
Tengah malam Ardi merasakan sesuatu yang berat di punggungnya. Ardi merubah posisi tidur dan langsung mendapati Atiqah yang tertidur di sampingnya dengan pakaian seksi, sangat menggoda. Dadanya semakin padat dan berisi. Belahan dada itu menyembul. Ardi membelainya dengan lembut lalu beralih menyelipkan rambut yang sedikit menutupi wajah Atiqah.
"Kamu makin cantik" mengecup kening.
Ardi memeluk Atiqah, mengusap punggung dan menjalari lekuk tubuh sampai ke bagian bawah. "Aku kangen banget" meremas bokong Atiqah sedikit keras. Istrinya itu terlonjak kaget.
"Kamu ... kamu bangun?" tanya Atiqah, menyipitkan matanya memandang Ardi tepat di depan wajahnya.
"Kamu lama banget ke dokternya. Aku mau kasih surprise tapi malah aku yang kaget gini. Kamu seksi banget Yang" berbisik lalu menjilat cuping telinga.
"Emm ..." Atiqah merinding. Sudah berbulan-bulan tidak bertemu suaminya. Rasa rindunya menggunung.
"I miss you" ucap Ardi sebelum menempelkan bibirnya.
"I miss you too" Atiqah menyambut bibir Ardi.
Pelampiasan itu terasa tak cukup hanya satu kali menyatukan dua insan yang dilanda rindu. Dua kali Ardi melambungkan Atiqah sampai menyebut namanya dengan suara desaahan yang membuat Ardi semakin membenamkan miliknya dibawah sana.
"Aku ... aku ..." suara Atiqah terbata sambil mencengkeram kedua lengan Ardi yang masih mengayunkan tubuhnya.
"Kenapa Yang? mau keluar lagi?" tanya Ardi, Atiqah mengangguk. Lalu Ardi membantu Atiqah mencapai pelepasannya dengan rakus meraup puncak dada.
Atiqah mendongakkan kepala sambil meremas kepala Ardi yang masih sibuk mengulumm dan menggigit dadanya. "Ah ..."
"Udah? --Atiqah mengangguk lemah-- giliranku Yang" Ardi memiringkan tubuh Atiqah lalu memeluknya erat. Kemudian mengangkat kaki kiri istrinya itu. Menghujamnya dalam-dalam.
Ardi membekap bibir Atiqah saat mengeraang. "Sshhhh .... Ahh" suara desahaannya terdengar. Ardi terus memacu tubuhnya dini hari.
"Aku ... Aku" Atiqah kembali meracau.
"Kamu mau keluar lagi Yang?" tanya Ardi. Ia merasa jumawa membuat istrinya merasakan 3 kali berturut-turut.
Ardi kembali membalikkan istrinya. Berganti posisi.
Pagi buta itu terasa lambat bagi Atiqah dan Ardi. Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi. Keduanya telah usai dengan kegiatan yang menguras tenaga.
"Gimana? apa kata dokter kemarin sore?" tanya Ardi sedang memeluk Atiqah dari belakang sambil mengusap perut yang sudah sedikit buncit.
"Semua baik, bagus. Kamu mau tau apa lagi kata dokter?" Atiqah membalikkan badannya menghadap Ardi.
"Apa?" tanya Ardi sambil merapihkan riapan anak rambut di wajah istrinya.
"Baby Boy" ucapnya lirih.
__ADS_1
"Hah?? Apa??" Ardi masih belum paham apa maksud perkataan Atiqah.
"Laki-laki. Bayi kita laki-laki" Atiqah menangkup wajah Ardi memberikan kecupan.
"Hah?? serius?" Atiqah mengangguk cepat, tersenyum. Ardi memeluk Atiqah lalu duduk mendekati perut dan mengecupinya berkali-kali. Rasanya begitu bahagia.
"Aku yang pertama kamu kasih tau kan?" tanya Ardi, Atiqah mengangguk. "Jadi ... aku yang dapet surprise?" Atiqah mengangguk lagi.
Ardi kembali mengecupi perut Atiqah. Mereka masih belum berpakaian.
*****
Ibu hamil diperbolehkan untuk melakukan olahraga renang. Sudah dua bulan terakhir, Atiqah berenang di dampingi seorang ahli atau pelatih.
Sore ini Ardi mengawasi dari pinggir kolam. Melihat istrinya yang masih muda itu bergerak perlahan dari ujung ke ujung.
Memang ukuran kolam renang tidak terlalu luas tapi cukup menguras tenaga.
"Delok opo? (lihat apa?)" Mbok Jum menepuk bahu Guntur. Asisten Subroto itu mengamati Atiqah yang sedang berenang memakai pakaian renang Tankini. Sejenis baju renang dengan perpaduan tanktop dan celana pendek.
Biasanya Atiqah memakai pakaian renang one piece saat tidak ada Guntur. Dan hari ini karena Ardi ada dirumah tidak mengijinkan Atiqah memakai baju renang model itu.
"Bocah ngeyel! Wes tak kandani ojo nresnani mbak Atiqah, kok yo angel men. Opo kudu tak keplak disek sirahmu? (Anak nggak patuh! Sudah dikasih tau jangan sukai Atiqah, susah sekali. Apa harus dipukul dulu kepalamu?)" Mbok Jum memukul kepala Guntur. Baru kali ini ia melakulan itu pada asisten Subroto.
"Loro mbok (sakit mbok) --mengusap belakang kepalanya-- Aku ki mung delok ae mbok. Penasaran piye wong meteng nglangi. Jebul yo podo wae. Nanging ... cen ayu tur seksi (aku cuma lihat saja mbok. Penasaran gimana orang hamil berenang. Ternyata sama saja. Tapi ... memang cantik juga seksi)" Guntur keceplosan, langsung menutup mulutnya. Mbok Jum menjewer telinga Guntur, menyeretnya ke arah meja makan dan mendudukkannya di kursi yang ia tarik.
