ATIQAH

ATIQAH
Bab 92 : Berpisah


__ADS_3

"Selagi kakek tua itu masih diluar rumah, kita harus pergi sekarang juga!" bisik Anne pada Ardi. Ardi mengangguk lalu menghampiri Atiqah, memeluknya.


"Maaf, kami harus pergi sekarang. I love you ..." Atiqah diam mematung. Apa maksud Ardi? baru tadi Ardi mengatakan akan makan malam bertiga bersama Aziel tapi kenapa harus pergi sekarang juga? Atiqah bingung.


Kemudian Atiqah mendapati pemandangan yang membuatnya marah.


"Mama ... mau bawa anakku kemana?" Anne buru-buru menggendong Aziel.


"Aziel aku bawa ke Amerika. Ini satu cara biar kamu nggak macam-macam di belakangku. Kalau kamu masih mau ketemu Ziel, tetap disini dan jangan membuat ulah. Aku tau setiap gerak gerik kamu," ucap Ardi dengan raut wajah yang berbeda. Kemarin dan hari ini suaminya itu bersikap manis dan memujanya, tapi detik ini juga Ardi berubah seketika.


"Kamu bohongi aku? jadi kemarin kamu cuma ngerayu aku? aku cuma jadi budak naf*su kamu? iya? jawab aku Ardi! --menarik kaos Ardi pada bagian leher-- Mama! selangkah lagi Mama bawa Ziel pergi, aku nggak segan-segan lapor polisi!" Atiqah berteriak keras. Anne sudah bersiap pergi membawa Aziel. Atiqah sudah berurai air mata.


"Terserah kamu mau lapor polisi. Ziel bukan anak kamu," ucap Anne.


"Maksud Mama apa? Aziel Danurdara putraku! Anakku! Aku ibunya, Atiqah!" Atiqah tak tau harus bagaimana lagi, emosinya sudah meledak-ledak.


"Ma, ayok sekarang?!" Melda masuk lalu menarik Anne untuk segera pergi.


"Jangan bawa anakku! Jangan! --bersimpuh di kaki Ardi-- aku mohon jangan bawa Ziel. Aziel kekuatanku, penyemangatku. Aku nggak bisa hidup tanpa anakku. Tolong ... aku mohon jangan bawa Ziel. Anakku masih menyusu. Aku bisa gila," Atiqah terus menangis, memohon pada Ardi.


"Ziel bukan anak mu lagi," Ardi melepaskan paksa tangan Atiqah di pergelangan kakinya.


"Jangan ... Jangan bawa anakku! Jangan ..." Atiqah berlari mengejar ketiganya. Namun Ardi mendorongnya lagi sampai terjatuh di teras paviliun.


"Aziel anakku, Ziel putraku! Jangan bawa anakku ..." Atiqah terus berteriak dan berusaha mengejar.


Ternyata semua barang-barang sudah disiapkan dari semalam, saat dirinya dan Ardi pergi berbelanja. Mobil juga sudah bersiap di halaman.


Atiqah terus berjalan meski kakinya terkilir dan sikunya terluka.


"Mbok Jum ... mbok ... tolong aku. Mereka bawa Ziel. Anakku mereka bawa pergi. Mbok Jum tolong aku!" Atiqah berteriak meminta pertolongan. Luka oprasinya terasa berdenyut, sakit.


Mbok Jum yang sedang mencuci baju, cepat-cepat mendatangi Atiqah. "Mba, ada apa? kenapa teriak-teriak? ini kenapa luka-luka?" tanya mbok Jum, melihat kaki dan tangan Atiqah lecet.

__ADS_1


"Mbok, anakku. Ziel dibawa mereka. Cepet mbok! panggil Mamang didepan. Cegah mereka. Jangan kasih buka pintunya!" Atiqah mendorong mbok Jum untuk berlari dan berteriak pada dua penjaga didepan.


Namu semua terlambat. Mobil yang ditumpangi Ardi, Anne, Melda dan Ryan sudah menghilang. Mang Pardi menghampiri Atiqah yang terduduk lemas di depan pintu utama.


"Mbak, ini titipan dari den Ardi," menyerahkan selembar kertas foto copy akte kelahiran Aziel.


"Jahat! kalian jahat sama aku! kalian jahat!" Atiqah meremas kertas itu lalu pingsan. Luka oprasinya mengeluarkan cairan.


Mang Pardi dan satu penjaga lainnya membantu membawa masuk Atiqah ke kamar lalu menghubungi dokter keluarga, juga menghubungi Guntur.


"Tur, mbak Atiqah semaput. Ziel digowo minggat (Guntur, mbak Atiqah pingsan. Aziel dibawa kabur)," ungkap mbok Jum di telfon.


"Kok iso mbok? piye to iki? Diluk kas rampung. Aku langsung mulih mbok (kok bisa mbok? gimana dong ini? Sebentar lagi selesai. Aku langsung pulang)," Guntur bingung harus melakukan apa. Posisinya sedang tidak dirumah. Ia memikirkan bagaimana hancurnya hati Atiqah.


