
Selama di Jogja, Aziel terus menempeli Atiqah. Itu satu cara untuk melindungi Atiqah dari Ardi. Dan Ardi mau tidak mau meng-iyakan semua keinginan-keinginan konyol putranya itu, termasuk tidur di kamar sebelah yang seharusnya Aziel tidur disana.
Aziel anak yang pintar, ketika di hadapan Ardi berperilaku layaknya Atiqah adalah Tante, istri pamannya. Tapi saat hanya berdua, Aziel begitu manja pada Atiqah. Membalas bertahun-tahun lamanya berpisah.
"Aku mau ke Jakarta minggu depan. Acara pengalihan jabatan pemilik perusahaan. Aziel disini. Puas-puasin waktu kalian berdua. Bulan depan, dia harus balik ke Canada," ucap Ardi pada Atiqah di teras paviliun. Atiqah sedang duduk menikmati secangkir teh bersama asistennya Rizka. Sedangkan Aziel sedang pergi ke kebun bersama Guntur.
"Hemm ..." jawab Atiqah. Ia tidak perduli dengan kegiatan apapun yang dilakukan suaminya.
Sejujurnya Ardi kesal Atiqah mengacuhkannya. Rasanya ingin menyeretnya masuk ke dalam kamar dan memberi pelajaran. Namun Atiqah sangat beruntung akhir-akhir ini. Banyak orang yang melindunginya, termasuk Aziel. Ardi tidak bisa berkutik.
"Jangan bikin ulah bawa kabur anakku!" bisik Ardi sambil membungkukan tangannya dan meremas bahu kanan Atiqah.
"Aku ibunya! dia anakku!" timpal Atiqah berbisik penuh dengan tekanan.
"Terserah!" Ardi marah dan pergi keluar rumah entah kemana.
Atiqah tersenyum pada Rizka. Rizka yang baru beberapa kali bertemu dengan suami atasannya itu, memilih diam. Menyapanya saja malas. Rizka ikut berperang dan tidak menyukai Ardi. Rizka menangis saat atasannya itu mencurahkan isi hatinya dipisahkan oleh putranya sendiri.
"Kak, kenapa sih kakak masih bertahan sama orang itu? Aziel udah kasih lampu hijau buat kakak cari pasangan baru yang bener-bener sayang sama kakak. Aku kesel banget tiap ketemu sama orang itu. Rasanya pengen aku tonjok itu muka. Ganteng tapi hatinya iblis," celoteh Rizka. Rasanya emosinya akan meledak.
"Kamu udah tau kenapa aku masih bertahan. Aku harus gimana lagi? kebahagiaanku cuma Aziel. Aku tau hati anakku nggak sekuat itu. Dia juga kecewa punya orangtua yang begini. Aku tau anakku sedih, Rizka. Aku sayang Ziel," jawab Atiqah.
"Enggak kak. Aziel lebih bahagia lihat kakak bahagia, tapi bukan sama orang itu. Aziel sendiri yang ngomong lho kak. Aku sedih lihat kakak begini. Mending kakak pikirin lagi ucapan Ziel. Minta pendapat mas Guntur." imbuh Rizka.
Atiqah diam, menyesap tehnya lagi. Ia sedang berpikir.
Di kebun, Aziel ikut berkeliling dan memetik beberapa sayuran untuk ia bawa pulang ke rumah. Aziel ingin membuat makanan spesial untuk ibunya.
"Om, bisa bantu aku tidak?" tanya Aziel sambil membawa wadah berisi sayur bayam.
"Bantu apa?" tanya Guntur.
"Bantu ibu lepas dari Uncle," jawab Aziel. Ia tidak mau menyebut Ardi dengan sebutan Ayah.
__ADS_1
"Om mau bantu tapi ibu kamu yang nggak mau. Ibumu takut nggak bisa ketemu kamu lagi. Itu ancaman kuat dari Ayahmu," ungkap Guntur.
"Jangan bilang-bilang ke ibu! Ini rencana diantara kita berdua saja," sambung Aziel sambil jari telunjuknya didepan bibir.
"Tapi om nggak mau kalau ibumu nanti sedih, Ziel," tolak Guntur.
"Please Om, bantu aku. Aku sayang ibu. Ibu masih bisa lihat aku, aku jamin itu," imbuhnya lagi.
Guntur terlihat sedang berpikir. Apakah setuju atau tidak.
*****
Satu minggu berlalu. Atiqah sedang berdebat dengan Ardi di ruang santai paviliun. Aziel berenang di awasi mbok Jum.