"Ampun mbok, ampun ..." rengek Guntur memegangi tangan mbok Jum yang masih berada ditelinganya.
"Ono opo to? (Ada apa?)" Subroto baru saja pulang dari kebun diantar Mang Pardi.
Mbok Jum melepas jewerannya. "Mboten nopo-nopo Eyang. Kulo badhe wingking rumiyin (Tidak ada apa-apa Eyang. Saya mau ke belakang dulu)" Mbok Jum undur diri ke belakang dimana dapur kotor dan kamarnya berada.
Subroto mengangguk " Yo ... yo (iya iya)". Lalu duduk disamping Guntur yang masih mengusap telinga bekas jeweran mbok Jum.
"Nganti abyang ngunu (sampai merah begitu) --menunjuk telinga Guntur. Yang ditunjuk hanya meringis-- Ojo nakali simbok. Ojo ngeyel. Elingo karo wong tuomu. Mbok Jum wes mbok koe anggep ibu to? Sing manut (Jangan nakal sama mbok Jum. Jangan ngeyel. Ingat sama orangtuamu. Mbok Jum sudah kamu anggap ibu kan? yang nurut)" Subroto menepuk bahu Guntur.
"Inggih Eyang. Kulo nyuwun pangapunten (Iya Eyang. Saya minta maaf)" ucap Guntur, kemudian terdengar suara Atiqah yang menjerit. Subroto dan Guntur bangkit berjalan sedikit cepat sampai di teras belakang.
"Oalah ... bocah gendeng! Ngageti wae (Oalah ... anak gila! bikin kaget aja)" Subroto memaki Ardi. Atiqah menjerit karena dibopong tiba-tiba. Ia takut terjatuh. Guntur diam dan terus menatap keduanya sampai masuk ke dalam paviliun.
Pelatih renang sedang berganti pakaian di kamar mandi samping kolam. Ternyata pelatih yang direkomendasikan Guntur adalah temannya semasa kuliah di UGM.
__ADS_1
"Anterono Tur! (Antarkan Guntur!)" ucap Subroto pada Guntur saat melihat pelatih renang bernama Ayu itu berjalan ke arahnya.
"Inggih Eyang" Guntur menganggukkan kepala. Subroto masuk ke dalam, berbelok ke arah kiri ke kamarnya.
"Aku anter ke depan" ucap Guntur pada Ayu.
"Makasih Gun" Ayu dengan senyuman manisnya merasa senang seperti biasanya. Ia senang bertemu Guntur kawan lamanya.
"Hati-hati di jalan Yu" ucap Guntur. Ayu mengangguk dengan helm yang sudah ia pakai. Motor matic berwarna hitam itu keluar dari pekarangan rumah.
Ardi membopong Atiqah bukan hanya sampai ke kamar tapi ke dalam kamar mandi.
"Ih ... minggir! aku mau bilas sendiri aja. Kamu keluar" Atiqah mendorong Ardi yang sudah memojokkannya ke dinding.
"Aku aja yang bilasin. Kamu diem aja" Ardi menurunkan satu tali atasan baju renang Atiqah.
"Enggak ... enggak. Aku tau pasti nggak cuma mandi aja. Pasti lebih dari itu" Atiqah kembali menaikan tali bajunya dan terus mendorong Ardi, tapi sia-sia. Ardi sudah menyerbu lehernya. Dan benar apa kata Atiqah, lebih dari sekedar membilas.
Sore itu, Atiqah dan Ardi mengeraang di dalam sana. Sampai tak cukup setelah mengeringkan badan, Ardi menggempurnya lagi di atas ranjang.
"Kamu bohong. Nggak bisa dipercaya" ucap Atiqah dalam pelukan Ardi. Titik-titik peluh itu memenuhi dahi dan juga dada.
"Tapi kamu juga mau" Ardi mencubit hidung Atiqah.
"Aku nggak bisa berkutik kalau kamu udah nyerang. Udah ah, aku laper Yang" Atiqah memundurkan badannya, bersiap turun dari ranjang.
"Diem disitu, aku yang gendong ke kamar mandi" Ardi buru-buru turun lalu membopong Atiqah lagi.
"Beneran ini bersihin aja ya. Jangan lagi! aku udah laper banget" Atiqah memohon.
"Iya ... iya. Sekalian kita kasih kabar ke Eyang soal bayi laki-laki kita" ucap Ardi sambil membopong Atiqah.
"Oke"
15 menit kemudian, Ardi dan Atiqah sudah duduk di ruang makan. Subroto keluar dari kamarnya, sedangkan Guntur membantu mbok Jum menyiapkan beberapa hidangan untuk makan malam.
"Eyang, Ardi punya kabar gembira" Ardi bersemangat, matanya menatap Atiqah disampingnya, tersenyum. Atiqah membalas dengan anggukan.
"Opo le'?" tanya Subroto.
"Calon cicit Eyang, jagoan" kabar gembira itu disambut dengan senyum dan tawa bahagia sekaligus. Subroto terus mengucapkan selamat pada cucu dan cucu menantunya.
"Eyang bakal ngekei awakmu hadiah. Sesuk urus ono Tur! (Eyang akan memberikan kamu hadiah. Besok di uruskan Tur)" ucapnya pada Atiqah lalu memberi perintah pada Guntur. Entah hadiah apa yang akan Atiqah terima tapi pasti sesuatu yang luar biasa.
__ADS_1
Bersambung...