
Bu Asri dan Atiqah sedang didapur. Sore ini suaminya ingin dibuatkan singkong goreng dan bakwan jagung, juga kopi pahit. Atiqah menyiapkan bahan bahan, sedangkan ibunya yang mencampurkan semua bahan dan membumbui.
"Nanti mba bawa ini kerumah bu Siti" menunjuk wadah berwarna merah jambu. Berisi singkong goreng dan bakwan jagung.
"Iya bu" jawab Atiqah sambil membalikkan gorengan bakwan jagung. Singkong sudah selesai digoreng.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan gorengan bakwan. Atiqah sudah siap membawa wadah merah jambu tadi. Melewati beberapa rumah untuk sampai dirumah Fajar.
Atiqah memencet bel, suara kunci pintu berputar, terlihat bu Siti yang membuka pintu.
"Atiqah?" sapa bu Siti seraya membuka gerbang rumahnya.
"Sore budhe"
"Sore...sini masuk" bu Siti menarik Atiqah masuk ke dalam rumah.
"Atiqah cuma disuruh ibu nganter ini aja budhe" Atiqah menyodorkan wadah berisi gorengan tadi.
"Budhe terima ya, makasih banyak lho. Ayok duduk sini, kebetulan budhe tadi beli onde-onde sama risoles mayonaise. Nih...dimakan dulu. Tapi budhe tinggal mandi sebentar gak papa?" Atiqah mengangguk, ia duduk di kursi di ruang makan.
Bu Siti sudah pergi masuk ke dalam kamarnya. Sambil mencicipi onde-onde, Atiqah melihat ke sekeliling dan tatapannya berhenti di pintu kamar Fajar yang terletak didepan ruang keluarga. Pintu itu masih tertutup.
Atiqah sudah lama sekali tidak masuk ke rumah Fajar. Entah apa yang dipikirkannya, ia bangkit lalu berjalan mendekati pintu kamar itu. Tidak ada yang istimewa dengan pintu kamar Fajar. Pintu kayu polos tanpa ornamen berwarna coklat.
Tangannya terulur ingin meraih handle pintu, sedetik kemudian Fajar membuka pintu dan Atiqah langsung membulatkan matanya, terkejut. Fajar hanya mengenakan handuk dibagian bawahnya saja. Tonjolan "itu" terlihat jelas.
Brakk....Fajar menutup kembali pintu kamarnya. Sedangkan Atiqah wajahnya memerah, buru buru ia kembali duduk di ruang makan tadi. Ia merutuki dirinya sendiri. Begitu malu melihat tubuh setengah telanjang Fajar.
Astaga...apa itu tadi? ya ampun...kotak kotak trus...aahhh...batin Atiqah menjerit. Membenturkan keningnya beberapa kali ke meja.
"Gak pusing tuh dijedotin gitu?" celetuk Fajar sesaat setelah menutup pintu kamarnya. Atiqah mendengar jelas tapi ia malu untuk mengangkat wajahnya.
Fajar sudah berpakaian lengkap, tidak seperti tadi. Suara kursi ditarik terdengar. "Ngapain nunduk terus? aku udah pake baju" mencomot onde-onde. Perlahan Atiqah mengangkat kepalanya, menatap Fajar malu malu.
"Pipi kamu merah Atiq" ledek Fajar. Ia sengaja melakukan itu, ia tau Atiqah tersipu telah melihat tubuh kotak-kotak miliknya tadi.
__ADS_1
"Apa sih mas. Enggak kok" mengalihkan tatapannya, kini risoles mayonaise yang ia pilih.
"Masa sih?! badan mas bagus ya?" Fajar menahan senyumnya. Sifat jailnya itu memang sudah ada dari dulu. Dan sudah jelas Atiqah jatuh cinta, Fajar cinta pertamanya.
"Iya, bagus" ucap Atiqah keceplosan, langsung menutup mulutnya. "Uhuk...uhuk" Atiqah berpura pura batuk. Fajar tersenyum lebar sambil mengambilkan minum untuk Atiqah. "Makannya pelan-pelan. Jajanan masih banyak, tenang aja" mengusap punggung. Atiqah merasa tersengat listrik dibagian punggungnya.
"Kalo gitu aku pulang dulu mas. Makasih buat jajanannya" memundurkan kursinya. Tangan Atiqah ditahan Fajar.
"Kok udah mau pulang aja sih. Ini makanannya belum habis" ucap Fajar, lalu bu Siti keluar dari kamarnya dengan rambut yang dililit handuk.
"Lho...Atiqah mau kemana? sini duduk dulu. Maaf ya budhe tinggal lama" Atiqah kembali duduk, ia sungkan dengan bu Siti.