"Aku mau ikut kamu ke Jakarta. Aku mau bawa Ziel ketemu sama ibu. Aku nggak mau orangtuaku sama sekali nggak sempat ketemu cucunya. Jangan sampai hal yang lalu terulang!" ujar Atiqah pada Ardi.
"Nggak! aku nggak ijinin kamu ke Jakarta. Tetap diam disini!" Ardi menolak tegas.
"Terserah! setuju atau enggak, aku tetap bawa Aziel ke Jakarta!" Atiqah membentak Ardi.
"Kalau iya, kenapa? aku bilang, aku udah muak sama kamu. Aku capek, aku capek." Atiqah sudah sangat lelah.
"Aku suamimu! kamu istriku sampai kapan pun! masih nggak ngerti juga?" Ardi memegang lengan Atiqah kuat-kuat.
"Suami macam apa? kamu bukan suami, kamu iblis!" Atiqah meneriaki Ardi.
Suara keras adu mulut itu terdengar sampai ke kolam renang. Mbok Jum yang hanya duduk mengawasi Aziel, mendengarnya sangat jelas. Buru-buru ia menghubungi Guntur untuk segera datang. Mbok Jum takut terjadi sesuatu pada Atiqah.
Plak plak...
Dua tamparan mendarat di pipi kanan dan kiri Atiqah bergantian. Sudut bibirnya terluka. Atiqah mendorong Ardi sampai punggungnya membentur tembok.
"Brengsek!" Ardi memijat tengkuknya lalu bangkit menarik atasan baju Atiqah. Ardi meninju mata kanan Atiqah. Atiqah limbung dan terjatuh membentur nakas. Lampu meja yang terbuat dari guci jatuh mengenai kepalanya.
__ADS_1
Prang...
Kepala Atiqah terluka, mengeluarkan darah. Wajahnya luka-luka terkena serpihan guci. Suaranya begitu nyaring terdengar oleh mbok Jum dan Aziel.
"Mbok ... " panggil Guntur saat mbok Jum dan Aziel menuruni anak tangga ke arah paviliun.
"Cepetan, Tur! Mau aku krungu ono barang sing pecah (Cepat Guntur! Tadi aku dengar ada barang yang pecah)," seru mbok Jum sambil memegangi bahu Aziel yang terbalut handuk.
"Iya om, bantu ibu," timpal Aziel.
Guntur mengangguk lalu membuka paksa pintu paviliun. Matanya membulat melihat kondisi Atiqah yang setengah sadar. Sedangkan Ardi duduk menunduk meremas rambutnya, menyandar tembok.
Guntur berjalan cepat, langsung menarik Ardi bangkit. "Bang*sat!" meninjunya berkali kali.
"Ibuuuu .... " teriak Aziel. Memangku kepala Atiqah di pahanya. Darah sudah ada dimana-mana. Atiqah tersenyum, mata kanannya lebam. Hanya sedikit celah matanya yang bisa ia buka.
Mbok Jum bingung, ia memilih berlari keluar memanggil penjaga di depan.
"Ziel, anak ibu," suara lirih Atiqah. Ziel manggut-manggut.
"Iya ibu, ini Ziel. Ibu tahan, sebentar lagi kita bawa ibu ke hospital. Ibu harus tetap sama Ziel," ujar Aziel sambil menangis.
Tangan Atiqah terulur membelai pipi Ziel, "Jadi anak laki-laki yang baik. Ibu sayang Ziel," ucapnya lagi. Suaranya sudah hampir menghilang.
"Tur, wes wes. Gowonen mbak Atiqah sek. Urusan den Ardi, dadi urusanku (Guntur, sudah sudah. Bawa dulu mbak Atiqah. Urusan Ardi, biar jadi urusanku)," ucap mbok Jum, dua penjaga ada di belakangnya siap mengurus Ardi yang terkapar akibat pukulan Guntur.
Guntur membopong Atiqah, Aziel terus menangis mengikuti Guntur ke halaman rumah.
"Ibu, ibu harus kuat. Ziel sama ibu disini," ucap Ziel memeluk kepala Atiqah. Ia duduk memangku ibunya di kursi tengah.
Guntur melajukan mobil ke arah rumah sakit. Sedangkan Ardi sudah dibawa ke kantor polisi. Mbok Jum tidak bisa lagi mentolerir apa yang dilakukan Ardi. Mbok Jum teringat pesan Subroto.
Sebelum Subroto terkena stroke, ia selalu berpesan pada mbok Jum untuk menjaga Atiqah. Meski Ardi adalah cucu kesayangannya tapi Subroto tahu bagaimana perangai Ardi.
__ADS_1
Bersambung...