
"Bu, kita harus secepatnya menikahkan mereka berdua. Kita urus semua besok pagi" ucap pak Bondan pada istrinya di kamar, malam harinya setelah meninggalkan Atiqah dan Ardi dirumah sakit.
Bu Asri tidak banyak bicara. Hatinya sudah cukup sakit mendapati putrinya tengah berbadan dua di usia yang sangat muda.
"Anak kita sudah berubah sejak kenal anak itu, bu" kata Bondan sambil duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Ibu nggak mau bahas lagi pak. Ibu pusing kalau inget kejadian tadi. Semua orang ngomongin anak kita" bu Asri memijati kepalanya. Entah apa yang akan terjadi nanti. Semua orang akan mencemooh keluarganya.
Malam merangkak terasa lambat bagi Bondan dan Asri. Meski hati kecewa dan marah pada putrinya, sebagai orangtua mereka cemas memikirkan bagaimana keadaan Atiqah saat ini.
Asri yang sudah berpengalaman mengandung dan melahirkan, ia tahu betul rasanya hamil muda. Dan benar apa yang dirasakan Asri sebagai seorang ibu. Putrinya disana di suatu tempat sedang demam, tubuhnya lemas karena mual hebat.
"Mba baik-baik aja kan? ibu khawatir kamu kenapa-kenapa" batin Asri sambil memandangi tembok kamar. Bondan dan Asri sama-sama terjaga di malam itu. Saling memunggungi dan memikirkan keadaan putrinya.
"Bapak kecewa tapi bapak takut kamu kenapa-kenapa, mba" batin Bondan menatap foto keluarga di atas nakas di samping ranjang.
Rasa kecewa yang besar terhadap anak, tidak bisa mengubah rasa sayang orangtua. Mereka akan tetap menerimamu apapun keadaannya.
Dan pagi itu setelah selesai mengurus segala hal untuk menikahkan putrinya esok hari, Bondan dan Asri memberanikan diri ke kediaman Sigit untuk mencari putrinya.
Pagar menjulang tinggi berbahan kayu mahal menutupi fasad rumah itu. Bondan membuka pintu mobil, ia dan istrinya menaiki taksi untuk sampai disana.
Menjejakkan pertama kali kakinya di depan rumah pemilik pabrik dimana ia bekerja. Rasa sungkannya sudah berubah menjadi rasa kesal. Perbuatan anak laki-laki mereka sudah sangat keterlaluan. Menghamili putrinya.
"Pak ... kayaknya nggak ada orang" ucap Asri melihat pos security.
"Sebentar bu ..." Bondan mendekati pos itu. Bondan memberanikan diri mengetuk jendela kaca. "Permisi ..." ucapnya.
Keluarlah seorang pria seumuran dengan dirinya dari bilik kecil, sepertinya itu kamar mandi.
"Ada apa pak?" tanyanya setelah menggeser jendela kaca.
"Maaf pak, saya mau bertemu dengan Ardi. Putra dari pemilik rumah ini" Bondan langsung pada intinya, mencari Ardi.
"Wah maaf pak. Mas Ardi sudah keluar dari rumah. Sudah satu bulan yang lalu" jawaban security itu cukup membuat Bondan terkejut. Asri sama terkejutnya.
__ADS_1
"Keluar dari rumah? lalu ... sekarang tinggal dimana? apa bapak tau?" tanyanya lagi.
"Setau saya, mas Ardi tinggal di apartemennya di dekat sekolahnya" jawab security itu.
"Apartemen? di lantai berapa?" Bondan ingin rasanya segera kesana.
"Kalau tidak salah lantai sepuluh tapi saya tidak tau nomornya pak. Ada keperluan apa sebenarnya pak?" security itu ikut penasaran.
"Ardi sudah menghamili anak saya, dan anak saya dibawanya kabur" ucap Bondan dengan raut wajah kesal.
"Hah?? bapak jangan ngada-ngada pak. Jangan main-main sama keluarga ini. Mereka orang kaya, bapak bisa dilaporkan ke polisi nanti" security itu tidak percaya dengan perkataan Bondan baru saja. Dari penampilan Bondan dan Asri sangat tidak mungkin dari golongan yang selevel dengan Tuannya.
"Saya serius! buat apa saya jauh-jauh datang kesini hanya untuk berbohong?" Sigit kesal, ia merasa diremehkan.
"Ya bisa aja kan bapak ini mau memeras keluarga Tuan Besar. Mendorong putri bapak sendiri untuk dihamili anak konglomerat" ucapannya sungguh membuat Bondan emosi.
"Brengsek!!" Bondan menarik kerah baju security itu dan siap meninju tapi Asri menahannya.
"Jangan pak! jangan! sudah, kita langsung ke apartemen saja" Asri menahan tangan suaminya. Bondan mendorong security bernama Iman itu sampai terjengkang di dalam pos jaganya.