Satu gulungan kertas foto copy akte kelahiran Aziel dibuka oleh Guntur, setelah kembali bersama Subroto dan Ani dari rumah sakit.



*(akte hanya kebutuhan novel semata)


Ia tak habis pikir dengan kelakuan Ardi, ibunya juga kakak beserta suaminya. Sungguh diluar nalar.


Begitu teganya memisahkan anak dengan ibunya. Bayi kecil yang baru saja berusia satu bulan itu masih membutuhkan ASI dan dekapan ibu kandungnya. Tapi saat ini justru keduanya dipisahkan dengan cara kotor. Aziel di daftarkan sebagai anak Melda dan Ryan.


"Dokter belum datang juga mbok?" tanya Guntur pada mbok Jum. Mbok Jum menggelengkan kepala.


"Mbok, aku minta tolong. Bilang sama Ani suruh jagain Eyang di kamar. Eyang jangan sampai tau soal ini," pesan Guntur.


"Iyo," mbok Jum pergi keluar paviliun.


Guntur duduk di sofa, merogoh ponselnya. Ia berniat menghubungi Ardi.


"As*u! Baji*ngan tengik!" Guntur mengumpat, Ardi tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


Guntur tak menyerah, ia menghubungi temannya yang bekerja di Bandara Internasional Yogyakarta.


"Halo, Joko. Aku arep njaluk tulung maring awakmu (Halo, Joko. Aku mau minta tolong sama kamu)," ucap Guntur pada temannya yang bernama Joko.


"Njaluk tulung opo, Tur? (minta tolong apa, Guntur?)," tanya Joko, kebetulan memang ia sedang bekerja.


"Tulung cekno penerbangan seko Jogja maring Jakarta, jenenge Ardi Danurdara (Tolong periksa kan penerbangan dari Jogja menuju Jakarta, atas nama Ardi Danurdara)," pinta Guntur.


"Sek yo, tak cekno. Ojo dipateni telfone (Sebentar ya, aku periksa dulu. Jangan dimatikan telfonnya)," ujar Joko. Guntur mengetuk-ngetuk sandaran lengan sofa, menunggu informasi selanjutnya.


"Halo, Tur. Wes tak cek nanging ora ono sing jenenge Ardi Danurdara. Piye? (Halo, Guntur. Sudah aku periksa tapi nggak ada yang namanya Ardi Danurdara. Gimana?)," terang Joko lalu ia bertanya.


"Iso ora awakmu ngecek jeneng kuwi? pasti iso ketok jadwale to? (Bisa nggak kamu periksa nama itu? pasti bisa kelihatan jadwalnya kan?)," desak Guntur. Ia akan mengupayakan apa pun untuk mendapatkan informasi tentang Ardi saat ini. Guntur menunggu lagi.


"Iki ono daftare jenenge Ardi. Udu maring Jakarta nanging maring Singapore. Sejam kas pesawate budal (Ini ada daftar namanya Ardi. Bukan ke Jakarta tapi ke Singapura. Satu jam lagi pesawatnya berangkat)," kata Joko.


"Singapore? yowes ... matur nuwun, Ko. Wes diewangi golet informasi. Kapan-kapan tak ajak ngopi (Singapura? yasudah ... terimakasih, Joko. Sudah bantu aku cari informasi. Kapan-kapan aku ajak ngopi)," ujar Guntur lalu mengakhiri panggilannya dengan Joko.


Tepat saat itu, mbok Jum mengantarkan dokter masuk ke paviliun bersama dua orang suster.


"Saya cek dulu kondisi bu Atiqah," ucapnya pada Guntur.


"Silahkan dok," Guntur memalingkan wajahnya saat dokter membuka kancing baju Atiqah. Kemudian menaikkannya sampai ke atas pusar.


Cairan itu merembes ke daster yang dipakai Atiqah.


"Sus, pasang infus! obati luka-lukanya juga," perintah dokter pada salah satu suster. Dengan cekatan, suster itu menyelesaikan pemasangan infus dan mengobati luka di pergelangan kaki dan tangan.


Atiqah masih belum sadarkan diri, sampai dokter pun selesai mengobati luka oprasi yang mengeluarkan nanah.


"Bisa kita bicara di luar?" tanya dokter pada Guntur. Guntur mengangguk.


Mereka berbicara di ruang santai. Guntur menjelaskan semua kronologi beserta penyebab Atiqah bisa seperti ini.

__ADS_1


"Kondisi mental dan psikisnya pasti terguncang. Saya sudah berikan obat penenang. Jika masih belum sadar dalam waktu 24 jam, cepat bawa ke rumah sakit. Saya selalu siap," terang dokter pada Guntur. Guntur mengerti.


Bersambung...


__ADS_2