ATIQAH

ATIQAH
Bab 86 : Pertengkaran


__ADS_3

"Selamat mba, bapak sama ibu seneng dengernya. Tapi maaf, bapak sama ibu belum bisa datang ke Jogja. Robi ... masuk rumah sakit. Semalam demam, suhu badannya tinggi. Mba jangan khawatir, Robi pasti sembuh. Yang terpenting, mba sama cucu ibu sehat-sehat. Bapak sama ibu juga berdoa untuk kesembuhan pak Subroto, titip salam untuk semua. Maaf ya mba," ucap Asri di telfon saat diberi kabar putrinya sudah melahirkan.


"Iya bu, nggak apa-apa. Bapak sama ibu jaga Robi. Atiqah disini ada Ardi juga mbok Jum. Ibu fokus kesembuhan Robi. Jaga kesehatan ya bu," Atiqah menahan kesedihan.


Telfon itu terputus. Atiqah kembali menangis. Ia berbohong pada kedua orang tuanya bahwa ia baik-baik saja. Nyatanya dari ia terbangun tadi sampai langit berubah gelap, Ardi tidak juga kembali.


Atiqah berusaha untuk bergerak, ia ingin cepat pulih dan bisa menggendong Aziel. Kekuatan itu datang karena kehadiran putranya. Penyemangat hidupnya.


Usianya yang masih belia tapi ditempa dengan banyak cobaan. Terkadang Atiqah ingin mengulang masa lalu dan tidak memilih mengenal atau pun bersama Ardi, tapi saat ia melihat wajah tampan putranya, ia tetap akan memilih jalan ini. Asal selalu bersama dengan Aziel, Atiqah merasa sudah cukup. Setelah ini, ia berjanji akan mengejar semua mimpi-mimpinya dan membesarkan putranya dengan baik.


Aziel, putranya itu sangat berarti bagi Atiqah. Sama dengan arti namanya, kekuatan dari Tuhan. Penyemangat hari-harinya.


"Ibu sayang Aziel. Kita akan terus bersama," menciumi bayi mungil itu dalam dekapan. Atiqah sudah dapat duduk setengah berbaring. Meski payah dan nyeri, ia menahannya.


Suara notifikasi pesan berbunyi. Atiqah mengambil ponselnya yang masih tergeletak di samping tubuhnya.


📩 Mas Fajar


Selamat Atiqah. Mas doakan semoga putramu jadi kebanggaanmu. Sehat selalu.


Atiqah membacanya dengan mata yang berkaca-kaca. Pesan Fajar kala itu terngiang kembali. "Hati-hati dengan Ardi. Jaga diri baik-baik".


Satu pesan dari Fajar kembali masuk.


📩 Mas Fajar


Jujur Mas kecewa sama kamu. Kamu masih muda. Ingat pesan mas ke kamu dulu? Jaga diri.


Hati Atiqah tersengat, rasanya ribuan anak panah melesat menancap ke hatinya. Buah dari mengacuhkan perkataan Fajar. Saat ini ia dikecewakan bahkan sudah terlalu sering di sakiti suaminya sendiri.


📩 Atiqah


Terimakasih Mas untuk ucapan dan doanya. Aku doakan juga untuk kebahagiaan Mas Fajar dan istri. Cepat menyusul ya 😊.


Atiqah hanya membalas satu pesan Fajar lalu menutup ponselnya.

__ADS_1


Dan malam itu Atiqah hanya berdua bersama mbok Jum. Ardi tidak datang. Kekecewaan itu semakin bertumpuk.


Keesokan hari, Ardi datang pada saat jam makan siang. Raut wajahnya datar.


"Udah makan?" tanya Ardi sembari mencium kening Atiqah.


"Udah, baru aja. Kamu udah makan?" tanya Atiqah. Ardi mengangguk.


"Mbok Jum pulang aja, didepan ada Mang Pardi. Biar malam ini aku yang disini. Mbok istirahat," ucap Ardi pada Mbok Jum.


"Inggih, den. Simbok pamit mbak," ucapnya pada Atiqah.


"Iya mbok, makasih," Atiqah melihat mbok Jum keluar kamar.


Ardi mendekati box bayi. Menatap wajah bayi laki-lakinya dengan senyuman.


"Semua mirip kamu. Cuma bibirnya yang kaya aku. Padahal aku yang susah payah selama sembilan bulan ini," Atiqah tertawa.


