
Atiqah terus menangis di samping Subroto yang masih belum sadarkan diri. Sudah dua hari, kakek tua itu mengalami koma. Ardi berdiri di belakang Atiqah, mengusap kedua bahu.
"Jangan nangis terus, nggak baik buat anak kita. Sekarang pulang ya? udah dari pagi kamu di rumah sakit. Kamu harus istirahat," Ardi mencoba membujuk Atiqah pulang.
"Tapi Eyang ... Eyang belum sadar juga. Aku takut ... aku takut Eyang nggak bisa lihat cicitnya lahir nanti," Atiqah menatap sendu Ardi. Matanya bengkak.
"Jangan ngomong gitu. Kita harus optimis Eyang bisa sembuh --mengusap pipi-- kita pulang ya?" Ardi memapah Atiqah berdiri. Atiqah menurut. Lalu mereka berpapasan dengan Guntur didepan pintu.
"Kita pulang dulu mas. Kalau nanti ada kabar tentang Eyang, kabarin aku ya mas," ujar Atiqah pada Guntur. Ardi diam saja. Sejak kedatangannya di Jogja, Ardi tidak berbicara ataupun menyapa Guntur.
"Baik mbak. Mbak Atiqah dan mas Ardi istirahat saja di rumah. Eyang biar saya saja yang jaga," ucap Guntur sambil mengangguk mempersilahkan Atiqah dan Ardi pergi.
Guntur menatap punggung keduanya. "Ada masalah apa sebenarnya? ada sesuatu yang mas Ardi sembunyikan," ucapnya pada dirinya sendiri.
Atiqah diam menatap luar kaca mobil. Hujan turun cukup deras. Ardi kembali diam. Ia hanya fokus pada jalanan.
"Kamu kenapa? dari dateng kemarin sering diam. Kamu juga nggak ada ngobrol sama mas Guntur. Ada masalah apa?" tanya Atiqah, mengubah posisi duduknya menyerong menghadap Ardi.
"Nggak ada. Cuma perasaanmu aja," Ardi bersikap cuek. Atiqah menatapnya dengan perasaan marah ingin memaki tapi ia tahan. Atiqah kembali mengubah posisi duduknya menghadap lurus ke depan.
Meski Ardi lebih pendiam tapi ia masih perhatian pada Atiqah. Menuntun istrinya itu masuk ke dalam rumah.
"Mbok masak apa? aku sama Atiqah belum makan malam," tanya Ardi setelah masuk ke ruang makan. Mbok Jum kebetulan masih di dapur.
"Masak lodeh den. Mau disiapkan?" tanya mbok Jum berdiri di depan meja makan.
"Kamu mau?" tanya Ardi pada Atiqah.
"Mau, apa aja aku mau. Maaf ya mbok ngrepotin malem-malem gini," ucap Atiqah lalu duduk di kursi yang sudah Ardi siapkan untuknya.
"Ndak papa, kasihan ibu hamil kelaperan. Tunggu sebentar yo," mbok Jum kembali ke depan kompor. Menyiapkan sayur lodeh ke dalam wadah.
Atiqah dan Ardi menikmati makan malam mereka yang sedikit terlambat. Sayur lodeh, tempe goreng dan sambal terasi ludes.
"Makasih ya mbok," ucap Atiqah pada mbok Jum lalu menerima uluran tangan Ardi. Ardi membawa Atiqah masuk ke dalam paviliun.
__ADS_1
"I miss you ..." ucap Ardi, memeluk Atiqah.
Atiqah terkejut dipeluk secara mendadak dari arah belakang.
"Kok nggak jawab? aku bilang kangen," ucap Ardi lagi.
"Hah?? iya, aku juga kangen," jawab Atiqah. Mereka perlahan berjalan sampai ke dalam kamar. Ardi memutar kunci pintu.
"Kalau kangen harusnya ngapain?" tanya Ardi, mencoba memancing Atiqah. Ia naikkan dress selutut hingga tersingkap tubuh bagian bawah. Perut membuncit dan underware tipis yang dipakai Atiqah memberikan kesan seksi. Sudah sangat lama Ardi tidak menyentuhnya karena larangan yang dokter Arman katakan dulu.
"Emang ngapain? aku kekenyangan, sekarang ngantuk," Atiqah menurunkan dress nya lalu pergi ke kamar mandi. Ardi mengepalkan kedua tangannya.
Atiqah mencuci muka, menggosok gigi lalu membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi ia membuka lemari untuk berganti pakaian. Ardi menatapnya dengan tatapan yang tajam dari atas kasur.
"Ngeliatinnya gitu banget. Kamu nggak mandi? dari pagi kan di rumah sakit. Mandi gih," ujar Atiqah sambil memakai daster, tanpa bra menutupi dadanya. Kehamilannya yang sudah membesar membuatnya sesak jika tidur memakai bra.
Ardi tetap diam, dari sorot matanya jelas ia marah. Hasratnya ingin dilampiaskan tapi istrinya menolak.
