Ardi untuk dipakainya nanti.


Angka berganti begitu cepat, sampai terdengar bunyi tting dan pintu lift terbuka. Atiqah melangkahkan kakinya menyusuri lorong di sebelah kiri sesuai petunjuk arah yang tertempel ditembok didepan lift.

__ADS_1


Tepat didepan pintu bertuliskan nomor 105, Atiqah berhenti dan menatap nanar dirinya. Dia sudah seperti budak pemuas naafsu kekasihnya sendiri. Menjadi pacar tawanan.


Atiqah menghela nafasnya sebelum memencet bel. Ia tekan bel dengan kamera menghadapnya.


"Masuk" suara Ardi terdengar dari speaker diantara bel dan kamera. Setelahnya bunyi bbipp...pintu terbuka otomatis.


Atiqah membuka pintu lebih lebar, Ardi sudah berdiri didepan lorong menantinya. "Kamu lama banget Yang" tangan kanannya merengkuh pinggang Atiqah dan tangan kirinya menutup pintu. Kembali menutup dan mengunci otomatis.


"Maaf..." menahan dada Ardi dengan tangan kirinya. Ardi mencium bibir Atiqah melummatnya sebentar.


"Udah makan?" merangkul Atiqah masuk lebih dalam ke ruangan.


"Belum" Atiqah menggelengkan kepalanya sambil menatap interior apartemen Ardi.


Setelah melewati lorong sekitar 3 meter, nampak ruangan luas di hadapannya tanpa sekat. Dapur modern merangkap ruang makan berada di sebelah kiri ruang santai dimana ada sofa berwarna hitam berbentuk L dan televisi layar besar berukuran 65 inch.


Terdapat dua kamar dan satu kamar mandi berjajar disamping lorong.


"Sebelum makan, aku mau makan kamu dulu. Pakai bajunya, aku tunggu disini" bisik sensual, menggigit cuping telinga Atiqah.


"Emm...oke oke. Aku ganti dulu" mendorong Ardi memberikan jarak.


"Yang...lama banget --menekan handle pintu-- kok dikunci?" Ardi menggerak-gerakan handle pintu.


"Iya, sebentar. Aku lagi pake bajunya" teriak Atiqah dari dalam. Ia sedang memakai lingerie tipis berenda berwarna putih setelah memakai celana yang hanya secuil menutupi area intimnya.


Atiqah merapihkan rambut, memoleskan lip tin warna merah muda. Ia benar-benar seperti wanita panggilan.


Pintu terbuka perlahan, melangkahkan kaki keluar kamar mandi. Ardi sedang berdiri meminum air mineral dingin dari lemari pendingin dua pintu dibelakangnya. Matanya menatap lurus Atiqah tanpa berkedip sambil terus menenggak hingga setengah botol.


Atiqah berdiri kikuk. Mata Ardi menelanjangiinya dari atas kepala sampai ujung kaki. Merapatkan kedua paha, sambil membenarkan tali di bahu.


Dadanya yang menyembul cukup sempurna membuat Ardi menelan ludah cukup dalam. Meletakkan botol minum dengan keras ke atas meja dapur lalu berjalan tergesa-gesa menghampiri kekasihnya.


Mencengkeram tengkuk Atiqah, membenamkan bibirnya. Melahap seperti layaknya makanan lezat tanpa memberi jeda untuk bernafas.


"Huh hah huh hah..." Ardi melepaskan ciumannya, Atiqah berusaha untuk bernafas cepat. Tangan Ardi sangat nakal menggerayangii tubuhnya. Mengangkat bagian belakang kain terawang itu, meremas bokong dan menepuknya keras. Atiqah memekik, rasanya panas tapi ia suka.


"Kamu seksi banget Yang" bisiknya, menciumi leher. Membopong Atiqah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Ardi menurunkan satu tali di bahu kanan. Memainkan puncak dada dengan jarinya dengan gerakan memutar dan menjepit.


"Ahhh...." Atiqah melenguhh saat Ardi menyeesap dadanya sampai berdecak basah. Satu tangannya mengangkat lingerie itu lalu membuka penutup bagian depan yang menutupi inti tubuh. Memasukkan jarinya, bergerak serampangan. Atiqah menggeliat dan menyebut nama Ardi berkali kali.


Pakaian seksi tipisnya sudah teronggok dilantai, dilempar oleh Ardi. Lidahnya bergeser turun merayapi paha dalam, menikmati harum dan manisnya ceruk kenikmatan Atiqah.


"Ardiiiii....." meremas kepala Ardi sambil memandangi bagaimana kekasihnya sangat buas, meluumat miliknya. "Uudaah" Atiqah ingin Ardi menyudahi. Sangat geli rasanya dan rasa itu datang. Tubuhnya mengejang, denyutan di bagian inti tubuhnya terasa di lidah Ardi.


"Sekarang giliranku Yang" Ardi melepas semua pakaiannya tak tersisa. Inti tubuhnya sudah mengeras.


Ardi mengusapnya cepat lalu menarik Atiqah untuk berjongkok. "Arghh..." rasa hangat menyelimuti miliknya yang telah masuk ke dalam mulut Atiqah.


Ardi mengumpulkan rambut kekasihnya, membimbing untuk bergerak maju mundur sambil satu tangannya mengusap bibir bawah Atiqah yang sedikit bengkak. Miliknya penuh disana.


"Terus...terus Yang" Ardi merasa dirinya akan meledak. Menekan kepala Atiqah lebih dalam dan menahannya. Atiqah terbatuk, menelan sebagian cairan. Ardi melepaskan lalu menyeka bibir Atiqah.


"Kamu makin seksi Yang. Aku udah gak tahan lagi. Kamu milikku! kita nikmati sampai pagi" Ardi menarik Atiqah, mencium bibirnya lagi.


"Emm...jangan. Aku harus pulang. Aku gak bisa nginap" penolakan Atiqah ditanggapi kasar oleh Ardi. Ardi menampar bokong Atiqah dengan gasper yang ia sambar di atas ranjang.


"Ah...sakit. Ardi sakit" Ardi memecutnya sekali lagi. Sangat panas dan pedih.


"Puasin aku dulu! baru kamu bisa pulang. Ngerti?!" mencengkeram leher kuat diatas ranjang lalu mengangkat kedua kaki Atiqah dan memeluknya, melesakkan miliknya dalam-dalam.


Rasanya nikmat tapi terselip rasa sakit didalam hati Atiqah. Ia memang seorang pela*cur. Ardi mengingkari janjinya menggunakan pengaman.


"Aku mau bikin kamu hamil Atiqah. Hamil anakku!" Atiqah menggelengkan kepala. Kemarin ia pasrah tapi melihat wajah orangtuanya hari ini. Ia tidak mau mencoreng wajah mereka dengan kehamilannya. Meskipun terlambat. Sudah berkali-kali Ardi menanamkan benihnya.


Ardi menghujamnya berjam-jam. Membolak balikkan tubuhnya. Berpindah dari kamar ke sofa lalu meja dapur dan berakhir berendam di bathup.


Atiqah kelelahan, sampai-sampai ia tertidur di bathup saat Ardi menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil setelah pelepasan kesekian kalinya.


Bersambung...


*****


Nagih janjinya berkali lipat sih ini. Bener pol2an Ardi 😞 Ada yang lebih nyesek lagi tapi nanti....


Cuzz ah rate bintang 5nya, like, komen, gift buat Atiqah.

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2