"Dia anakku, ya harus mirip aku. Emang mau mirip siapa? Guntur? atau Fajar?" celetukan Ardi itu membuat Atiqah terdiam. Atiqah pikir, suaminya sudah baik-baik saja. Tapi ternyata tidak.


Atiqah menunduk, menghindari tatapan Ardi. Dua tangannya meremas sprei.


"Lihat aku!" menjepit dagu Atiqah, mengangkatnya.


"Mi rip ka mu. Kamu ayahnya jadi ... pasti mirip kamu," Atiqah terbata. Ia takut salah bicara.


Ardi langsung menyambar bibirnya, melu*mat rakus sambil meremas satu dada Atiqah. Atiqah memejamkan matanya menahan rasa sakit oleh remasan Ardi. Pakaiannya basah di bagian dada, ASInya merembes.


Ardi melepaskan tautannya. Menempelkan dahi sambil terengah, begitu juga dengan Atiqah.


"Aku nggak mau kamu masih berhubungan sama laki-laki beristri itu. Apa hak dia buat kecewa? apa hak dia buat ngatur-ngatur kamu? siapa emang dia?" Ardi geram, ia kesal.


Atiqah diam memikirkan dari mana Ardi tahu soal pesan Fajar untuknya.


"Sekali lagi aku tau kamu berhubungan sama dia atau pun laki-laki lain, aku sita handphone kamu!" meraih ponsel Atiqah yang tergeletak di atas nakas.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" tanya Atiqah melihat Ardi mengutak atik ponselnya.


"Aku hapus semua pesan, juga nomornya. Awas aja kalau sampai kamu hubungi dia! aku tau semua yang kamu lakuin," menunjuk wajah Atiqah dengan telunjuknya. Ardi menyadap ponsel Atiqah.


"Gimana bisa? kamu udah hapus nomornya. Terserah kamu! lakuin semua yang kamu mau. Aku disini cuma mayat hidup. Aku nggak boleh lakukan apa pun. Bahkan aku nggak diperlakukan sebagai istri yang seharusnya. Mana janji kamu dulu? katanya kamu cinta, katanya kamu sayang aku. Tapi kamu siksa aku terus kaya gini. Aku salah, aku selalu salah ..." Atiqah berteriak sampai luka operasi terasa berdenyut dan mengeluarkan darah.


"Kamu berani bentak aku?" Ardi mencengkeram pipi Atiqah.


Atiqah menangis, rasa sakitnya bercampur dengan rasa sakit luka oprasinya. Atiqah memencet tombol di sebelah ranjangnya tiga kali. Ia tidak mau menatap Ardi.


Suster datang, Ardi mundur lalu pergi keluar kamar entah kemana. Guntur datang saat Ardi berbelok ke lorong lain.


"Bu, kok bisa begini? ini lukanya terbuka lagi. Sebentar, saya panggilkan dokter dulu. Ibu pegang ini, jangan terlalu ditekan," Suster keluar berpapasan dengan Guntur.


"Pak, tolong istrinya di jaga. Jangan di tinggalkan!" ucap Suster itu lalu pergi. Guntur yang baru datang bingung.


"Mbak ... ya ampun. Itu, itu kenapa?" Guntur tidak berani mendekat, ia melihat darah merembes keluar dari perut bagian bawah Atiqah.


"Nggak papa, ini tadi aku banyak gerak jadi luka lagi. Mas Guntur tolong lihatin Aziel. Tadi dia kayaknya nangis," sambil memegangi perut, Atiqah menunjuk box bayi dengan dagunya.


"Baik Mbak," Guntur mendekati box bayi. "Nggak nangis kok mbak. Aziel nyenyak tidurnya. Mungkin tadi ngerengek aja," ucap Guntur lagi.


Tak lama dokter Arista datang membawa peralatan lengkap bersama Suster jaga hari itu.


"Lukanya sudah saya tutup lagi. Bu Atiqah boleh bergerak, tapi hati-hati. Jangan terlalu bersemangat. Semoga lekas sembuh," pesan dokter Arista.


"Baik dok. Terimakasih," Atiqah mengangguk. Dokter Arista dan Suster jaga keluar. Tersisa Guntur dan dirinya disana.


Atiqah diam. Tak lama Guntur membuka suara. "Mbak, Eyang sudah sadar tapi Dokter bilang, Eyang lumpuh dan ..." Guntur menjeda ucapannya.


"Dan apa mas?" tanya Atiqah.


"Eyang nggak bisa bicara," jawab Guntur. Mendengar kabar seperti itu rasanya membuat Atiqah semakin terpuruk.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2