"Udah malem, aku mau tidur. Besok pagi kita harus ke rumah sakit lagi," Atiqah masuk ke dalam selimut lalu tidur memunggungi Ardi.
Ardi memilih pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan kepalanya.
Jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Terdengar suara *******. "Ah ..." Atiqah mendesah. Ardi sudah melucuti dasternya dan hanya tersisa underware.
Ardi sedang menguluum puncak dada bergantian. Atiqah meremas rambut hitam suaminya itu.
"Aku tau kamu juga pengen. Jangan sok jual mahal!" ujar Ardi ketus. Atiqah seperti kembali ke kesadarannya. "Aku suamimu! tapi kamu nggak mau aku sentuh. Mau kamu siapa? Guntur? iya? Jawab!" Ardi mencubit puncak dada cukup keras.
"Sakiittt ... maksud kamu apa?" Atiqah menepis tangan Ardi di dadanya lalu menutupi dengan dua tangannya.
"Nggak usah pura-pura kamu! enak ciuman sama Guntur? iya??" Ardi menarik kasar underware Atiqah sampai terlepas dan robek.
"Kamu jangan kasar lagi sama aku! bisa bahaya. Aku lagi hamil anak kamu Ardi. Sadar kamu! Sadar!" Atiqah terduduk dan langsung mundur memberi jarak antara dirinya dengan Ardi. Ia sangat takut Ardi berbuat nekat lagi.
"Bulshit! Fu*ck you! Bit*ch! kamu wanita murahan! kamu pikir selama ini terus berduaan sama Guntur aku nggak tau? apa aja yang kamu lakuin sama dia waktu aku di Jakarta? memang kamu pikir aku goblok? HAH!!" Ardi mendekat, menarik rambut lalu mencengkram mulut Atiqah.
__ADS_1
"Enak ciuman sama Guntur? enak peluk-peluk dia? enak rangkul, manja-manja sama Guntur? enak digendong sama Guntur? Jawab!! pe*lacur kamu," Ardi menampar Atiqah.
"Kamu boleh kasar sama aku, kamu boleh pukulin aku tapi please ... jangan anak kita. Aku takut ada apa-apa sama dia. Aku takut. Please, aku mohon. Aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku nggak ada apa-apa sama mas Guntur. Sumpah! Aku nggak ada apa-apa. Aku cuma sayang juga cinta kamu. Aku sayang sama anak kita. Aku mohon," Atiqah mengatupkan kedua tangannya, mengiba pada Ardi.
"Arghh ... Breng*sek!! Baji*ngan!!" Ardi mengacak-ngacak rambutnya.
Atiqah menyambar dasternya cepat.
"Suruh siapa kamu pakai bajumu?" Ardi kembali membentak. Menarik dua kaki Atiqah sampai di tepi ranjang. Ardi membuka paha istrinya itu lebar-lebar.
"Jangan! Jangan! kamu nggak boleh lakuin ini ke anak kita. Ini anak kamu," Atiqah berusaha menyadarkan Ardi. Miliknya masih belum basah. Ia tidak mau dimasuki dengan cara kasar.
Ardi gelap mata. Ia sudah melepas celananya. Miliknya sudah menegak sempurna.
"Stop it!! Please ... aku mau layanin kamu, tapi dengan cara yang benar. Pelan-pelan tanpa emosi," Atiqah duduk lalu tangannya perlahan meraba milik Ardi. Memijatnya naik turun.
Ardi menge*rang, kejantanannya terasa hangat. Ia menekan kepala Atiqah sambil menggoyangkan pinggulnya cepat.
Atiqah terengah. Bibirnya terlihat seksi.
"Jangan pikir aku udah maafin kamu sama laki-laki miskin itu!" Ardi langsung melu*mat bibir Atiqah. Menciumi seluruh tubuh yang baginya itu adalah miliknya, hanya miliknya.
"Ini milikku! semua milikku!" ucapnya penuh penekanan.
Ardi memasuki Atiqah dengan lembut lalu berubah semakin cepat dan kasar. Ardi menampar bokong Atiqah. Hingga saat puncaknya ingin meledak, Ardi menggigit kuat-kuat bahu kanan Atiqah sambil meremas dua dadanya.
Ardi bernapas kasar, sedangkan Atiqah menahan rasa sakit di bahu, bokong dan pangkal pahanya.
"Balik! aku masih bisa. Kamu nggak akan bisa rasain dari laki-laki miskin itu!" Ardi membalikkan tubuh Atiqah. Ia kembali memasuki istrinya itu.
Sampai menit ke tiga puluh, air ketuban merembes di atas kasur. Ardi panik. Begitu juga dengan Atiqah.
Tanggal lahir dari dokter masih tiga minggu lagi. Tapi malam itu Atiqah merasa mulas yang teramat sakit dan intens setelah air ketuban pecah.
Bersambung...
__ADS_1