ATIQAH

ATIQAH
Bab 38 : Yogyakarta (2)


__ADS_3

Terdengar suara ayam berkokok, burung-burung berkicau saling bersautan meramaikan pagi hari yang berkabut. Atiqah merapatkan selimutnya, rasanya sangat malas untuk bangun. Padahal udara diluar benar-benar segar.


"Atiqah...Atiqah..." Lala mengetuk pintu sambil memanggil Atiqah yang justru menutup kepalanya dengan bantal.


"Atiqah bangun...ayok kita jalan-jalan pagi. Seger banget Atiq" Lala terus mencoba membangunkan sahabatnya. Tapi Atiqah terlalu lelah dan mengantuk.


"Mbak Atiqahnya mana?" tanya Guntur pada Lala yang baru saja menutup pintu paviliun.


"Masih tidur mas. Udahlah biarin aja. Kita berdua aja yuk mas Guntur. Sayang banget kan kalo gak bisa nikmatin sejuknya udara pagi gini. Jarang-jarang nih dapet udara seger gini" Lala merentangkan kedua tangannya, menghirup dalam udara pagi.


"Oh begitu...mari mbak" mengajak Lala berjalan keluar rumah.


Subroto sudah berdiri dengan tongkatnya di teras rumah. Rutinitas paginya setelah memberi makan ikan-ikan kesayangan miliknya, Subroto menyempatkan diri berjalan jalan santai di rerumputan yang terdapat pepohonan rindang.


"Pagi eyang" sapa Lala dengan suara riang.


"Pagi...lho Atiqah mana?" tanya Eyang tak melihat keberadaan pacar cucunya.


"Masih tidur eyang. Kayaknya kecapean" jawab Lala sambil melakukan pemanasan. Ia dan Guntur akan lari pagi disekitar lingkungan rumah. Subroto memilih berjalan sendiri di halaman rumahnya yang luas.


Ardi keluar kamar setelah mandi dan keramas. Melihat paviliun masih sepi dan sunyi, Ardi memilih ke ruang makan. Perutnya sudah keroncongan.


"Belum ada yang sarapan mbok?" tanya Ardi pada simbok tua yang sedang menata menu sarapan ke atas meja.


"Eh aden...inggih, belum ada yang sarapan. Pak Broto ada didepan. Kalau Guntur pergi sama temen den Ardi. Lari pagi kayaknya" ucap mbok Jum.


"Temen Ardi? yang mana mbok?" mengernyitkan alis, berpikir Atiqah meninggalkannya.


"Yang manis, imut-imut den" jawab mbok Jum tersenyum gemas.


"Oh Lala...sama Atiqah juga mbok?" Ardi mencomot jajanan pasar diatas nampan.


"Sama Guntur. Berdua aja den" mbok Jum meletakkan teh manis hangat untuk Ardi. Mbok Jum sudah hafal minuman yang harus ada untuk anggota keluarga.


Jadi...Atiqah masih dikamar? pikir Ardi.


"Mbok, teh manisnya satu lagi" ucap Ardi pada Mbok Jum sembari menghabiskan tehnya.

__ADS_1


"Ini den" satu teh manis hangat sudah siap. Ardi langsung pergi membawa beberapa jajan pasar dan teh manis hangat untuk Atiqah.


Ardi membuka pintu paviliun yang tidak dikunci lalu menutupnya lagi. Mengetuk pintu kamar dimana Atiqah tidur.


"Yang...ini aku. Belum bangun ya?" Ardi mengetuk pintu, tidak ada sahutan dari dalam. Hening.


Ardi mencoba membuka pintu tapi terkunci. "Damn!! sengaja dikunci" gerutunya masih berdiri didepan pintu.


"Yang...Yang...bangun dong. Udah mau siang. Sarapan dulu yuk?!" Ardi kembali mengetuk pintu dan bersuara keras agar Atiqah mendengarnya.


"Hemm..." Atiqah bergumam, menggerakkan badannya dengan mata yang masih terpejam.


"Yang..." tok tok tok


Atiqah terkejut, langsung bangun dan membuka matanya. "Huh...untung aja aku kunci semalem. Kalo enggak, udah habis aku" mengurut dada lalu menyambar bra yang ia simpan dibalik bantal.


"Yang...bangun dong" kembali Ardi mengetuk pintu.


"Iya..aku udah bangun. Sebentar" selesai memakai bra_nya lagi, Atiqah mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Baju tidur babydol berwarna biru sangat pas menempel ditubuhnya.


Krek...pintu terbuka, Ardi masih berdiri didepan pintu kamar. "Akhirnya kamu buka juga. Sarapan dulu Yang" Ardi menerobos masuk ke dalam kamar, duduk di kasur setelah meletakkan nampan di atas nakas.


"Buru-buru banget sih Yang. Kamu gak pede ya kalo belum gosok gigi? takut bau pas aku cium?" seloroh Ardi, masih duduk di atas ranjang.