"Enggak kok" jawab Atiqah melirik ke arah Fajar.
"Ini dari Atiqah" bu Siti menggeser wadah merah jambu yang dibawa Atiqah tadi ke hadapan Fajar.
"Wah bakwan jagung sama singkong goreng. Enak nih sama kopi susu buk" Fajar meringis, ingin dibuatkan kopi susu oleh ibunya bu Siti.
"Iya iya...Atiqah mau apa? teh manis?" tanya bu Siti sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam dapur. Atiqah menyusul karena tidak enak hati.
"Yaudah, ini kopinya...ini susunya...ini teh sama gulanya" meletakkan semua ke samping gelas.
"Iya budhe" tangannya bergerak, meracik kopi susu untuk Fajar lalu dua teh manis untuk bu Siti dan dirinya sendiri.
Perlahan tapi pasti, Atiqah membawa nampan ke arah meja makan. Bu Siti dan Fajar masih duduk manis disana sambil menikmati makanan yang dibawa Atiqah tadi.
"Semua makanan yang ibu kamu buat selalu enak" ucap bu Siti pada Atiqah, tangannya menerima teh manis.
"Terimakasih budhe, nanti Atiqah sampein ke ibu" tersenyum manis.
"Kopi susunya buatan kamu juga enak. Mas suka" kini Fajar ikut berkomentar. Bu Siti tersenyum penuh arti saat melihat perubahan wajah Atiqah, tersipu.
"Jangan gombalin anak gadis. Selesein dulu kuliahnya trus kerja, baru lamar Atiqah" Fajar tertawa mendengar ucapan ibunya yang terang terangan. Atiqah menunduk malu.
Bu Siti memang sudah sering kali mengatakan pada Fajar, bagaimana dirinya menyukai Atiqah. Bu Siti ingin Atiqah menjadi menantunya kelak.
__ADS_1
"Aku udah punya Sherly buk" jawaban Fajar terdengar menyayat hati Atiqah. Percuma saja mendapat dukungan dari bu Siti tapi anaknya saja tidak memiliki rasa untuknya. Dalam pikiran Atiqah.
"Kan ibuk udah bilang kemarin. Ibuk gak cocok sama Sherly. Dia anak orang kaya yang gak bisa apa-apa. Nanti kamu gak diurusin, ditinggal pergi keluyuran sendiri. Kamu juga yang repot nantinya. Pegang deh omongan ibuk" bu Siti melihat sendiri saat beberapa hari yang lalu Fajar membawa Sherly menginap dirumah. Gadis itu tidak bisa apa-apa, hanya duduk dan bermanja manja dengan putranya. Minta dilayani ini itu. Bu Siti kesal, juga jengkel.
"Buk...ada Atiqah" gumam Fajar pada ibunya yang duduk disampingnya.
"Ehem..ehem" suara pak Aji berdehem, masuk ke dalam rumah.
"Eh, bapak udah pulang" bu Siti bangkit lalu mengambil alih tas di tangannya.
"Ada Atiqah" pak Aji menatap Atiqah.
"Iya Pakdhe" mengangguk, tersenyum.
"Mandi dulu pak" mengantarkan suaminya masuk ke dalam kamar.
Tertinggal Atiqah dan Fajar di ruang makan. Kecanggungan terasa. Atiqah memilih bermain dengan telunjuknya memutari bibir gelas teh manis miliknya. Sedangkan Fajar menatap seluruh ruangan. Lalu...tatapan mereka bertemu. Fajar meringis sambil menggaruk tengkuknya.
"Emm...mas, udah mau maghrib. Aku pulang dulu. Makasih buat makanannya juga teh manisnya" Kali ini Atiqah benar benar akan pulang.
"Oh gitu? oke deh...bentar lagi emang mau maghrib. Gak baik masih diluar. Makasih juga bakwan sama singkongnya" berjalan sejajar mengantar Atiqah ke pintu rumah.
"Sama sama mas. Sampein ke budhe sama pakdhe, aku pulang ya mas" Fajar mengangguk. "Eh iya...Ardi minta maaf sama mas soal kemarin malam" menghentikkan langkahnya didepan gerbang.
"Oke, gak masalah. Udah aku maafin kok"
"Tapi lukanya..." menunjuk ke sudut bibir Fajar.
Fajar meraba sudut bibirnya. "Udah sembuh. Cuma luka dikit, gak perlu khawatir".
"Syukur kalo gitu. Yaudah, aku pulang ya mas. Semangat buat dapetin restu dari budhe Siti" menyemangati Fajar.
Dengan langkah cepat Atiqah kembali ke rumahnya. Hatinya terasa campur aduk. Antara senang dan juga kecewa.
Bersambung...
__ADS_1