Berjalan cukup jauh untuk keluar dari perumahan elit itu. Bondan dan Asri memilih menaiki bus transjakarta ke apartemen dimana Ardi tinggal.
Langkah kaki keduanya sampai di tower 2 setelah bertanya pada resepsionis yang berjaga pada hari itu.
"Permisi pak ... berapa nomor apartemen Ardi Danurdara?" Bondan bertanya tanpa berbasa basi.
"Maaf pak, untuk keperluan apa? dan anda siapanya Mas Ardi?" petugas itu sudah hafal betul siapa Ardi.
"Saya orangtua Atiqah, pacar Ardi" Bondan menjawab dengan gamblang. Petugas itu jelas tahu siapa Atiqah. Dia pernah bertemu dan memberikan kartu akses ke apartemen Ardi.
"Tapi saya tidak bisa memberikan nomornya sebelum ada persetujuan dari mas Ardi" petugas bernama Aang itu tetap tidak mau memberikan kartu akses pada Bondan dan Asri.
"Ardi sudah membawa putri saya. Putri saya hamil gara-gara dia! saya mau menjemput putri saya!" Bondan menggebrak meja, menarik lagi kerah seragam Aang.
"Hamil??" Aang tidak bisa tidak menyerah. Ia memberikan kartu akses itu pada Bondan. Aang tidak mau terlibat dalam masalah mereka. Ia hanya ingin bekerja untuk menafkahi keluarganya dikampung.
__ADS_1
Bondan menggenggam kartu itu lalu masuk ke dalam lift bersama istrinya. Keduanya diam sambil terus melihat angka yang semakin bertambah. 6 7 8 9 dan 10...tting. denting suara lift sampai di lantai itu.
Nomor 105 tepat dihadapan. Tanpa perlu membuang waktu, Bondan menekan bel dua kali. Pintu dibuka Ardi yang hanya memakai celana boxer. Asri memalingkan wajahnya. Bagaimana keadaan putrinya di dalam? sedangkan Ardi saja hanya mengenakan boxer tanpa berpakaian.
Bondan rasanya ingin meninju lagi wajah Ardi yang masih lebam itu. Tapi ia tidak ingin membuang-buang waktu. Entah apa yang terjadi didalam antara Ardi dan putrinya, Bondan hanya mau menyampaikan ultimatumnya dan segera membawa Atiqah pulang.
"Bu, kamu yang masuk ke dalam. Bapak tunggu disini" menyuruh istrinya masuk ke dalam kamar.
Terjadi perdebatan kecil antara Asri dan Ardi. Ardi tidak ingin ibu kekasihnya masuk dan melihat Atiqah telanjang.
"Jangan bu. Biar saya aja yang masuk" Ardi menahan pintu.
"Kenapa? memangnya ada apa? Minggir kamu!" bentak bu Asri. Ardi membuka pintu kamar perlahan dan membiarkan ibu kekasihnya masuk.
Setelah Asri melihat dan berteriak menyebut nama putrinya, ia keluar dari kamar itu. Hatinya kembali hancur. Ia seperti tidak mengenali putrinya lagi. Atiqah dengan santainya melakukan se*ks setelah membuat kedua orangtuanya marah besar.
Bondan mengatakan dengan tegas pada Ardi untuk datang besok pagi bersama orangtuanya. Ardi menjawab dengan yakin bahwa dia akan datang, menepati janjinya.
"Mba, ikut bapak ibu pulang!" titah Bondan. Atiqah mengangguk lalu ikut pulang ke rumah bersama orangtuanya.
Ardi menyambar ponselnya di dalam kamar.
"Pa, besok jam 10.00 jemput Ardi di apartemen. Ardi mau nikahin Atiqah besok!" ucapnya tanpa basa-basi.
"Apa??? kamu gila Ardi! kamu masih sekolah. Nggak bisa, Papa nggak bisa!" Sigit tidak mau. Ini tidak sesuai dengan ucapan putranya saat itu. Menikahi Atiqah setelah ia lulus SMA.
"Harus bisa! Mau Ardi kirim semua bukti ke Mama dan Eyang?" Ardi mengancam.
"Stupid!! ingat ucapan kamu Ardi! kamu menikah dengan perempuan miskin itu setelah kamu lulus tapi kenapa jadi besok? apa yang kamu lakukan sampai harus menikah dengannya besok pagi?" suara Sigit terdengar memekakan telinga.
"Maksud Papa apa?" suara Anne terdengar di telinga Ardi.
"Atiqah hamil anak Ardi. Ardi nggak mau tau, pokoknya besok jemput Ardi. Untuk urusan Mama, Ardi lepas tangan. Terserah Papa" Ardi langsung mematikan telfonnya.
"Ardi ... Ardi! sialan!" gerutu Sigit.
__ADS_1
Bersambung...