Atiqah yang sedang menggosok wajahnya dengan facial wash memutar matanya malas. Atiqah menggerutu dalam hati, kekasihnya itu memang berbahaya.


"Yang...lama banget sih. Kamu mandi?" Ardi tak sabar menunggu dan memilih mendekati pintu kamar mandi. Lagi-lagi pintunya terkunci.


"Yang...kok dikunci sih?" Ardi sedikit kesal.


"Bentar dulu, aku lagi gosok gigi" teriak Atiqah dari dalam, sengaja berlama-lama di dalam. Mengulur waktu, menunggu Lala datang ke kamarnya. Setau Atiqah, Lala masih ada di kamarnya.


Ardi menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, menciumi aroma Atiqah yang tertinggal di bantal dan juga selimut. "Aku kangen Yang" ceracau Ardi memeluk selimut sambil mengendus-endus.


Suara pintu kamar mandi dibuka, Atiqah menghela nafasnya pelan. Merutuki Lala yang tidak juga datang ke kamarnya.


"Kita sarapan di pinggir kolam yuk?! lebih enak disana, udaranya juga sejuk banget" Atiqah berdiri cukup jauh dari ranjang dimana Ardi sudah duduk saat mendengar pintu terbuka.

__ADS_1


"Yang..." Ardi menatap Atiqah dengan mimik wajah menghiba. "Aku kangen. Peluk. Cium" Atiqah mengedipkan matanya lebih cepat. Dengan cara apa lagi ia menghindari permintaan kontak fisik kekasihnya.


"Oke, kalo diem aja berarti setuju" Ardi bangkit, menubruk Atiqah. Memeluknya erat-erat. "Kamu gak kangen aku?" lebih tepatnya Ardi merengek.


"Kenapa diem aja? dari kemaren kamu ngehindar terus. Apa kamu udah gak sayang aku lagi?" masih memeluk Atiqah.


"Gak papa. Aku masih sayang kamu tapi..." ucapannya menggantung.


"Tapi apa?" Ardi memundurkan sedikit, memberi jarak. Kedua tangannya memegang bahu kanan dan kiri Atiqah.


"Aku takut kalo berduaan gini...kita bisa kebablasan lagi. Aku gak mau. Aku takut nantinya ada apa-apa" Atiqah berkata jujur. Berharap Ardi mengerti.


"Kebablasan gimana sih? --menatap Atiqah lekat-- nglakuin yang malam itu? --Atiqah mengangguk-- Kalo iya memangnya kenapa? kamu pacarku! milikku! sampai nantipun kamu tetap milikku! apa bedanya sekarang sama nanti??" Ardi berkata dengan tenang tapi ada penekanan disetiap katanya.


"Gak bisa Ardi. Kita masih muda. Masa depan kita masih panjang. Aku mau lulus SMA, aku mau kuliah, aku mau ngejar mimpiku jadi dokter. Please...ngertiin aku" Atiqah sangat memohon.


"Bullshit!! aku bisa wujudin itu semua. Kamu mau lulus SMA, oke. Kamu mau kuliah, oke. Mau jadi dokterpun aku bisa kasih semua itu ke kamu. Lakuin **** sekarang atau nanti, gak ada bedanya. Kamu tetep milikku. Gak ada yang berubah!" semakin menekan dan meremas kedua bahu Atiqah.


"Sakit Ardi. Lepasin. Jangan gini. Jangan paksa aku. Aku cuma minta kamu bersabar sampai nanti waktunya pas untuk kita. Tapi bukan sekarang" Atiqah mengatakannya dengan sangat lembut agar tidak menyinggung perasaan Ardi. Atiqah tau betul sifat Ardi yang berapi api.


"Aku sayang kamu. Sekarang juga nanti. Jadi...bisa ya kamu bersabar bentar aja?!" Atiqah menangkup pipi Ardi, mengusapnya lembut lalu mengecup bibir kemudian memeluk Ardi erat.


"Aku sayang kamu. Kamu percaya aku kan?" ucap Atiqah lagi menenangkan amarah Ardi. Mengusap dada.


Bersambung...


*****


Maaf ya jumlah katanya mentok 1000 kata lebih dikit. Lagi rada gak mood sebenernya tapi sayang banget udah pada nungguin Atiqah 😊


Bocoran dikit soal dua baju seksi yang dikasih Ardi. Nanti bakal dipake.


Kok mau sih? Atiqah sendiri yg bilang suruh bersabar tapi kenapa mau lagi?


Nah...ada sebabnya nanti kenapa Atiqah mau lagi. Tunggu ya next babnya 😁😁😁


Jangan lupa rate bintang 5nya, like, komen, giftnya!

__ADS_1


Makasih byk yg udah selalu setia nunggu Atiqah Ardi 😘😘😘


See you 👋


__ADS_2